
Suara lengkingan terdengar, memecah kesunyian pagi di kastil yang berada di kawasan kebun teh itu. Awalnya tak ada yang sadar dengan bunyi lengkingan itu, karena terdengar lamat-lamat terbawa angin pagi yang bertiup sepoi. Mariah yang sedang duduk di ruang makan, menunggu makan pagi bersama sang suami, juga mendengar suara lengkingan itu, hanya saja ia tidak yakin, suara apa yang melengking pagi-pagi begini.
"Kamu dengar itu?" tanya Mariah dengan cemas.
Ia urung meneguk susunya, seraya menatap ke arah Ammar yang sedang serius membaca sebuah novel karya Michael Smith Artenton. Saat itu, Ammar tengah mendalami novel yang erat kaitannya dengan kasus pembunuhan terdahulu. Dalam kasus sebelumnya, beberapa penulis dibantai berdasarkan urutan kejadian dalam novel karya Micahel Smith Artenton. Tampak Ammar mengenakan kacamata, sambil mengernyitkan dahi, matanya terpaku pada lembar-lembar novel yang mulai usang.
"Dengar apa?" jawab Ammar sambil melirik sekilas ke arah Mariah.
"Aku ... aku seperti mendengar suara teriakan. Entahlah. Jelas banget, kemudian menghilang begitu saja," ucap Mariah.
Ammar melepas kacamata, seraya meletakkan novelnya. Ia menajamkan pendengaran, tetapi sepertinya tak ada yang aneh pagi itu. Hanya suara deru angin yang bertiup dari arah kebun, menerobos lewat jendela, dan mempermainkan lampu gantung besar di atas meja makan.
"Mungkin suara pekikan burung hutan. Bukankah kadang suaranya sampai kesini?" tanya Ammar.
"Aku kenal suara burung, tetapi yang tadi terdengar berbeda dengan suara burung. Ah, lupain saja, mungkin aku yang salah dengar. Hmm, kok tumben makanan belum siap? Penghuni lain juga belum kelihatan? Pada ke mana mereka?" tanya Mariah berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Setelah peristiwa semalam, mungkin mereka agak trauma dan memilih untuk berada di kamarnya masing-masing, Namun, sekarang adalah jam makan pagi. Harusnya mereka sudah berada di tempat ini," ucap Ammar.
Tak lama, dari arah dalam ruangan kastil muncul Juned yang terlihat bersih dan rapi, karena baru saja mandi. Ia mengambil tempat pula di meja makan, karena memang pagi ini adalah jam untuk makan pagi. Ia menuang air putih dalam gelas piala, kemudian menenggaknya hingga tak bersisa.
"Kukira aku sudah terlambat, ternyata aku yang paling dahulu di sini?" kata Juned seraya tersenyum.
"Entahlah, yang lain belum pada datang," ucap Ammar.
Tiba-tiba, dari arah dapur terlihat Edwin yang kelihatan gelisah. Ia melihat ke arah meja makan dengan tatapan cemas, seperti mencari-cari sesuatu.
"Kamu mencari siapa, Win?" tanya Mariah.
"Kukira Rosita sudah berada di meja makan, karena aku barusan dari dapur, tetapi tak melihat dia. Bahkan aku melihat bahan makanan yang akan dimasak masih diletakkan begitu saja di atas meja. Makanya aku ke sini. Kemana ya kira-kira Rosita?" tanya Edwin dengan cemas.
"Lho kukira dia sedang masak di dapur dan masakannya sudah selesai? Mungkin sedang ke kamar mandi atau kemana gitu?" Mariah mulai cemas.
"Aku sudah cari ke mana-mana, tetapi belum menemukan keberadaan Rosita. Kalau dia berada di sekitar sini saja, pasti ada. Ini agak aneh. Dia seperti menghilang," ucap Edwin.
Ammar yang mendengar ucapan Edwin segera mengalihkan pandangan ke arah Juned.
"Menghilang? Menghilang kemana? Kupikir dia sedang berada dalam kastil ini saja," kata Mariah berusaha untuk tenang.
"Sisir seluruh penjuru rumah ini, dan perintahkan seluruh penghuni kastil untuk berkumpul di ruang makan. Sekarang!" perintah Ammar kepada Juned.
Naluri Ammar mendadak tidak enak. Ia merasa bahwa hal-hal kecil perlu untuk diantisipasi, sebelum berkembang menjadi masalah besar. Untuk itu, ia harus berinisiatif mengambil langkah secara tepat dan preventif, mengingat Dimas dan Reno sedang tidak berada di tempat.
Juned segera bertindak. Ia mulai menyisir bagian dalam rumah dengan ditemani oleh Edwin. Semua penjuru mereka sisir bahkan dari kamar ke kamar mereka datangi. Semua penghuni diminta untuk segera berkumpul di ruang makan, sekaligus menanyakan keberadaan Rosita kalau-kalau salah satu dari mereka melihat keberadan Rosita. Sayangnya, tak seorang pun yang tahu keberadaan Rosita.
Setelah memastikan bahwa Rosita tak ada di dalam rumah, Juned dan Edwin beralih ke luar. Siapa tahu wanita itu sedang berada di taman atau tempat lain, walau itu kemungkinan kecil. Ia bergerak dari halam belakang, kolam renang, gudang hingga tembok pembatas di belakang, tetapi keberadaan Rosita tak juga ia temukan.
Sementara di ruang makan, para penghuni lain sudah berkumpul. Mereka juga heran, karena tak ada makanan terhidang di meja makan. Padahal mereka berharap agar Rosita memasak makanan spesial hari ini. Tentu saja, hal ini agak mengherankan mereka semua.
"Mungkin pagi ini sarapan kita agak sedikit tertunda," ucap Ammar sambil menatap semua penghuni yang hadir.
Semua yang ada di situ saling memandang, tetapi tak berucap apa-apa. Hadir pula Maya yang pagi itu tampak segar dengan blus motif garis-garis. Ia sedikit terlihat cemas, memainkan jari-jemarinya. Aditya juga terlihat khawatir dengan suasana pagi yang tak seperti biasa. Ryan dan Jeremy saling berpandangan, seperti menerka-nerka.
Di halaman belakang, pencarian masih dilakukan oleh Edwin dan Juned. Edwin tak dapat menyembunyikan rasa cemasnya. Ia makin panik ketika tak dapat menemukan sang istri di sekitar sana. Ia terduduk di sebuah bangku tua dengan putus asa.
"Dia nggak pernah begini sebelumnya. Pasti ada hal buruk yang menimpa dia! Pasti itu!" ucap Edwin.
"Sabar Edwin! Kita nggak tahu apa pun. Bisa saja Rosita ada keperluan mendadak yang kita enggak tahu. Sekarang mari kita ke halaman samping. Siapa tahu dia sedang berjalan-jalan ke sana," ucap Juned menenangkan.
Edwin mengangguk. Parasnya masih diliputi rasa cemas yang mendalam. Ia bangkit dari tempat duduknya, mengikuti langkah Juned menuju halaman samping yang banyak ditumbuhi bungan dan tanaman hias. Taman samping di belah oleh jalan setapak yang terbuat dari paving block sehingga tampak rapi dan bersih. Mereka menyusur jalan setapak itu dengan perasaan was-was.
Rasa was-was itu semakin menguat saat mereka melihat pemandangan menggidikan tepat beberapa puluh meter di depan. Juned menghentikan langkahnya, demikian juga Edwin. Di lantai yang terbuat dari paving, mereka melihat sosok tergeletak, tertelungkup tak bergerak. Jelas sekali, sosok itu adalah seorang wanita dengan rambut tergerai. Selain itu, mereka juga melihat darah tergenang di sana.
"Itu ... itu Rosita!" pekik Edwin panik sambil menghambur ke arah jasad si wanita.
"Tenang Edwin! Tenang! Biar aku periksa dulu!" ucap Juned sambil memegang tangan Edwin, mencegahnya agar tak berbuat bodoh.
"Aku dapat mengenalinya dari baju yang dikenakannya. Sudah pasti itu Rosita! Oh Tuhan! Apa yang terjadi padanya?"
Edwin tak mau menunggu terlalu lama, ia berusaha melepaskan dari Juned, segera berlari menuju sosok yang terbaring itu untuk memeriksa kondisinya. Juned juga segera bergerak cepat mneyusul Edwin. Ia segera mendekat ke arah jasad yang tergeletak begitu saja di atas paving. Kondisi wanita itu tertelungkup, tak terlihat mukanya. Sebagian rambutnya basah oleh darah yang masih segar. Juned berusaha memalingkan muka wanita itu agar terlihat jelas.
Kini, Edwin bisa melihat jelas paras perempuan yang tergeletak itu. Juned terkejut melihat paras si wanita, demikian juga Edwin. Keduanya berpandangan, karena ini sungguh janggal.
***