Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
347. Fakta Mengejutkan


Kota sudah mulai sepi, para warganya sudah menghentikan aktivitas dari pukul 10 tadi. Toko-toko mulai ditutup, tetapi cafe-cafe bertambah ramai. Hawa dingin membuat tubuh menggigil, sehingga mereka mencari sesuatu yang hangat di cafe. Hawa dingin seperti ini bukan sesuatu yang biasa. Angin bertiup menerbangkan dedaunan di taman dan sampah kertas berhamburan di jalanan. Beberapa tunawisma yang tertidur di kursi taman semakin merapatkan selimut, agar hawa dingin tidak semakin merejamnya. Kota benar-benar terasa seperti beku. Pengunjung cafe pun makin membludak demi mendapat secangkir kopi panas.


Kantor kepolisian juga terlihat sepi. Di pos penjagaan, seorang polisi terlihat terkantuk-kantuk memelototi siaran TV di depannya. ia sudah menguap beberapa kali, Hawa dingin juga tak luput membuatnya mengenakan jaket tebal. ia memerksa sekitar kantor dengan bantuan senter yang dibawanya. Sepertinya semua aman.


Di salah satu ruang kantor polisi, Dimas masih duduk di ruangan, masih berusaha memecahkan rahasia apa yang sebenarnya di simpan dalam kastil yang sedang ia selidiki. Sengaja ia membuat kopi panas dalam sebuah teko, lalu menuang dalam cangkir, agar suhu tubuhnya bisa mengimbangi hawa dingin dari luar. Ia juga mematikan pendingin ruangan.  Tadi siang, ia sengaja berkunjung ke perpustakaan kota, meminjam sebuah buku tebal berisi sejarah kota, termasuk informasi mengenai bangunan-bangunan bersejarah yang ada di kota itu. Siapa tahu ada rahasia yang tersembunyi di balik kastil tua. Ia juga mengumpulkan berita-berita di surat kabar yang berkaitan dengan kastil. Sekecil apa pun informasi, pasti akan bermanfaat di saat sekarang.


Selain tentang kastil, segala sesuatu tentang profil pribadi, akun-akun media sosial para penghuni kasti ini tak luput dari perhatiannya.Ia mulai menggali segala informasi yang ada. Ia membuka laptop, kemudian mulai berselancar. Akun-akun media sosial mereka tak ada yang istimewa, hanya kumpulan foto-foto biasa dan quotes-quotes hasil copy-paste saja. Beberapa foto yang menunjukkan kebersamaan The Girl Squad juga terabadikan di beberapa jepretan. Paras-paras mereka tampak riang, gembira, dan bahagia. Tak ada pula sosok Suci dalam kumpulan foto-foto itu. Namun, ada sebuah foto candid yang diambil secara tidak sengaja. Dalam salah satu kejadian yang terekam kamera, terlihat Maya yang sedang menyendiri, dengan pandangan tak fokus ke arah kamera. Ia seperti cemas, memperhatikan sesuatu yang tak wajar. Hal ini membuat Dimas tertarik untuk berselancar ke dalam media sosialnya.


Dalam akun Maya yang bernama Mayangelical, banyak bertebaran foto-foto wanita muda itu sedang bergaya selfie memamerkan kecantikannya, bahkan di beberapa foto, Maya terlihat tampil agak sensual dan menggoda. Namun, Dimas agak heran, dengan kecantikan yang ia punyai, harusnya Maya sudah punya pasangan. namun pada kenyataannya, ia masih betah sendiri hingga saat ini. Padahal usia sudah hampir mendekati kepala tiga. Maya rupanya lebih suka mengumbar keseksiannya di media sosial, daripada menjalin hubungan serius dengan laki-laki.


Maya, yang merupakan ikon wanita lugu, cupu, dan pintar, dalam kehidupan keseharian, ternyata di media sosial, ia menjelma menjadi wanita yang penuh percaya diri, bahkan cenderung memamerkan daya pikatnya dalam busana-busana mahal dan kekinian. Bahkan ia juga menerima endorse sebuah produk kecantikan. Dua sisi yang sangat menarik, pikir Dimas.


Dimas kembali menyusuri akun pribadi itu, mendapati Maya yang sedang foto berdua dengan pria-pria berbeda. Lalu di di sebuah foto, tampak Maya sedang berfoto agak mesra dengan seorang pria yang wajahnya tak asing. Dimas berusaha mengingat wajah pria yang berada di foto itu. Setelah beberapa detik, barulah Dimas teringat wajah pria ini adalah pria yang saat ini berada di kastil yang sama. Hanya saja, tampilannya sedikit berbeda, sehingga Dimas hampir todak mengenali. Dimas masih menebak-nebak, apakah foto mesra itu hanya sebatas foto biasa atau memang ada hubungan khusus antara keduanya.


"Ini kan foto ...."


Tok ... tok ... tok!


Dimas terhenyak. Tiba-tiba saja pintu ruangan diketuk seseorang, sehingga membuyarkan konsentrasinya. Ia tutup berkas-berkas yang di atas meja. kemudian melirik ke arah jam dinding. Sudah mendekati pukul dua dini hari, tak terasa ia sudah menghabiskan tiga cangkir kopi. Siapa yang mengetuk pintu kantor dini hari begini? Biasanya di jam seperti ini, para rekan-rekan polisi sudah pulang, kecuali yang bertugas piket atau ada tugas lembur yang harus dikerjakan.


"Masuk!" perintah Dimas.


Seorang polisi muda masuk ke dalam ruangan Dimas, memberikan sebuah map kepada Dimas. Tentu saja Dimas merasa heran, berkas apa yang diberikan kepadanya dini hari begini. Ia mempersilakan rekan kerjanya itu untuk duduk.


"Apa ini, Ben?" tanya Dimas sambil merapatkan alisnya.


Rekan kerja Dimas yang bernama Benny itu hanya tersenyum sembari menjawab,"Kamu lihat sendiri isi berkas itu, Dim!"


Dimas penasaran, kemudian membuka isi map berwarna biru itu. Rupanya di dalam map itu ada foto-foto yang dicetak berdasarkan rekaman CCTV yang letaknya berada di tempat parkir kantor polisi. Gambar yang dihasilkan tidak begitu bagus kualitasnya, tetapi Dimas masih dapat melihat dengan jelas. Dalam foto itu terlihat seorang wanita yang sepertinya berjalan mengendap, masuk ke dalam sebuah mobil, dan membuka kap mobil. Gerak-geriknya begitu misterius. Walau kualitas foto agak buram, Dimas dapat mengenali siapa waniat yang ada dalam foto rekaman CCTV itu. Namun, ia tidak mengerti mengapa Benny memberikan berkas itu kepadanya.


"Aku tidak mengerti," ucap Dimas sambil menutup map itu.


Sebenarnya ia sangat mengerti maksud foto tersebut, tetapi ia butuh pendapat Benny untuk menguatkan. Mungkin ada yang ingin Benny sampaikan dari berkas foto itu.


"Serius kamu tidak kenal dengan perempuan yang ada di foto itu?" tanya Benny dengan heran.


"Aku tidak yakin. Fotonya agak kabur kan? Jadi aku nggak begitu jelas wajahnya," kilah Dimas.


"Baik, akan kujelaskan padamu biar kamu paham. Ini adalah foto hasil rekaman CCTV yang dipasang di tempat parkir. Memang, ini CCTV baru, karena CCTV yang lama rusak, jadi baru diganti. Kamu ingat kan kecelakaan yang menimpa dirimu dan Ramdhan beberapa hari lalu? Pihak kepolisian sudah memindahkan mobil itu ke sini untuk diperiksa lebih lanjut apa penyebab kecelakaan itu. Setelah diselidiki, ternyata memang ada kerusakan pada bagian rem pada mobil yang dikendarai Ramdhan sehingga mobil itu tak bisa dikendalikan. Hanya saja, Ramdhan baru merasakan rem tidak berfungsi ketika kondisi mulai jelek. Tentu saja hal ini menjadi bahan pertanyaan kami, bagaimana mungkin rem itu bisa rusak, padahal kita tahu sendiri, Ramdhan cukup disiplin dalam urusan perawatan mobil. Nah, tanpa sepengetahuan yang lain, aku mengecek rekaman CCTV tempat mobil Ramdhan diparkir sebelumnya, dan hasilnya kudapatkan rekaman ini! Kamu paham kan ini maksudnya apa?" terang Benny.


"Ya .. ya. Aku paham. Ini semacam sabotase kan? Aku melihat sosok Niken yang mengutak-atik mobil Ramdhan. Tetapi, ini seperti nggak masuk akal kan? Mereka sama-sama polisi, lalu mengapa Niken melakukan hal jahat itu kepada Ramdhan? Apa motifnya?" tanya Dimas.


"Janganlah bersikap lugu seperti itu, Dim! Kamu tahu sendiri Niken itu orangnya ambisius, sama saja seperti Gilda mantan pacarmu itu yang suka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Kamu pasti paham kalau Niken mengincar tugas yang diberikan kepada Ramdhan untuk turut serta menyelidiki di kastil tua. Nah, belakangan pihak kepolisian juga tahu bahwa yang membocorkan rahasia kepolisian kepada Chanel-9 adalah Niken. Gilda sudah mengakui hal itu kepada kami. Dan yang ini lebih parah lagi, ia sengaja melakukan percobaan pembunuhan pada Ramdhan setelah salah seorang saksi melihat mereka berdebat sebelum Ramdhan berangkat ke kastil. Mungkin Niken melakukan itu, karena ia ingin menggantikan Ramdhan menjadi salah satu tim yang diterjunkan ke kastil. Setelah Ramdhan mengalami kecelakaan, Niken langsung membuat surat permohonan penyelidikan. Bukankah ini terdengar sangat masuk akal? Karena jumlah personel kepolisian juga terbatas, akhirnya permohonan Niken disetujui, dan ia akhirya ia ditugaskan untuk berangkat ke kastil!" terang Benny.


"Astaga! Aku nggak nyangka kalau dia sejahat itu!"


"Terus siapa saja yang tahu  hasil foto CCTV itu, Ben? Apakah sudah menyebar luas?" tanya Dimas.


"Sementara ini hanya aku yang  memegang ini, dan belum kulaporkan bagian lain. Bagaimanapun, Niken kan dekat denganmu, dan dia adalah rekan kerjamu. Nah, sebelum Niken diproses atas tindak kejahatannya yang tersembunyi ini, aku mau minta izin padamu, apakah kasus Niken ini diproses atau dihentikan sampai di sini?" tanya Benny.


Dimas terdiam sejenak. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Niken ternyata mempunyai hati yang begitu busuk, tega mencelakai teman sejawat hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Benny benar, Niken adalah rekan kerjanya, tetapi Ramdhan juga rekan kerjanya. Rasanya tidak adil kalau Ramdhan dicelakai, sementara pelaku dibiarkan bebas berkeliaran dan berbuat jahat di kemudian hari. Ia harus mengambil keputusan tegas.


"Ben, harusnya untuk hal seperti ini kamu nggak perlu minta izin kepadaku," ucap Dimas.


"Jadi gimana?"


"Tindakan Niken jelas tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu segera proses kejahatannya sesuai hukum yang berlaku. Tetapi biarkan dia melaksanakan tugasnya di kastil terlebih dahulu. Nanti begitu dia selesai, langsung kita dakwa, kita tunjukkan bukti-buktinya, agar dia tidak mengelak. Dia perlu mendapat pelajaran itu!" tandas Dimas.


"Siap Komandan. Laksanakan!"


Benny berdiri, memberi hormat, membawa berkas itu kembali, dan segera keluar dari kantor Dimas. Sepeninggal Benny, Dimas menghela napas. ia sangat kecewa dengan Niken, tetapi ia pantas mendapat pelajaran yang setimpal atas segala yang dia lakukan.


***


Niken hanya bisa pasrah, sekali lagi ia harus mencari apa saja yang bisa ia gunakan untuk meloloskan diri dari cengkeraman sosok misterius itu. Seolah bilik ini adalah penjara yang mengerikan, dengan tanpa fasilitas apa pun di dalamnya. Ia membuka laci meja tua yang berda di sana. Isinya hanya benda-benda kecil tak bernilai, dan juga sampah-sampah kertas. Ia bongkar semua barang-barang itu, berharap menemukan sesuatu yang berharga.


Ia terpekik, melihat sebuah gunting kecil yang hampir karatan di dalam laci itu. Namun sejenak ia merasa kecewa. Apa yang bisa ia lakukan dengan gunting kecil ini? Membuka pintu baja yang kuat ini? Tentu hal itu adalah sebuah misi yang mustahil. Ia merasa kesal, lalu melempar gunting itu ke lantai. Ia merasa lelah dan tertekan.


Niken ingin menangis karena kesal, tetapi ia berpikir hal itu sia-sia belaka. Ia hanya bisa berharap ada orang lain yang menemukan tempatnya disekap dan membantunya keluar dari lorong jahanam ini. Sayangnya hal itu sepertinya juga sia-sia.


"Aku nggak boleh nyerah. Pasti ada jalan lain," gumam Nike dengan napas terengah-engah.


Sebenarnya, fisiknya juga sudah mulai lelah. Pada akhirnya, ia hanya bisa meratapi keadaan. Ia kembali duduk di lantai yang dingin, sembari merenung. Kerongkongannya terasa kering, karena jatah air mineral yang ia punya sudah habis. Seekor kecoa mendekati kakinya, dan langsung ia injak begitu saja tanpa ampun. Suasana hatinya sedang kesal.


***


Reno segera mencari arah sumber suara yang sepertinya tak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Tak ada lagi suara teriakan, tetapi yang ada adalah suara langkah kaki yang tak beraturan, seperti suara seseorang yang sedang berlari. Reno tetap bersikap tenang dan waspada, menyorotkan senter ke lorong di depannya. Ia terus melangkah perlahan, jangan sampai ia disergap dalam keadaan tidak siap. Ia berusaha mengatur napasnya, karena mendadak ia juga merasa tegang.


Reno sebenarnya sudah biasa menghadapi rasa tegang atau kondisi yang panik sekalipun. Namun, ruang bawah tanah ini terasa berbeda. Sensasi tegang yang ditimbulkan di ruang bawah tanah ini terasa berbeda. Tak semua orang mau masuk ke dalam sini, karena selain suasananya yang suram, ruangan bawah tanah ini menyimpan misteri yang tak terungkap. Belum lagi suara-suara misterius yang aneh. Ia berharap suara teriakan yang baru saja ia dengar, bukanlah suara ghaib.


Setelah berjalan selama beberapa saat, Reno berhenti di sebuah simpang tiga. Kini ada percabangan lorong, yang satu ke kanan dan satu lagi ke kiri. Ia harus memutuskan lorong mana yang harus ia ikuti. Terdengar kembali langkah kaki menjauh dari lorong sebelah kanan. Ia bingung, apakah ia harus mengikuti langkah kaki atau tidak, Bisa jadi langkah kaki itu merupakan tipu daya atau umpan yang sengaja dipakai untuk menjebaknya. Reno tidak boleh terkecoh.


Ia menyorotkan cahaya senter ke lorong kanan, tempat asal suara langkah kaki yang menjauh. Lorong itu tampak memanjang dan begitu sepi. Lalu ia sorotkan pula ke bagian kiri. mendapati lorong panjang yang hampir sama sepinya, tetapi ada perbedaan di sana. Dalam keremangan cahaya senter, ia melihat sebuah pintu bilik yang terbuka. Reno merasa penasaran. Mengapa pintu bilik itu terbuka?


"Sepertinya ada sesuatu di dalam bilik yang sengaja ingin ditunjukkan kepadaku. Tetapi apa ya?"


Ia merasa penasaran dengan sesuatu yang ada di dalam bilik terbuka itu. Sekali lagi ia bersikap waspada, menyiapkan peluru di pistolnya sambil mendekati pintu bilik yang terbuka. Langkahnya pelan, tetapi pasti. Sesampai di pintu bilik, ia terperanjat melihat apa yang ada di depannya!.


***