Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
309. Rencana Lily


Dini hari sudah mulai menjajah permukaan bumi, saat sepasukan kabut tipis menyelimuti semesta. Semua polisi yang melaksanakan investigasi sudah kembali ke kota. Beberapa penghuni memilih untuk tidur di beranda depan, tak berani kembali ke kamar, sambil menunggu pagi. Penemuan tulisan di cermin itu segera menjadi topik pembicaraan yang menarik. Bagaimana tidak? Tulisan itu seolah merujuk pada kejadian mengerikan beberapa waktu lalu, saat terjadi pembunuhan sejumlah penulis di kastil yang sama. Pada saat itu, pembunuhan didalangi oleh seorang wanita muda bernama Tiara Laksmi. Apakah mungkin ada arwah pembunuh itu datang kembali untuk menuntut balas?


Rumor itu berkembang di kalangan penghuni. Bahkan Maya Larasati tak mau masuk ke dalam kamar yang pernah ditempati Tiara. Ia merasa trauma dengan penemuan tulisan berdarah di cermin dalam kamar. Ia memilih tidur di sofa, sampai menunggu pagi. Nadine juga begitu. Ia juga sengaja duduk berlama-lama sambil menunggu pagi. Ia membuat kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.Semua dicekam mimpi buruk, dan mulai percaya bahwa saat ini ada kekuatan jahat yang sedang bekerja dibalik pembunuhan Lidya.


Di ruang baca, Ammar dan rekan-rekannya sedang mengolah data sementara yang berhasil mereka kumpulkan. Ammar mengeluarkan sebuah cincin berlian dari sakunya. Cincin itu ditemukan seorang opsir polisi di sekitar lokasi kejadian. Ia meletakkan cincin itu di atas meja.


"Kita tunggu, apakah ada yang merasa kehilangan cincin ini!" kata Ammar.


"Cincin perempuan? Cincin pembunuhnya atau cincin korban?" tanya Reno.


"Ini yang masih harus kita dalami. Mariah juga mengatakan kepadaku bahwa ia menemukan dua gelang emas yang bertuliskan nama Lidya dan Aditya, dibungkus dalam kertas koran yang berlumur darah. Ada tulian De Javu yang berarti pengulangan. Apa yang dimaksud pengulangan di sini?" tanya Dimas.


"Kalau dihubungkan dengan tulisan darah di kamar Maya Larasati, sepertinya ada seseorang yang sengaja menakut-nakuti penghuni, seolah arwah Tiara ini kembali dan menuntut balas. Namun, aku sungguh tak percaya dengan segala omong kosong itu! Ini pasti perbuatan salah seorang penghuni kastil!" geram Reno.


"Sebentar lagi pagi. Ada dua polisi yang sedang berjaga di luar. Semoga tidak ada kejadian buruk setelah terbunuhnya Lidya ini. Kita harus waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi," kata  Ammar.


"Aku sudah meminta data dari kepolisian tentang identitas siapa-siapa yang menghuni di dalam kastil ini. Mungkin agak siang data itu akan dikirin lewat jasa ekspedisi. Aku penasaran dengan latar belakang masing-masing penghuni ini, apakah ada keterkaitan satu sama lain atau tidak. Terutama Lidya. Apakah ada motif tertentu di balik terbunuhnya wanita itu?" ucap Dimas.


"Lidya ini awalnya sedang berenang bersama suaminya, entah kenapa tiba-tiba sang suami masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu. Waktu si suami kembali ia tidak mendapati istriya berada di kolam renang, sehingga ia mencari di sekitar. Pada saat itulah ia menemukan Lidya dalam keadan mengenaskan di toilet kolam renang," ungkap Ammar.


"Nanti kita lihat hasil otopsinya," sambung Reno.


"Sekarang mari kita bertindak cepat. Siang ini juga, aku akan menginterogasi mereka satu-persatu!" kata Dimas.


"Mungkin waktu interogasi ini perlu kita jadwalkan lagi. Mereka akan pergi ke air terjun pagi ini. Mungkin kita geser interogasi di malam hari," kata Ammar.


"Buat apa mereka ke air terjun itu?" sergah Dimas.


"Mereka ingin bersenang-senang. Itulah tujuan mereka ke sini!"


"Bersenang-senang yang berujung ke kematian?"


"Tidak, selama kita menerapkan pengawalan ketat kepada mereka!"


Dimas manggut-manggut. Ia tidak akan menyanggah lagi.


***


Selepas dini hari, Mariah sudah menyiapkan sarapan untuk para penghuni lain. Dia belum sempat menyiapkan jadwal siapa-siapa yang akan memasak sarapan, jadi dia yang harus menyiapkan. Sebenarnya, Mariah tak terlalu pintar memasak, sehingga ia hanya membuat jenis makanan yang sederhana dan tidak memerlukan banyak pengolahan.


"Kalian jadi ke air terjun?" tanya Amar sambil menyuap makanan.


"Kami kesini untuk bersenang-senang Bang!" tegas Lily.


"Oke, kami tidak melarang kalian untuk bersenang-senang. Namun, keselamatan tetap yang utama. Ya, kejadian ini sangat mengejutkan kita. Jadi tidak salah jika kami berusaha melindungi kalian semua. Jangan dikira, air terjun itu terpencil tempatnya, dan perlu kalian tahu bahwa di air terjun juga pernah terjadi percobaan pembunuhan kepada beberapa anak muda. Aku sama sekali nggak ingin terjadi sesuatu pada kalian," ucap Ammar.


"Oke, Bang Ammar nggak usah khawatir. Aku sudah pernah berkunjung ke air terjun itu. Pasti aman kok!" ucap Lily.


"Bukan kami tak percaya Lily, tetapi kalian belum tahu kondisi daerah sekitar sini. Hari ini biar dikawal dua orang polisi. Untuk memastikan saja bahwa semua akan baik-baik," ucap Ammar.


Lily terdiam sambil mengangkat bahu. Sementara, penghuni lain hanya bisa terdiam.Mereka menuruti saja apa yang direncanakan oleh Lily. Pagi ini, semua dijadwalkan untuk bisa mengikuti, karena Lily akan mengambil foto secara bersama di lokasi air terjun. Bahkan ia juga telah menyipapkan sebuah spanduk kecil. Semua rencana-rencana itu sudah disiapkan oleh Lily secara matang, tak heran kalau ia begitu ngotot agar acara reuni bisa berjalan dengan sempurna.


"Sayang sekali minus Lidya," keluh Nadine.


"Sudahlah, Nadine. Jangan sampai hal itu bisa merusak suasana hatimu!" tegur Rosita.


Tepat pukul delapan, mereka sudah bersiap-siap menuju air terjun, tinggal menunggu dua polisi yang hendak mengawal mereka. Cuaca pagi ini terlihat cerah, sehingga tepat sekali untuk melakukan penjelajahan di alam terbuka. Paras para penghuni tampak antusias dengan rencana kepergian ke air terjun. Canda tawa mulai terdengar, seolah kejadian tewasnya Lidya sudah berlalu begitu saja. Mereka hanya ingin bersenang-senang hari itu. Aditya, suami Lidya, rupanya juga ikut turun untuk meramaikan acara itu. Paarsnya emmang tak terlalu gembira, tetapi sepertinya ia sudah mampu mengendalikan emosi yang memuncak.


"Lama sekali sih para polisi itu! Huh!" gerutu Lily sambil melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.


"Mungkin mereka sedang mendapat pengarahan dari Bang Ammar, atau ada hal lain yang dikerjakan," ucap Ryan.


"Bagaimana kalau kita berangkat duluan saja? Nanti polisi-polisi itu biar nyusul?: usul Stella sambil mendongak ke atas melihat matahari yang mulai terik.


"Memangnya mereka tahu jalan?" tanya Rosita kemudian.


"Yah, mereka kan polisi. Pasti tahu jalan lah kalau tersesat. Mereka punya senjata dan perlengkapan. Kita berangkat aja yuk! Keburu panas. Lagian tadi Bang Ammar bilang bahwa kita harus segera kembali sebelum malam, karena setelah makan malam akan ada acara investigasi. Nanti waktu kita dikit loh kalau nggak segera berangkat!" Stella kembali memberikan pendapat.


"Bagaimana yang lain?" tanya Lily sambil melempar pandangan ke semua temannya.


"Aku setuju dengan Stella. Kita berangkat sekarang saja. Aku yakin aman kok, tanpa dua polisi itu. Habis lelet banget!" keluh Ryan.


"Ta-tapi, gimana nanti kalau .... " Nadine ikut bersuara.


"Diam Nadine! Saat ini kami tidak butuh pendapatmu! Jangan sampai pendapatmu yang konyol itu akan merusak acara ini!" potong Rosita.


***