Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XLVIII. Breaking News


Dalam ruang baca yang sunyi, saat penghuni lain terlelap dalam tidur, Ammar masih berada di ruang baca memeriksa semua buku-buku yang mungkin ada hubungannya dengan Anjani. Selain itu, ia juga berusaha melacak identitas bayi yang digendong oleh sosok Anjani. Andai ia tahu, pasti tidak akan sesulit ini. Ammar tidak mau salah tangkap atau memutuskan segala hal dengan ceroboh. Peristiwa terbakarnya gudang tua adalah buah dari kecerobohannya. Harusnya ia tidak melakukan hak sebodoh itu.


Dari beberapa literatur yang ia baca, ia tidak menemukan informasi apa pun. Kastil tua ini tetap diliputi misteri yang tak terungkap. Ia beralih ke sebuah meja kerja dengan sebuah komputer usang di sana. Mungkin komputer itu keluaran beberapa tahun lalu. Kondisinya berdebu, sehingga Ammar harus mengelap dengan tisu sebelum memakainya. Ia tidak yakin apakah komputer ini masih beroperasi dengan normal.


Ia menyalakan komputer, ternyata prosesnya lumayan lambat. Tak banyak file yang ia jumpai, kecuali katalog buku-buku yang ada di ruang baca. Bagi Ammar, ini adalah hal yang sungguh luar biasa karena ruang baca pribadi ini dikelola secara profesional. Ia melihat daftar buku cukup lengkap, bahkan tertulis pula tanggal pembelian buku. Ammar tertarik dengan novel-novel karya para penulis yang ada di kastil itu.


Mata Ammar tertuju pada sebuah novel yang menurut Maira adalah sebuah inspirasi buat pembunuh untuk menghabisi korbannya. Ia mencatat, bahwa pembunuhan dengan membakar korban hidup-hidup termasuk dalam urutan pembunuhan kelima. Sedangkan pembunuhan keempat tak berhasil dilakukan. Jadi bagaimana dengan pembunuhan keenam? Ia berharap tak ada lagi pembunuhan ke enam.


Dalam file yang lain ia juga menemukan foto silsilah keluarga Laksono. Sayangnya nama istri yang tercantum dalam silisilah itu adalah Anastasia Pratiwi. Jadi benar, Anggara benar-benar ingin menghapus nama Anjani dari dalam hidupnya. Tetapi di mana keberadannya? Ia semakin bersemangat utuk mencari. Seandainya di kastil ini ada akses internet, pasti dia akan menemukan dalam waktu singkat.


Kemudian ia berpikir apabila dia tetap bertahan dalam kastil ini, maka kasus tak akan selesai karena susahnya mengakses data dari dunia luar. Untuk memperoleh data, paling tidak ia harus menggunakan akses internet atau semacamnya. Ia tak punya pilihan lain! Ia harus berkunjung ke kota, dan mencari tahu keberadaan Anjani pada kantor pemerintahan terdekat atau kantor catatan sipil.


Sayangnya, ada pertimbangan lain sebelum ia meninggalkan kastil. Ia khawatir kondisi kastil tidak terkendali. Ada dilema yang ia rasakan. Untuk itu, ia segera menemui Cornellio di halaman belakang, tanpa sepengetahuan siapa pun. Satu-satunya orang yang ia percaya saat ini adalah Cornellio, karena ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana penulis itu berjuang untuk lolos dari kebakaran dahsyat di gudang. Cornellio terkejut mendengar rencana Ammar.


“Kamu akan meninggalkan kastil ini?” tanya Cornellio.


“Hanya sebentar saja. Ada sesuatu yang harus segera kuselesaikan. Di kastil ini hanya kamu satu-satunya yang aku percaya, jadi aku menitipkan kastil padamu,” ujar Ammar.


“Aku? Kamu gila! Pembunuh itu mengincarku dan kamu akan meninggalkan aku dengan pembunuh gila itu. Dia bisa berbuat apa saja selama kamu tidak ada. Mungkin bukan hanya aku yang menjadi incaran, tetapi semua penghuni. Kumohon tunda kepergianmu!”


“Masalahnya ini berkaitan dengan kasus ini pula, Cornellio! Semua data yang aku butuhkan berada di kota. Internet dan informasi dari dinas terkait. Kamu tahu, tadi malam aku melakukan penyelidikan dan aku yakin, kita sudah semakin dekat ke pembunuh. Aku yakin pula, saat ini si pembunuh tengah putus asa karena dia gagal membunuh kita kemarin. Aku harap tidak ada pembunuhan ke enam. Ini tinggal sedikit lagi! Please, bantulah aku. Dokter Dwi menghilang dan aku tak tahu siapa lagi yang harus kuandalkan!” Ammar berusaha meyakinkan.


Cornellio menghela napas. Ia menggelengkan kepala sambil berkata,” Aku hanya tidak yakin bisa mengatasi ini sendirian tanpamu atau tidak. Sedangkan kamu sendiri bahwa siapa pun bisa menjadi pelaku pembunuhan brutal itu. Aku jelas tidak mungkin berbasa-basi pada siapa pun. Mungkin yang kulakukan hanya berdiam di dalam kamar kecuali waktu makan. Aku sudah sangat trauma, tak mau mati muda. Kumohon pahamilah aku!” ucap Cornellio.


Cornellio menghela napas. Ia tak bisa menolak lagi dengan keputusan Ammar, karena apa yang hendak dilakukan Ammar juga berkaitan dengan kasus ini. Ia hanya bisa mengangguk pelan.


***


Puluhan kilometer terpisah dari kastil tua, tepatnya di pusat kota, Mariah Alray tengah melepas lelah dari segala kesibukan yang telah ia lalui. Sengaja ia memilih sebuah kedai kopi modern yang agak sepi di pinggiran kota, agar tak bertemu dengan banyak orang. Sengaja pula ia memilih duduk di sudut ruangan. Secangkir kopi moka, dan sepiring french fries menemani malamnya yang muram. Sehari-hari ia berkutat dengan pengurusan pemakaman pamannya, beserta pengurusan berkas-berkas yang membuat kepala pusing.


Malam ini ia ingin menghabiskan waktu sebentar, sekedar mencari penghiburan, mendengar musik syahdu Celine Dion dari mesin pemutar musik yang diputar dalam cafe itu. Di bagian atas, ia melihat sebuah TV kecil yang sedang menyiarkan breaking news mengenai hal penting. Berita yang disiarkan sungguh membuatnya terhenyak, sehingga ia harus berdiri untuk meningkatkan volume TV.


Seorang reporter cantik menyiarkan langsung dari tempat kejadian di sebuah apartemen mewah, seorang penulis novel ditemukan tewas dalam kondisi membusuk. Diduga pembunuhan dilakukan sudah sejak lama, karena kondisi mayat sudah hancur. Kini polisi dan pihak forensik tengah mengamankan lokasi kejadian. Mariah Alray berhenti menyeruput kopinya, ia letakkan cangkir kopi di atas meja.


Si reporter cantik menyebut identitas penulis novel yang tewas itu dengan jelas. Sontak membuat Mariah Alray terkejut! Wajahnya berubah cemas.


“Astaga! Nama penulis novel yang tewas itu sama dengan penulis novel yang diundang paman ke kastil. Ini berarti ada yang menyamar jadi penulis. Ada penulis gadungan yang menyusup ke dalam kastil!” gumam Mariah Alray.


“Aku harus kembali kesana secepatnya. Penulis palsu itu pasti yang telah melakukan pembunuhan terhadap pamanku. Aku harus segera memberitahu suamiku tentang ini!”


Segera ia bayar pesanannya dan memutuskan untuk berkemas. Ia akan segera kembali ke kastil untuk menginformasikan pada suaminya tentang identitas penulis novel yang sama persis dengan penulis yang tewas di apartemen. Ia gelisah, dan berharap tidak terlambat!


***