Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
316. Serangan Tiba-tiba


Di ruas jalan yang membentang di luar kastil, sebuah mobil mengintai tak jauh dari lokasi kastil. Mobil itu rupanya sudah diparkir sejak semalaman, sejak Reno pertama kali hadir di kastil itu. Penumpangnya adalah seorang wanita muda dengan kacamata hitam, serta dandanan yang cukup ringkas. Si pengintai itu rupanya menunggu saat yang tepat untuk masuk ke dalam kastil. Ia menunggu sambil memakan sepotong roti berlapis keju kegemarannya. Matanya yang cantik terus menatap arah kastil. Ia tahu, saat ini penghuni kastil sedang berada di luar karena sedang menjelajah air terjun. Ia berniat masuk ke dalam kastil.


Ia memajukan sedikit mobilnya, kemudian memarkir tak jauh dari gerbang kastil. Setelah menyelesaikan sarapannya, ia melenggang dengan penuh percaya diri, turun dari mobil, melepas kacamata hitam, dan menatap menara kastil yang menjulang. Ada rasa sedikit takut melihat kemegahan kastil. Ia mulai memasuki halaman kastil yang cukup luas itu. Semenjak kastil dibuka untuk umum, kondisi kastil jauh lebih terawat daripada sebelumnya. Namun, itu tak mengurangi rasa takutnya.  Ia melangkahkan kakinya yang jenjang, melewati sepetak taman berbunga, kemudian berhati sejenak. Ia menduga kastil dalam keadaan kosong. Ia berencana memutari kastil dari halaman samping yang juga cukup luas. Mungkin akan lebih aman kalau ia lewat dari arah sana.


Setelah menguatkan hati, ia kembali melangkah, dengan mata tetap waspada mengamati sekitar. Namun, baru beberaoa langkah, terdengar suara yang mengejutkannya.


"Berhenti, Niken! Lebih baik kamu kembali!"


Niken membalikkan badan, mendapati sosok Dimas yang tiba-tiba muncul, entah dari mana datangnya. Ia agak canggung melihat polisi muda yang menatapnya tajam, dengan penuh ancaman.


"Di-Dimas .... "


"Maafkan aku, Niken. Bukankah pihak kepolisian secara jelas melimpahkan kasus ini kepada kami, dan namamu tidak ada di dalamnya? Jadi apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dimas.


"Aku ... aku hanya ingin membantu kalian, Dimas. Kamu tahu kegagalanku di kasus sebelumnya adalah pelajaran berharga buat aku. Aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa menangani kasus ini dengan baik. Kumohon Dimas, berilah aku satu kesempatan untuk membuktikan bahwa aku juga bisa menangani kasus ini," pinta Niken.


"Maaf Niken. Kamu salah alamat. Seharusnya permohonan itu bukan kamu tujukan kepadaku, karena aku jelas tidak punya wewenang apa pun dalam hal ini. Kusarankan kamu memutar balik langkahmu, sebab jika Pak Reno tahu kamu ada di sini, maka urusannya akan tambah panjang," saran Dimas.


"Aku sudah menunggu semalaman agar bisa masuk ke sini, Dim. Dan sekarang kamu suruh aku untuk berbalik arah? Kumohon bantulah aku, Dim! Paling tidak, jangan beritahu Pak Reno kalau aku ada di sini. Biarkan aku bekerja, dan aku yakin aku akan .... "


"Tidak Niken! Kamu tidak punya wewenang apa pun di sini. Pergilah, sebelum mereka kembali. Kamu nggak perlu buktikan apa pun. Aku tahu kamu polisi baik dan andal. Ada banyak kasus yang bisa kamu tangani, tetapi ini adalah kasus berat yang ada hubungannya dengan kasus awal. Peranmu tidak akan terlalu berpengaruh di sini. Lagipula, sudah ada Juned dan Ramdhan yang membantu kami. Ada pula Pak Ammar. Lebih baik kamu kembali saja. Kehadiranmu akan membuat kami tambah repot nanti," ucap Dimas.


Niken terdiam sejenak. Ia mulai ragu melanjutkan langkahnya, tetapi sebenarnya ia sangat ingin bergabung dengan tim itu. Untuk saat ini, berdebat dengan Dimas bukanlah hal baik, karena ia sadar posisinya lemah. Ia tidak dibekali dengan surat tugas apa pun. Kehadirannya mungkin tidak akan dipedulikan dengan yang lain, atau bahkan ia dianggap sebagai seorang penyusup ilegal. Niken menghela napas sambil mengangguk.


"Oke ... oke, aku akan pergi. Nanti apabila ada apa-apa, kamu boleh panggil aku kapan saja, Dimas. Walau aku bukan bagian dari tim kalian, aku akan siap menolong kalian kapan saja. Aku nggak peduli dengan surat tugas sialan. Naluriku untuk memecahkan kasus begitu kuat. Ini panggilan hati Dimas, dan nggak ada seorang pun yang bisa melarang aku. Sementara aku akan pergi, tetapi mungkin aku akan muncul lagi, dengan izin kalian atau tidak!"


Setelah berkata seperti itu, Niken berbalik arah, meninggalkan Dimas. Ia kembali menyusur halaman depan kastil. kembali ke mobilnya. Dimas hanya membiarkan rekannya itu pergi, walau dalam hati ia sedikit iba. Namun, ia memang tidak punya wewenang apa pun. Ia berpikir, ini semua demi kebaikan Niken.


***


Reno dan Ryan telah sampai ke area air terjun, tetapi ia  tidak melihat para pria di sana, kecuali Farrel yang duduk di atas batu besar. Sedangkan Rosita dan Lily tampak rebahan di rerumputan di dekat sungai, sambil menikmati pemandangan air terjun yang mengalir deras. Mereka tak menyadari kehadiran Reno dan Ryan, kedua wanita itu tampak bercanda sambiltertawa-tawa. Reno segera  menyapa Farrel.


"Oh, Pak. Mereka sedang pergi ke hutan, karena Jeremy bilang, ia menemukan Nadine di dalam hutan sana. jadi saya menunggu di sini bersama Rosita dan Lily," terang Farrel sambil menunjuk arah dalam hutan.


"Nadine? Benarkah apa yang kamu katakan itu, Rel? Gimana keadaannya? Apa dia masih hidup?" cecar Ryan.


"Aku ... aku belum tahu. Mereka ke sana untuk memastikan keadaan Nadine," jawab Farrel.


Ryan terlihat bersemangat mendengar penjelasan Farrel. Ia bergegas melangkah menuju hutan, tanpa mempedulikan keberadaan Reno dan Farrel. Ia ingin segera menyusul yang lain untuk menolong Nadine.


"Ryan, tunggu!" pekik Reno.


Namun panggilan Reno tak digubris oleh Ryan. Pria itu terus masuk ke dalam hutan. Reno tentu tak bisa membiarkan Ryan masuk sendirian ke dalam hutan. Setengah berlari ia menyusul kepergian Ryan. sembari memberi isyarat agar Farrel tetap tinggal. Farrel hanya mengangguk cepat.


Sebenarnya Farrel merasa bosan berada di tepi sungai sendirian, sedangkan yang lain memilih untuk masuk hutan. Ia ingin mengobrol dengan Lily atau Rosita, tetapi sedikit segan. Tiba-tiba, timbul keinginannya untuk kembali ke kastil secara diam-diam. Ia merasa sangat bosan berada di tempat itu. Ia melayangkan pandangan ke arah dua wanita yang sedang di rerumputan. Namun, tak ada keduanya di sana. Ia melihat Rosita yang kembali ke dalam air, tetapi tak melihat Lily. Di mana Lily? Mengapa ia menghilang begitu saja?


Farrel tak mau ambil pusing. Ia segera melangkah meninggalkan air terjun, menuju kembali ke arah kastil. Lagipula, perutnya terasa lapar. Hari mulai siang, tetapi belum ada tanda-tanda mereka akan memulai makan siang. Ia mendengkus agak kesal. Rasa haus mencengkeram kerongkongan. Ia melangkah meyusur jalan setapak dengan agak kesal.


Sayup-sayup suara derasnya air terjun terdengar menjauh. Ia hanya ingin segera sampai ke kastil, dan duduk di meja makan, berharap agar Mariah memasak hidangan yang enak siang ini. Kini ia telah sampai di simpang empat, sejenak ia ragu arah ke kastil. Ia berdiri sejenak. Suasana sangat lengang, hanya gemerisik dedaunan yang tertiup angin. Namun, sayup-sayup ia mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering. Ia menajamkan pendengaran. Suara itu begitu jelas terdengar.


"Mungkin suara binatang hutan," gumamnya.


Ia tidak terlalu peduli dengan suara langkah yang terdengar begitu dekat. Namun, tiba-tiba ia merasakan seutas kabel yang tiba-tiba menjerat lehernya, sehingga ia jatuh terjerembab ke belakang. Bukan hanya itu, ia merasa kepalanya ditutup tiba-tiba dengan sebuah karung bekas pembungkus beras!


***