
Rosita terhenyak seketika saat Aditya menatap nanar kepadanya. Matanya terlihat merah, menahan dendam yang bergejolak di dada. Sungguh di luar dugaan kalau suami Lidya ini tiba-tiba menuduh dirinya adalah pembunuh Lidya. Rosita sebenarnya tak ingin menanggapi, karena ia sadar saat ini kondisi Aditya sedang tak stabil. Namun, ia melihat mata para penghuni lain juga menatap dirinya, seolah menelanjangi. Bagai bensin tersulut api, ia mulai meledak. Ia terlonjak dari tempat duduknya, balas menatap tajam Aditya.
"Jaga bicaramu, Dit! Bahkan aku nggak begitu kenal Lidya! Atas dasar apa kamu menuduhku sembarangan! Kamu jangan asal bicara. Aku bisa laporkan kamu yang sengaja memutar balikkan fakta! " ucap Rosita lantang.
"Oya? Kamu bilang kamu nggak kenal? Apa perlu aku beberkan bukti-bukti bahwa kalian pernah tergabung dalam anggota cheerleaders saat kuliah? Mungkin tidak kenal pas SMA, tapi kalian satu kampus saat kuliah. Apa aku perlu menunjukkan buktinya?" serang Aditya.
Rosita terdiam. Ia hendak mengelak atas tuduhan yang dilayangkan Aditya atas dirinya, tetapi apa yang dikatakan suami Lidya itu benar. Rosita memang mengenal Lidya sebelumnya, sebagai rekan satu tim cheerleaders di kampus. Mereka sering tampil bersama untuk mendukung tim basket kebanggan di kampus. Ya, kenangan-kenangan bersama Lidya masih terkenang di pikiran. Ia tidak menampik kalau sebenarnya ia memang tak terlalu suka dengan Lidya.
"Bukan aku saja. Nadine juga!"
Rosita tiba-tiba menunjuk ke arah Nadine yang sedang ketakutan. Ditunjuk seperti itu, Nadine merasa gelagapan. Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia ingin membela diri, tetapi tak ada sepatah kata pun terucap. Ia memilih untuk diam. Entahlah,lidahnya terasa kelu.
"Ya, aku tahu Nadine juga teman Lidya bahkan dia berteman baik dengan Lidya, tidak seperti kamu yang selalu iri dengki. Kamu selalu menginginkan apa yang Lidya dapatkan. Kamu selalu iri dengan apa yang dia punya! Bahkan untuk mendapatkan Edwin pun, kalian bersaing habis-habisan. Kalian terlihat baik di luar, tetapi menyimpan sekam di dalam. Pesahabatan macam apa itu, Ros?"
"Aku ... aku hanya .... "
"Aku hanya butuh pengakuanmu! Kamu tak bisa mengelak! Kamu harus bertanggungjawab atas semua perbuatanmu
"Cukup Dit! Cukup!"
Tiba-tiba Edwin yang sedari tadi diam, ikut bersuara. Ia merasa jengah saat istrinya dituduh sedemikian rupa oleh Aditya. Walau Aditya sahabatnya, ia merasa tak rela jika istrinya dipojokkan seperti itu. Apalagi namanya juga disebut dalam perselisihan itu Ia berusaha menengahi.
"Dit, kamu sedang emosi sekarang, sepertinya kamu harus menenangkan diri dahulu.ya, Rosita, Lidya, dan Nadine memang teman satu tim cheerleader, tetapi apa yang membuatmu berpikir kalau istriku ini pembunuh istrimu? Jangan sampai emosi membutakan matamu. Aku kenal Rosita. Ya, aku akui, dia memang mudah tersulut emosi, tetapi dia bukan pendendam. Maaf, aku bukan membela istriku, tetapi aku menilai Rosita secara umum," tandas Edwin.
"Edwin benar, Dit! Rosita tidak seburuk yang kamu bayangin!" Ryan ikut andil dalam perdebatan itu.
Aditya terdiam sejenak. Ia menatap satu-persatu wajah-wajah yang berada di ruangan itu. Ia merasa cemas, seolah ada sesuatu yang berat membebani pikirannya. Ia kelihatan gugup kemudian mulai bertingkah aneh lagi. ia menunjuk satu-persatu yang ada di beranda depan.
"Kalian semua ... kalian semua bersekongkol untuk membunuh Lidya! Ini konspirasi! Aku yakin semua ini adalah konspirasi kalian! Kalian ingin Lidya mati kan? Kalian memang iblis! Iblis!"
Aditya meracau, sehingga Mariah yang baru saja tiba di tempat itu juga mulai turun tangan. Ia mengisyaratkan agar semua tidak menaganggapi apa yang dikatakan Aditya, karena emosi pria itu sedang tidak stabil. Mariah juga melihat, bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Aditya. Pria itu masih berdiri dengan terengah-engah, menahan amarah yang meletup-letup di dadanya. Edwin berinisiatif untuk menenangkan.
"Aku melihat sosok lain," ucap Mariah.
"Apa maksudmu, Mariah?" tanya Edwin.
"Dia meracau bukan karena keinginannya sendiri. Dia terlalu lama berdiam diri di kamar dengan pikiran kosong. Kurasa ada sosok tak kasat mata yang menungganginya. Lihat tatapan mata itu. Sepertinya itu bukan mata Aditya, kalian bisa melihatnya kan?" bisik Mariah.
Rosita tampak marah, kemudian bergegas masuk ke ruangan dalam. Parasnya yang cantik tampak merah, menahan amarah. Aditya terlihat sedikit lebih tenang, ketika Ryan memberikan segelas air padanya. Mariah terus melihat perilaku Adity, agar tak tejadi hal-hal yang tak diinginkan.
Polisi masih melakukan investigasi di sekitar kastil. Hampir tiap jengkal. sudut-sudut kastil diperiksa. Lepas tengah malam, semua penghuni sudah merasa lelah dan mengantuk. Reno dan Dimas baru saja tiba di lokasi kastil. Mereka segera memeriksa lokasi pembunuhan, dipandu oleh Ammar. Sontak kenangan-kenangan lama kembali hadir, saat serangkaian pembunuhan terhadap para penulis terjadi di kastil itu. Reno dan Dimas masih teringat bagaimana para penulis itu dihabisi dengan sadis di kastil penuh misteri itu.
"Aku masih merasakan kengerian itu tiap memasuki kastil ini," gumam Dimas.
"Ya, aku juga. Bahkan aku masih merasakan bahwa arwah-arwah mereka seolah terperangkap di sini. Auranya benar-benar mistis," tambah Reno.
Mereka langsung memeriksa apa yang ada di sekitar kolam renang. Air kolam renang itu tampak berkilauan ditimpa lampu taman belakang. Tak ada yang mencurigakan. Beberapa polisi masih berada di sekitar situ, sementara Ammar menunggu di gazebo. Mereka juga mengecek langsung suasana dalam kamar mandi yang banjir darah. Semua terlihat mengerikan. Mereka tak memeriksa terlalu lama, menunggu hasli penyeldiikan dari tim investigasi.
Tiba-tiba, dari dalam kastil terdengar suara jeritan melengking seorang wanita. Reno dan Dimas segera berlari menuju kastil melewati pintu belakang yang menghubungkan dapur. Mereka berlari ke lantai dua, tempat kamar para wanita. Mereka mendapati sosok perempuan pintar. Maya Larasati yang berwajah pucat, dikelilingi para penghuni lain.
"Ada apa?" tanya Reno.
Dimas tak menungu jawaban dari orang-orang yang berada di situ. Ia masuk ke dalam kamar Maya, mendapati tulisan besar yang ditulis dengan darah di cermin besar meja rias. Dimas tercekat melihat tulisan itu. Ia buru-buru keluar dari kamar Maya Larasati, mendapati para penghuni lain yang terlihat menenangkan Maya. Ia segera mendekati Reni yang juga berada di luar kamar Maya.
"Ren, kamar siapa yang ditempati gadis ini?" tanya Dimas dengan cepat.
"Kamar siapa ya? Seingatku ini adalah kamar Tiara. ya nggak salah lagi, ini adalah kamar Tiara.Memangnya ada apa?" tanya Reno.
"Kau lihat sendiri apa yang ada di dalam sana!"
Reno segera menghambur ke dalam kamar Maya. Ya, kamar Maya Larasati adalah bekas kamar yang pernah ditempati oleh Tiara. Reno penasaran dengan apa yang dilihat oleh Dimas dalam kamar. Ia mndapati sebuah meja rias yang cerminnya tertulis dengan darah.
I'm Back-Miss T.
***