Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
212. Sekotak Durian


Napas Anita serasa berhenti membaca tulisan yang ada di secarik kertas itu. Spontan ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Siapa yang menulis tulisan ini? Rasa takut segera mencekam, karena ia menyadari tak benar-benar sendiri di dalam rumah. Tak ingin mati konyol, ia segera melangkah menuju kamar, mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja rias, mengambil tas, dan segera bergerak cepat keluar rumah Tak lupa ia mengunci pintu depan, dengan harapan si penyusup itu akan terperangkap di dalam rumah.


Klik!


“Mamp*us kau!” ucap Anita.


Setelah itu ia segera berlari ke halaman depan, dan berdiri di pinggir jalan raya. Sekali lagi dilihatnya arah rumah. Ia yakin si penyusup itu sekarang berada dalam rumah. Rasa khawatirnya sudah berkurang, karena tak mungkin si penyusup mengejarnya, apalagi sekarang ia berada di pinggir jalan raya. Ada beberapa kendaraan yang berlalu-lalang, jadi kalau pun si penyusup mengejar, tentu akan berani berbuat nekat di area publik seperti ini.


Sebuah taksi berwarna biru kebetulan lewat, langsung ia melambaikan tangan. Taksi itu berhenti, dan Anita segera masuk. Kini ia benar-benar merasa lega. Ia tak peduli dengan keadaan dalam rumahnya sekalipun rumahnya diobrak-abrik oleh penyusup itu, yang penting ia selamat.


“Kemana Mbak?” tanya si sopir taksi.


“Kantor polisi pusat ya, Pak! Segera!”


Taksi berwarna biru itu segera melaju ke kantor polisi yang dimaksud. Walau sudah lolos dari maut yang mengintai, jantung Anita masih terasa berdebar. Ia tidak menyangka kalau rumahnya bakalan disusupi oleh seseorang yang tak dikenal. Ia bersyukur, bahwa ia masih dalam keadaan baik-baik saja.


Tak lama, taksi sampai di depan kantor polisi berlantai tiga. Setelah membayar ongkos taksi, Anita segera masuk ke dalam kantor polisi yang masih terlihat ramai walau menjelang sore hari. Karena terburu-buru, ia hampir menabrak salah seorang polisi wanita yang tak lain adalah Niken. Rupanya Niken hendak pulang untuk bersiap menghadiri makan malam yang digelar oleh Govind Punjabi. Ia terkejut melihat Anita berada di tempat itu.


“Anita? Kok kamu ada di sini?” tanya Niken.


“Eh, Kak! Untung Kakak belum pulang. Aku ... aku mencari Pak Reno juga. Apakah Pak Reno masih ada?” tanya Anita dengan gugup.


“Pak Reno sih udah pulang dari tadi. Ada apa, kok sepertinya penting banget?”


“Bisa nggak kita bicara di luar saja, Kak!” ajak Anita.


Niken menyetujui ajakan Anita. Keduanya segera keluar gedung, menuju halaman samping yang ada taman bunga dan kolam ikan. Mereka berjalan perlahan, sambil mengobrol.


Setelah menenangkan diri, Anita mengeluarkan secarik kertas yang ia temukan di meja makan, kemudian menyerahkan pada Niken. Polisi wanita itu membaca dengan saksama.


“Astaga! Kita kan sudah cek semua ruangan ....“


Niken bergumam, tetapi Anita menggeleng.


“Belum semua, Kak. Aku lupa memberitahu kalau di lantai atas ada sebuah gudang kecil dan tempat jemuran. Hanya saja memang aku jarang naik ke sana kalau tidak perlu banget. Ada kemungkinan si penyusup itu datang sebelum Kak Niken datang ke sana, kemudian bersembunyi di lantai atas,” kata Anita.


“Terus ... kok kamu bisa lolos sampai ke kantor polisi gimana ceritanya? Apakah penyusup itu nggak kejar kamu?” tanya Niken.


“Begitu aku mengambil kertas itu, aku segera keluar rumah, Kak. Aku benar-benar takut, dan nggak pikir panjang aku sambar ponselku kemudian keluar rumah, kukunci pintu, dan naik taksi ke kantor polisi ini,” papar Anita.


“Bagus! Jadi sekarang penyusup itu masih ada di dalam rumahmu?” tanya Niken.


“Mungkin, Kak. Yang jelas aku kunci supaya nggak bisa kemana-mana. Tapi kalau dia memang niat keluar, pasti gampang aja kan? Dia bisa merusak pintu atau keluar lewat jendela. Yang jelas aku nggak mau kembali ke sana, Kak. Aku masih takut kalau-kalau penyusup itu masih di sana. Padahal sebentar lagi kan mau ke acara makan malam Pak Govind. Aku tidak bisa ganti baju nanti,” ucap Anita.


“Gini aja, kebeneran aku juga mau bersiap datang pula ke acara makan malam itu, cuman aku berpura-pura menjadi tamu restoran, bukan sebagai undangan. Kita lihat aja kondisi rumahmu sekarang. Kamu kalau takut tunggu di luar saja, biar aku yang masuk ke dalam dan memerksa. Nanti kalau semua sudah aman, kamu baru masuk. Gimana?” ucap Niken.


“Wah iya, Kak. Begitu saja!”


Anita segera masuk ke dalam mobil Niken untuk kembali meluncur ke rumah Anita. Dalam hati Anita, ia merasa kagum dengan sosok Niken. Wanita itu sangat pemberani dan juga cantik. Untuk orang yang tak pernah tahu, pasti sama sekali tak mengira kalau Niken adalah seorang polisi.


***


Restoran Paragon adalah salah satu restoran terkenal di kota itu karena makanannya yang berkelas premium dan berharga mahal. Tak heran, restoran itu menjadi langganan para pejabat atau para artis untuk mengadakan kegiatan tertentu. Walau masih setahun buka, restoran itu cepat dikenal karena kualitas dan pelayanannya yang keren.


Sore ini, kesibukan sudah terasa di salah satu sudut restoran yang disulap sedemikian rupa. Kursi-kursi disusun rapi, serta meja-meja panjang yang di atasnya dihias dengan bunga-bunga dan aneka makanan. Si pemilik restoran sudah hapal kalau Govind Punjabi yang memesan, pasti ia mau semua serba sempurna. Untuk itu, si pemilik resto sudah berpesan kepada semua pegawainya agar mempersiapkan semua dengan baik.


Warna ungu adalah warna tema yang diusung dalam gelaran makan malam itu. Semua kursi, taplak meja, dan bunga-bunga, semua didekor dengan warna itu. Para pegawai itu sibuk mempersiapkan ruangan yang akan dipakai sebentar lagi. Pemilik restoran itu merupakan taipan penting di kota itu, yaitu pasangan suami-istri James Tan dan Jessica Tan.


Widya datang agak terlambat untuk mengecek restoran, sedangkan Guntur sendiri tak ikut mengecek. Ia minta diantarkan langsung pulang ke kediamannya. Hari sudah mulai gelap ketika ia memasuki restoran Kedatangannya langsung disambut oleh sang pemilik restoran sendiri, James Tan.


James Tan, seorang pria berumur menjelang 50 tahun, berperawakan kecil dan matanya tentu saja sipit. Sedangkan Jessica Tan adalah perempuan tinggi semampai berusia 30 tahun-an. Rentang usia mereka cukup jauh, tetapi sepertinya mereka adalah pasangan serasi.


“Kok kamu baru datang Widya? Nanti bagaimana kalau Pak Govind marah karena belum siap? Nah, kamu sekarang lihat? Bagaimana? Apa ada yang perlu ditambah?” ucap James Tan sambil menunjukkan lokasi acara makan malam dilaksanakan.


Widya sebenarnya tak perlu berkomentar, ia melihat sendiri ruangan itu begitu indah dan artistik. Entah berapa uang dikeluarkan untuk menyewa salah satu ruangan ini. Widya tahu, walaupun Pak Govind Punjabi adalah seorang yang temperamental dan perfeksionis, ia tak pernah setengah-setengah untuk mengeluarkan uang. Ia juga bukan tipe orang pelit.


“Ini sudah keren banget, Koh!” ucap Widya.


Tiba-tiba mata James Tan tak sengaja melihat ke arah lengan Widya yang berdarah. Ia segera menegur wanita muda berkacamata itu.


“Oh! Ini ... ini tadi tergores kawat, Koh! Aku sangat buru-buru tadi sehingga kurang hati-hati. Eh ada kawat jemuran yang menggantung, jadi kegores gitu, Koh!” ucap Widya,


“Coba kasi obat biar tidak infeksi!” perintah James Tan.


“Ah, nanti juga sembuh sendiri, Koh! Jangan khawatir!”


Tiba-tiba, salah seorang pegawai datang tergopoh menemui James Tan yang sedang mengobrol dengan Widya.


“Pak, maaf ini ada kiriman sekotak daging durian dari kurir. Waktu saya tanya dari siapa, kurir itu tak mau menjawab. Dia bilang nanti juga tahu. Katanya buah durian ini untuk ...Ah, ini ada namanya, Anita Wijaya!”


“Oke, taruh saja di dapur. Nanti kita kasihkan ke Anita!”


***


Niken dan Anita telah tiba di kediaman Anita. Niken segera bergerak masuk ke dalam rumah sambil memegang pistol lain, sebab salah satu pistolnya telah ia pinjamkan kepada Anita. Pintu depan dibuka, mereka mendapati rumah dalam keadaan lengang. Seperti tak ada kejadian apa pun. Namun, sayup-sayup mereka mendengar suara musik dari ruang tengah.


“Ada yang menyalakan musik?” bisik Anita.


“Tenang ... aku akan masuk. Kamu mau ikut atau tetap di sini?” tawar Niken.


“Aku masuk tapi di belakang Kakak saja ya?”


“Oke!”


Keduanya masuk dengan waspada. Niken masih terus menggenggam pistol, mengendap, maju secara perlahan sementara Anita menguntit di belakang sambil sesekali memegang blus Niken. Ia merasa sangat tegang dan cemas. Ia tak bisa membayangkan apabila tiba-tiba penyusup itu menerkam dari belakang.


Ketika sampai di ruang tengah, mereka melihat televisi dalam keadaan menyala, tetapi tak ada seorang pun di situ. Niken mengambil remote secara perlahan, kemudian mematikan TV dengan menggunakan remote.


Niken tetap waspada memeriksa semua penjuru rumah, termasuk loteng. Di atas loteng mereka menemukan dua bungkus kosong bekas coklat batangan ukuran kecil. Niken memungut bungkus coklat yang terlihat masih baru itu.


“Hmm, bungkus coklat merk Silver King. Dugaanmu benar. Si penyusup itu tadi berada di lantai dua. Tapi kelihatannya semua aman dan penyusup itu nggak di sini,” bisik Niken sambil mengamati bungkus bekas cokelat tersebut.


“Jadi bagaimana , kak?”


“Sekarang mari kita cek kamarmu. Semoga nggak ada apa-apa di sana,” ucap Niken.


Keduanya bergegas menuju ke kamar Anita. Kamar itu masih dalam keadaan tertutup, tetapi mereka sangat terkejut ketikan melihat kondisi di dalam kamar. Baju-baju di dalam lemari terlihat berantakan, bahkan sebagian terhambur di lantai.


“Astaga!” pekik Anita.


“Apa ada yang hilang?” tanya Niken.


“Ya, Kak! Pistol pemberian Kakak itu .... “


Anita berkata sambil mengecek isi dalam lemari. Parasnya terlihat cemas. Tentunya akan sangat berbahaya kalau pistol itu jatuh ke tangan yang tak bertanggungjawab.


“Aduh, gawat!” sesal Niken.


Kemudian pandangan mereka beralih ke jendela kaca di kamar itu. Kacanya tampak pecah karena sengaja dihancurkan. Mereka melihat puing-puing yang berserak di bawah.


“Penyusup itu kabur lewat jendela ini dengan cara memecah kaca jendela. Dan di sini, ada tetesan darah walau sedikit. Mungkin ia sempat tergores kaca jendela sebelum kabur,” ucap Niken.


“Aku lega sebetulnya, Kak. Yang penting aku aman. Tapi aku nggak mau tinggal sendiri di sini nanti malam. Kakak ada solusi aku tinggal di mana?” tanya Anita.


“Aku tinggal bersama nenekku di apartemen. Kalau kamu mau, kamu bisa menginap di sana malam ini,” ucap Niken.


“Wah, Kakak serius? Tapi aku takut mengganggu Kak.”


“Tak apa-apa. Nenek pasti sangat senang ada teman ngobrol. Maklum, kadang aku sibuk bekerja dan nenek sering kutinggal sendiri. Semoga kamu bisa jadi teman ngobrol Nenek,” kata Niken.


“Oh, iya Kak!”


“Nah, sekarang persiapkan baju yang hendak kamu pakai ke acara makan malam. Kita berangkat dari apartemenku saja. Nanti kamu berangkat duluan pakai taksi agar tidak terlalu mencolok. Aku akan menyusulmu kemudian. Semoga malam ini tak ada apa-apa!”


***