Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
340. Gadis Hitam Manis


Mariah merasa malas melakukan apa-apa hari ini, karena pikirannya sedang tidak tenang. Ia memilih untuk  berada di dalam kamar, sambil berbaring, memanjakan diri sendiri. Lagipula untuk urusan makanan, ia sudah melimpahkan tugas kepada Maya. Ia hanya ingin beristirahat. Namun, lama-lama ia merasa bosan juga berada sendirian di dalam kamar. Ia terbiasa melakukan aktivitas, sehingga ketika dia diam, ia merasa tidak nyaman.


Tok ... tok ... tok!


Tiba-tiba ia mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia menduga, pasti Ammar yang hendak masuk ke dalam kamar. Ia bangkit dari tempar tidurnya, segera menuju ke pintu untuk membukanya. Pintu kamar dibuka, tetapi bukan Ammar yang berada di sana, melainkan Lily. Wanita muda itu berdiri dengan tatapan khawatir kepada Mariah.


"Kudengar kamu lagi sakit, Mariah. Aku kesini untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja," kata Lily.


Mariah sedikit salah tingkah. Ia tidak menyangka akan mendapat kunjungan dari Lily. Ia hanya tersenyum sedikit seraya berkata,"Oh ... aku hanya sedikit lelah, Ly. Aku baik-baik saja kok!"


"Hmm, sepertinya ada yang sedang kamu pikirin. Kamu mau menceritakan kepadaku? Kalau ada yang ingin kamu sampaikan, katakan saja, Mariah!" ujar Lily.


"Ti-tidak. Tidak ada, Lily. Aku baik-baik saja. Kurasa lebih baik aku istirahat saja. Maaf, Ly!"


Mariah segera menutup pintu kamarnya, tanpa mempedulikan lagi kehadiran Lily. Entah mengapa kehadiran Lily membuatnya gelisah. Ia tiba-tiba teringat peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau. Ia merasa reuni ini adalah sebuah kesalahan. Mariah khawatir, akan ada korban lagi. Itulah yang membuatnya gelisah.


Ia kembali duduk di ranjangnya sambil merenung menatap jendela kaca yang menghubungkan dengan taman di beranda samping. Ingatannya mengembara pada saat ia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat itu, ia masih labil, masih ingin mencicipi semua kenikmatan dunia. Ia dan beberapa temannya yang lain membentuk grup persaudaraan yang bertajuk The Girl Squad. Sebuah grup perkumpulan para gadis yang pada awalnya bertujuan untuk seru-seruan dan senang-senang semata. Namun, seiring berjalannya waktu, masing-masing anggota grup mulai menunjukkan persaingan tidak sehat. Mariah khawatir, dendam lama itu masih terbawa hingga sekarang. Apalagi pada saat itu, Mariah ditunjuk sebagai ketua grup. Bisa jadi, ada seseorang yang tidak rela dan menyimpan dendam itu. Mariah merasakan bahwa mungkin posisinya tidak aman untuk saat ini.


"Mariah! Kamu melamun?"


Tiba-tiba saja, Ammar sudah berada di dekatnya tanpa ia sadari. Mariah terhenyak kaget.Ia mencoba menyembunyikannya kerisauannya dengan tersenyum, tetapi Ammar adalah seseorang yang ahli membaca mimik wajah. Jangankan istrinya, yang ia sudah kenal selama bertahun-tahun, bahkan orang yang baru ia kenal pun, Ammar dapat menebak karakter orang yang bersangkutan.  Ammar merasa ada yang disembunyikan di balik sorot Mariah yang terlihat takut.


"Aku ... aku hanya lelah," gumam Mariah sambil memegang kepalanya.


"Hanya lelah? Kamu yakin?" tanya Ammar sambil mengernyitkan dahi.


"Iya, jangan khawatir. Aku akan segera baik-baik saja, Ammar!"


Ammar tak percaya begitu saja dengan ucapan Mariah. Ia merasa ada yang aneh dengan perilaku istrinya itu. Kadang ia tampak gelisah dan gugup. Ammar berusaha mencari tahu tentang itu, tetapi harus sedikit bersabari. ia khawatir kalau sang istri akan bersikap defensif.


"Mariah, kalau ada apa-apa, kamu bisa cerita tentangku. Kamu percaya padaku kan?" tanya Ammar.


"Tentu ... tentu Ammar. Aku percaya padamu. Aku hanya ...." Mariah menghentikan ucapannya tiba-tiba.


"Hanya apa, Mariah? Jangan sembunyikan apa pun padaku. Kalau ini menyangkut keselamatan penghuni kastil ini, sampaikanlah padaku," desak Ammar.


Mariah menggeleng cepat,  masih terdiam. Ia kemudian menunduk, tidak berani menatap mata Ammar berlama-lama. Ia ragu hendak menceritakan sesuatu pada Ammar. Sebenarnya, Mariah tidak yakin dengan apa yang ia rasakan. Ia memilih bungkam, daripada menyampaikan sesuatu yang belum jelas kebenarannya.


"Lupakan saja, Ammar. Lupakan saja. Kita akan baik-baik saja," ucap Mariah kemudian.


"Baiklah, Mariah. aku nggak akan memaksamu. Kuharap semua ini dapat kita selesaikan dengan baik. Kalau kamu ingat sesuatu, segera katakan kepadaku," ucap Ammar sambil menatap tajam wajah istrinya.


"Ba-baik!"


***


Sementara, di kantor kepolisian, Dimas sedang berjuang untuk mencari data seputar informasi yang terkait dengan para penghuni kastil. Ia kembali melihat sebuah foto lawas yang menampilkan wajah gadis-gadis belasan tahun yang sedang bergaya. Kembali ia amati dengan saksama. Ia masih bisa mengenali masing-masing personal anggota grup itu.


Yang berdiri di tengah, wajahnya manis dan jangkung adalah Mariah. Ia tersenyum di hadapan kamera dengan percaya diri, diapit oleh gadis-gadis lain yang Dimas juga mengenalnya. Di sana tampak foto Lily yang tampil dengan rambut pendek di atas bahu, lalu ada juga Stella, Maya, Nadine, Rosita, yang masing-masing tampil bergaya. Mereka semua tampak cantik, tak banyak polesan, sehingga kecantikan mereka terlihat begitu alami.


Tapi tunggu!


Sepertinya ada yang terlewat dalam foto itu. Di ujung foto yang Ammar bawa, terlihat gadis lain yang berkulit hitam manis, tampak ikut berpose bersama mereka, tetapi letaknya agak menjauh. Dimas tak mengenali gadis ini, karena sepertinya ia tidak termasuk dalam  undangan yang mengahdiri reuni di kastil tua. Jadi siapakah gadis hitam manis ini?


Rasa penasaran membuat Dimas terusik untuk mencetak foto itu, kemudian menyimpannya. Ia ingin mencari identitas gadis ini. Tak mungkin ia harus ke kastil untuk menanyai perihal gadis hitam manis ini kepada Mariah atau yang lain. Jalan satu-satunya, ia harus mencari info sendiri. Tapi kemana?


Otak detektifnya mulai berputar. Lagi-lagi, ia dipaksa untuk mengamati foto lawas itu sekali lagi. Sebuah foto bisa menyimpan makna penting. Pada kasus sebelumnya, terungkap identitas si pembunuh berkat foto juga. Kini, ia hendak mengulang keberhasilannya itu. Sekilas, foto yang dipegangnya tak ada yang aneh. Foto itu hanya tergambar tujuh gadis yang sedang bergaya. Tujuh?  Ya, harusnya ada 6 gadis di sana, tetapi ada satu gadis yang menyelinap di sana. yakni seorang gadis hitam manis yang masih menyisakan suatu misteri.


"Mengapa aku tidak pergi ke SMA tempat mereka belajar? Tapi mereka kan berasal dari SMA yang berbeda-beda? Hanya beberapa saja yang sama.? Tapi tak ada salahnya dicoba!"


Dimas segera melajukan mobil, menuju sebuah gedung SMA yang terletak di pusat kota. Gedung SMA itu lumayan elit, dengan enam lantai yang menjulang, halaman sekolah yang luas, dengan sekuriti yang berwajah garang, serta dilengkapi dengan taman-taman bunga yang cantik.Pasti hanya anak-anak orang kaya yang bersekolah di tempat ini, gumam Reno.


Dima berjalan menuju ruang tata usaha, menanyakan data siswa yang pernah bersekolah di situ di masa lampau.Ia mengeluarkan identitasnya sebagai polisi, agar petugas administrasi tidak bertanya-tanya lagi, serta paham bahwa yang datang kali ini adalah seorang polisi yang sedang mencari data, agar bisa dilayani dengan maksimal.


Petugas administrasi di sekolah itu adalah seorang wanita berumur 45-an, dengan wajah penuh polesan riasan tebal dan tubuh yang lumayan subur.Awalnya ia enggan melayani Dimas, tetapi begitu Dimas mengeluarkan identitasnya, wanita subur itu segera panik. Ia langsung membongkar lemari arsip, berusaha mencari data yang Dimas inginkan.


"Jadi yang Bapak minta adalah buku kenangan di tahun 2001?" tanya wanita subur itu.


"Iya Bu!" ucap Dimas.


"Mbak! Panggil aku Mbak saja ya Pak!" suara wanita subur itu seperti membentak.


"Oh maaf, maksudku Mbak, Maafkan aku Mbak .... " ucap Dimas sambil menahan senyum.


"Mila! Namaku Mila. Aku masih lajang dan belum menikah," ucap Mila dengan senyum aneh.


Dimas mengeluarkan foto lawas yang ia kantongi, kemudian menunjukkan kepada Mila. Wanita bertubuh subur itu mengenyitkan dahi, berusaha mengingat paras gadis yang berada di foto itu.


"Mbak Mila kenal?" tanya Dimas lagi.


"Hmm, entahlah. Wajahnya tidak asing. Mungkin Bapak bisa mencocokkan wajah gadis itu dengan buku kenangan ini," kata Mila.


Wanita itu menyodorkan sebuah buku kenangan yang sedikit usang karena termakan waktu. Buru-buru Dimas mencocokkan foto gadis yang ada difoto dengan album kenangan itu. Tentu ini bukanlah perkara mudah, karena memerlukan ketelitian. Wajah gadis-gadis yang ada di album itu hampir sama, sehingga membuat Dimas merasa pusing.


Dimas buru-buru menutup buku kenangan yang ia buka. Wajahnya sontak berbinar. Ia tak sabar menunggu informasi dari Mila.


"Ya, aku ingat, Pak. Nama gadis ini kalau tidak salah Suci Andriani, atau biasa dipanggil Suci. Ia bukan gadis yang populer dan suka menyendiri. Tetapi aku tidak tahu menegapa foto Suci berada di foto itu? Bukankah di dalam foto itu ada foto Mariah Alray?" ucap Mila.


"Mbak Mila kenal dengan Mariah Alray?" tanya Dimas penuh antusias.


"Tentu. Siapa yang tidak? Mariah Alray adalah salah satu gadis yang paling populer di sekolah, banyak disukai murid pria. Kurasa ia tidak berteman akrab dengan Suci. Tetapi entahlah. Mungkin Bapak bisa menanyakan sendiri kepada Suci. Sebentar, saya akan carikan alamatnya."


Mila bertindak sigap. Ia membuka database di komputernya, seraya mencari nama daftar siswa yang bersekolah di tahun 2001. Matanya terlihat fokus mengamati layar komputer yang ada di depannya. Setelah beberapa menit, ia tampak berseri-seri, kemudian menuliskan alamat Suci Andriani di sebuah kertas kecil.


"Ini alamat terakhirnya. Aku tidak tahu apakah dia sudah pindah. ataukah sudah menikah dan pindah ke lain kota atau bagaimana. Mungkin Bapak bisa mengecek sendiri ke alamat ini," kata Mila.


"Terima kasih banyak atas bantuannya Bu Mila ... eh, maksudku Mbak Mila!"


***


Selepas sarapan, Reno dan Jeremy bersiap turun kembali ke ruang bawah tanah. Mereka akan kembali menyisir semua bilik di bawah tanah itu, untuk mencari keberadaan Stella, Aditya, dan juga Niken yang ditengarai berada di bilik-bilik di bawah tanah. Sebelum turun, Reno menyiapkan apa-apa saja yang perlu ia bawa, termasuk senjata. Ia tidak tahu apa yang menunggu di bawah sana, jadi harus tetap waspada.


"Kamu sudah siap, Jeremy?" tanya Reno.


Jeremy hanya mengangguk. Entah mengapa ia jadi sedikit tegang. Padahal tadi malam waktu ia menyusur ruang bawah tanah bersama Aditya, ia merasa biasa-biasa saja, tetapi mengapa sekarang ia malah sedikit tegang? Padahal ia masuk bersama seorang polisi yang sudah berpengalaman.


Mereka berdua mulai masuk ke dalam ruang bawah tanah dengan waspada. walau mereka masuk di pagi hari, ternyata tidak serta merta membuat suasana menajdi tidak seram. Di dalam ruang tanah, seolah tidak mengenal waktu. Ruangan bawah tanah tetap memancarkan aura gelap, seram, dan menakutkan. Mereka tak banyak bicara, hanya menyusur lorong yang ada.


Sampai di persimpangan lorong, Reno menengok ke arah Jeremy.


"Kamu masih ingat di mana polisi wanita bernama Niken itu disekap?" tanya Reno.


"Ya, tentu. Tentu aku masih ingat! Akan kutunjukkan jalannya kepadamu!"


Jeremy berjalan mendahului Reno, menyusur lorong yang telah ia lewati semalam. Walau semua terlihat sama, Jeremy masih mengingat lokasi bilik tempat Niken disekap. Ia begitu bersemangat menunjukkan lokasi bilik itu kepada Reno. Jeremy kemudian berhenti di salah satu bilik yang ia yakini tempat menyekap Niken.


"Nggak salah lagi. Ini adalah bilik tempat menyekap polisi wanita itu!" kata Jeremy sambil menunjuk pintu bilik itu.


"Kok sepi?" ucap Reno.


Polisi itu melongokkan kepala ke jeruji di pintu baja, untuk mengetahui kondisi di dalam bilik. Namun, sepertinya bilik itu kosong tidak ada siapa-siapa. Di dalam bilik hanya da ruang gelap dan pengap, tak ada seorang pun di dalamnya.


"Kau yakin?" tanya Reno.


"Ya, aku yakin sekali, Pak. Tidak mungkin aku salah. Aku masih ingat betul karena aku menghitung urutan bilik ini dari persimpangan lorong sana. Nggak mungkin aku salah!"


Jeremy masih teguh dengan apa yang dilihatnya tadi malam. Namun, Reno heran, mengapa tak ada seorang pun di sana.


"Bilik ini kosong, Jer!" kata Reno.


"Hah? Kosong? Kok bisa? Padahal aku yakin sekali melihat wanita itu disekap di sini, dan aku sedang tidak berhalusinasi atau berkhayal. Aku mengobrol dengannya. Sungguh, Pak!" kata Jeremy berapi-api.


"Tapi kenyataannya tidak ada seorang pun di bilik ini!" ucap Reno sekali lagi.


"Kalau begitu, tentu dia telah dipindahkan ke tempat lain, Pak. Sungguh, aku tidak bohong. Aku benar-benar bertemu dengan polisi wanita itu di bilik ini!" kata Jeremy.


"Tenanglah Jeremy! Aku juga tidak menuduhmu berbohong kok. Jadi bagaimana? Kita telusuri lagi ruangan bawah tanah ini ya, siapa tahu, kita bisa menemukan yang lain juga!" ajak Reno.


"Baik Pak!"


Keduanya memutuskan untuk tetap melanjutka pencarian ke lorong lain, siapa tahu mereka bisa menemukan keberadaan orang-orag yang selama ini dicari. Mereka kembali berjalan menyusur lorong yang sempit dan gelap itu. Setelah beberapa saat, mereka kembali menemukan persimpangan lorong. Mereka berhenti sejenak, sebelum memutuskan lorong mana yang hendak diikuti.


"Jadi menurutmu, kemana kita hendak pergi? Apakah ke kiri atau ke kanan?" tanya Reno.


"Aku ... aku benar-benar tidak tahu, Pak. Terserah saja, asal kita tidak berpencar. Aku sangat trauma dengan kejadian yang menimpa Aditya. Dia hilang setelah memutuskan untuk berpisah. Jadi kupikir lebih baik kita mencari sama-sama, Pak!" ucap Jeremy.


"Baik, kita akan mencari sama-sama! Mari kita mulai dari arah kanan terlebih dahulu. Segala sesuatu yang dimulai dari kanan sepertinya baik," ucap Reno.


Jeremy mengangguk. Ia tidak membantah apapun yang dikatakan Reno. Pikirannya kembali ke arah Stella. Ia masih berharap agar Stella masih bisa ditemukan dalam keadaan hidup, walau ia berpikir pula itu adalah kemungkinan kecil. Apa pun itu, Jeremy berusaha mengikhkaskan apabila terjadi hal yang tak diinginka kepada Stella.


"Kamu melamun, Jer?" tanya Reno.


"Oh, tidak ... tidak, Pak. Aku hanya ingin segera bertemu, Stella!" ucap Jeremy.


"Kita akan cari sampai ketemu, Jer. Kamu nggak usah khawatit," Reno berusaha menenangkan.


"Terima kasih, Pak!"


***