
Melani benar-benar mengagumi suasana di sekitar villa, karena pemandangannya sangat indah. Dia berjalan menyusuri kaki bukit yang banyak ditumbuhi semak liar dan pohon-pohon yang rindang. Cuaca pagi itu sedikit berawan, sehingga sedikit sejuk. Cuaca seperti ini sangat tepat digunakan untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan yang asri dan menghijau. Oksigen terasa berlimpah, karena jauh dari pencemaran.
Ia merasa puas mengitari seluruh wilayah sekitar bukit itu, ia merasakan kakinya terasa pegal. Ia terengah-engah karena lelah, sambil minum air dari botol plastiknya. Keringat mulai mengucur di dahi. Sungguh ia menyayangkan mengapa Faishal tidak ikut dalam petualangan kecil ini. Setelah hari cukup siang, ia memutuskan untuk kembali ke villa segera.
Ia mendapati villa dalam keadaan sangat sepi. Melani merasa heran, kemana Faishal berada? Ia pergi ke ruang tengah untuk memastikan keberadaan Faishal, tetapi tak ada pula di sana. ia hanya melihat cangkir kopi bekas diminum separuh. Faishal membuat kopi? Pikirnya. Seingat Melani, tadi sebelum berangkat jalan-jalan ia tidak membuat kopi untuk Faishal. Sejak kapan Faishal mau membuat kopi sendiri, apalagi sampai dua cangkir seperti itu.
Di meja ruang tengah itu juga ada sisa sarapan Faishal yang tidak habis. Tadi pagi sebelum berangkat jalan, ia memang sengaja memasak untuk Faishal, karena Faishal berkata bahwa ia ingin sarapan dengan menu rumahan. Namun, ia heran karena nasi goreng buatannya hanya dimakan sedikit saja, seolah ditinggalkan begitu saja. Ini agak aneh menurut Melani.
"Shal, kamu di mana?" panggil Melani.
Panggilan Melani tersebut tak berbalas, padahal ia memanggil dengan suara cukup nyaring. Atau jangan-jangan Faishal kembali tidur? Melani bergegas ke kamar untuk memastikannya. Ternyata di kamar juga tak ada tanda-tanda Faishal berada di sana. Perasaan Melani jadi tidak enak, ia mulai mengitari ruang demi ruang, tetapi tetap saja tak menemukan keberadaan Faishal. Masa iya Faishal meninggalkannya?
Melani buru-buru mengecek mobil, mendapati mobil masih berada di tempatnya. Jadi ke mana Faishal? Ia berpikir mungkin Faishal pergi jalan-jalan sebentar ke luar. Namun mengapa sarapannya ditinggal begitu saja? Pikiran Melani berputar-putar. Ia kemudian duduk di ruang tengah sembari berpikir tentang hal ini. Ia berusaha berpikir positif bahwa Faishal baik-baik saja.
Untuk menghilangkan rasa cemasnya, beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Di dalam kamar ada kamar mandi pribadi yang dilengkapi dengan bath-tub. Ia ingin berendam barang sejenak untuk memulihkan tenaga dan pikirannya. Ia menambahkan cairan sabun ke dalam air agar berbusa, kemudian membenamkan tubuhnya dalam bath-tub itu. Ia menggosok setiap inchi bagian tubuhnya dengan spons mandi, sambil bernyanyi-nyanyi kecil untuk menghilangkan rasa takut.
Tiba-tiba ia mendengar suara-suara aneh dari ruang loteng, seperti benda-benda yang digeser. Tak mungkin kalau tikus yang membuat suara seperti itu. Firasatnya mulai tak enak. Ia ingin mambasuh tubuhnya dengan air kran, tetapi entah mengapa pula air kran tiba-tiba berhenti mengucur.
"Sialan!" umpatnya.
Ia mengambil selembar handuk, membungkus tubuhnya separuh, kemudian berjalan keluar kamar mandi. Suara-suara dari atas loteng semakin terdengar jelas. Mungkinkah Faishal yang berada di loteng?
"Shal? Kamu di atas?" panggilnya lantang.
Lagi-lagi tak ada sahutan dari Faishal. Ia khawatir Faishal membuat candaan seperti tadi malam. Sungguh itu tidak lucu dan ia ingin marah. Faishal tahu ia penakut, dan sering membuat candaan-candaan untuk menakuti. Ia melangkah menuju dapur, kemudian ke beranda belakang tempat tangga menuju loteng. Sepertinya tangga yang itu sudah lama tak dipakai, sehingga berkesan menyeramkan.
Ia ragu, apakah ia harus naik ke loteng atau tidak. Suara-suara gesekan benda itu sudah berhenti, tetapi ia masih penasaran. Di pagi hari saja, loteng itu sudah tampak menyeramkan, apalagi kalau malam. Melani bersiap hendak naik ke loteng untuk menjumpai Faishal. ia tak peduli, walau masih berbalut handuk, toh tak ada orang yang melihat.
Ia naik tangga perlahan, kemudian melongokkan kepala ke dalam loteng yang gelap. Semua tampak normal, tak ada pergerakan apa-apa.
Dalam kegelapan, lamat-lamat ia menangkap bayangan seseorang yang sedang berbaring di lantai. Jantungnya sontak berdegup kencang meilhat itu. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu. Ia segera berbalik badan hendak turun tangga. Namun, tiba-tiba ia merasakan dorongan kuat dari tangan seseorang, sehingga ia kehilangan keseimbangan. Tubuh Melani terjungkal dari atas tangga, menggelinding sampai membentur lantai. Ia tergeletak tak sadarkan diri!
***
Reno bergerak cepat menuju ke tempat kos Melani setelah mengetahui identitas perempuan muda itu. Kondisi kos pagi itu sedikit lengang, karena para penghuni kebanyakan sudah berangkat beraktivitas. Reno hanya ditemui oleh seorang wanita yang kamarnya tepat berada di depan kamar Melani. ia terkejut melihat kehadiran Reno.
"Sejak tadi malam sepertinya Melani sudah pergi meninggalkan kos, membawa barang-barang Pak. Ia pergi dengan Faishal Hadibrata. Saya memang sempat menanyakan hendak ke mana, dia hanya bilang mau liburan selama dua atau tiga hari. Tidak pasti juga mau pergi ke mana," terang wanita itu.
Reno kembali bergerak melacak pergerakan pasangan itu. Ia menghubungi nomor Faishal, tetapi ponsel itu mati. Demikian juga ketika ia menghubungi nomor Melani, nomor itu juga mati. Faishal dan Melani sengaja mematikan telepon selama liburan ini. Hal ini membuat Reno sedikit khawatir.
Pagi itu juga, Reno meluncur menuju apartemen Faishal yang kosong, tetapi tak ada seorang pun tau di mana Faishal berada. Pencarian terhadap Faishal pun segera dilakukan, tak hanya melibatkan dirinya sendiri. Ia menanyakan hal itu pula kepada rekan-rekan kerjanya yang sedang melaksanakan syuting bersama.
"Ia mengajukan cuti selama beberapa hari ini dan mengatakan akan liburan. Tapi kami tidak tahu dia akan liburan kemana. karena dia tidak mengatakan pada kami," ucap salah seorang kru film.
Reno agak sulit melacak jejak pasangan itu, karena ia sudah menanyai orang-orang sekitar kehidupan mereka, tetapi kebanyakan mengatakan bahwa Faishal dan Melani akan berlibur ke suatu tempat yang tak disebutkan namuanya.
"Kudengar mereka akan menyewa sebuah villa, tapi aku sama sekali tidak tahu villa yang mana," seorang artis wanita buka suara, setelah Reno bertanya.
Pikiran Reno langsung mengarah ke villa kuning pucat yang terletak di luar kota. Kawasan itu sangat populer. karena banyak villa berada di sana. Reno tak mau berpikir panjang, ia segera melarikan mobil ke kawasan itu. Ia sendiri belum tahu villa mana yang dimaksud, tetapi ia tahu beberapa artis terkenal memiliki villa di sana. Salah satu villa yang cukup populer adalah villa kuning pucat milik Henry Tobing. Sepertinya, Reno akan menyelidiki tempat itu dahulu.
Di tengah kepadatan lalu lintas pagi, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia sedang berpikir, kalau Faishal memang berada di villa milik Henry itu, tentu situasi akan berbahaya, mengingat villa itu sangat berbahaya dan bisa diakses publik mana saja. Sistem keamanan juga sangat kurang, ditambah letaknya yang jauh dengan villa lain, membuat seeorang akan dengan mudah melakukan tindak kejahatan.
Reno sampai di villa kuning pucat itu menjelang siang. Suasananya tampak lengang. ia melihat mobil di depan villa, sepertinya memang mobil Faishal. Ia langsung masuk ke dalam villa yang tak terkunci. Suasana juga masih sangat sepi di dsalam villa. Reno langsung bersikap waspada. Ia mengeluarkan pistol, kemudian berjalan lambat-lambat untuk memeriksa isi rumah. Di dalam rumah, nyaris tak ada suara. itu terasa agak aneh.
Di ruang tengah, ia melihat sisa-sisa makanan pagi yang tak dihabiskan. Bergegas ia mengecek semua ruang yang ada di tempat itu, mulai dari ruang depan, kamar, ruang tengah, dapur, hingga beranda belakang. Semua ia telusuri untuk mencari sesuatu yang tampak aneh atau janggal. Di dapur, lagi-lagi ia menemukan bungkus cokelat berlabel Silver King!
***