
Suara gelak tawa berpadu dengan suara percikan air di bawah air terjun kecil dekat hutan. Ringo tengah bermain air bersama Melly dengan gembira. Suasana pagi menjelang siang yang cukup cerah, membuat mereka betah berendam dalam air. Ditambah dengan suasana sekitar yang cukup sunyi, hingga Ringo terkadang lupa diri. Beberapa kali ia mencoba menggoda Melly, dengan menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif.
Deretan pepohonan menjadi saksi keceriaan dua anak muda yang hampir lepas kendali itu. Baju-baju mereka berserakan di balik bebatuan, tersembunyi dekat semak yang rimbun.
“Kamu terlihat begitu cantik ketika tubuhmu basah seperti itu,” kata Ringo sambil menatap tajam ke arah Melly, seolah hendak menelan bulat-bulat.
“Aku memang cantik, Go! Nggak usah nunggu basah. Tapi nggak usah macam-macam denganku. Aku lagi nggak berminat!” ucap Melly.
“Oh, ayolah! Di sini sangat sunyi dan sepi. Kita bisa bersenang-senang sebentar sebelum kembali ke kota siang ini!” rayu Ringo.
“Aku hanya ingin mandi dan segera kembali ke tenda!” ketus Melly.
Ucapan Melly hanya dianggap angin lalu oleh Ringo. Pria itu bergerak maju, dan tiba-tiba menyentuh dada Melly sambil bergumam,” Aku tahu kamu juga menginginkan ini ....”
Plaak!
“Jangan kurang ajar!”
Satu tamparan mendarat di pipi Ringo. Melly meronta sembari melindungi dadanya. Ia menatap Ringo dengan marah.
“Sekali lagi kamu begitu, aku akan teriak!” ancam Melly.
“Kamu pikir ada yang dengar teriakanmu di tengah hutan seperti ini? Ayolah Mell. Sekali ini saja, dan aku janji ini akan jadi rahasia kita berdua!” desak Ringo.
“Ringo! Kamu kenapa sih? Jangan coba-coba ya! Udah ah! Mending aku keluar dari air dan balik ke tenda!”
Melly mulai gusar, segera menepi dan keluar dari air. Ia hanya mengenakan celana yang teramat pendek dan sebuah tank-top warna putih tanpa bra, sehingga apa yang ada di dalam bajunya tergambar jelas.
“Mel! Masa kamu mau tinggalin aku? Ini masih pagi. Oke deh. Aku janji tidak begitu lagi. Kembali ke air!” perintah Ringo.
Sayangnya perintah Ringo tak digubris. Melly mulai kesal, ia menyelinap ke balik batu tempat ia meletakkan baju dan handuknya. Sebentar kemudian, ia kembali ke tepi sungai tempat Ringo masih asyik berendam di sana.
“Nah, enakan kembali ke air kan?” ujar Ringo.
Melly tak menjawab. Wajahnya kelihatan takut dan cemas, sehingga membuat Ringo heran.
“Kamu kenapa, Mel? Kok cemas gitu?” tanya Ringo.
“Kembalikan bajuku!”
“Baju? Kamu ngomong apaan sih?” Ringo terlihat bingung.
“Baju sama handukku nggak ada di situ. Pasti kamu yang sembunyikan. Atau jangan-jangan, kamu juga yang menghambur isi tasku tadi malam di hutan,” tuduh Melly.
“Astaga! Enggaklah! Buat apa? Emang bajumu sekarang nggak ada ya?”
Ringo penasaran dengan ucapan Melly. Segera ia keluar dari air, dan memeriksa tempat di mana mereka menaruh baju bersih. Ringo melihat bajunya masih ada di sana, sedangkan baju Melly tidak ada.
“Kok aneh gini? Jangan-jangan ...,” Ringo bergumam.
“Jangan-jangan apa? Jangan nakutin ya?”
“Tadi malam tas mu berserak di hutan. Kini baju juga hilang, seperti ada yang sengaja mengambil atau bagaimana. Masa sih hantu penunggu hutan?” geram Ringo.
“Jangan sembarangan kamu! Aku nggak percaya hantu-hantuan. Ini jelas nggak beres. Masa aku kembali ke tenda dalam keadaan basah seperti ini?” cemas Melly.
“Udah pakai handuk dan kaosku saja,” tawar Ringo.
“Udahlah. Aku sudah biasa kok. Kamu tinggal sebentar di sini ya. Aku akan memeriksa dalam hutan sebentar. Aku kok merasa ada yang janggal di sekitar sini,” ujar Ringo.
“Aku di sini sendirian? Aku ikut saja ya?”
“Jangan! Aku Cuma sebentar aja kok. Aku lekas kembali. Kalau kamu ikut, kita bisa tersesat sama-sama. Nah, kalau kamu di sini, kalau aku tersesat kamu bisa kembali ke tenda dan beritahu teman-teman yang lain,” terang Ringo.
Melly tidak berkata apa-apa lagi. Ia memilih duduk di sebuah batu sembari mengeringkan badan menggunakan handuk milik Ringo. Sementara, Ringo sudah berjalan perlahan meninggalkannya, menuju ke dalam hutan yang agak gelap.
***
Dimas buru-buru keluar dari toko kue dengan membawa satu plastik berisi kue basah untuk pengganjal perut, dan segera masuk ke dalam mobil. Di sana sudah menunggu Detektif Reno Atmaja di belakang kemudi, bersiap meluncur menyusur jalan raya.
“Kita sarapan dulu sebelum berangkat ke sana!” ucap Dimas.
“Nanti sajalah! Aku sudah minum segelas sereal tadi sebelum berangkat. Tapi kalau kamu mau sarapan aku akan tunggu kamu,” ucap Reno.
“Kamu harus menunggu aku sepertinya,” ujar Dimas sambil menyumpal mulutnya dengan sepotong kue isi pisang yang masih hangat.
“Hmm. Enak sekali kue ini! Kamu nggak yakin mau coba?” tanya Dimas sambil menyodorkan plastik berisi aneka kue pada rekannya.
“Nanti saja. Setelah ini kita akan melakukan perjalanan lumayan jauh menuju kastil kediaman Anggara Laksono. Aku merasa, kematian penulis di apartemen itu ada kaitannya dengan orang kaya itu,” kata Reno.
“Bagaimana bisa kamu menyimpulkan itu?” tanya Dimas.
“Penulis yang tewas itu mempunyai hubungan erat dengan kastil. Siapa sangka dia adalah keturunan dari Anggara? Peristiwa puluhan silam itu sangat menggelitik untuk diselidiki. Mengapa Anggara menitipkan si penulis di sebuah panti? Apa alasannya? Lalu siapa perempuan yang berwajah sendu yang diceritakan Ibu Hermina tempo hari itu? Lalu, mengapa banyak penulis yang hilang setelah bertemu dengan Anggara? Bukankah semua itu adalah pertanyaan yang berujung pada kastil tua itu?” tanya Reno.
“Ya, aku paham. Semoga perjalanan kita setelah ini akan mendapatkan titik terang. Semoga kita mendapat informasi yang kita perlukan di sana nanti,” gumam Dimas.
Tiba-tiba, ponsel Dimas berdering. Buru-buru ia menghabiskan kue di dalam mulutnya, lalu mengangkat telepon cepat-cepat.
“Ada apa, Yani?” tanya Dimas.
“Oh, iya. Baik. Nanti akan segera kuurus masalah itu. Saat ini aku akan menuju keluar kota untuk menyelidiki kasus tewasnya penulis terkenal itu. Nanti kita bicara lagi setelah ini.”
Dimas buru-buru menutup teleponnya.
“Yani? Ngapain dia telepon kamu?” tanya Reno.
“Yani bilang, di kantor ada seorang wanita yang melaporkan kehilangan suaminya sejak tadi malam. Kupikir ini masalah sepele saja. Mengapa harus telepon aku sih? Bukankah kalau belum 24 jam belum dinyatakan hilang? Bisa jadi suaminya itu selingkuh atau bagaimana. Ini sungguh menyebalkan!” keluh Dimas.
“Yani ingin kita tangani kasus orang hilang itu pula?” tanya Reno.
“Iya. Saksi mata bilang, pria itu hilang semenjak bertemu dengan rekannya di sebuah Cafe. Uniknya, rekannya ini adalah seorang penulis terkenal, Cornellio Syam.”
“Penulis lagi? Oh Tuhan! Ada apa sebenarnya dengan para penulis ini? Aku hampir nggak percaya!” keluh Reno.
“Okelah. Pending saja masalah orang hilang itu. Lebih baik kita fokus pada kasus utama. Semoga kasus-kasus ini segera terpecahkan.” Dimas menarik napas.
“Kamu sudah sarapannya?”
“Aku sudah siap kok. Yuk berangkat!”
“Oke. Yuk!”
***