
Mobil Martono bergerak menuju kota dengan kecepatan tinggi, bak ambulans yang membawa orang sakit. Warti, yang sedang duduk di samping Martono tampak gusar, karena si suami begitu ugal-ugalan membawa mobil. Ia berkali-kali menutup mata karena mobil yang oleng dan hampir menabrak kendaraan lain. Mobil itu begitu lincah, menerobos kemacetan kota yang cukup padat hari itu.
"Jangan laju-laju, Pak. Bisa mati kita!" tegur Warti sambil memukul lengan sang suami.
"Tenang! Kita akan baik-baik saja. Di belakang ada orang sakit yang harus segera dibawa ke rumah sakit. Kita harus cepat menyelamatkannya," ucap Martono dengan santai, sambil menghabiskan sisa rokok yang ia hisap.
"Kok dia gagah ya, Pak? Seperti polisi gitu .... " gumam Warti sambil tersenyum-senyum.
"Sepertinya memang polisi, Bu. Dan wajahnya seperti nggak asing. Pernah muncul di televisi sepertinya," ujar Martono sambil menghembuskan asap rokok ke arah samping.
Sekali lagi, Warti menoleh ke arah belakang, tempat Dimas duduk sambil menemani Ramdhan yang terbaring di bak belakang bercampur sayur. Tidak terlalu terlihat, tetapi Warti berharap agar mereka dalam keadaan baik di belakang sana.
Sementara di bak belakang, Dimas merasa sedikit lega, walau kondisi Ramdhan lemah, rekan kerjanya itu masih bisa membuka mata perlahan. Hanya saja, ia tak berkata apa-apa lagi. Sementara, Ramdhan sendiri berpikir mungkin ia sudah mati. Namun, begitu ia mendapati Dimas berada di dekatnya, ia merasa lega.
Sementara darah terus mengucur dari pelipis Ramdhan karena benturan keras dengan setir mobil saat kecelakaan tadi. Dimas berusaha menutup luka itu dengan tisu yang diberikan oleh Martono, agar darah tidak mengucur semakin banyak. Ramdhan sepertinya ingin berkata sesuatu, tetapi Dimas mencegahnya.
"Kamu akan selamat, Ramdhan. Jangan bicara dulu. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah sakit," bisik Dimas.
Ramdhan tak bereaksi. Ia merasa lega sekaligus gelisah. Rasa nyeri di kepala semakin menjadi. Ia hanya bisa pasrah, kemana dirinya akan dibawa pergi.
Tak lama, mobil Martono tiba di rumah sakit khusus kepolisian yang terletak di sisi barat kota, di kawasan perkantoran yang cukup padat. Begitu mobil diparkir, Dimas meminta petugas paramedis yang ada di situ untuk membawa Ramdhan segera. Untunglah, semua bertindak sigap. Ramdhan segera dilarikan ke instalasi gawat darurat untuk mendapat penanganan segera. Dimas memberikan keterangan seperlunya kepada pihak rumah sakit, terhadap kondisi Ramdhan.
Dimas juga harus mendapat pengobatan seperlunya terkait luka memar dan lecet yang ada di tubuhnya. Namun sebelum itu, tak lupa Dimas juga menelepon pihak kepolisian terkait kondisi terkini di kastil. Dimas meminta agar pihak kepolisian segera mengirimkan tim paramedis ke kastil. karena ada dua mayat yang harus segera dievakuasi.
Setelah semua urusan dengan kepolisian beres, ia masuk ke dalam ruang perawatan. Ia harus menjalani perawatan sementara di rumah sakit. Luka-luka memar dan lecet harus dibersihkan agar tak mengalami infeksi. Beberapa perawat menangani luka-luka Dimas. Untunglah, semua tak ada yang serius. Hanya saja, Dimas membutuhkan waktu untuk penyembuhan luka-luka itu.
Sementara Martono dan Warti menunggu di ruang tunggu Rumah Sakit. Martono juga merasa khawatir dengan kondisi Ramdhan, padahal tak ada hubungan apa pun dengan polisi itu. Martono terlihat gelisah, melihat orang berlalu-lalang di sepanjang koridor rumah sakit.
Setelah mendapat penanganan, Dimas segera menemui pasangan suami istri itu, berterima kasih atas bantuan mereka. Dimas membayangkan kalau saja ia tak bertemu dengan Martono, mungkin cerita akan berbeda. Dimas memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas pertolongan Martono dan istrinya. Sebagai tanda terima kasih, ia memberi sejumlah uang yang dimasukkan ke dalam amplop kepada Martono.
"Jangan, Pak. Saya ikhlas kok. Saya senang bisa bantu, apalagi bapak kan polisi. Jadi wajib dibantu," ucap Martono.
"Sudahlah Pak, terima saja. Kami atas nama kepolisian sangat berterima kasih atas bantuan Pak Martono. Kalau Bapak ada perlu apa-apa hubungi saya saja di kepolisian, nanti pasti saya akan bantu," ucap Dimas.
Pasangan itu sangat berterimakasih atas penghargaan yang diberikan oleh Dimas, Mereka meninggalkan rumah sakit dengan paras berseri-seri. Dimas juga turut bahagia melihat kebahagiaan mereka. Ia menghela napas, sembari mengistirahatkan tubuhnya yang terasa nyeri, akibat benturan hebat tadi. Ia bersyukur, karena tak mengalami luka cukup serius. Ia juga berharap agar Ramdhan juga baik-baik saja.
***
Jeremy meninggalkan pondok di tengah hutan itu dengan langkah tergesa. Ia tidak mau kemalaman di jalan, Pikirannya kembali tertuju kepada Stella yang masih misterius keberadaannya. Ia ingin segera sampai di kastil. Saat ini, ia tengah menyusur jalan setapak yang sepi. Jalanan yang lalui dikepung pepohonan yang tinggi dan tumbuh rapat. Ia mendengar gemuruh air terjun tak jauh dari jalan setapak.
Setelah sampai di air terjun, ia merasa haus, tetapi air di botol telah habis. Ia terpaksa mengambil air dari sungai, kemudian langsung menenggaknya. Ia tidak pikir lagi tentang kesterilan air yang diminumnya. Ia tidak ingin mati kehausan, jadi ia tak peduli dengan itu. Ia hanya ingin membasahi kerongkongannya dengan air,
Setelah dirasa hilang rasa dahaganya, ia kembali melanjutkan perjalanan menuju kastil. Ia sampai di kastil ketika matahari sudah hampir merapat di ufuk barat. Seperti biasa, ia mendapati kastil dalam keadaan sepi. Jeremy berpikir, pasti para penghuni sedang berada di kamar masing-masing. Maklumlah, pasti ada rasa tidak aman berada di luar kastil. Si pembunuh masih berkeliaran, dan tidak diketahui identitasnya secara jelas.
Jeremy langsung masuk kamar. Ia tidak melihat Ramdhan atau Juned, padahal ia berniat meminta salah seorang dari mereka untuk menjelajah ruang bawah tanah. Setelah membersihkan diri sejenak, ia berniat ke ruangan dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Perutnya terasa keroncongan karena sejak siang tadi ia belum mengisi perut.
Rupanya di dapur ada Mariah, yang sedang sibuk menyiapkan makan malam. Melihat kehadiran Jeremy yang tiba-tiba, membuat Mariah hampir terpekik.
"Kamu mengagetkan saja, Jer. Darimana saja kamu? Kamu tidak ikut makan siang tadi," kata Mariah.
Ia tidak menemukan makanan apa-apa di sana, hanya buah-buahan. Jeremy mengambil sebuah apel, kemudian duduk di kursi yang terletak di dapur, lalu mengupas apel dengan sebuah pisau kecil.
"Kamu melihat Ramdhan atau Juned?" tanya Jeremy.
"Ramdhan belum kembali ke kastil sejak kemarin, sedangkan Juned mungkin sedang beristirahat di kamarnya. Mengapa kamu bertanya tentang mereka?" tanya Mariah.
Jeremy hanya menggeleng, kemudian memasukkan sepotong kecil apel ke dalam mulutnya.
"Mariah, kamu kan sudah mengenal kastii ini dengan baik. pasti dong tentang lorong-lorong rahasia di ruang bawah tanah ini," kata Jeremy.
Mariah meletakkan pisau yang digunakan untuk mengiris sayuran, kemudian menatap Jeremy dengan penuh tanda tanya. Jarang-jarang sekali ada yang menanyakan tentang ruang bawah tanah. Sebenarnya Mariah sendiri merasa malas untuk membahas ruangan bawah tanah itu, karena ada banyak peristiwa kelam yang pernah ia alami di sana.
"Mengapa kamu menanyakan itu, Jeremy?" tanya Mariah.
"Aku ... aku hanya ingin tahu, Mariah. ya, aku pernah mendengar kisah-kisah seram dari ruang bawah tanah itu. Aku penasaran dengan apa yang ada di dalam sana. Pak Reno menyarankan kepadaku untuk mencari keberadaan Mariah di dalam sana," ucap Jeremy.
"Mengapa kamu berpikir bahwa Stella berada di dalam sana?"
"Karena Nadine juga ditemukan di dalam sana. Kami berpikir bahwa si pembunuh itu membawa mereka berdua ke dalam ruangan bawah tanah. Hanya saja, Stella belum ditemukan, dan mungkin berada di dalam salah satu bilik yang ada di bawah sana. Makanya aku ingin meminta bantuan Ramdhan atau Juned untuk menemaniku di dalam sana," kata Jeremy.
Mariah mengangguk seraya berkata,"Kamu benar Jer, banyak kejadian kelam di bawah sana, dan sampai sekarang aku tidak mau terjun ke dalam sana lagi. Kalau kamu mau mencari Stella di sana, kusarankan besok pagi saja. Hari sudah menjelang malam, tentu akan berbahaya berada di dalam ruang bawah tanah. Lagipula, personel keamanan saat ini jumlahnya terbatas," saran Mariah.
"Ya, aku paham itu. Tapi aku sangat kepikiran, dan tidak bisa menunggu sampai pagi. Malam ini juga kaku harus turun ke bawah. Maafkan aku Mariah, kalau Juned tak bersedia, maka aku yang akan turun ke sana sendirian!" ucap Jeremy tegas.
Mariah tak bisa berkata apa-apa. ia hanya menghela napas, tak berniat melarang. Ia tak menyalahkan Jeremy, karena saat ini hanya Stella yang posisinya belum jelas ada di mana.
***
Lily berniat keluar dari ruang baca setelah melakukan perbincangan dengan Aditya. Ia merasa gusar dengan perkataan Aditya yang seolah menyalahkan dirinya atas peristiwa-peristiwa di dalam kastil. Ia meletakkan buku yang dibacanya di atas meja, kemudian melangkah keluar, dengan tanpa berkata apa-apa.
Aditya hanya menahan napas melihat kemarahan Lily padanya. sekilas ia melihat buku yang dibaca Lily di atas meja. Ia mengernyitkan dahi. Bukankah itu buku tentang pembunuhan yang ditulis oleh Michael Smith Artenton? Aditya memungut buku itu membacanya sekilas. Buku itu menjadi sangat terkenal setelah terjadi peristiwa pembunuhan di kastil tua beberapa waktu lalu.
Buku itu disebut-sebut menjadi inspirasi si pembunuh dalam menghabisi korbannya. Urutan pembunuhan itu sengaja ditiru oleh Tiara untuk membunuh para korban. Lalu mengapa Lily membaca buku itu, gumam Aditya. Ia tersenyum, kemudian membawa buku itu untuk selanjutnya ia baca di dalam kamar. Ia juga penasaran dengan isi buku yang menghebohkan itu.
Dalam hati, sebenarnya Aditya merasa cemas dengan perkataan Lily, bahwa perempuan itu mengetahui perselingkuhannya dengan seseorang yang tak ia sebutkan. Ia sedikit gelisah. Padahal menurutnya, perselingkuhan itu awalnya hanya saling menggoda saja, bukan hal yangs serius. Apalagi. Lidya kenal baik dengan perempuan yang dimaksud. Menurutnya, Lily terlalu berlebihan kalau hal itu disebut perselingkuhan.
"Ah, masa bodohlah!" gumam Aditya.
Aditya hendak keluar ruang baca tersebut, tetapi langkahnya terhenti karena dari jendela ruang baca ia melihat beberapa mobil yang masuk ke dalam kastil. Ada dua mobil ambulans, dengan lampu merahnya yang berputar-putar. Rupanya petugas medis telah tiba di kawasan kastil. Ammar segera bertindak cepat. Ia langsung memerintahkan paramedis untuk segera menuju halaman belakang bersama dua orang petugas paramedis lain. Rupanya mereka hendak mengevakuasi jasad Kara yang sejak pagi ditempatkan di sana. Ammar sengaja memilih jalan memutar karena berharap tidak ada penghuni yang mengetahui hal ini. Sayangnya, Aditya yang baru keluar dari ruang baca, mengintip dari balik jendela. Ia ingin tahu apa yang dilakukan paramedis itu.
Sementara tiga personel paramedis lain langsung bergerak menuju hutan dengan diarahkan oleh Juned. Mereka hendak mengevakuasi jasad tanpa kepala milik Farrel. Reno rupanya sudah menunggu selama berjam-jam di hutan. Tentu kehadiran paramedis ini sudah ditunggu-tunggu oleh Reno di dalam hutan.
Hari sudah mulai gelap, tetapi proses evakuasi tetap harus dilaksanakan agar proses penyelidikan bisa berjalan lebih cepat. Mariah yang berada di dapur segera mengamankan kawasan dapur dan sekitarnya. Jeremy sudah kembali ke kamarnya, sehingga ia tidak tahu kehadiran paramedis itu. Mariah berharap-harap cemas, saat tim paramedis itu mulai turun ke bawah tanah. Ia berharap agar semua bisa berjalan lancar.
Dari balik jendela, Aditya mengawasi setiap pergerakan tim itu, bahkan saat mereka masuk ke dalam ruang bawah tanah. Aditya merasa tak habis pikir, apa yang sebenarnya disembunyikan di ruang bawah tanah itu? Ia menduga ada sesuatu yang luar biasa. Ia makin penasaran. Ingin rasanya ia menyusul ke bawah sana, tetapi jelas itu tidak mungkin, karena tentu tidak akan diizinkan.
***