
Perlahan, Badi keluar dari kolong ranjang. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih beberapa menit. Suasana dalam kamar itu tampak lengang. Badi tak bisa memastikan siapa pemilik kamar ini, yang jelas ini adalah kamar seorang pria. Ini terlihat dari beberapa celana dan kemeja yang digantung di balik pintu. Badi tak yakin apakah kamar ini adalah kamar yang ditempati orang yang dicarinya. Untuk itu, ia berniat keluar untuk melihat keadaan di luar, siapa tahu ada informasi lain yang lebih jelas.
Segera ia membuka pintu, tetapi sayangnya pintu itu dikunci dari luar. Sontak ia merasa kesal. Walaupun ia membawa peralatan untuk membobol kunci pintu, tetapi itu sangat menghabiskan waktu. Siapa tahu penghuni rumah itu akan segera kembali, maka ia akan terpergok di dalam kamar. Badi tak ingin mengambil risiko seperti itu. Ia harus mencari jalan lain untuk keluar dari kamar ini.
Yang dilihatnya di kamar itu adalah sebuah jendela kaca yang terhubung dengan halaman samping. Tak ada pilihan lain, selain melompat dari jendela itu, daripada harus merusak kunci kamar. Untungnya, jendela bisa dibuka dengan mudah, sehingga ia bisa melompat dari situ.
Kini Badi berada di halaman samping. Ia merasa kesal, karena berada di luar lagi. Ia harus mencari cara agar bisa masuk kembali ke dalam rumah, mumpung semua penghuni sedang berada di tempat lain. Ia bergerak kembali ke halaman belakang. Tampak di kejauhan sana, Bu Mariyati sedang menjemur baju. Rupanya wanita paruh baya itu sedang mencuci baju para penghuni rumah, sehingga baju yang dijemurnya agak banyak. Tentu dia tak menyadari kalau ada orang yang menyelinap di dalam rumah.
Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, segera ia kembali menyelinap ke dalam rumah, langsung menuju area kamar pria di lantai satu. Ia berusaha membuka pintu kamar satu-persatu, tetapi semua kamar itu dikunci. Badi hanya bisa mengumpat, padahal dia ingin mengetahui di mana sosok pembunuh itu tidur, sehingga ia bisa membekuknya dengan cepat.
Saat Badi berusaha membuka pintu kamar di ujung lorong, tiba-tiba seseorang menegurnya dengan lantang.
“Hey! Siapa kamu!”
Badi terkejut. Ia tidak menyangka kalau di rumah itu masih ada seseorang yang bertahan. Badi melihat seorang pria yang mengenakan topi memandang tajam ke arahnya. Badi merasa sedikit gugup, tetapi sebentar saja ia dapat menguasai kegugupannya. Ia tidak menggubris teguran pria bertopi itu. Justru, ia bersiap untuk mengambil langkah seribu dari tempat itu.
“Jangan coba-coba lari! Kamu nggak bisa lolos dari rumah ini. Semua sudah akses sudah ditutup!” ujar pria bertopi yang tak lain adalah Wandi.
Ia tidak ikut serta kerja bakti di area belakang, dan memilih untuk tetap di dalam rumah. Sementara Gilda memilih untuk ikut kerja bakti dengan alasan konyol, bahwa ia merasa lebih aman di dekat Dimas daripada Wandi!
Badi sadar, bahwa lari tiada berguna. Ia memutuskan untuk berusaha bernegoisasi dengan Wandi.
“Tunggu ... tunggu! Aku tidak berniat jahat. Aku kesini untuk mencari seseorang,” ujar Badi.
“Mencari seseorang? Sudah jelas-jelas kamu akan membuka pintu kamar dengan paksa, dan kamu bilang akan mencari seseorang. Seharusnya kalau kamu mencari seseorang, kamu dapat bertanya baik-baik. Bukan seperti itu caranya. Sudah dapat dipastikan, pasti kamu punya niatan buruk!” ucap Wandi.
Ia tak percaya begitu saja dengan ucapan Badi.
“Aku mencari seseorang yang sedang diisolasi di sini!” tegas Badi.
“Lebih baik kau tanyakan langsung pada Pak Dimas. Kamu tidak boleh kemana-mana sampai Pak Dimas pulang. Ku akan menahanmu sementara!”
Wandi melangkah mendekat ke arah Badi. Pria sangar itu berpikir, apabila Wandi turut campur dalam urusannya, maka bisa jadi rencananya akan berantakan. Setengah berlari ia maju mendekati Wandi dan ...
Duuuk!
“Aduh!”
Tanpa diduga oleh Wandi, tiba-tiba Badi melayangkan pukulan di dagunya dengan gerakan cepat. Memang tidak cukup keras, tetapi bagaimanapun pukulan itu membuat nyeri tulang rahangnya. Ia terjajar ke belakang beberapa langkah.
Badi tidak kembali menyerang, melainkan kabur menuju ruang tamu. Sayangnya pintu ruang tamu dalam keadaan terkunci, sehingga Badi lari ke arah tangga. Ia naik ke lantai dua, di area kamar para gadis.
“Hey jangan lari!”
Namun Wandi hanya bisa berteriak. Ia hendak mengejar Badi ke arah tangga, tetapi rahangnya masih terasa nyeri. Ia hanya bisa berdiri sempoyongan di bawah anak tangga.
“Kamu nggak akan lolos! Nggak ada jalan keluar di situ!” ucap Wandi.
Sosok Badi sendiri telah menghilang dari pandangan. Kali ini, Badi berada di lantai dua berusaha mencari tempat persembunyian yang aman. Semua kamar gadis di lantai dua dalam keadaan terkunci. Ia memutuskan untuk pergi ke arah balkon. Di balkon, ia menengok arah bawah yang cukup tinggi. Rupanya cukup sulit pula apabila turun dari balkon menuju ke bawah. Medannya sangat sulit, nyaris tak ada sesuatu yang bisa dipakai untuk berpegangan.
Saat ia berpikir agar bisa lolos dari balkon itu, tiba-tiba terdengar suara pintu ditutup.
Sreek! Klik!
Pintu balkon yang berupa pintu geser itu tiba-tiba ditutup dan dikunci oleh Wandi. Ia merasa gembira karena orang yang dikejarnya kini terjebak dalam balkon. Sementara Badi sendiri hanya bisa berada di balkon, tak berani lewat atau meloncat dari pagar. Teras di bawah sana masih sangat tinggi. Apabila ia nekat terjun, maka kaki dipastikan akan cidera parah.
“Kamu nggak akan pergi kemana-mana! Aku tidak akan melepasmu sampai Pak Dimas datang. Jadi nikmati saja keberadanmu di rumah barumu!” ucap Wandi sambil tersnyum puas.
“Sial!”
***
Para penghuni rumah isolasi melangkah dengan hati-hati menyusur jalan setapak yang sedikit becek karena hujan. Sementara, rumput ilalang setinggi lutut tumbuh menyemak di kanan-kiri jalan. Mereka menuju areal sekitar pemakaman yang terdapat banyak sumur-sumur tua. Pak Paiman memimpin langsung, karena ia yang memahami wilayah sekitar rumah isolasi itu.
Sebuah lubang pertama mereka jumpai saat beberapa lama berjalan. Diameter lubang itu sekitar satu setengah meter, cukup sempit. Kedalaman sumur juga cukup dalam, sekitar delapan atau sepuluh meter. Dapat dipastikan, apabila orang yang jatuh ke dalam sumur ini, maka akan mengalami cedera kaki yang cukup parah.
Segera para laki-laki memasang plang kayu yang bertuliskan ‘Awas Sumur Tua!’. Pertama mereka menggali tanah, kemudian menancapkan plang itu dengan posisi sedemikian rupa, sehingga tulisan bisa dibaca jelas oleh siapa pun yang lewat sekitar situ.
“Siapa sih orang yang kurang kerjaan membuat lubang-lubang sedemikian banyak ini? Bikin orang repot saja!” keluh Gilda.
“Menurut cerita, lubang ini sudah ada sejak lama, bahkan berusia puluhan tahun, sejak zaman Jepang karena digunakan sebagai bunker persembunyian. Tak heran jumlahnya pun cukup banyak,” kata Ferdy menerangkan.
“Dari mana kamu dapat cerita itu?” tanya Gilda penasaran.
“Pak Paiman kan pernah bercerita,” ucap Ferdy.
Sebenarnya tak ada seorang pun yang memedulikan Gilda, karena wanita itu selalu mengeluh dan mengomel sepanjang perjalanan. Ia banyak mengeluh tentang jalan yang becek, tentang duri tanaman yang menempel di bajunya, bahkan ia pun mengeluh tentang semut merah yang tiba-tiba menggigit kakinya. Yang paling menjengkelkan saat ia berkomentar tentang teriknya sinar matahari yang mulai membakar kulit mukanya. Apapun yang tampak di depan matanya seolah tak beres. Hal itulah yang membuat tak ada seorang pun yang mau berdekatan dengannya, kecuali Ferdy.
“Harusnya tempat seperti ini harus ditutup total, sehingga tidak membahayakan siapa pun. Semuanya tidak terawat di sini. Mungkin ada binatang buas pula di sini. Lihat saja nanti! Aku akan liput tempat ini, agar masyarakat tahu betapa berbahayanya kawasan sekitar sini!” omel Gilda.
“Gilda! Jika kamu nggak mau diam, kamu kembali saja ke rumah. Nggak ada seorang pun di sini yang saat ini suka mendengar ocehanmu yang nggak bermanfaat. Jadi kamu lebih baik diam!” tegur Dimas.
Gilda hanya mendengkus, menahan kekesalannya. Dilihatnya, para pria kembali bekerja memasang plang-plang itu, ketika menemukan lubang baru. Tentu saja, kegiatan ini cukup melelahkan, walau kelihatannya sepele. Sementara para gadis bertugas menyiapkan air minum untuk para pria. Mereka membawa botol-botol air mineral dalam ransel.
“Ada yang haus?” Rasty menawari para teman prianya yang sudah mulai berkeringat.
“Aku!” celetuk Gilda yang berjalan paling belakang.
Rasty menoleh. Rupanya ia juga kesal melihat kelakuan wanita itu. Sayangnya, ia tak bisa menolak permintaan Gilda, karena bagaimanapun air minum ini diperuntukkan untuk semua orang. Ia menuang botol mineral ke sebuah gelas plastik kemudian menyodorkan kepada Gilda.
“Terima kasih, Rasty! Kapan-kapan aku akan undang kamu dlam acara televisi yang aku pandu, dan kamu bisa menceritakan pengalamanmu yang menarik. Bagaimana?” tawar Gilda.
“Maaf, aku tak bersedia!” jawab Rasty tegas.
Rasty tak menggubris lagi perkataan Gilda. Ia tidak begitu mempedulikan pertanyaan Gilda. Menurut Rasty, tak ada gunanya juga ia menerangkan alasannya pada Gilda. Ia lebih memilih untuk diam.
Satu jam kemudian, setelah mereka berhasil memasang beberapa plang, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. Mereka memilih sebuah tempat berumput tebal, di bawah naungan sebuah pohon besar yang lebat daunnya. Angin sepoi bertiup perlahan, membelai rambut-rambut mereka. Para anak muda berusaha untuk melepas lelah sambil membasahi tenggorokan yang kering.
Lena mengeluarkan tiga buah botol minuman berkapasitas satu liter dari dalam tas, kemudian menuangkan salah satu botol air ke dalam gelas plastik. Ia menyodorkan gelas itu kepada Rudi yang terlihat lelah, sambil mengipas-ngipas tubuhnya yang basah oleh keringat.
“Minum dulu, Rud!” kata Lena.
“Terima kasih!”
Rudi menerima gelas pemberian Lena, kemudian meminum perlahan. Tak seberapa lama, hal aneh terjadi. Pandangan Rudi berubah berkunang-kunang. Bukan haus yang terobati, ia malah terbatuk-batuk hebat setelah minum air yang diberikan Lena tersebut.
“Rud ... kamu kenapa?” tanya Lena dengan cemas.
Rudi tak bisa menjawab. Ia hanya bisa terbatuk-batuk. Lena bingung dan panik dengan apa yang terjadi dengan Rudi. Sepertinya Rudi ingin mengatakan sesuatu, tetapi lidahnya seolah kelu. Ia hanya bisa terbatuk-batuk.
“Rud! Kamu kenapa? Tolong!” pekik Lena dengan panik.
Semua yang mendengar pekikan Lena segera berhamburan ke arah Rudi yang terbaring lemas di rerumputan. Ia tak lagi batuk-batuk, tetapi mulut Rudi mengeluarkan busa!
***