
Perempuan tua itu membalikkan tubuhnya, menatap dua detektif dengan tajam. Ia memang terlihat tua, tetapi gurat tegas masih tergambar di wajahnya. Reno Atmaja dan Dimas duduk menunggu wanita tua itu memutar kursi roda mendekati mereka. Setelah beberapa saat, wanita yang bernama Ibu Hermina itu mulai bersuara.
“Aku tahu apa yang hendak kalian tanyakan,” ucap Ibu Hermina.
“Darimana ibu tahu?” tanya Reno.
“Sebelumnya tak ada seorang pun polisi mengunjungi tempat ini. Tetapi setelah kasus pembunuhan penulis itu, aku yakin pasti akan ada polisi yang kesini. Sebab, penulis itu pernah tinggal di panti ini. Apakah tebakanku itu benar?” tanya Ibu Hermina.
“Anda benar. Kami kesini ingin menanyakan perihal latar belakang penulis yang tewas itu,” kata Reno.
“Dia memang pernah tinggal di panti ini, berdua dengan saudara kembarnya. Selama dua tahun tinggal bersama, bermain bersama, hingga pada suatu hari wanita itu datang.” Ucapan Ibu Hermina terhenti.
“Ibu Farida?” tebak Dimas.
“Ya, Farida Yunitasari. Perempuan itu datang kepadaku dengan mata berkaca-kaca, memohon agar bisa mengadopsi si kembar, karena dia bilang bahwa dia jatuh cinta pada mereka pada pandangan pertama. Setelah melengkapi persyaratan, kami akhirnya melepas si kembar padanya,” ujar Ibu Hermina.
“Ya, untuk kisah selanjutnya kami sudah mendengar sendiri dari Ibu Farida. Yang ingin kami tanyakan selanjutnya adalah darimana asal si kembar?” tanya Reno.
“Itu cerita yang agak panjang. Malam itu, gerimis di bulan Maret, aku masih ingat. Hari menjelang larut ketika sebuah mobil yang dikendarai seorang pria mengetuk ruanganku. Ketika kubuka, aku terkejut melihat seorang pria membawa dua bayi di gendongan. Dia menyerahkan begitu saja, tanpa berkata sepatah kata pun, sambil menyerahkan sejumlah uang yang nilainya cukup besar pada waktu itu,” kenang Ibu Hermina.
“Anda tahu identitas pria yang memberikan dua orang bayi itu?” tanya Reno.
“Awalnya aku tak mengenalnya. Dia sendiri cukup tertutup kepadaku, enggan bercerita mengenai latar belakangnya. Tapi sempat kulihat di dalam mobilnya, seorang wanita berwajah murung dan menangis. Mungkin istrinya atau entah siapa. Baru bertahun-tahun kemudian aku menyadari satu hal....”
“Apa itu, Ibu?”
“Suatu saat aku menonton televisi, dalam suatu acara itu terlihat wajah seorang konglomerat kaya raya bernama Anggara Laksono. Pada saat itulah aku menyadari bahwa orang kaya itulah yang datang kepadaku pada suatu malam di bulan Maret itu.”
“Siapa Anggara Laksono? Bukankah dia cukup terkenal, Dimas?” tanya Reno, sambil menoleh ke arah Dimas.
“Ya, beberapa kali muncul di televisi. Bahkan ia pernah meluncurkan sebuah buku biografi yang ditulis oleh Madeline Rahma, penulis yang dikabarkan hilang dan belum diketemukan hingga kini,” ucap Dimas.
“Hmm. Ini sungguh menarik. Kamu tahu di mana Anggara Laksono tinggal? Kurasa ia tidak tinggal di Jakarta,” tebak Reno.
“Tidak. Anggara Laksono dikabarkan mempunyai sebuah kastil mewah jauh dari ibukota. Tepatnya di sebuah kastil di kawasan kebun teh jauh dari ibukota. Entahlah. Aku sendiri kurang paham dengan ini. Nanti kita cari tahu alamat si Anggara Laksono ,” terang Dimas.
“Baik. Sekarang mari kita lacak keberadaan orang kaya ini. Mungkin dia mempunyai info yang lebih lengkap tentang si kembar,” ucap Reno.
“Kalian mau ke kediaman Anggara Laksono?” tanya Ibu Hermina.
“Iya Ibu, kami mau memastikan tentang si kembar itu. Siapa tahu juga dia menyimpan kontak dengan anak kembarnya. Kita harus mencoba segala kemungkinan untuk mengurai benang kusut ini.” Dimas menimpali
“Kalau begitu, jaga diri kalian. Apakah kalian tidak pernah mendengar banyak penulis menghilang sejak datang ke kediaman Anggara Laksono?” tanya Ibu Hermina lagi.
“Penulis hilang? Bukankan itu kasus lama?” tanya Reno.
“Iya, itu memang kasus lama yang tak terungkap. Polisi tak dapat mendakwa Anggara Laksono karena tidak mempunyai bukti kuat. Kini kematian seorang penulis kembali berulang, dan berkaitan dengan Anggara Laksono. Sepertinya kita memang harus melacak lagi keberadaan orang kaya itu,” saran Dimas.
“Iya, Dimas. Mari kita urai benang kusut ini. Banyak yang harus kita selesaikan.”
Setelah berbasa-basi sebentar, dua detektif itu mohon diri. Ibu Hermina melepas kepergian mereka dengan tatapan kosong, dari balik jendela. Diana Siregar kembali menemui mereka, sambil berjalan sepanjang koridor menuju pintu keluar.
“Apa kalian mendapat informasi penting yang kalian inginkan?” tanya Diana.
“Itu nomor kontakku. Kalau ada apa-apa, kalian boleh menghubungiku kapan saja.”
Diana Siregar memberikan secarik kartu nama pada Reno Atmaja.
“Baik. Terima kasih, Diana” ujar Dimas dengan senyum terkembang. Mereka meninggalkan panti tersebut, siap menguak misteri selanjutnya.
***
Tiara Laksmi sedang memoles lipstik pada bibirnya yang merah merekah, kemudian tersenyum di depan cermin. Ia menatap dirinya dengan bangga. Sementara, Adrianna menatapnya dari belakang.
“Apakah menurutmu Maira lebih cantik daripada aku?” tanya Tiara sambil menoleh ke arah Adrianna.
“Kamu jauh lebih menarik daripada wanita murahan itu, Tiara. Percayalah. Paling tidak kamu tidak mengumbar-ngumbar berapa jumlah pria yang kamu tiduri. Karena itu adalah hal privasi yang nggak perlu diumbar-umbar,” kata Adrianna.
“Hmm. Kulihat kastil sedang sepi hari ini. Empat orang pergi ke air terjun, dan seorang lagi ke kota untuk belanja alat medis. Ammar masih sakit di kamarnya, dan Michael entah kemana. Kamu punya rencana nggak agar hari ini tidak terasa membosankan?” tanya Tiara.
“Aku nggak tahu harus ngapain. Kastil ini semakin hari semakin nggak aman. Masih terbayang di benakku saat Cornellio disekap di ruang bawah tanah itu. Sungguh mengerikan!” ucap Adrianna.
“Ruang bawah tanah membuatku trauma. Sebenarnya aku nggak ingin kesana lagi. Tapi, benar-benar membuat penasaran. Mumpung mereka nggak ada, aku ingin melihat isi ruang-ruang gelap itu,” ujar Tiara.
“Astaga, jangan mencari penyakit kamu, Tiara! Nggak ada yang menjamin ruang bawah tanah itu benar-benar aman,” ucap Adrianna.
“Kurasa pembunuh itu sedang keluar sekarang. Aku bisa merasakan firasat itu,” ucap Tiara.
Beberapa saat kemudian, rasa penasaran Tiara tak terbendung. Ia bersiap menuruni ruang bawah tanah. Mereka berdua sudah siap di atas tingkap ruang bawah tanah.
“Kamu mau ikut?” tanya Tiara.
“Tidak Aku menunggumu di sini saja. Kalau ada apa-apa, kamu tinggal teriak saja.”
Tiara tersenyum. Ia memasuki ruang bawah tanah itu perlahan, dengan penuh percaya diri. Adrianna menunggu di atas, sambil melongok di atas tingkap. Ia khawatir akan terjadi hal buruk pada Tiara. Sosok Tiara menghilang dalam kegelapan. Adrianna semakin gelisah.
“Kamu baik-baik saja, Tiara?” pekik Adrianna.
“Aku baik-baik saja, Adrianna!”
Beberapa lama kemudian, suasana hening. Adrianna tak lagi mendengar suara Tiara, demikian juga sosoknya juga tak terlihat. Adrianna didera rasa cemas.
“Aaaahh!”
Blaaaamm!
Tiba-tiba dari dalam ruangan bawah tanah terdengar suara jeritan seorang perempuan, dan pintu baja yang dibanting. Jantung Adrianna berdegup kencang.
“Tiara, kamu nggak apa-apa?” pekik Adrianna dari atas tingkap.
“Adrianna, tolong aku!”
***