Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
193. Rokok


Malam menyelimuti kota yang tak seberapa luas itu. Lampu-lampu mulai menyala di segenap penjuru kota. Di sebuah kawasan perumahan yang lengang, tepatnya di sebuah rumah yang lumayan besar, Reno termenung sambil mencoret-coret di ruang kerjanya. Sementara alunan musik lembut mengalun dari perangkat elektroniknya. Ia tengah mengutak-atik sesuatu.


Dari dalam laci mejanya, ia keluarkan semua foto orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan berantai. Ia mengurutkan foto berukuran 10R itu di atas meja. Paling atas ada foto Adinda, kemudian Ferdy, Rudi, Lena, Miranti, Gerry, Alex, dan Rasty. Ia kemudian mencoret foto-foto yang bukan ia curigai sebagai tersangka.


Yang pertama ia coret sudah pasti Gerry, karena anak muda itu dikabarkan diculik dan sampai kini belum diketahui di mana rimbanya. Tidak mungkin dia pelaku dari kekacauan ini. Yang kedua ia keluarkan dari daftar tersangka adalah Miranti, karena gadis itu telah tewas dicekik di rumah isolasi. Kemudian ia agak ragu, siapa lagi yang harus ia keluarkan dari daftar para tersangka ini?


Ia mengambil sebuah foto lagi, yaitu foto Rasty. Awalnya ia agak bimbang, karena Rasty memang mempunyai alibi kuat terkait pembunuhan Jenny. Namun, setelah ia menimbang, Rasty berada di ruangannya saat seseorang meneror Gerry. Waktu itu, terdapat tulisan-tulisan ancaman di mobil Gerry saat ia menginterogasi Rasty. Jadi dapat dipastikan, Rasty bisa dihapus dari dafatra para tersangka.


Selanjutnya masih ada lima foto tersisa. Ia mengambil foto Rudi. Tadi pagi ia mendapat kabar bahwa Rudi hampir meninggal karena ada seseorang yang menaruh racun di botol minuman yang dibawa Lena. Jadi sekarang tersisa empat tersangka, dua pria dan dua wanita. Sebelum ia mengambil kembali foto-foto yang bebas dari tuduhan tersangka, ponselnya bergetar. Rupanya panggilan dari kepolisian.


“Iya, Yani, ada apa?” tanya Reno kepada sekretarisnya.


“Mohon maaf, Pak mengganggu malam-malam. Saya ingin menyampaikan bahwa ada tamu yang mencari Bapak di kantor untu saat ini,” kata perempuan di seberang.


“Tamu? Malam-malan begini? Bilang saja besok pagi suruh kembali, karena saya sedang ada urusan penting untuk malam ini,” ucap Reno.


Ia menghela napas. Perasaannya sedikit kesal, karena saat ini sedang berusaha memecahkan misteri, tetapi ada saja yang mengganggunya.


“Tapi Pak, dia bilang urusan ini nggak bisa ditunda. Dia harus bertemu Bapak malam ini juga katanya,” ujar sekretaris itu.


“Wah, kok saya jadi penasaran ya sampai begitunya? Memangnya siapa tamunya, Yan? Kamu kenal dia?” tanya Reno.


“Dia bilang namanya Gerry, Pak. Ia akan memberi informasi penting untuk Bapak malam ini,” kata sekretaris itu.


“Astaga! Gerry?”


Reno buru-buru menutup pembicaraannya di seberang. Kembali ia pandangi deretan foto yang tersisa di atas meja. Ada empat foto yakni Alex, Ferdy, Lena, dan Adinda. Sejenak kemudian, ia ambil tiga foto di atas meja, sehingga hanya satu foto tersisa di sana.


“Tak salah lagi pasti kau pelakunya!” senyum Reno.


Setelah membereskan meja, ia bersiap-siap hendak ke kantor polisi untuk menemui Gerry. Ia yakin bahwa Gerry akan memberi tahu identitas pelaku pembunuhan itu. Namun, ia sebenarnya merasa agak ragu, sebab dalam pikirannya Gerry ini telah tewas. Sungguh suatu keajaiban ketika anak muda yang lama dicari-cari itu tiba-tiba muncul di kantor polisi. Reno tersenyum senang. Besok pagi, semua akan diungkap di rumah isolasi!


***


Seperti biasa, suasana malam di rumah isolasi sangat hening. Semua penghuni tak sabar menunggu esok hari, saat kedua polisi itu berjanji untuk mengungkap pelaku pembunuhan itu sebenarnya. Namun, hal sebaliknya malah dirasakan si pelaku pembinuhan. Di dalam kamarnya, ia merasa tegang karena besok jati dirinya akan diungkap. Ia berharap agar kedua polisi itu salah mengindentifikasi sehingga ia bisa dengan mudah lolos dari jerat hukum.


Waktu sudah menunujukan pukul sepuluh malam lebih dua menit. Para penghuni memilih untuk tinggal di kamarnya masing-masing, sesuai pesan yang disampaikan oleh Dimas, bahwa mereka harus lebih waspada. Tak ada lagi yang megobrol di ruang billyard.


Dimas dan Pak Paiman pun juga lebih meningkatkan kewaspadaan. Sejak pukul sembilan tadi, mereka sudah mengecek bagian-bagian yang dinilai rawan. Kalau biasanya mereka bertugas bergantian, kini mereka mereka bertugas berdua, agar bisa saling membantu apabila ada kesulitan. Mereka menyusur ke segenap penjuru rumah, karena mereka memang lebih fokus di dalam rumah daripada di luar.


Padahal, di sisi belakang rumah yang agak gelap, ada sosok Gilda yang sedang gelisah. Wanita muda itu rupanya telah membuat janji sebelumnya dengan sosok pembunuh untuk bertemu di belakang rumah. Ia beralasan akan membicarakan hal penting, sehingga memilih belakang rumah yang sepi dan lolos dari pengamatan. Hal ini sudah diantisipasi oleh Gilda, karena ia tahu Dimas akan lebih fokus di dalam rumah daripada di luar. Ia menyempatkan diri untuk menyelinap keluar sebelum Dimas dan Pak Paman berpatroli.


Gilda mondar-mandir dengan cemas, sambil melongok ke arah rumah, menunggu si sosok pembunuh yang sudah membuat janji dengannya. Seharusnya ia sudah datang sepuluh menit lalu, tetapi sampai sekarang masih belum terlihat batang hidungnya. Gilda makin cemas. Jangan-jangan, pembunuh itu sudah curiga kalau ia akan menjebaknya. Ia sendiri tidak membocorkan rencana ini pada siapa pun, termasuk kepada Wandi. Hanya ia dan Badi yang tahu rencana ini.


Tak jauh dari situ, dibalik semak-semak, Badi juga menunggu dengan harap-harap cemas. Ia mengawasi gerak-gerik Gilda dari jarak yang tak terlalu jauh. Ia menunggu Gilda yang saat ini juga tengah menunggu kehadiran si pelaku pembunuhan. Namun, sepertinya sampai detik ini si pembunuh belum menampakkan diri. Badi menjadi cemas. Ia ragu, jangan-jangan Gilda tidak melakukan tugasnya dengan baik, sehingga si pembunuh itu sudah curiga dengan rencana ini.


Tiba-tiba Badi merasakan benda keras menghantam kepalanya dari belakang. Matanya berkunang-kunang, kepalanya pening seketika. Sebelum ia bisa memastikan siapa yang telah memukul dari belakang, penglihatannya mulai gelap. Ia jatuh tak sadarkan diri, saat sosok misterius menyeretnya menepi, di bawah sebuah pohon yang gelap.


Gilda sendiri tidak menyadari kalau Badi sudah tidak bersamanya. Ia makin cemas. Suasana di sekitar tempat itu begitu sepi dan gelap, hanya pohon-pohonan saja yang ia lihat di sekitar. Ia berniat untuk kembali saja ke dalam rumah. Ia tak peduli lagi dengan urusannya bersama Badi, karena dalam pikirannya, si sosok pembunuh itu tidak jadi datang.


Tiba-tiba ia merasakan sesuatu membekap mulutnya. Sebuah sapu tangan dengan aroma yang aneh menusuk hidungnya, sehingga membuat matanya berkunang-kunang. Pandangannya menghitam, membuat ia merasa lemas. Ia tak sempat berteriak. Dalam hitungan detik ia juga tidak ingat apa-apa! Yang ia rasakan terakhir ketika ia merasa ditarik ke suatu tempat lain!


***


Dimas dan Pak Paiman bergerak ke lantai dua yang lengang. Mereka hendak memeriksa kamar para gadis. Sebelum naik tangga, mereka merasakan aura yang berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Mereka mendengar langkah kaki suara orang berjalan di lantai atas. Dimas jadi agak ragu untuk naik tangga.


“Itu sudah biasa, Pak.Namanya juga rumah lama, pasti ya ada gangguan-gangguan seperti ini. Jangan hiraukan. Mereka hanya ingin menunjukkan eksistensinya. Selama kita nggak ganggu, Insya Allah nggak apa-apa,” ucap Pak Paiman.


Dimas tersenyum. Sebelumnya ia kurang percaya dengan hal-hal mistis, tetapi beberapa kejadian aneh di rumah isolasi ini membuatnya berpikir lain.


Sebenarnya ia sudah mengantongi satu nama sebagai tersangka, tetapi saat ia memeriksa kamarnya, kamar itu dalam keadaan terkunci. Dimas tidak bisa memastikan apakah kamar si pembunuh itu memang benar-benar kosong atau ada penghuninya. Pak Paiman sendiri mengatakan bahwa pintu-pintu di kamar ini hanya mempunyai satu kunci saja, jadi tidak ada kunci cadangan untuk memeriksa.


Ia memutuskan untuk berpatroli lebih teliti, tidak mau kecolongan seperti malam-malam sebelumnya.


“Pak Paiman tunggu di bawah saja, biar saya yang naik untuk memeriksa. Awasi saja lantai satu, kalau ada yang mencurigakan, panggil saya segera!” pesan Dimas.


“Siap Pak!”


Dimas menaiki tangga. Diakuinya, kini jantungnya terasa berdebar, padahal biasanya tidak. Suasana lantai dua agak gelap. Karena beberapa lampu sudah dimatikan. Ia melihat tak ada yang aneh di sekitar lantai dua. Kamar-kamar para penghuni wanita dalam keadaan tertutup. Sebenarnya ia ingin mengetuk untuk memastikan keadaan mereka, tetapi ia urungkan niat itu karena mungkin penghuninya sudah tidur. Ia tidak mau mengganggu orang yang sedang beristirahat.


Ia sedikit ragu untuk melangkah, karena saat dia melewati area balkon, ia mendengar suara-suara aneh di sana. Seperti ada suara orang bersiul. Naluri Dimas mengatakan kalau hal itu adalah hal yang tidak baik. Ia tidak terlalu memperhatikan. Ia merasa suasana lantai dua di malam hari sangatlah menyeramkan.


Ia tidak peduli dengan suara siulan itu, kemudian ia melanjutkan memeriksa kamar gadis-gadis. Ia tidak mengetuk pintu, melainkan langsung membuka pintu kamar. Dari semua kamar itu, semua terkunci. Namun, saat ia hendak memeriksa kamar Gilda, ia terkejut. Ia membuka pegangan pintu, dan mendapati kamar Gilda tak terkunci. Sontak Dimas merasa kaget.


Ia memasuki kamar Gilda. Lampu di kamar itu dimatikan, sehingga suasana terlihat gelap.


“Gilda, apa kamu di dalam?” tanya Dimas.


Tak ada sahutan. Mendadak Dimas merasa khawatir. Ia nyalakan lampu kamar, mendapati kamar dalam keadaan kosong. Sementara, ia mencium aroma rokok di kamar itu. Dalam hati ia berpikir, sejak kapan Gilda merokok? Ya, ia pernah menjalin hubungan dengan Gilda di masa lalu. Padahal dulu Gilda mencium aroma rokok saja sudah marah. Lalu kenapa ada bau asap rokok di kamarnya?


Dimas memeriksa kamar itu, kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Pak Paiman mengatakan bahwa ada kemungkinan penyusup itu di lantai dua. Dimas jadi semakin khawatir kalau-kalau ada hal buruk terjadi pada Gilda. Ia memeriksa setiap sudut kamar, nyatanya tak menemukan apa pun.


Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesuatu yang tergeletak di meja rias. Ia menemukan sebungkus rokok yang isinya tinggal dua batang. Kemudian ia mengingat-ingat, bahwa ia pernah melihat merek rokok yang sama dengan yang dibeli seseorang beberapa waktu kemarin. Dimas berusaha mengingat, sampai ia teringat bahwa ia bertemu dengan orang yang membeli rokok dengan merk yang sama di kios rokok malam itu!


“Astaga! Apakah penyusup itu dia?” tanya Dimas dalam hati.


Lalu pikirannya kembali mengingat kejadian di kios rokok saat ia ditanya-tanya tentang rumah isolasi. Jadi apakah ini tujuannya? Si penyusup itu benar-benar datang ke rumah isolasi!


***