Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXV. The Orphanage


Bangunan panti asuhan itu terkesan tua dan tak berpenghuni. Papan nama bertuliskan Panti Asuhan Budi Luhur, terlihat sudah lapuk dimakan zaman, sehingga tulisan nyaris tak terbaca. Halamannya cukup lapang, tak banyak tumbuhan yang ditanam. Hanya sepasang pohon cemara ditanam di samping gedung berlantai dua, terkesan angkuh dan seram. Cat bangunan mengelupas di sana-sini, menghadirkan aura suram dan mistis.


Dilihat dari arsitekturnya, bangunan ini sudah ada sejak zaman Belanda. Pilar-pilarnya yang besar, berpadu dengan jendela-jendela raksasa.


Suasana cukup lengang, ketika detektif Reno Atmaja dan Dimas Prasetya memasuki area halaman yang berdebu. Angin pagi menerpa, tetapi tak memberikan kesan dingin. Mentari bersinar tak begitu terik tetapi cukup mengeringkan kerongkongan. Dimas menenggak air mineralnya, sebelum memasuki teras.


“Seperti tak berpenghuni,” gumam Dimas.


“Manusia macam apa yang betah tinggal di panti asuhan tak terawat ini?” timpal Reno.


Tak ada pintu utama, hanya sebuah lorong panjang yang lengang, melewati kamar-kamar yang tertutup rapat. Dimas penasaran, apakah kamar-kamar ini masih berpenghuni atau tidak. Panti asuhan ini tak layak dipakai. Beberapa kaca jendela terlihat pecah dan retak. Tak ada keceriaan anak-anak terlihat, seperti layaknya panti.


“Mungkin sudah ditutup selama bertahun-tahun,” ujar Dimas.


“Mungkin. Paling tidak kita bisa bertemu seseorang yang bisa memberi penjelasan sedikit,” kata Reno.


Mereka berhenti di depan sebuah tangga yang ada di ujung lorong. Tangga itu berdebu, dengan lantai yang pecah di sana-sini. Reno terlihat ragu untuk melangkah lebih jauh. Ia memalingkan muka ke arah Dimas, meminta pendapat.


“Apa kita akan naik?” tanya Reno.


“Ya. Kurasa kita harus naik untuk menemukan seseorang. Atau paling tidak sesuatu yang bisa kita jadikan petunjuk.”


Mereka memutuskan untuk menaiki tangga. Baru dua tingkat mereka naik, terdengar suara menyapa.


“Selamat pagi,” sapa suara itu.


Dimas sedikit terkaget, tak menyangka ada seseorang yang menyapa. Ia menoleh ke belakang, mendapati seorang perempuan muda berbusana resmi, dengan blazer warna kelabu yang menatap kehadiran mereka dengan curiga.


“Oh, maaf Mbak. Kami dari kepolisian. Namaku Reno dan ini rekan saya Dimas. Kami ingin bertemu dengan pengelola panti ini. Apakah bisa?” tanya Reno Atmaja.


“Apakah maksud Anda, Ibu Hermina?” Wanita muda itu balik bertanya.


“Ibu Hermina? Kami nggak tau pasti namanya. Tapi kalau itu memang nama pengelolanya, maka iya, kami mencari beliau. Apakah bisa?”


“Oh. Iya pengelola panti asuhan ini memang Ibu Hermina Siregar. Kenalkan, aku Diana Siregar, keponakan beliau.”


Perempuan bernama Diana Siregar itu mengulurkan tangan. Reno dan Dimas menyalami dengan hangat dan antusias.


“Ibu Hermina dalam kondisi sakit. Sudah beberapa tahun ini beliau menderita asma. Kurasa beliau tak akan bisa berkomunikasi dalam waktu agak lama. Mohon dimengerti,” ucap Diana.


“Tak apa. Ada beberapa pertanyaan yang ingin kami ajukan berkenaan dengan panti ini,” jawab Reno.


“Panti ini sudah beberapa tahun tak beroperasi lagi, karena donatur sudah tak ada lagi. Anak-anak yang yang ada di sini dipindah di panti yang lebih layak, dan sebagian lagi diadopsi. Sebenarnya, aku berusaha membujuk bibiku untuk meninggalkan panti ini, tetapi beliau tidak bersedia. Terlalu banyak kenangan katanya. Jangan heran, beliau sanggup duduk berjam-jam mendengarkan musik klasik,” terang Diana.


“Kami mengerti. Kami tidak akan memaksa beliau untuk menjawab pertanyaan kami apabila tidak sanggup. Di mana kami bisa bertemu beliau?” tanya Reno.


“Mari kuantar kalian ....”


Diana Siregar berjalan menaiki tangga, menuju lantai dua, kemudian menyusur sebuah lorong sepi. Di depan sebuah ruang berpintu hijau, dia berhenti, kemudian mempersilakan dua detektif itu masuk.


“Aku tinggal kalian ya. Apabila ada apa-apa atau perlu bantuan, aku ada di ruang ujung sana,” ujar Diana sambil menunjuk ruang di ujung lorong yang berpintu putih.


“Terima kasih, Diana,” jawab Dimas.


Perlahan mereka masuk ke dalam sebuah ruang yang agak temaram, dengan seperangkat tempat duduk dari kayu yang terlihat usang. Dari gramaphone tua terdengar musik klasik yang mengalun lembut. Di dekat jendela, seorang perempuan tua dengan rambutnya yang telah memutih, duduk di kursi roda menatap kosong ke arah luar.


“Permisi Bu Hermina,” sapa Reno Atmaja.


“Permisi Ibu,” ulang Reno.


Sesaat wanita itu tak menjawab. Tapi tiba-tiba ia berkata,“Ini adalah musik terindah yang pernah kudengar. Karya Mozart. Clarinet Concerto. Sebuah karya agung yang dimainkan untuk menyentuh jiwa oleh Czech Philharmonic Orchestra. Kalian pernah mendengarnya?"


Suara wanita itu terdengar sedikit parau, tetapi terdengar jelas. Reno Atmaja dan Dimas sedikit kikuk mendengar pertanyaan tak terduga itu. Mereka saling berpandangan, tak tahu harus menjawab apa. Mereka sama sekali tak pernah mendengar nama Mozart sebelumnya, karena mereka dibesarkan dalam budaya pop yang trend di tahun 2000-an.


“Eh, maaf Ibu kami dari ....” Ucapan Reno tiba-tiba terputus, karena tiba-tiba wanita tua itu memotong.


“Kepolisian? Ya, aku tahu maksud kedatangan kalian!”


***


Setelah diam-diam meninggalkan pasangan Aldo-Elina, Hans dan Maira sampai di lokasi di mana para anak muda mendirikan tenda. Kedatangan mereka disambut gembira oleh Antony, yang sudah siap dengan tas ranselnya. Demikian juga rekan-rekannya yang lain, semua sudah siap dengan barang bawaan.


“Ah, untung Kakak datang tepat waktu. Kalau tidak, sudah kami tinggal!” kata Antony.


“Tentu aku akan datang tepat waktu. Aku nggak akan melewatkan waktu bersenang-senang bersama kalian!” kata Hans sambil tertawa senang.


“Aku harap semua berjalan lancar...,” gumam Maira.


“Tentu saja semua akan berjalan lancar, Maira. Kamu nggak perlu khawatir dengan bahaya apa pun. Posisi kita agak berjauhan dengan kastil itu, dan tentu saja kita aman di sini. Jangan khawatir!”


“Firasatku berkata lain,” bisik Maira.


Hans tak memedulikan perkataan Maira. Ia lebih sibuk menatap dua gadis muda yang turut serta dalam rombongan itu, sembari menebar senyum.


“Oke teman-teman! Apakah kalian semua sudah siap?” tanya Antony.


Semua yang ada di tempat itu mengangguk. Setelah semua persiapan selesai, mereka meninggalkan tenda, menuruni jalan setapak yang menuruni lereng berbatu menuju pinggiran hutan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon rendah. Matahari belum terlalu meninggi, sehingga belum terlalu panas. Kicau burung bercuit-cuit di atas pepohonan, mengiringi perjalanan rombongan keci itu.


“Aku baru tahu kalau di balik kebun teh ini ada hutan seperti ini,” ucap Maira sambil memandang sekeliling.


“Ini indah! Aku merasa sangat nyaman dan damai di sini! Aku nggak pernah nemuin ini di Jakarta!” ucap Sonya.


“Kamu yang bernama Sonya?” tanya Maira.


“Oh, iya Kak. Saya bernama Sonya, dan ini temanku Melly. Kurasa kita belum sempat berkenalan tadi,” sambut Sonya dengan ramah.


Sayangnya Maira tak terlalu antusias menerima perkenalan itu. Ia hanya menyunggingkan senyum dingin. Di depan sana, Antony berjalan cepat karena ia sebagai penunjuk jalan. Sedangkan para pria lainnya berjalan di belakang. Sambil berjalan, sesekali mereka mengobrol ringan untuk menghilangkan rasa bosan.


“Maaf, Kakak ini pacarnya Kak Hans?” celetuk Melly.


“Aku? Hahaha. Aku bukan pacarnya, tetapi aku pernah tidur dengannya,” ucap Maira dengan paras bangga.


Mendengar perkataan Maira, sontak paras Sonya berubah. Ia terdiam tak berkata apa-apa, sementara Melly tak dapat menahan senyumnya. Diam-diam ia berbisik pada Sonya.


“Kamu tahu mengapa dia dengan mudah bisa mengajak tidur Hans?” bisik Sonya.


“Kurasa aku nggak ingin tahu alasannya! Itu sama sekali nggak penting buat aku!” dengus Sonya. Dari nada bicaranya, dapat dipastikan bahwa dia cemburu.


“Kuberi tahu alasannya! Ukuran dada dia lebih besar daripada dadamu!” kata Melly sambil tergelak.


***