
Antony duduk di depan tenda, dengan tatapan menerawang ke arah hamparan kebun teh yang terlihat misterius baginya. Ia masih tak habis pikir, dengan tas Melly yang tiba-tiba isinya berceceran di dalam hutan. Siapa sebenarnya yang mengambil tas itu? Apa perlunya mengacak-acak isi tas, kemudian menghambur di dalam hutan? Lalu darimana asal kotak musik itu?
“Kopi?” tiba-tiba Sonya menghampiri dengan membawa dua buah mug aluminium berisi kopi panas yang asapnya masih mengepul. Aroma kopi yang nikmat seketika menggelitik indera penciuman Antony.
“Terima kasih,” jawab Antony sambil menerima mug berisi kopi tersebut.
Sonya meneguk kopi perlahan, sambil memperhatikan kegelisahan yang tergambar di paras Antony.
“Apa yang sedang kamu pikirkan, Ton?” tanya Sonya.
“Kejadian semalam. Menurutmu siapa orang gila yang mengambil tas Melly dan menghamburkan isinya di dalam hutan? Awalnya kupikir tempat ini sungguh terpencil, tak ada yang di sini selain kita. Tetapi kejadian semalam, membuktikan bahwa kita nggak sendirian. Kotak musik itu sengaja diputar untuk menarik perhatian kita,” cemas Antony.
“Mungkin monyet yang melakukan itu. Kamu takut? Tumben. Biasanya kamu paling semangat untuk kegiatan berkemah seperti ini. Tak biasanya hal kecil bisa mempengaruhi pikiranmu,” ujar Sonya.
“Menurutmu monyet bisa memutar kotak musik? Sebenarnya bukan takut, tetapi sedikit khawatir. Nggak biasanya ada kejadian seperti ini saat berkemah. Dari awal kita datang ke tempat ini, kita sudah disambut hal-hal aneh. Pertama, pria yang mobilnya jatuh di dalam jurang itu. Lalu penulis-penulis yang ada di dalam kastil dekat sini. Ini sunguh sesuatu yang nggak lazim. Aku merasa ada yang janggal,” terang Antony.
“Ah, itu mungkin hanya perasaanmu saja. Jangan khawatir. Tempat seindah ini nggak mungkin menyimpan hal-hal misterius. Tenanglah, semua akan baik-baik saja!” ujar Sonya.
Antony terdiam sejenak. Ditatapnya pucuk-pucuk pohon yang bergoyang ditiup angin. Ia berusaha menenangkan hati, agar tak terlihat panik di hadapan teman-temannya yang lain.
“Di mana Ringo dan Melly?” tanya Antony kemudian.
“Mereka bilang akan ke air terjun sebentar untuk mandi, dan masuk ke dalam hutan sebentar. Sebenarnya aku mau bikin mi instan, tetapi malas. Lebih baik minum kopi. Toh siang ini kita akan kembali ke kota kan?” ucap Sonya.
“Kuharap mereka tak pergi terlalu jauh. Sebenarnya ada yang mengganjal pikiranku selama ini, tetapi aku sengaja tak bercerita kepada siapa pun. Aku takut hal ini akan membuat kalian takut atau cemas,” ujar Antony lagi.
“Emang apa yang menakutkan?”
“Kakakku pernah bercerita bahwa kastil yang tak jauh dari sini itu adalah lokasi hilangnya beberapa orang secara misterius. Beberapa orang berkunjung ke sana, dan tak pernah kembali. Entah apa yang terjadi, bahkan polisi tak bisa mengungkap. Kastil itu sebetulnya milik milyader kaya-raya Anggara Laksono. Namun, tak pernah ada bukti bahwa ada kejahatan yang tersimpan di sana. Dahulu, ada beberapa polisi menggeledah, namun tak menemukan apa pun,” terang Antony.
“Astaga! Kurasa itu hoax atau semacamnya, Ton. Sudahlah, nggak usah cemas. Kita di sini untuk bersenang-senang. Jangan rusak suasana ini dengan cerita-cerita yang nggak jelas kebenarannya. Oke?”
Antony mengangguk, tetapi belum bisa menghilangkan rasa cemas di dalam hatinya. Sonya, mau tidak mau ikut memikirkan apa yang dikatakan Antony. Ia berusaha tenang, tak menanggapi apa pun.
“Oya, Ben kan sedang berada dalam kastil itu?” tiba-tiba Sonya teringat sesuatu.
“Kuharap dia akan baik-baik saja di sana. Siang ini, setelah semua perlengkapan kita beres. Kita langsung ambil mobil dan meninggalkan tempat ini. Sejak kemarin perasaanku tidak enak. Ini nggak pernah kurasakan sebelumnya. Tetapi, entahlah. Aku hanya merasa ada yang nggak wajar. Itu saja!”
“Baiklah, Ton. Kita tunggu Melly dan Ringo dulu. Setelah itu kita berkemas dan meninggalkan tempat ini,” ujar Sonya.
***
Aldo Riyanda, dokter muda itu membalut kaki Ammar Marutami dengan hati-hati. Walaupun usianya bisa dikatakan belia, ia sangat cekatan melakukan tugas yang biasa dilakukan oleh paramedis itu. Beberapa balutan ia perkuat, agar tidak menimbulkan cedera lebih lanjut.
“Terima kasih. Kamu memang calon dokter yang hebat!” puji Ammar.
“Tidak sehebat reputasimu sebagai seorang polisi yang berhasil mengungkap banyak kasus,” kata Aldo.
“Bagaimana keadaan di luar sana? Perasaanku mengatakan bahwa situasinya memburuk saat aku terbaring lemah seperti ini. Cornellio mati, dan entah apa lagi yang terjadi setelah ini. Dokter Dwi juga menghilang. Mariah juga tak kunjung kembali dari kota. Aku merasa ada hal buruk terjadi pada dirinya. Jika itu benar terjadi, maka aku tak akan memaafkan diriku sendiri,” ujar Ammar.
“Aku mengerti. Tetapi posisiku saat ini sama saja dengan yang lain. Ya, sejauh ini aku juga masih berlabel tersangka, padahal jelas-jelas aku tak terlibat apa pun di sini. Malahan aku mengkhawatirkan keselamatan kekasihku, Elina. Kusarankan, kau harus bertindak cepat dan benar, atau akan ada korban lain berjatuhan.”
Aldo membereskan peralatan medisnya, sementara Ammar masih terpekur memikirkan sesuatu. Ia menatap kosong ke depan, kembali menyusun kepingan-kepingan data yang ia dapatkan. Semua serba terserak, seperti kepingan puzzle yang rumit.
“Aku akan mengatasi ini. Sebentar lagi, psikopat itu akan kubekuk. Tak mungkin ia akan selamanya berkeliaran. Dia pasti akan kubekuk!” geram Ammar perlahan.
“Kamu mempunyai gambaran tentangnya?” tanya Aldo.
“Ya. Setidaknya aku tahu bahwa orang ini adalah anak dari Anggara Laksono yang disia-siakan beberapa puluh tahun lalu. Ia kembali ke sini, menghabisi ayahnya sendiri, dan orang-orang yang terlibat dengan kastil ini. Dia tak mengizinkan siapa pun keluar dari kastil dalam keadaan hidup. Ia juga berjiwa keji, tak segan menghabisi dengan segala cara. Ia licin seperti belut, cerdas penuh taktik. Tetapi ia lupa, bahwa segala sesuatu pasti ada celah. Aku akan mencari celah itu!” ucap Ammar.
Aldo terdiam. Ia membiarkan Ammar tenggelam dalam pikirannya. Helen tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membawa nampan penuh makanan untuk sarapan Ammar. Seperti biasa, perempuan misterius itu tak mengucap sepatah kata pun. Ia hanya meletakkan nampan di atas meja.
“Aku akan tinggalkan dirimu agar bisa sarapan. Aku juga akan sarapan sebentar lagi,” ucap Aldo.
“Ya, tinggalkan saja aku. Aku tak begitu berselera untuk sarapan pagi ini. Aku akan mengurai benang kusut ini sebentar. Aku mencium ada topeng yang di sini. Sebentar lagi akan kubuka topeng itu!” ucap Ammar.
Aldo mengangguk. Ia beranjak keluar dari kamar Ammar, ketika tiba-tiba Maira mengejutkannya.
“Bagaimana keadaan, Ammar?” tanya Maira.
“Dia akan baik-baik saja,” jawab Aldo singkat.
“Aku akan menemuinya sebentar,” kata Maira.
“Kurasa dia tidak ingin bertemu siapa pun saat ini. Sebaiknya jangan!” cegah Aldo.
“Ada informasi penting yang ingin kusampaikan padanya,” kata Maira.
“Oya? Apa itu?”
“Aku tidak akan memberitahumu, Aldo. Maaf. Ini rahasia.”
Aldo mengangkat bahu, kemudian meninggalkan Maira sendirian di depan kamar Ammar. Perempuan itu terlihat cemas. Ia ingin masuk ke dalam kamar Ammar, tetapi ragu-ragu. Setelah berpikir sejenak, ia urung masuk ke dalam kamar detektif itu.
***