
Setelah menemukan bungkus cokelat di halaman sebuah rumah kosong, Dimas merasa ada yang tersembunyi di kompleks perumahan elit itu. Ia segera kembali menemui sekuriti di pos penjagaan. Ia ingin mellihat data seluruh penghuni perumahan elit ini. Ia merasa, bahwa pelaku pembunuh Renita adalah orang yang mungkin tinggal tak jauh dari perumahan, atau bahkan warga perumahan sendiri. karena akses keluar-masuk dalam kawasan kompleks ini terbilang mudah.
Sekuriti yang berusia lima puluhan itu menyambut Dimas dengan ramah, bahkan membuatkan secangkir kopi hitam. Mereka menikmati angin sore di depan pos penjagaan, sambil melihat orang-orang yang keluar-masuk di lingkungan perumahan. Memang tak banyak, tetapi ada saja orang yang sekedar berkunjung atau kurir yang sedang mengantar barang.
"Jadi ada berapa rumah di kawasan perumahan elit ini Pak?" tanya Dimas pada sekuriti yang bertugas hari itu.
"Setahu saya sekitar 500-an rumah Pak. Rumah-rumah itu dibagi menjadi lima cluster yang berbeda dengan ciri khas berbeda pula. Mayoritas penghuni di sini adalah orang-orang yang berpenghasilan tinggi, mulai dari kalangan pengusaha, artis, pejabat, pengacara, dan orang-orang terkenal. Mereka sangat memerlukan privasi tingkat tinggi, sehingga kami selalu memeriksa tamu-tamu yang baru saja berkunjung dan tidak kami kenal," terang si sekuriti.
"Hmm, kalau memang benar begitu, mengapa sampai ada orang luar masuk dan melakukan pembunuhan terhadap Renita Martin?" tanya Dimas.
"Kami akui kalau itu mungkin karena sistem keamanan kami tidak seratus persen aman, Pak. Kami tidak mencatat pengunjung yang punya kepentingan khusus sepert ojek online, kurir, pengantar barang, atau hal-hal yang sifatnya mereka hanya sementara di kawasan ini. Namun untuk sales dan pengemis kami tidak izinkan mereka masuk. Kami sempat kaget mengapa pembunuhan Ibu Renita bisa terjadi, dan kami akui saat itu kami memang kecolongan. Kemungkinannya adalah, bisa jadi si pembunuh mungkin menumpang di rumah salah satu warga di sini, atau mungkin keluar area perumahan tanpa kami sadari," papar sekuriti berkumis tebal itu.
"Apakah mungkin pelakunya ada warga perumahan ini sendiri, sehingga sekali pun dia keluar masuk tidak akan menimbulkan kecurigaan?" tanya Dimas.
"Ya, itu bisa jadi. Tapi kami tidak bisa memastikan warga yang mana. Sebab setahu kami, warga di sini semua adalah orang terpandang dan terhormat, jadi rasanya kok aneh kalau mereka melakukan pembunuhan. Tapi, yang namanya kejahatan kan siapa tahu juga ya?" kata sekuriti.
"Apakah Bapak mempunyai data warga kompleks perumahan ini?"
"Tentu kami punya. Tetapi tidak tertulis secara manual. Untuk data lengkapnya ada di dalam file data komputer yang ada di kantor pengelola. Kalau Bapak ingin tahu, saya sarankan untuk bertanya langsung di kantor, karena semua data di sana tertulis lengkap." ucap sekuriti itu.
"Di mana kantor pengelola perumahan ini?"
"Ada di dalam kompleks ini juga Pak, tepatnya ada di Cluster Eropa. Bapak masuk saja kira-kira lima ratus meter, nanti begitu ada simpang empat, Bapak belok kanan sekira 200 meter, dan Bapak lihat di dana ada gerbang besar bertuliskan Cluster Eropa. Kantor pengelolal itu di tepi jalan, ada plang nya, jadi Bapak tinggal datang ke situ saja."
Sekuriti itu memberikan keterangan secara lengkap sambil tangannya memberika petunjuk arah, ke mana Dimas harus pergi mencari informasi. Dimas tentu saja tak membuang waktu lama. Ia segera bergerak menuju kantor pengelola perumahan untuk mencari data, siapa tahu ada data tersembunyi yang tidak ia ketahui.
***
Faishal yang meggelepar, dengan mulut berbusa segera dilarikan ke rumah sakit. Untunglah, kejadian itu berlangsung di depan seorang polisi, sehingga ia bisa ditangani dengan cepat. Sebuah ambulans dengan bunyi meraung segera tiba dalam waktu beberapa menit, karena ada rumah sakit terdekat di sekitar apartemen Faishal. Faishal segera ditangani petugas medis, agar racun tak semakin menyebar. Untuk keamanan lebih maksimal, berita tentang Faishal tak boleh disebarluaskan. Bahkan kamar tempat menginap di rumah sakit pun dirahasiakan.
Reno mendengar kabar tentang Faishal, saat dia meninjau lokasi tempat isolasi di rumah peninggalan Belanda. Ia sedang mengobrol dengan Pak Paiman untuk memastikan semua beres. Kabar tentang Faishal ini sangat mengejutkan Reno, karena si pembunuh bergerak sangat cepat. Ia buru-buru menginstruksikan agar pengamanan terhadap Faishal diperketat, walaupun di rumah sakit. Faishal tak diizinkan menerima kunjungan dari siapa pun, kecuali dari dokter yang menangani langsung.
"Kalau sore ini sepertinya belum bisa, Pak," ucap Pak Paiman.
Reno sudah berkeliling sekitar rumah itu. Memang, sepertinya masih banyak yang harus dibenahi, jadi dapat dipastikan kalau sore masih belum bisa ditempati. Namun, sangat riskan kalau isolasi itu ditunda sampai besok pagi, karena pembunuh ini pergerakannya sangat cepat. Reno harus memindahkan para artis paling lambat malam ini juga.
"Kalau malam bisa ya, Pak. Maaf, saya tidak bisa menunda terlalu lama karena sangat berbahaya, Pak. Hari ini saja sudah ada percobaan pembunuhan dengan menaruh racun pada makanan. Kalau ditunda sampai besok pagi, bukan tidak mungkin akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan," terang Reno.
"Saya usahakan agar malam sudah siap ya, Pak!"
Reno sedikit lega mendengar ucapan Pak Paiman. Sejujurnya, ia agak kelabakan menangani ini sendiri. Saat ini Dimas tengah sibuk mencari keberadan Niken dan Rani yang sampai saat ini belum jelas nasibnya. Mungkin hari ini ia tidak sempat pulang ke rumah. Sekali lagi, ia akan banyak minta maaf pada Silvia.
Selepas memastikan rumah tempat isolasi, ia segera meluncur ke rumah sakit untuk melihat keadaan Faishal. Di dalam ruangan yang dirahasiakan, ia melihat Faishal sedang beristirahat, Ia sendiri tidak melihat dari jarak dekat, hanya melihat dari jendela kaca, sementara dr. Dwi menemani di sebelahnya.
"Kondisinya baru saja stabil, dan ia sedang istirahat Kami sudah melakukan observarsi racun apa yang dipakai pada bahan makanan yang dimakan oleh Faishal. Ternyata itu adalah racun berjenis Potassium Sianida. Ini racun yang sangat mematikan, tidak berasa dan tidak berbau. Terlambat sedikit, dia akan mati. Reaksi racun ini hanya dalam hitungan menit, orang yang keracunan akan gagal jantung dan sesak napas. Berita buruknya, racun ini sangat mudah didapat dan dijual bebas di penjual online, asal jelas peruntukannya. Si pembeli tinggal menunjukkan surat keterangan penelitian, maka sianida akan segera dikirim. Harganya pun tak terlalu mahal," terang dr, Dwi.
"Astaga! Jadi beruntung kalau Faishal masih bisa bertahan hidup?"
"Ya, pria ini sangat beruntung karena ia bereraksi tepat di hadapan seorang polisi yang sigap menolong. Kalau saja tak ada yang tahu, maka dapat dipastikan ia akan tewas," tambah dr. Dwi
"Kuharap kondisinya akan segera membaik. Ini adalah kasus yang cukup rumit, Dokter. Setelah kasus kastil tua itu, banyak hal terjadi. Rasanya, kejahatan tak akan pernah berhenti, dan membiarkan kita benar-benar beristirahat dengan nyaman," keluh Reno.
"Aku yakin kau bisa mengatasinya. Aku tahu kamu adalah polisi hebat!" ujar dr. Dwi.
"Terima kasih, Dok!"
Setelah memastikan kondisi Faishal, Reno segera meluncur menuju kantor polisi. Ia akan bersiap mengamankan satu nama yang mungkin akan jadi korban selanjutnya, sebelum persiapan menuju rumah isolasi. Kali ini ia tidak mau kecolongan lagi. Perutnya sendiri sebetulnya merasa lapar, karena belum makan sejak siang. Ia tidak pedulli, bahkan mengabaikan rasa perih di lambungnya. Ia tahu, ini tidak baik untuk kesehatannya. Lambungnya memang kadang agak bermasalah apabila ia terlambat makan. Namun, kali ini ia tidak mau dipecundangi oleh si pembunuh.
***