
Untuk sesaat, Jeremy bingung tak tahu apa yang harus dilakukan. Di hadapannya ia melihat Nadine dalam keadaan tak sadarkan diri, dengan baju sedikit terkoyak. Bagian tubuh lainnya terlihat kotor, ditempeli duri dan daun-daun kering. Ia tidak mungkin membiarkan wanita itu begitu saja. Ia harus segera mencari pertolongan. Segera ia melangkah menuju keluar pondok.
Namun, baru beberapa langkah, ia mendengar suara parau di belakangnya.
"To ... tolong!"
Jeremy membuang pandangan ke belakang. Ia melihat sosok Nadine bergerak sedikit, tetapi wanita itu tak melihat ke arahnya. Jeremy mengurungkan niat, kembali menghampiri Nadine yang terlihat lemah. Ia pegang punggung Nadine.
"Nadine ... kamu nggak apa-apa?" tanya Jeremy cepat.
Nadine tak menjawab. Perlahan mata Nadine terbuka, tetapi mulutnya seolah terkunci. Sepertinya ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi mulutnya terkatup rapat. Jeremy harus segera bertindak, agar Nadine segera mendapat pertolongan. Sayang tak ada selimut atau sesuatu di sekitar situ.
"Kamu sabar di sini dulu, Nadine. Aku akan mencari pertolongan untukmu!" ucap Jeremy.
Namun, Nadine menggeleng dengan paras takut, seolah-olah takut ditinggal.
"Ja-jangan tinggalin a-aku. Di-dia ada di sini," bisik Nadine lemah.
"Dia? Dia siapa? Siapa yang ngelakuin ini padamu?"
Nadine hanya menggeleng, ia tidak berkata apa-apa. Tiba-tiba, pintu pondok terbuka, seseorang masuk ke dalam pondok, terkejut melihat Jeremy dan Nadine yang sedang berada di dalam. Jeremy memalingkan muka, melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam pondok.
"Jer? Ngapain kamu di sini? Itu siapa?"
Jeremy mendengar suara menyapanya. Jelas ia kenal suara itu. Namun, mengapa ia tiba-tiba bisa muncul di sini? Bukan kah tadi ia ada di air terjun?
"Stella? Kok kamu tiba-tiba ada di sini?" tanya Jeremy.
"Iya, aku tadi nungguin kamu nggak datang-datang. Kan kubilang jangan lama-lama, kan aku takut, jadi aku mencari kamu ke sini. Itu siapa, Jer?" tanya sosok yang ternyata adalah Stella.
Stella tak menunggu jawaban Jeremy. Ia menyorongkan badannya ke depan melihat sosok yang terbaring di lantai. Parasnya terkejut melihat sosok Nadine ada di situ. Nadine terlihat takut melihat kehadiran Stella. Parasnya berubah cemas.
"Kamu .... " ucap Nadine.
"Sudah Nadine! Jangan bicara apa-apa dulu. Kami akan mencari pertolongan buat kamu. Mmm, Jer kamu balik aja ke air terjun. Biar aku yang jaga Nadine di sini. Dia nggak boleh ditinggal sendiri di sini. Cepat!"
Stella segera mengambil alih posisi Jeremy. Ia berusaha memegang Nadine yang masih terbaring lemah. Mata Stella mengisyaratkan agar Jeremy segera pergi. Jeremy tak punya pilihan lain. Ia segera mengambil langkah meninggalkan pondok Ia harus mencari pertolongan untuk Nadine.
***
Lily mempercepat langkah menuju ke air terjun diikuti rombongan yang lain. Rosita dan Edwin mengekor di belakangnya, bersama Farrel, Aditya, dan Ramdhan. Sesuai petunjuk Reno, mereka harus segera menjemput Stella dan Jeremy yang tengah berada di air terjun, karena Reno berpendapat bahwa kawasan air terjun tidak aman.
"Gagal semua rencana hari ini. Gagal!" gerutu Lily dengan paras gusar.
"Sabar lah Ly, kan emang kondisinya nggak memungkinkan. Siapa yang nyangka kalau Lidya mati terbunuh? Terus siapa yang menduga kalau Nadine ikut-ikutan menghilang? Rencana yang rapi memang bisa saja berantakan, tetapi kita harus bisa terima itu," saran Farrel.
"Bodo ah! Kalian tau nggak! Aku sudah merencanakan reuni kita ini selama bertahun-tahun, dan sekarang rencana yang udah tersusun rapi itu tiba-tiba hancur di depan mata. Siapa yang nggak kecewa? Kalian harus paham itu!"
Farrel terdiam. Demikian juga yang lain. Mereka sadar bahwa Lily saat itu masih dikuasai emosi, pasti yang terucap dari mulutnya masih diliputi rasa kesal. Menanggapi Lily yang masih dalam keadan seperti itu, jelas bukanlah solusi terbaik. Mereka hanya diam, mencoba tak terpancing dengan gerutuan Lily.
Tak lama, mereka sampai di kawasan air terjun. Suara air menderu, jatuh ke batu-batu, mengalir ke sungai yang jernih membelah hutan. Untuk sesaat, para anggota rombongan takjub dengan keindahan air terjun. Suasana begitu syahdu, hinga mereka terlupa bahwa mereka kini tengah dihadapkan satu masalah pelik.
"Mana teman kalian?" tanya Ramdhan memecah keheningan.
Mereka baru tersadar, kalau mereka saat ini hendak menjemput Jeremy dan Stella yang sudah duluan di air terjun. Tetapi mereka tak menemukan siapa-siapa di tempat itu. Lily menatap berkeliling, tak ada tanda-tanda keberadan mereka.
"Kemana mereka? Bukannya mereka sudah duluan ke sini tadi?" kata Rosita.
"Tadi aku sudah berpesan kepada mereka agar jangan kemana-mana, ini kok malah menghilang. Bikin repot saja!" Rosita ikut-ikutan menggerutu.
"Aduh kemana ya mereka?" cemas Farrel.
"Tenang ... tenang! Kalian nggak usah panik. Sepertinya mereka akan balik ke sini. Mungkin kita tunggu dulu beberapa saat di sini. Mungkin mereka lagi jalan-jalan sebentar ke hutan atau bagaimana. Lebih baik kita tunggu dulu," kata Ramdhan.
Mereka mengangguk-angguk. Untuk sejenak, mereka berusaha mengurai ketegangan sambil menunggu Jeremy, Stella, dan Maya. Rosita dan Lily memilih masuk ke dalam air dan merendam kaki-kaki mereka, sementara para pria duduk di bebatuan yang tersebar di pinggiran sungai.
"Firasatku nggak enak. Sumpah!" gumam Adiyta kepada Edwin yang duduk di sampingnya.
"Nggak enak gimana, Dit?" tanya Edwin.
"Aku merasa reuni ini memang dirancang sebelumnya, untuk menghabisi kita semua. Kematian Lidya yang begitu cepat, lalu lenyapnya Nadine. Setelah ini apa? Aku merasa ada yang tak beres di sini. Mungkin ada dendam saat kita sekolah, dan tak terselesaikan," terang Aditya.
"Kamu mencurigai Lily di balik semua ini?" tanya Edwin.
"Mungkin. Bukankah dia yang punya acara ini? Dia juga ngotot mengajak ke air terjun, padahal istriku baru saja terbunuh. Bukankah itu sedikit keterlaluan? Aku merasa ada hal jahat di balik semua ini," gumam Aditya.
"Semoga itu hanya perasaanmu saja. Aku berharap Nadine ditemukan dalam keadaan selamat, demikian juga Jeremy, Stella, dan Maya," kata Edwin.
Tiba-tiba, dari arah hutan terlihat sosok Jeremy yang berlari mendekati arah air terjun. Ia terlihat lelah, dengan keringat mengucur deras. Napasnya tersengal, seperti ada yang hendak ia katakan. Ramdhan segera tanggap. Ia mendekati Jeremy.
"Ada apa?" tanya Ramdhan.
"Kita ... kita ... harus segera menolong Nadine!" ucap Jeremy dengan terengah.
Para pria yang berada di pinggir sungai juga ikut mendekat. Mereka segera mengerubuti Jeremy, penasaran dengan cerita apa yang dibawanya. Sedangkan Rosita dan Lily masih berada di dalam air, tak begitu dengan kedatangan Jeremy.
"Nadine? Kamu ketemu sama dia?" tanya Ramdhan.
"Iya ... iya. Di sana!"
Jeremy menunjuk arah dalam hutan tanpa berkata apa-apa lagi. Ia merasa lelah, hingga malas harus menjelaskan satu-persatu. Ia hanya memberi petunjuk dengan telunjuknya.Semua mata pria yang mendengar itu langsung tertuju ke arah dalam hutan yang gelap. Mereka penasaran, apa yang sebenarnya ditemukan Jeremy di dalam sana.
"Baik, biar aku yang mecari. Kalian berjaga di sini!" perintah Ramdhan.
"Tunggu! Biar kami ikut!" kata Edwin sambil menoleh ke arah Aditya.
"Biar aku saja yang tunggu di sini. Kalian cari saja mereka!" kata Farrel.
"Aku juga ikut untuk menunjukkan tempat Nadine," sambung Jeremy.
Ramdhan berpikir sejenak, kemudian mengnagguk. Mereka berempat segera masuk ke dalam hutan, untuk mencari Nadine, seperti informasi yang diberikan Jeremy.
***