
Berita kematian Tari telah menyebar ke seluruh penjuru kota. Mendadak Kampung Hitam menjadi buah bibir. Reno dan Dimas, dibantu beberapa polisi lain, telah sampai di tempat kejadian perkara. Mereka segera bertindak cepat, mengamankan tempat kejadian perkara dan mensterilkan dari orang yang tidak berkepentingan. Mereka memeriksa kondisi sekitar rumah, barangkali ada petunjuk penting di sana.
Para anggota Raymond Brothers merasa terpukul dengan kematian Tari, terutama Badi, kakak kandung Tari. Dalam hati ia bersumpah akan mencari sendiri siapa pembunuh adiknya untuk membalaskan dendamnya. Awalnya ia menduga kalau Nayya pelaku pembunuhan brutal itu, karena memang gadis itu yang terakhir terlihat bersama Tari.
“Kurasa bukan dia pembunuhnya,” ucap Raymond, sang pentolan kelompok.
“Aku tak peduli! Gadis itu yang menyebabkan Tari tewas!”
“Gadis itu tidak mungkin melakukan perbuatan sebrutal itu, mengingat kondisinya yang lemah. Ada orang lain yang masuk ke dalam rumah kemudian menghabisi Tari. Entah itu siapa.”
“Aku bersumpah, Ray! Aku bersumpah akan mencari siapa pun pembunuh adikku. Aku akan membalas apa yang ia lakukan pada adikku!” ucap Badi dengan penuh emosi.
Raymond tidak berkata apa-apa. Menurutnya, apa yang akan dilakukan Badi wajar saja. Raymond tahu bahwa Badi sangat menyayangi adiknya, terlebih mereka tak punya keluarga lain sejak kecil. Tak heran, kematian Tari memberikan pukulan telak bagi Badi.
Sementara satu-persatu anggota Raymond Brothers dimintai keterangan oleh Reno. Secara singkat Raymond menceritakan kronologis kejadian tadi siang.
“Gadis itu tampak ketakutan seperti dikejar seseorang, tetapi kami tak melihat siapa pengejarnya. Ia bingung dan terlihat lemah, oleh karena itu kami berinisiatif untuk membantu. Kami mempunyai saudara perempuan, jadi kami tak mungkin menyakiti perempuan. Kami meminta tolong Tari untuk mengurus gadis itu, sementara kami ada urusan di luar. Semua masih baik-baik saja, sampai kami mendapat kabar bahwa Tari terbunuh,” papar Raymond.
Reno mengelus dagunya sambil mencermati cerita Raymond. Ia menoleh ke arah Dimas yang sedang mencatat segala keterangan Raymond. Reno menduga bahwa gadis yang diceritakan Raymond itu adalah Nayya yang dilaporkan hilang sejak kemarin.
“Kurasa pembunuh itu lewat pintu belakang yang tembus dengan kebun pisang. Biasanya pintu belakang nggak pernah dibuka, tetapi tadi terbuka lebar-lebar. Mereka menyusur jalan setapak di kebun pisang, kemudian menuju jalan raya,” Badi menambahkan.
Reno manggut-manggut. Saat ini ia tidak punya bayangan apa pun, karena ia masih perlu banyak bukti untuk mengungkap kasus yang semakin pelik ini. Reno agak bingung, karena Tari sama sekali tak ada kaitannya dengan Jenny dan Alma. Ia menduga, kalau pembunuhan terhadap Tari ini terjadi secara tiba-tiba alias tidak direncanakan. Wanita malang itu sedang berada di tempat dan waktu yang salah.
“Kami tadi juga menemukan bercak darah di kamar. Sepertinya pembunuh itu sempat pergi ke kamar sebelum meninggalkan rumah. Kita nggak tau apakah sosok pembunuh itu adalah gadis yang kalian tolong atau ada orang lain lagi.” Dimas turut berkata.
“Kalau menurutku pasti orang lain, Pak. Gadis yang kami tolong kondisinya lemah karena seperti kurang makan. Tari dibunuh secara brutal. Sepertinya pelaku harus membutuhkan energi yang besar untuk melakukan itu,” ucap Raymond.
“Hmm. Siapa pun bisa jadi pelaku pembunuhan Tari. Bahkan kalian pun juga bisa jadi pelakunya. Kami akan mendalami kasus ini, motif apa yang ada di balik ini. Apakah ini murni pembunuhan tiba-tiba, atau ada motif lain. Banyak kemungkinan. Kami akan dalami kasus ini,” ucap Reno.
Setelah dirasa cukup, para polisi itu menyudahi peyelidikan di sekitar TKP. Mereka kembali ke kantor dengan membawa sejumlah fakta dan data.
***
Adinda bernapas lega, karena yang ditunggu telah tiba. Ferdy muncul dengan senyumnya yang hangat. Seperti biasa, Adinda selalu terpesona melihat senyum yang menawan itu. Ferdy datang mengenakan kemeja lengan panjang kotak-kotak dengan kaos dalam berwarna putih. Sebuah topi menghiasi kepalanya.
“Lelah menunggu, Nona?” ucap Ferdy.
“Tentu saja, Fer! Aku hampir pergi dari tempat sialan ini kalau saja tidak melihatmu muncul. Kamu sih lama banget!” keluh Adinda sambil memasang tampang merajuk.
“Jadi gimana? Apa kita jadi ke kantor polisi untuk melapor semua yang kita lihat pada pesta tahun baru itu? Kalau kamu memang sakit mending istirahat saja. Besok baru kita lapor polisi. Gimana?”
“Aku nggak apa-apa kok. Kita nggak boleh menunda ini. Sepertinya kita memang harus berkata jujur pada polisi bahwa rencana ini sepenuhnya adalah rencana Rudi, dan kita nggak ada sangkut-pautnya.”
“Bagaimana dengan Alex? Aku baru saja menghubungi nomor teleponnya, tetapi malah dimatikan. Sepertinya ia lagi sibuk dan nggak ingin diganggu. Kayaknya dia bener-bener ingin cuci tangan dari kasus ini.”
“Kita nggak usah mikirin Alex lagi lah! Kita saja yang datang ke kantor polisi dan melapor. Semakin cepat semakin baik!” kata Ferdy.
“Kota sedang dalam keadan kacau sekarang. Kamu dengar nggak pembunuhan di Kampung Hitam? Seorang wanita dibunuh oleh seorang yang nggak dikenal. Ia mati ditusuk beberapa kali. Bener-bener brutal nggak sih?”
“Aku belum nonton TV sih. Berita seperti itu membuatku semakin cemas, mending aku berhenti mengikuti berita-berita pembunuhan. Kota ini butuh sesuatu yang menyenangkan, seperti konser musik misalnya. Semakin lama semakin sepi. Huh!” gerutu Ferdy.
“Tau nggak! Lena tadi juga telepon aku. Lena bilang sih kalau pembunuhan itu masih ada kaitannya dengan pembunuhan Jenny dan Alma, serta penculikan Nayya. Karena ada yang melihat mobil putih yang dipakai si penculik Nayya diparkir di Kampung Hitam. Aku jadi curiga sama Rasty, ia pakai mobil putih juga.”
“Ah sudahlah! Nggak usah bahas itu! Mending kita fokus agar terlepas dari jerat hukum. Biarlah urusan pembunuhan itu diurus sama polisi. Kita lihat saja dari belakang layar. Aku nggak mau bertambah cemas mikir itu.”
Adinda mengangguk. Mereka khawatir hari akan semakin gelap. Ferdy mengajak Adinda pergi dari taman menuju ke tempat parkir. Di sana, Ferdy telah siap dengan sepeda motornya. Mereka berboncengan meluncur ke jalan raya menuju kantor polisi.
“Bagaimana kabar Vera?” tanya Adinda.
“Vera? Ngapain kamu tanya kabar dia?” Ferdy balik bertanya.
“Hanya pengen tahu saja,” ucap Adinda.
“Nggak penting!”
“Kamu sih, Fer. Terlalu banyak cewek yang naksir kamu. Sepertinya aku harus mundur melihat kedekatanmu dengan banyak cewek.”
“Astaga! Nggak lah. Cewek-cewek itu hanya dekat saja, nggak ada yang bener-bener serius. Cewek emang banyak, tetapi mencari yang bener-bener serius itu susah. Kebanyakan mereka nggak cukup dengan satu pria saja.”
“Aku nggak begitu loh!”
“Iya aku tahu kok,” ucap Ferdy.
Mereka mengobrol sambil mengendarai motor. Motor Ferdy menembus jalan raya yang sedikit ramai sore itu.
***