Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
165. Gadis Kecil


Berita kematian Miranti sontak menyadarkan para penghuni rumah isolasi terhadap bahaya yang nyata. Mereka bisa saja jadi korban berikutnya. Nyawa mereka benar-benar menjadi taruhan. Bagaimana tidak? Dalam sebuah rumah yang dijaga oleh polisi saja, masih ada yang terbunuh. Hal itu membuat rasa percaya mereka terhadap para polisi turun drastis. Mereka memilih untuk menyusun rencana sendiri untuk bisa lolos dari sasaran pembunuhan.


Setelah berbincang sebentar dengan Dimas yang menggantikannya, Reno kembali ke kota bersama tim paramedis dan beberapa polisi yang menginvestigasi tempat kejadian. Jenazah Miranti diangkut ke dalam ambulans yang telah disiapkan, diiringi tatapan sedih teman-temannya. Yah, mereka cukup kehilangan atas kematian Miranti yang begitu tragis dan tiba-tiba.


“Dia gadis yang baik. Orang gila mana yang tega membunuhnya?” gumam Ferdy.


Gumaman itu dijawab dengan anggukan kepala Adinda. Gadis itu kemudian menenggelamkan kepalanya ke pelukan Ferdy dengan sedih. Rasty tampak berkaca-kaca melihat jenazah Miranti yang tertutup kain putih. Lena hanya bisa terdiam. Demikian juga Rudi dan Alex. Entah apa yang ada dalam benak mereka, yang jelas mereka hanya bisa terdiam tanpa kata-kata.


“Ini baru awalnya ....” Alex bergumam.


"Jangan ngomong gitu ah!" sergah Rasty.


Setelah rombongan itu kembali ke kota, Bu Mariyati mempersilakan mereka untuk makan pagi yang telah disiapkan sedari tadi. Makan pagi terasa tak biasa tanpa Miranti. Mereka memang memasukkan suap demi suap ke dalam mulut, tetapi seolah makanan itu tiada berasa. Nasi goreng yang aromanya begitu menggugah selera itu seolah seonggok makanan hambar. Tak ada seorang pun yang menikmati sarapan pagi itu.


Setelah selesai makan pagi, semua masih dalam keadaan diam. Kematian Miranti yang sama sekali tak diduga benar-benar menebar teror di antara mereka. Mereka kini saling curiga satu sama lain. Persahabatan itu perlahan renggang. Kini tak ada lagi rasa percaya, masing-masing lebih berhati-hati dengan orang-orang yang di sekeliling mereka.


Rudi, yang duduk bersebelahan dengan Rasty menyelipkan selembar kertas kecil ke bawah piring Rasty, sambil melirik gadis itu. Rasty menerima dengan heran. Ia yakin, Rudi sedang menulis pesan penting dalam secarik kertas kecil itu. Sementara, dilihatnya Dimas yang tengah lahap menikmati buah pepaya sebagai hidangan pencuci mulut.


Rasty membuka kertas kecil itu perlahan, kemudian membaca isinya.


Aku tidak percaya para polisi itu. Kita semua bisa mati terbunuh di tempat ini. Kita harus kabur dari tempat ini.


Rasty menoleh ke arah Rudi. Pria muda itu pura-pura tak melihat, seraya memainkan sendok di atas piringnya. Paras Rasty berubah cemas, kemudian menatap paras temannya satu persatu. Sayangnya, mereka semua seperti tak peduli.


“Kalian takut?” tanya Dimas tiba-tiba.


Semua terdiam. Ya, mereka memang takut, tetapi berusaha menutupi rasa takut itu. Dimas tersenyum, berusaha tenang agar para anak muda itu tidak terbawa suasana cemas.


“Kalian jangan khawatir. Aku bukan Reno yang mungkin bisa dibodohi oleh siapapun pelaku pembunuhan itu. Aku adalah Dimas, dan tidak akan kubiarkan siapa pun bermain-main denganku!” tegas Dimas.


“Aku tahu, salah seorang pembunuh itu adalah salah satu dari kalian. Mungin saat ini salah satu dari kalian sedang bersorak kegirangan dengan kematian Miranti, atau tengah memikirkan sesuatu untuk target berikutnya. Tapi kupastikan, Miranti adalah seseorang yang terbunuh terakhir. Nggak akan ada Miranti-Miranti yang lain. Sebab kalau sedikit saja aku tahu tentang pembunuh itu, maka aku tak segan-segan meledakkan kepalanya dengan pistol. Penjara terlalu ringan. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang sama dengan korban-korban yang telah dihabisinya!” lanjut Dimas.


“Jadi apa upaya Anda untuk menghentikan pembunuhan ini?” tanya Ferdy tegas.


“Aku punya strategi tersendiri yang tentu saja tak dapat kubagi di sini. Tapi kalian bisa lihat apa yang akan kulakukan untuk membekuk si pelaku pembunuhan itu. Mungkin tidak hari ini, tapi aku yakin pembunuh itu tidak akan berkutik dalam waktu dekat,” ucap Dimas.


“Kami butuh jaminan keamanan di sini! Jangan sampai kami digiring ke sini seperti rombongan sapi-sapi yang bawa ke tempat penjagalan. Kalau Anda tidak segera bertindak, maka satu-persatu dari kami akan mati sia-sia!” lanjut Ferdy.


“Dengar ya anak muda, aku tahu kamu takut, tapi aku akan berusaha semampuku, bahkan akan mengorbankan nyawa jika perlu. Perlu kalian tahu, aku sudah punya beberapa nama yang sudah kukantongi. Aku bisa saja membekuk pelaku itu kapan saja, tetapi aku menunggu saat yang tepat. Jangan memaksa dan menekanku!”


Dimas menatap tajam mata Ferdy penuh ancaman. Ferdy merasa tak nyaman, sehingga terpaksa memalingkan muka.


“Kalian tetap berhati-hati saja, jangan percaya siapa pun. Pembunuh itu sedang memakai kedok malaikat untuk menjalankan aksi iblisnya. Jadi waspadalah! Yang jelas aku akan meningkatkan keamanan di sekitar rumah ini. Kalian nggak perlu khawatir untuk beraktivitas seperti biasa,” ucap Dimas.


Tiba-tiba ponsel Dimas berbunyi, memotong pembicaraan. Dimas segera melihat siapa pemanggilnya, seraya melihat nama Reno berkedip di layar ponsel. Ia mengernyitkan kening sejenak. Ia berharap mendapat informasi penting dari Reno. Segera ia menyingkir dari meja makan untuk menerima panggilan itu. Ia memilih teras belakang yang sepi agar pembicaraan itu tak bisa didengar oleh yang lain.


“Dimas!” ucap Reno di seberang.


“Iya Ren, ada apa? Apakah ada sesuatu yang penting?” tanya Dimas.


“Aku baru saja sampai rumah dan mendapat laporan bahwa seorang penggembala kambing menemukan sebuah mobil dalam keadaan ringsek di dasar sebuah jurang. Beberapa rekan polisi sudah langsung ke sana dan memeriksa langsung untuk memeriksa. Ternyata, mobil yang ringsek itu adalah mobil putih mirip dengan mobil yang kita incar selama ini. Kami sedang mengecek nomor pelatnya untuk mengetahui siapa pemilik aslinya. Semoga ada titik terang dari informasi ini!” terang Reno.


“Tunggu ... tunggu! Kamu bilang ada seseorang yang menemukan mobil itu ringsek di dasar jurang. Hmm, apakah ada korban di dalam mobil itu. Maksudku ... bisa jadi itu sebuah kecelakaan kan? Mungkin ada orang yang terperangkap di dalamnya,” kata Dimas.


“Sejauh ini tidak ada laporan mengenai keberadaan manusia di dalam mobil itu. Kalau kecelakaan pasti lah ada orang di dalam mobil yang ringsek itu. Aku menduga, mobil ini sengaja didorong ke dalam jurang untuk menghilangkan jejak. Mobil itu mungkin didorong dalam keadaan kosong,” duga Reno.


“Bisa jadi begitu. Ingat! Selain kita tetap waspada dengan rumah isolasi ini, kita masih punya tugas lain untuk menemukan keberadaan Gerry dan Nayya yang menghilang. Kuharap mereka berdua masih dalam keadaan hidup.”


“Ya, aku mengerti. Kurasa semua masalah yang terjadi ini saling berkaitan satu sama lain. Kita harus fokus menyelesaikan satu demi satu. Aku yakin, kalau satu masalah terpecahkan, maka yang lain juga ikut terpecahkan. Kamu tetap fokus ya di situ. Jaga keamanan anak-anak di sana! Jangan sedikit pun lengah!”


“Beres! Kamu nggak usah khawatir! Aku akan mengurus semua yang ada di sini. Kamu istirahat saja. Aku tahu kamu pasti lelah. Siapkan saja staminamu untuk bergiliran jaga di sini besok. Kuharap aku bisa melewati malam ini dengan nyaman,” kata Dimas.


“Dengan nyaman? Haha. Tidak semudah itu, kawan! Kamu akan merasakan sensasi yang lebih menakutkan daripada kastil tua. Percayalah padaku!”


“Aku nggak ngerti apa maksudmu!”


“Kamu percaya dengan hal-hal mistis? Aku nggak percaya pada awalnya. Tapi setelah aku berada dalam rumah itu, aku percaya ada hal-hal yang nggak terlihat di sekitar rumah itu,” terang Reno.


“Maksudmu ... hantu?”


“Entahlah. Atau mungkin halusinasiku saja, tetapi apa yang kualami begitu nyata. Aku tak mau menerangkan padamu, sampai kamu mengalaminya sendiri,” ucap Reno.


“Kamu nggak sedang menakutiku kan?”


“Menakutimu? Apa untungnya buatku menakutimu?”


“Baiklah. Simpan ceritamu itu, Ren! Aku nggak mau perhatianku terpecah gara-gara cerita mistismu itu. Kalaupun ceritamu benar, aku bukan penakut. Kurasa tak ada hantu yang berani mendekatiku!”


“Dim, kamu masih di sana kan?” tanya Reno.


“Eh, iya ... iya. Kurasa aku harus menutup pembicaraan kita. Aku harus masuk ke dalam. Kamu istirahat saja ya!”


Pembicaraan itu terputus. Dimas segera masuk ke dalam rumah, mendapati Bu Mariyati yang sedang merapikan sisa-sisa makan pagi.


“Bu, di mana Pak Paiman?” tanya Dimas.


“Bapak baru saja pergi ke pasar Pak membeli bahan makanan. Ada perlu dengan suami saya?” tanya Bu Mariyati.


“Bu, apakah ada orang lain yang tinggal di rumah ini, selain kalian dan para anak muda itu?” tanya Dimas.


“Tidak Pak. Hanya kami berdua, dan para tamu itu. Tidak ada yang lain lagi,” jawab Bu Mariyati.


Menndadak Dimas merasa merinding. Jangan-jangan apa yang dikatakan Reno benar? Atau dia saja yang merasa banyak pikiran, sehingga berhalusinasi berlebihan.


“Maaf ... ada apa ya, Pak?” tanya Bu Mariyati.


“Eh, nggak ada apa-apa kok Bu. Terima kasih. Bisa minta tolong dibuatkan teh? Gulanya sedikit ya Bu!”


Bu Mariyati mengangguk. Ia melihat kepergian polisi muda yang sedang gusar itu dengan penuh tanda tanya.


***


Puluhan kilometer dari rumah isolasi itu, tepatnya di sebuah rumah berdinding papan yang sangat sederhana, tersembunyi di balik ladang jagung yang lebat, terlihat seorang gadis kecil sekira berumur delapan tahun sedang asyik bermain dengan boneka kain berharga murah yang berwarna kusam. Ia bermain sendirian di halaman depan yang sepi. Rambutnya yang dikuncir mirip ekor kuda tampak berkibar dimainkan angin. Parasnya cantik, hanya sayang sedikit tak terawat.


“Ratri! Ratri! Kakek minta tolong!”


Seorang lelaki paruh baya dengan rambut kelabu keluar dari dalam rumah. Ia hanya mengenakan kaos oblong warna putih yang memudar warnanya, dengan sarung kotak-kotak warna hijau gelap. Gurat keriput mulai menghias parasnya, namun tampak lengannya yang masih kokoh walau dimakan usia. Tonjolan urat-uratnya menandakan bahwa ia adalah pekerja berat di masa lalu.


“Minta tolong apa Kek? Aku kan lagi main!” protes gadis cilik bernama Ratri.


“Kamu jagain sebentar di dalam. Kakek mau membeli beras ke Warung Mak Surti sebentar. Kita akan membuat bubur nanti malam untuk tamu kita,” ucap pria paruh baya itu.


“Apa tamu kita sudah sadar, Kek?” tanya Ratri kemudian.


“Kurasa dia akan segera sadar. Makanya kamu jagain sebentar ya!”


Ratri mengangguk cepat. Ia meletakkan boneka kainnya ke atas kursi bambu yang berada di beranda depan, seraya masuk ke dalam rumah. Ia masuk ke dalam sebuah kamar kecil yang sedikit pengap. Kamar itu tak seberapa luas, dengan dipan kayu yang termakan zaman. Di atas dipan, sesosok pria muda terbaring dengan lemah, dengan luka-luka yang masih terlihat merah di bagian muka, lengan, dan kaki.


“Kakak ....”


Ratri bergumam. Pria muda itu bergeming. Ia tak bersuara. Namun, begitu mendengar suara Ratri, perlahan ia membuka mata. Tatapannya masih berkunang-kunang. Ia merasakan kepalanya terasa nyeri yang menghebat. Ia ingin bangun, tetapi terasa lemah. Ia hanya menatap Ratri dengan tatapan heran dan penuh tanya.


“Kakak jangan bangun dulu!” cegah Ratri.


“Di-di mana ini?” tanya pria muda ini terbata-bata.


“Ini rumah Ratri, Kak. Kakek menemukan kakak terluka di dalam mobil di dasar jurang, kemudian kakek membawa kakak ke sini untuk dirawat. Kakak jangan banyak gerak ya! Nanti kakek marah sama saya, karena kakek memintaku untuk menjaga kakak.”


Gadis kecil itu menerangkan dengan tatapan berbinar. Rupanya dia turut gembira melihat sosok di hadapannya itu mulai siuman.


Sosok pria muda itu yang tak lain adalah Gerry itu hanya terdiam. Awalnya, ia mengira sudah mati dan sedang berada di alam lain, bertemu seorang malaikat kecil yang cantik. Pikirannya kembali berkelana ke potongan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sebelumnya.


Ia masih teringat saat di dalam mobil dalam keadaan terkunci, ketika tiba-tiba mobil itu bergerak perlahan, kemudian meluncur tajam ke dalam jurang. Ia berusaha mengingat siapa yang mendorong mobil ke dalam jurang. Ia menggeram menahan sakit dan amarah.


“Kakak ... kakak mau minum? Aku ambilkan dulu ya?”


Tanpa menungu perintah dua kali, gadis kecil itu dengan cepat bergerak menuju dapur sederhana yang menempel di dinding kamar. Dari sebuah teko aluminium, ia menuang air ke dalam gelas plastik. Segera ia berikan segelas air itu kepada Gerry.


“Kakak nggak usah bangun. Biar aku bantu kakak untuk minum,” ucap Ratri.


Ratri membantu mendekatkan gelas ke mulut Gerry. Pria muda itu meneguk dengan sedikit tergesa. Ia merasa ada cairan yang menyegarkan masuk ke dalam kerongkongan, setelah sebelumnya terasa kering. Ia masih belum sepenuhnya sadar. Ia mengamati sekitar yang terasa sangat asing baginya.


Memang, semuanya tampak sederhana. Rumah ini berdinding papan, tanpa langit-langit yang mewah seperti di rumahnya. Namun, ia merasa rumah ini sekarang serupa surga. Ia merasa aman di tempat ini, apalagi dilayani seorang malaikat kecil yang cantik.


“Siapa nama Kakak?” tanya Ratri.


“Ge-Gerry,” jawab Gerry singkat.


“Kakak Heri cepat sembuh ya!” ucap Ratri seraya tersenyum.


Gerry menahan senyum mendengar ucapan gadis kecil yang salah menyebut namanya. Namun, ia tidak ingin protes. Gadis ini adalah penyelamat hidupnya. Mungkin ceritanya akan lain kalau saja kakek dari gadis ini tidak menemukannya dalam mobil. Mungkin saja ia akan membusuk dalam mobil tanpa sepengetahuan siapa pun. Ia mengucap syukur dalam hati, Tuhan masih belum mencabut nyawanya.


***