Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
181. Cerita Lama


Dimas melajukan mobil dengan kecepatan sedang di sisi barat kota yang merupakan kawasan pemukiman padat penduduk. Setelah berurusan dengan arsip dan berkas, ia memutuskan untuk menuju ke TK Permata Bunda, tempat para anak muda itu bersekolah di masa lalu. Sebuah fakta menampilkan bahwa mereka mempunyai hubungan di masa lalu, karena bersekolah di sekolah yang sama.


Mobil Dimas masuk ke dalam sebuah jalan kecil beraspal tak rata, dengan rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari alamat gedung TK yang dimaksud. Ia mendapat alamat sekolah itu dengan bantuan mesin pencari, walaupun sebenarnya ia masih meragukan keakuratannya.


“Jalan Anyelir 17 ....” Ia bergumam.


Mobilnya berhenti di depan sebuah reruntuhan bangunan yang sepertinya tak terurus. Di halamannya, terdapat dua pohon mangga yang cukup besar. Benarkah ini TK Permata Bunda? Sepertinya bangunan ini lama tak dipakai dan sengaja dihancurkan. Di depan bangunan itu terdapat plang yang bertuliskan bahwa sebuah supermarket akan dibangun di tempat ini. Dimas tidak yakin ada seseorang yang bisa ditanyai. Namun, tiba-tiba matanya menangkap sesosok pria berusia lima puluh tahunan yang sedang menyapu daun-daun mangga yang berserakan di sekitar situ.


Dimas memarkir mobilnya, kemudian mendekati laki-laki itu. Sambil tersenyum ramah, Dimas bertanya padanya.


“Maaf Pak, apakah benar ini TK Permata Bunda?” tanya Dimas dengan santun.


Pria itu mengehentikan kegiatan menyapunya, seraya mengamati Dimas dengan saksama. Ia merasa heran, karena ada seorang pria yang berpakaian rapi mendekati dirinya.


“Kamu ini siapa?” tanya bapak itu tanpa basa-basi, penuh curiga.


“Oh, maaf Pak. Nama saya Dimas. Dulu, adik saya bersekolah di TK Permata Bunda. Ingin tahu kabar guru yang mengajar di sini. Apakah Bapak kenal?”


Dari dalam sakunya, Dimas mengeluarkan selembar foto milik Gerry, yang tergambar sekumpulan anak TK bersama gurunya. Ia menunjukkan foto itu kepada bapak penyapu halaman. Pria itu mengernyitkan dahi, seperti mengingat sesuatu.


“Bukankan ini foto Bu Delia?” gumam bapak itu.


“Bu Delia? Maaf Pak, saya ingin sekali bertemu dengan beliau, apakah Bapak mengenal Bu Delia ini?” tanya Dimas.


Bapak itu mengangguk-angguk sembari matanya menerawang jauh.


“Ya, ya. Tentu saja saya kenal dengan dia,” ucap bapak itu lirih.


“Bapak bisa menunjukkan rumahnya pada saya, Pak?”


“Tentu ... tentu. Dia adalah istri saya!”


“Oh, kebetulan sekali!”


Dimas tersenyum lega. Bapak itu meletakkan sapu yang dipakai untuk membersihkan halaman, kemudian mengisyaratkan Dimas untuk mengikuti langkahnya. Bapak itu melangkah menuju sebuah jalan setapak yang terletak di belakang gedung TK, membelah sebuah kebun singkong. Ternyata di belakang kebun singkong itu terdapat sebuah rumah sederhana. Rupanya di situlah bapak itu tinggal bersama istrinya.


Dimas dipersilakan masuk ke dalam ruang tamu yang tak seberapa luas, tetapi terlihat bersih. Walau kecil dan sederhana, suasana rumah terasa nyaman dan tertata rapi, sehingga Dimas merasa nyaman berada di situ. Apalagi jendela dibuka lebar-lebar, sehingga angin yang bertiup dari kebun singkong dapat masuk rumah dengan leluasa.


Tak lama, seorang wanita paruh baya berkerudung kusam keluar dari dalam rumah. Ia sedikit terkejut melihat kedatangan Dimas. Segera ia duduk di dekat kursi yang dipakai Dimas untuk duduk.


“Siapa ya?” tanya wanita yang bernama Bu Delia itu.


“Oh, saya Dimas Bu. Mohon maaf mengganggu waktu Ibu, saya kesini hendak menanyakan beberapa pertanyaan kalau Ibu tidak keberatan,” ucap Dimas dengan sopan.


“Pertanyaan? Pertanyaan apa?”


Dimas segera mengeluarkan foto yang tadi telah ditunjukkan pada suami Bu Delia. Ia meberikan foto itu kepada Bu Delia, agar wanita itu bisa lebih saksama dalam mengamati.


“Darimana kamu mendapat foto ini?” tanya Bu Delia.


“Sejujurnya Bu, saya adalah seorang polisi. Saya sedang menyelediki sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan beberapa anak yang ada di foto ini. Kami mohon dengan sangat bantuan Ibu untuk memberikan informasi seputar anak-anak ini,” ucap Dimas.


“Oh, maaf atas kekurangajaran saya tadi, Pak. Saya tidak tahu kalau Bapak seorang polisi,” ucap Bu Delia dengan paras malu.


“Nggak masalah Bu. Saya mohon bantuan Ibu kalau tidak keberatan .... “


“Anak-anak yang mana yang Bapak maksud?”


Dimas menunjuk beberapa sosok anak yang tergambar di foto itu. Bu Delia mengangguk-angguk. Ia terdiam sejenak sebelum ia mulai bercerita. Pikirannya melayang ke peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lalu, saat dirinya masih belia.


“Foto ini diambil beberapa hari sebelum mereka lulus sekolah. Waktu itu, kami sepakat untuk berfoto, dan menampakkan ekspresi paling bahagia yang pernah kami miliki. Anak-anak yang Bapak maksud tadi, mereka bersahabat dekat. Lihat ini! Gerry Lorenzo, aku masih hapal nama lengkapnya. Dia adalah putra tunggal pasangan kaya. Ibunya sendiri yang menitipkannya kepada saya waktu itu. Ia menghadiahi sebentuk cincin yang sampai sekarang cincin itu masih saya simpan.


Lalu gadis yang tersenyum ceria ini adalah Lena ... Lena siapa ya? Aku agak lupa nama lengkapnya. Dia adalah gadis periang dan berani. Ia pandai berkelahi dan suka menantang anak laki-laki. Bahkan ia pernah membuat beberapa anak laki-laki menangis karena ulah dia. Lalu anak gadis yang berkucir dan cantik ini adalah Jenny Veronica. Gadis kecil ini pandai sekali menari dan sangat senang berfoto. Lalu, gadis kecil yan memakai topi ini adalah Miranti. Agak pendiam dan penakut, tetapi sebenarnya adalah pribadi yang periang. Dan anak laki-laki ... siapa ya namanya? Kalau tidak salah bernama Rudi. Ya, aku ingat! Namanya Rudi.”


Mata Bu Delia berbinar-binar, kenangannya terhadap masa silam membuat ia merasa bahagia, seolah ia masih bisa melihat anak-anak itu secara langsung.


“Rudi adalah anak laki-laki sok pemberani. Ia suka berkelahi dengan anak lain, sehingga kadang saya harus melerai. Dan ini ... bocah laki-laki yang terlihat murung ini adalah Ferdy. Ya aku ingat, namanya Ferdy. Dia pemurung dan pendiam, tetapi sebenarnya dia baik. Ayah dan ibunya berjualan di pasar, sehingga kadang ia telat dijemput. Kudengar kabar bahwa ... ayah dan ibunya meninggal saat pasar terbakar, tetapi mereka tak sempat menyelamatkan diri dari sana. Oh Tuhan, itu sangat menyedihkan,” ucap Bu Delia.


“Oh ... benarkah itu, Bu?”


“Iya, ayah dan ibu Ferdy meninggal dalam peristiwa kebakaran itu. Aku sangat kasihan padanya, untunglah ada orang yang berbaik hati padanya, kemudian menjadikannya anak angkat.”


“Anak angkat?” Dimas semakin penasaran mendengar cerita Bu Delia.


“Benar sekali. Ia diangkat sebagai anak angkat oleh keluarga Gerry,” tutur Bu Delia.


“Bukanlah mereka bersepupu?” tanya Dimas.


“Bukan, bukan. Mereka sebenarnya mereka bukan sepupu. Tetapi setiap ditanya orang, mereka mengatakan bahwa Ferdy adalah sepupu Gerry, entah apa alasannya. Namun, sebenarnya tak ada hubungan darah antara Ferdy dan Gerry,” ucap Bu Delia.


Dimas manggut-manggut. Ia kini mengetahui cerita-cerita tersembunyi yang tak pernah ia ketahui sebelumnya, termasuk rahasia-rahasia yang mungkin tak pernah terangkat di permukaan. Ia baru tahu kalau Ferdy dan Gerry ternyata bukan sepupu asli, walaupun mereka selalu mengatakan bahwa mereka adalah sepupu.


***


Gilda merasa tidak nyaman berada di dalam kamar terus-terusan. Hari pertama ia berada di rumah isolasi, ia langsung mengajak Wandi untuk berkeliling melihat keadaan. Walaupun ia diberi kebebasan meliput berita tentang segala sesuatu yang berada di rumah itu, ia merasa kurang puas karena tak diperbolehkan mempublikasikan berita keluar.


“Apakah kita akan terkurung di sini selamanya, Wan?” tanya Gilda pada Wandi.


“Ya nggak lah Mbak. Kita kan bukan tersangka di sini,” jawab Wandi.


Gilda mendengkus. Setelah dari halaman depan, ia ke halaman samping yang banyak ditanami tanaman hias. Ia tidak begitu telaten dengan hal-hal seperti itu, karena menurutnya buang-buang waktu dan membosankan. Ia melewati begitu saja halaman samping yang penuh tanaman hias itu, langsung menuju halaman belakang.


“Benar-benar tak ada yang menarik di rumah ini untuk diliput!” gerutunya.


“Lalu yang menarik yang seperti apa, Mbak?” tanya Wandi.


“Aku berharap ada peristiwa pembunuhan di sini. Kan seru. Kalau ada yang mati di sini, terus kita ambil gambarnya secara eksklusif, tentu akan keren banget kan?” ucap Gilda sambil tersenyum sinis.


“Waduh, ya jangan sampai ada pembunuhan lagi lah Mbak. Kasihan anak-anak muda itu. Kalau bisa pembunuhnya segera cepat ditangkap, jadi kita juga nggak lama-lama di sini, Mbak. Mbak Gilda mau tinggal lebih lama di tempat ini?” Wandi balik bertanya.


“Ya nggak sih, Wan. Tapi kan seru aja kalau ada peristiwa tak biasa di sini!”


“Janganlah Mbak. Itu jahat namanya .... “


“Loh, kita kan memang hidup dari hasil kejahatan orang lain, Wan. Kita dapat berita dari orang lain yang telah berbuat kejahatan, lalu kita jual beritanya. Ya mau nggak mau memang ladang nafkah kita dari semua kejahatan ini,” ucap Gilda.


“Tapi Mbak ... iya kalau yang terbunuh itu mereka, bagaimana kalau Mbak Gilda yang terbunuh misalnya. Apakah hal itu tetap menarik untuk diliput?” tanya Wandi dengan nada polos.


“Dih, apaan sih kamu? Kamu berharap aku mati dibunuh gitu? Kamu kok ngomongnya sembarangan sih Wan. Amit-amit dah!” gerutu Gilda sambil berjalan cepat meninggalkan Wandi.


Gilda masuk ke dalam rumah, menuju ke ruang makan karena memang sekarang adalah jam makan siang bagi penghuni rumah isolasi. Ia telah mempelajari jadwal yang telah disusun oleh pihak polisi. Saat ia masuk ke dalam ruang makan, ia melihat ruang makan itu masih sepi, belum ada yang datang. Namun, Bu Mariyati terlihat sibuk menyiapkan makanan di atas meja. Gilda langsung mencari tempat duduk di sana.


“Bu Mariyati yang masak semua ini sendiri?” tanya Gilda.


“Iya Non. Saya yang masak semua ini sendiri,” jawab Bu Mariyati sambil menyiapkan segala sesuatunya di atas meja.


Gilda melihat tampilan masakan yang disajikan Bu Mariyati begitu menarik, sehingga ia tertarik untuk mencicipi. Baru saja ia hendak mencicipi makanan itu, beberapa penghuni mulai berdatangan ke tempat makan. Gilda mengurungkan niatnya. Satu-persatu mereka mengisi kursi yang kosong, tanpa sepatah kata mereka bersiap untuk makan siang.


Suasana siang itu sedikit canggung. Kehadiran Gilda yang sama sekali tak diharapkan membuat suasana kurang nyaman dan leluasa. Di sebelah Gilda ada Ferdy yang duduk seperti seorang anak manis, tanpa berniat sepatah kata pun.


“Hai Fer, apa kabar?” bisik Gilda.


“Eh, baik, Mbak!” jawab Ferdy sedikit terkejut.


Ferdy pernah mengisi acara bincang-bincang yang dipandu oleh Gilda, jadi mereka tentu lebih akrab dibanding dengan yang lainnya.


“Jadi gimana? Kamu betah aja di sini?” tanya Gilda pada Ferdy.


“Ya mau nggak mau sih, Mbak. Dibilang betah ya nggak betah. Tapi ini kan sesuatu yang harus dijalani agar kasus ini bisa segera dituntaskan. Kita ikuti saja lah,” jawab Ferdy.


“Siapa ya kira-kira yang jadi dalang dari semua peristiwa ini?” tanya Gilda.


“Pastinya sih nggak tahu ya, Mbak. Kok nanya saya sih?” Ferdy menjawab sambil tersenyum.


Gilda juga ikut tersenyum. Melihat Gilda dan Ferdy berbisik-bisik, membuat Adinda yang duduk agak jauh dari mereka menjadi tak bisa menahan rasa ingin tahu. Entah kenapa ia sedikit cemburu ketika melihat keakraban antara Gilda dan Ferdy. Ia melirik ke arah mereka lekat-lekat.


Setelah semua lengkap, acara makan siang siap dimulai. Reno yang memimpin langsung untuk berdoa sebelum makan. Mereka makan dengan khidmat, tanpa bersuara. Reno berharap agar suasana tetap kondusif hingga malam. Dilihatnya paras masing-masing penghuni rumah isolasi. Ia sadar bahwa mereka merasa bosan.


“Sore ini akan ada kejutan buat kalian!” ucap Reno sambil menikmati makan siangnya.


“Aku harap kejutan yang menyenangkan ya!” celetuk Lena.


“Iya, ini menyenangkan kok. Kami tahu kalian bosan. Sore ini pihak kepolisian akan mengirimkan berbagai fasilitas hiburan yang akan membuat kalian tidak bosan. Fasilitas apa saja itu, nanti kita akan lihat. Paling tidak, waktu luang kalian tidak terbuang dengan berdiam diri di kamar,” papar Reno.


“Pasti itu yang dibilang Pak Dimas kemarin,” ucap Lena.


“Emang Pak Dimas bilang apa?” tanya Rudi.


“Pak Dimas bilang akan memberikan fasiitas hiburan agar kami tidak merasa bosan di sini. Gitu aja sih,” jawab Lena.


“Aku harap ada sarana olahraganya pula. Dan kuharap sarana olahraganya bukan catur. Permainan catur membuat pusing,” ucap Rudi.


“Catur itu melatih otak untuk berpikir dan tidak bikin pusing. Mungkin hanya orang yang malas mikir aja yang bilang kalau catur itu membosankan!” Alex membela diri.


“Ya suka-suka aku dong! Namanya juga pendapat. Kalau aku bilang catur pemainan membosankan kan sah-sah aja. Itu sama halnya kalau kamu bilang fitness itu olahraga nggak berguna. Sesimpel itu aja kok!” Rudi berkata sambil menyeringai.


“Buset! Selera makanku jadi turun gara-gara kalian berdebat mengenai hal yang sepele!” celetuk Rasty.


Semua terdiam. Gilda hanya bisa tersenyum mencibir mendengar keributan kecil di meja makan itu. Ia maklum, darah muda masih meledak-ledak. Mereka masih mempunyai ego yang tinggi, jadi wajar saja kalau mereka memilih untuk mempertahankan pendapat dengan sedikit ngotot.


“Ngomong-mgomong, pertandingan catur kemarin belum selesai! Aku masih menantikan lawan yang sepadan untukku!” ucap Ferdy.


“Udah stop lah bahas tentang catur! Kita ini sedang makan!” protes Rudi.


“Bukannya kamu yang mulai tadi?” tanya Ferdy.


Rudi terdiam. Rupanya ia sedang tidak dalam keadaan nyaman. Ia hanya terdiam. Jelas tergambar di parasnya, kalau ia sedang menahan marah.


***