Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
135. Pengakuan Rasty


Ferdy dan Adinda keluar dari ruangan Reno, kemudian langsung keluar dari gedung kantor polisi dengan hanya memberi salam berupa anggukan kepada Gerry dan Rasty. Hal itu semakin membuat Rasty penasaran. Ia menatap kepergian mereka dengan penuh tanda tanya.


“Apa yang mereka bicarakan di dalam?” tanya Rasty.


Gerry hanya mengangkat bahu. Ia seolah tak peduli dengan kepergian Ferdy dan Adinda. Ia hanya menghela napas.


“Kamu tahu nggak, Ras! Walau aku dan Ferdy bersepupu, kadang-kadang aku merasa nggak kenal dia. Kadang dia itu aneh, dan tertutup. Tapi ya udahlah. Sifat orang kan emang beda-beda,” ucap Gerry.


“Aku sih nggak terlalu kenal dengan sepupumu itu. Tapi yang aneh di sini adalah Adinda. Kok dia sepertinya bener-bener suka sama Ferdy sampai seperti itu?”


“Nggak tahulah! Kita doain aja mereka bahagia. Nggak kayak aku. Punya kekasih yang baik dan cantik, dibunuh pulak! Lalu aku dipanggil polisi seolah-olah aku tersangka pembunuhan. Nggak adil banget dunia ini kurasa!” keluh Gerry.


“Emang kamu saja yang merasa seperti itu? Semua orang juga mengira seolah-olah aku yang membunuh Jenny karena kebencianku padanya. Padahal menyentuh kulitnya pun tak pernah.”


Gerry tak ingin menanggapi lebih lanjut. Ia malah fokus untuk menghilangkan rasa gugup yang menghuni hatinya. Ia meremas-remas tangannya untuk menghilangkan rasa gugup, sebelum Reno menghampiri.


“Rasty! Silakan ikut saya!” perintah Reno.


Rasty mengikuti langkah Reno ke sebuah ruangan kecil dengan meja dan kursi kayu, serta lampu remang-remang. Situasinya mirip di ruang interogasi yang pernah ia saksikan di film. Ia berusaha untuk tetap tenang, walaupun tak dapat dipungkiri ia juga merasa gugup.


“Nggak usah tegang. Nyantai saja! Toh kami hanya meminta keterangan seputar kematian Jenny saja. Kami mendapati namamu sebagai salah seorang mahasiswa yang pulang terakhir saat pesta di mana Jenny terakhir terlihat dalam keadaan hidup. Sampai kemudian Jenny ditemukan tewas di kamar mandi.”


Reno sengaja menyampaikan fakta itu untuk memancing reaksi Rasty, apakah gadis itu mau mengakui fakta itu atau tidak. Rasty mulai terlihat tak nyaman.


“Setahu saya, Jenny ditemukan tewas di danau Pak.Bukan di kamar mandi,” ucap Rasty dengan ragu-ragu.


“Hmm. Kamu yakin? Salah seorang sumber terpercaya mengatakan bahwa kalian menemukan mayat Jenny di kamar mandi, kemudian membuang ke danau. Menurutmu itu berita yang salah?”


Rasty seketika terdiam. Ia heran, karena Reno tahu kejadian sebenarnya yang terjadi saat pesta. Rasty mulai curiga ada seseorang yang membocorkan peristiwa sebenarnya pada polisi. Sontak ia tak dapat menutupi rasa gugupnya.


“Ma-maaf, Pak. Dari mana Bapak memperoleh informasi itu?” Rasty memberanikan diri untuk bertanya.


“Tentu saja aku tidak dapat memberitahumu, karena kami sangat menjaga kerahasiaan identitas si pemberi informasi ini demi keamanan. Kamu tinggal menjawab, apakah benar kalian menemukan jasad Jenny di dalam kamar mandi seusai pesta, lalu kalian sepakat untuk membuang ke danau karena takut berurusan dengan polisi?”


Sekali lagi Rasty terdiam. Ia seperti kehilangan kata-kata. Kalau ia masih mengelak, bukan tidak mungkin polisi akan semakin mendakwanya. Rasty terperangkap dalam dilema yang tak mampu ia pecahkan. Ia bingung harus menjawab apa. Pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk lemah dengan tatapan kosong.


“Berarti benar ya kalau Jenny ditemukan di kamar mandi sebelum dibuang ke danau?” Reno kembali menegaskan.


“Iya Pak. Memang sebelum itu kami menemukan mayat Jenny di kamar mandi. Kemudian kami sepakat untuk membuang mayatnya ke danau. Bukan karena takut kami menjadi tersangka, tetapi kami dalam keadaan bingung malam itu, sedangkan kami belum pernah berhubungan dengan polisi sebelumnya,” terang Rasty.


“Kamu yakin ini bukan suatu usaha untuk menutupi suatu tindak kejahatan? Hanya karena takut kepada polisi kalian malah melakukan suatu tindakan yang tidak dibenarkan secara hukum? Coba kamu pikirkan! Seandainya malam itu kalian melaporkan penemuan mayat itu pada polisi, kupastikan kalian akan tidur nyenyak. Kalau seperti ini, kalian semua bisa saja menjadi tersangka, karena kalian membuang mayat Jenny secara bersamaan,” ucap Reno.


BBC


“Dengan kejadian ini terpaksa aku akan memeriksa kalian semua tanpa terkecuali. Karena pembunuhnya bisa siapa saja di antara kalian bersembilan. Kami pastikan bukan orang luar, karena Jenny dibunuh seusai pesta, saat tamu-tamu lain sudah pulang, dan menyisakan kalian bersembilan. Dari bersembilan itu, satu di antaranya sudah terbunuh juga. Alma. Pasti kamu juga kenal dia kan?”


“Iya Pak. Saya kenal Alma,” jawab Rasty singkat.


“Belum juga usai kasus Jenny dan Alma, korban baru telah jatuh, walau belum dipastikan apakah ada kaitannya dengan kasus sebelumnya. Yang jelas, seorang gadis lain juga dilaporkan hilang. Uniknya, gadis ini adalah kekasih Rudi, salah seorang dari sembilan orang mahasiswa yang masih berada di rumah Gerry seusai pesta,” kata Reno.


“Maaf, Pak. Saya tak terlalu dekat kenal dengan Nayya. Saya nggak bisa memberikan pendapat apa pun,” ucap Rasty.


“Itu namanya kamu kenal Nayya! Padahal aku tidak menyebutkan nama Nayya, tapi kamu langsung berpikir bahwa yang hilang itu adalah Nayya. Pasti karena aku bilang itu adalah pacar Rudi ya?”


“Tapi ... beneran yang hilang adalah Nayya kan, Pak?” tanya Rasty.


“Apakah informasi itu penting buatmu?”


Rasty menggeleng cepat. Ia tidak ingin bertanya lagi. Ia makin cemas kalau-kalau polisi itu akan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan.


“Dan mengapa kami memanggilmu untuk dimintai keterangan, karena kami ingin mengklarifikasi bahwa kemungkinan kamu adalah pelaku pembunuhan sangat kuat. Semua tahu kalau hubunganmu dengan Jenny tidak bagus. Beberapa saksi mengatakan kalau kamu sempat saling mengejek dengan Jenny sebelum kematiannya. Tentu tak heran kalau beberapa orang mempunyai asumsi bahwa dirimu yang menghabisi Jenny,” ucap Reno.


“Oh, tidak Pak! Itu tidak benar! Ya, saya memang tidak suka dengan Jenny, tetapi bukan berarti aku pembunuhnya. Saya memang belum bisa membuktikan bahwa saya tidak membunuh Jenny, tetapi pasti Bapak akan tahu kalau saya memang tidak membunuh gadis itu,” kata Rasty.


“Oke, nanti akan kita buktikan. Aku juga belum tahu apakah pembunuh Jenny dan Alma adalah orang yang sama atau berbeda. Yang jelas gadis-gadis ini mempunyai kesamaan, yatu gadis populer di kampus, sering gonta-ganti pacar. Kita belum tahu motif pembunuhan ini sebenarnya,” ujar Reno.


“Mungkin Bapak harus memeriksa Rudi sekali lagi, Pak. Ia yang punya ide untuk membuang mayat Jenny ke danau. Mungkin dia mempunyai maksud tersembunyi. Jenny itu adalah kekasih Rudi. Sedangkan Alma saya kurang tahu,” ucap Rasty.


“Jadi apa yang kamu lakukan di saat Jenny tewas malam itu?”


“Sebenarnya saya lagi di luar Pak. Kemudian saya mencari dua teman saya, Lena dan Miranti. Kurasa Bapak harus panggil mereka juga. Mereka juga kurang suka dengan Jenny. Kalau memang alasanku menjadi tersangka karena saya nggak suka dengan Jenny, maka Bapak harus panggil Lena dan Miranti juga. Bukankah semuanya bisa jadi tersangka? Seperti yang Anda bilang tadi,” ucap Rasty.


“Kami memang akan memanggil mereka. Kamu nggak perlu khawatir. Pada akhirnya kalian semua harus mempertanggungjawabkan yang telah kalian, karena secara hukum kalian adalah orang dewasa, bukan anak-anak.”


“Saya mengerti, Pak. Apa yang kami lakukan adalah hal yang spontan, tak ada rencana sebelumnya, saya pastikan itu.” Ucap Rasty tegas.


Reno manggut-manggut. Mereka melanjutkan sesi tanya jawab. Banyak yang Reno tanyakan pada Rasty. Proses tanya jawab itu memakan waktu hampir tiga jam.


Di luar sana, Gerry menunggu dengan kesal. Ia duduk sendirian di ruang tunggu seperti orang tak berguna. Ia beranjak ke luar halaman kantor polisi karena bosan. Ia hendak kembali ke mobil intuk mengambil air minum. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah tulisan di kacadepan mobilnya, ditulis dengan menggunakan lipstik.


You Will Die Next! ( Kamu akan mati selanjutnya!)


***