Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXVIII. A Thriller Novel


Maira masih takjub, berdiri tanpa ekspresi. Beberapa menit sebelumnya, jelas-jelas ia sedang diburu oleh sosok berjubah hitam yang sangat bernafsu untuk menghabisinya. Kini sekejap mata sosok itu hilang dari pandangan. Maira tak habis pikir. Ia merasa tidak sedang berhalusinasi.


“Maaf sebelumnya Maira. Apa kamu sedang mabuk malam ini?” tanya Ammar. Pertanyaan sederhana , tapi sangat menusuk.


“Aku memang minum minuman beralkohol, tapi aku masih waras. Aku merasakan kengerian saat langkah si pembunuh itu memburuku, bahkan leherku juga masih terluka gara-gara cekikan kabel itu. Sungguh aku sangat marah kalau kamu menganggap semua ini adalah imajinasi semata!” Maira mulai gusar.


“Maafkan aku, Maira. Sungguh aku ingin mempercayaimu. Tapi kenyataan berkata lain. Kamu juga lihat sendiri bahwa sosok yang kamu maksudkan itu nggak ada di ruangan ini. Kamu bilang kamu sudah kunci di dalam ruang baca sini. Lalu mana buktinya? Kamu pikir sosok itu hantu yang bisa menembus tembok?”


Maira tercekat. Rasanya menyakitkan semua usahanya untuk bertahan hidup hanya ditepis begitu saja oleh Ammar. Bagaimanapun ia juga tak bisa menyalahkan Ammar. Karena pada kenyataannya tak ditemukan seorang pun dalam ruang baca. Sosok itu lenyap tiada bekas.


“Baiklah. Aku nggak peduli dengan apa pun yang kamu pikirkan. Tapi aku bukan pembohong!” ujar Maira. Perasaannya kesal, sehingga ia melangkah pergi meninggalkan Ammar.


“Tunggu!” cegah Ammar sambil menarik lengan Maira.


“Apa lagi?”


“Aku ingin membaca novel yang kamu bilang tadi.”


“Oke. Akan aku cari!”


Maira mengangguk. Ia bergegas menuju rak tempat menyimpan novel milik Michael Smith. Sayangnya Dewi Fortuna seolah tak mau berpihak pada Maira. Kini novel yang baru saja ia baca juga tak ada di tempatnya. Seseorang telah mengambil novel itu.


“Maafkan aku, Ammar. Novel itu juga telah lenyap. Mungkin sosok misterius itu pula yang telah mengambilnya,” lirih Maira.


“Jadi novel itu juga lenyap?” tanya Ammar.


“Iya. Aku yakin, aku juga sudah mengembalikan novel itu pada tempatnya. Tetapi entah mengapa aku nggak bisa menemukannya,” keluh Maira.


“Lupakan saja novel itu. Kalau pun benar mungkin hanya kebetulan semata. Perlu mendalami jauh mengenai novel yang kamu maksud. Kamu bilang tadi penulisnya Michael kan? Besok pagi akan kutanyai tentang novel yang ia tulis.”


“Terserah! Itu bukan urusanku. Tugasku sudah selesai. Apapun yang kukatakan sepertinya tak bisa dipercaya. Ya, aku memang bukan wanita baik seperti Adrianna atau Tiara. Tetapi aku tidak berbohong mengenai masalah ini. Selamat malam, Pak Polisi! Good Luck!”


Maira meninggalkan Ammar Marutami sendirian. Diam-diam, ia juga merasa heran. Andai apa yang dikatakan Maira benar, kemana sosok itu menghilang?


Keesokann harinya, berita mengenai percobaan pembunuhan Maira sudah mulai ramai dibicarakan oleh penulis lain. Maira menceritakan kisah itu selesai makan pagi, saat para penulis wanita sedang duduk menikmati udara pagi di kursi taman.


Pagi itu cukup semarak, dengan bunga-bunga peony mulai bermekaran. Para wanita sengaja meghabiskan waktu dengan bercengkrama sambil memanjakan diri dengan seduhan teh lemon yang disiapkan Helen. Cerita Maira ditanggapi dengan antusias oleh Tiara, dan dipandang remeh oleh Adrianna.


“Aku tak percaya kamu bisa lolos dari percobaan pembunuhan itu!” komentar Adrianna.


“Jangankan kamu! Aku yang mengalami sendiri juga masih tak habis pikir bagaimana aku bisa lolos dari incaran si pembunuh. Aku masih merasakan bagaimana jeratan kabel itu mencekik leher. Sangat menyakitkan! Sungguh kejaiban aku bisa lolos!” Maira membuka kerah leher, memperlihatkan bekas luka yang mulai menghitam di lehernya.


“Astaga!” desis Tiara.


“Bagaimana caranya kamu membuat bekas luka sedemikian bagus seperti itu?” tanya Adrianna.


“Ini bukan luka buatan, Adrianna. Aku tahu apa yanga ada dalam pikranmu. Kamu pikir aku mengarang cerita bohong kan? Okelah, fine! Aku berharap nanti kamu juga merasakan apa yang aku alami. Aku ingin kamu merasakan saat jantungmu berdetak keras, ketika seseorang ingin menghabisi nyawamu. Kamu pasti akan merasakan itu, Adrianna!” Maira mulai gusar.


“Aku nggak akan pernah takut dengan ancaman apa pun! Apalagi dengan cerita isapan jempol tentang pembunuh berjubah hitam yang bisa menghilang di ruang baca. Itu sama sekali tak membuatku takut!”


“Kesombongan akan membinasakanmu, Adrianna!”


Sementara para wanita sedang minum teh di taman, para pria berkumpul di ruang tengah. Michael sedang bermain catur dengan Aldo Riyanda. Bidak catur menjadi arena pertempuran adu kecerdasan. Taktik yang jitu akan menentukan siapa yang terlebih dahulu menumbangkan sang raja.


Di sudut lain, Cornellio Syam sedang bersantai sambil menikmati keripik kentang, disertai obrolan-obrolan ringan bersama Hans.


“Skak Mat!” ujar Aldo Riyanda disertai senyuman penuh kemenangan.


“Aku menyerah, Aldo! Kamu memang luar biasa!” puji Michael. Ini adalah kekalahan ketiganya saat bermain catur melawan si jenius misterius itu.


“Lain kali kamu harus memakai insting membunuh untuk menumbangkan lawanmu. Keragu-raguanmu melangkah membuat gerakan mudah terbaca lawan. Jujur, pergerakanmu tadi sangat mudah ditebak!” kata Aldo Riyanda.


“Aku mengakui kehebatanmu, Aldo. Tapi aku akan menumbangkanmu suatu saat nanti. Mungkin aku kurang beruntung hari ini.”


“Aku selalu siap kapan saja, Michael!”


Percakapan itu terhenti ketika Ammar memasuki ruangan dengan paras serius. Ditatapnya satu-persatu para penulis pria yang berada di tempat itu.


“Hari ini giliranku untuk wawancara kan?” Cornellio Syam bangkit dari tempat duduknya.


“Bukan kamu! Hari ini aku ingin berbincang sejenak dengan Michael!”


Mendengar namanya disebut, Michael balik bertanya,” Aku?”


!


“Ya, jadwal akan ditukar dengan Cornellio. Karena ini berkenaan dengan hal-hal penting yang ingin segera kutanyakan padamu,” ujarAmmar.


“Hal-hal penting? Hmm. Seperti apa?”


“Seperti novel yang kamu tulis ....”


“Hmm. Apa kamu termasuk salah satu penggemar novelku? Kurasa bukan. Pasti lebih dari itu.”


“Aku bukan penggemar novelmu Michael. Sudah pernah kubilang novelmu itu konyol dengan logika ngawur. Tapi kali ini, ada sesuatu yang serius di antara salah satu novelmu.”


“Novel yang mana?”


“Bagaimana kalau kita bicarakan sambil minum kopi di ruang kerja?”


“Sepertinya usulan menarik. Sudah lama aku tak berdiskusi tentang novel. Siapa tahu setelah ini kamu bisa membagi ilmu agar novel yang kubuat tidak terlalu membosankan,” ujar Michael.


Belum selesai mereka menyelesaikan obrolan, Helen memasuki ruang tengah. Seperti biasa, parasnya selalu datar, tanpa ekspresi apa pun. Mungkin wanita paruh baya itu sudah lama cara menebar senyum. Atau bisa jadi hati nuraninya telan mati.


“Maafkan mengganggu obrolan kalian, Bapak-bapak! Aku hanya ingin menyampaikan bahwa stok makanan yang kita punyai mulai menipis. Harus ada yang mengantarku ke kota untuk membeli bahan makanan. Aku tak bisa mengemudi mobil, dan Yoga juga telah tewas. Kupikir aku membutuhkan salah seorang dari kalian untuk mengantar ke kota!” ujar Helen.


“Aku siap!” celetuk Hans.


Ammar Marutami mengernyitkan dahi. Masalah perut tak bisa ditunda. Jelas ia tak bisa meninggalkan kastil sekarang ini. Ia langsung menyetujui saat Hans menawarkan diri.


***