
Cornellio tercekat. Tak menyangka, sosok berjubah hitam itu berada dalam kamarnya dalam keadaan siaga, dengan sebilah golok di tangan. Naluri untuk melindungi diri berontak seketika. Ia mundur perlahan, sambil menatap waspada sosok yang siap menghabisinya. Sosok itu masih diam di tempatnya. Sebuah topeng putih menutup wajahnya, hingga ia tak bisa melihat jelas sosok itu.
“Kamu takut Cornellio?” tanya sosok itu.
Cornellio tak menjawab. Sejatinya ia merasa takut, apalagi ia dalam keadan tanpa senjata. Ruangan kamar juga terbatas. Ia berpikir, kalau ia menghadapi si pembunuh ini dengan tangan kosong, sudah pasti akan binasa. Ia tengah memutar otak, bagaimana cara agar bisa meloloskan diri.
“Aku bisa melihat ketakutanmu itu, Cornellio. Jangan khawatir. Aku akan membunuhmu dengan cepat dan tak menyakitkan. Mungkin kamu lolos di kobaran api itu, dan kamu juga lolos saat aku mengurungmu di ruang bawah tanah. Tetapi kali ini kupastikan kau tak akan lolos karena tak ada seorang pun yang menolong. Kesempatan ketiga tak ada lagi. Riwayatmu akan berakhir di kamar ini!” ucap sosok itu.
Kalimat itu menggetarkan Cornellio. Ia tak mau mati konyol dalam kamar ini. Matanya melirik ke samping, mencari sesuatu apa yang ia bisa gunakan untuk perlindungan diri. Tiba-tiba ia teringat dengan pistol pemberian Ammar yang ia simpan di laci lemari.
Sayangnya untuk menjangkau, butuh kelengahan dari sosok pembunuh ini.
Secepat kilat, Cornellio berlari ke samping, di belakang tempat tidur. Mata sosok itu seolah tak lepas menangkap segala gerakan Cornellio. Dia mulai mendekat mengayunkan golok di tangannya.
“Jangan medekat!” perintah Cornellio.
Langkah sosok itu tertahan sementara. Matanya memicing, sementara Cornellio tiba-tiba melemparkan sebuah hiasan berbentuk gajah dari keramik ke arah sosok berjubah. Sontak ia melindungi mukanya dari lemparan Cornellio. Melihat kesempatan itu, Cornell segera naik ke atas ranjang. Diraihnya sebuah bantal, kemudian dilempar ke arah sosok berjubah. Cornell berusaha melempar apapun yang berada di dekatnya, asal dia selamat.
Bantal berhasil ditangkis dengan golok, sehingga bantal yang berisi kapuk itu berhamburan. Si sosok berjubah kian beringas memburu Cornellio. Sekuat tenaga pria itu berusaha bertahan dari sabetan golok bertubi-tubi. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, ia tak boleh mati!
Bagaimanapun, sulit menghadapi seseorang yang bersenjata. Cornellio semakin tersudut. Di ujung ruangan, ia tak bisa kemana-mana! Mata si sosok menatapnya tajam.
“Kau tak bisa kemana-mana, Cornell! Percuma kamu berlari. Ajalmu sudah dekat!” ucap sosok berjubah itu.
“Aku tak semudah itu mati! Kalaupun aku mati, Ammar tak tinggal diam. Dia akan meringkusmu dalam waktu dekat. Percayalah! Segala kebusukan dan topeng yang kamu kenakan itu akan segera tersingkap!” ucap Cornellio.
“Kamu nggak perlu banyak omong! Ada pesan terakhir buat Adrianna?” tanya si sosok.
“Jangan pernah berani menyentuhnya!”
“Oya? Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Tentu saja aku akan membunuh semuanya tak bersisa. Kalian berdua sungguh manis, tapi sayangnya itu tak akan lama. Hiyaa!” tiba-tiba sosok berjubah itu merangsak maju dengan golok terhunjam ke arah Cornellio. Sontak Cornell berkelit ke samping, sehingga sabetan golok hanya mengenai ruang kosong.
Melihat serangannya gagal, si sosok semakin membabi-buta. Ia tak membiarkan Cornellio lolos begitu saja. Bahkan kini Cornell sudah mencapai lemari. Secepat kilat ia membuka laci, dan mengeluarkan sepucuk pistol. Kini ia mengarahkan pistol itu ke arah sosok yang mengejarnya.
“Jangan mendekat atau kuledakkan kepalamu!” ancam Cornellio.
Si sosok menghentikan langkahnya. Namun ia tak merasa gentar. Ia berdiri, tetapi tetap waspada.
“Aku tidak yakin kamu berani menembakku. Kamu seorang penulis, bukan seorang polisi. Aku nggak yakin kamu bisa memakai senjata itu dengan benar!” ejek sosok berjubah.
“Aku tidak main-main! Aku benar-benar akan menembakmu!”
“Tembak aku kalau kau berani!” tantang sosok itu.
Dooor!
Senjata api meletus!
Sayangnya, apa yang dikatakan sosok berjubah itu benar. Karena gemetar, tembakan Cornellio meleset mengenai dinding. Sosok berjubah hitam tersenyum puas. Secepatnya ia maju, menyabetkan golok ke tubuh Cornellio. Tak ada waktu untuk menghindar!
Teriakan Cornellio tertahan. Sebuah robekan besar menyasar bagian dada dan perut Cornellio tanpa ampun!
***
Suara letusan pistol dari kamar Cornellio mengejutkan penghuni kastil yang lain. Bahkan Ammar yang terkunci di kamarnya sendiri juga terlihat gelisah, ia ingin berlari ke arah suara letusan itu.
“Keluarkan aku dari sini! Keluarkan aku!” teriaknya.
Sayangnya, semua tak terlalu mendengar teriakan polisi itu. Semua lebih fokus dengan suara letusan senjata api dari kamar Cornellio.
Yang datang pertama kali ke kamar Cornellio adalah Elina. Gadis belia itu menjerit ketika melihat pintu kamar Cornellio terbuka. Dari luar kamar terlihat sosok Cornellio yang tergeletak bermandikan darah. Sebentar saja, semua berkerumun di depan kamar.
Adrianna syok melihat kejadian itu. Seakan tak percaya, beberapa menit lalu ia masih mengobrol dengan Cornell, kemudian mendapati tubuh kekasihnya itu roboh dengan keadaan mengenaskan. Ia sempat histeris, tetapi Hans buru-buru membawanya menjauh.
Kini hanya tinggal Michael, Aldo, Maira, Elina, dan Helen yang berdiri di depan pintu kamar Cornellio, menatap sosok pria yang terbaring itu seolah tak percaya.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Aldo.
“Entahlah. Aku bingung. Sebentar lagi kita semua akan tewas di tempat ini,” gumam Michael.
“Aku pikir yang akan terbunuh malam ini adalah aku. Ternyata Cornellio. Rupanya dia sedang tidak beruntung. Keberuntungannya telah musnah,” bisik Maira.
“Mengapa kamu berpikir akan terbunuh malam ini?” tanya Michael.
“Aku melihat tulisan di meja riasku. Dia rupanya menawariku apakah aku ingin mati atau tidak. Rasanya ingin kuhantam si pembunuh itu dengan tanganku sendiri. Ini benar-benar gila!” ucap Maira.
“Aku akan melaporkan kejadian ini pada Ammar. Dia harus tahu. Aku bingung harus bertindak apa, karena tak punya wewenang apapun,” kata Michael.
“Aku akan memeriksa kakinya besok. Kurasa ia perlu sedikit perban, dan aku akan melakukan pemulihan pada kakinya dengan metode reduksi tertutup. Dalam beberapa minggu ia akan pulih, asal tidak melakukan banyak gerakan. Ada juga obat yang harus ia minum,” ujar Aldo.
“Beberapa minggu? Astaga! Pada saat kaki Ammar pulih kita semua akan jadi mayat yang mati secara mengenaskan!” ucap Michael.
“Kamu mau seperti itu? Mengapa tidak kita lawan saja si pembunuh keparat itu?” usul Maira.
“Tapi kita belum tahu identitas si pembunuh itu. Bisa jadi itu Hans, Aldo, Adrianna atau bahkan kau atau aku sendiri. Siapa yang tahu? Yang kita hadapi ini sungguh tidak jelas!”
“Aku akan jebak dia dengan caraku. Aku sudah muak dengan semua ini!” ucap Maira.
“Jangan gegabah! Kau bisa mati konyol karenanya!” Michael memperingatkan.
“Aku akan pulang bersama para anak muda itu! Aku nggak mau tinggal di sini lama-lama!” kata Elina dengan paras cemas dan terpukul.
“Jangan khawatir, Sayang. Kamu akan selamat. Kurasa pembunuh itu sama sekali nggak mengincarmu. Hanya kami lah yang diincar. Kamu nggak perlu khawatir. Maafkan aku, karena aku membiarkanmu melihat ini semua. Tapi permintaanmu untuk bisa keluar dari kastil ini, itu bagus. Tadi salah seorang anak muda itu menginap di kamar bekas milik Yoga. Besok akan kutitipkan padanya agar kamu bisa pulang bareng sama rombongan mereka. Jangan khawatir!” ucap Aldo.
“Baiklah! Penting bagi kalian untuk mencari selamat sendiri-sendiri. Karena tak ada seorang pun yang bisa melindungi. Ammar sedang cedera kaki, sedangkan kemampuanku terbatas. Aku bisa terbunuh kapan saja. Setelah ini aku akan bicara dengan Ammar. Semoga kalian semua bisa keluar dari kastil ini dalam keadaan hidup!” Michael menjelaskan.
***