Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XXIX. Third Interview


Michael memasuki ruang kerja Anggara dengan penuh percaya diri. Bola matanya yang berwarna hazel menelusur ruang kerja bergaya klasik tersebut. Ia berdiri terkagum dengan segala pernik di dalamnya. Kemudian ia hempaskan tubuhnya di sofa, sementara Ammar menuangkan kopi pada cangkir kosong yang tersaji.


“Kamu suka manis?” tanya Ammar.


“Tak terlalu. Biasanya aku menambahkan sedikit krim untuk menetralkan rasanya. Lagipula aku jarang minum kopi akhir-akhir ini. Kafein berlebih tak terlalu baik untuk tubuh.”


“Kamu harus coba kopi ini. Kopi aceh, salah satu kopi terenak di dunia,” terang Ammar.


“Terima kasih. Aku sudah sering mendengar reputasi kopi ini.”


Michael berusaha memosisikan diri pada posisi nyaman. Diseduhnya kopi dengan sedikit gula dan sesendok krim, diaduk perlahan sehingga menciptakan sensasi aroma yang membangkitkan selera. Disesapnya sedikit, rasa gurih kopi mengalir hangat di kerongkongan.


“Aku sudah membaca beberapa karyamu. Harus kuakui dirimu cukup berbakat, tetapi beberapa mengandung plot hole. Terutama novel yang berjudul ‘Murder in Chicago’. Kupikir menjadi seorang penulis kriminal sepertimu harus mempunyai dasar ilmu investigasi yang kuat, bukan hanya asal menulis.”


“Jadi kamu mengundangku ke sini benar-benar hanya untuk membahas kekurangan novelku?”


“Salah satunya iya. Karena jujur saja posisimu sebagai tersangka sangat menguat belakangan ini, dan itu berhubungan dengan salah satu novel yang kamu tulis. Secara pintar kamu menampilkan citra yang baik pada penghuni lain, seolah-olah kamu seorang pahlawan yang tengah berjuang untuk memecahkan suatu kasus rumit. Padahal aku tahu, bahwa sesungguhnya teorimu sangat berantakan!” kata Ammar sambil tersenyum sinis.


“Bodoh sekali kalau aku sampai berbuat seperti itu. Tak ada sedikit pun niat untuk mengelabui orang-orang di kastil ini. Aku merasa terpanggil untuk mengusut kasus ini karena memang ingin mengungkap pelaku sebenarnya, dan mereka semua setuju. Selain itu, aku membutuhkan untuk riset novelku berikutnya,” ujar Michael.


“Tunggu! Jadi selama ini novel yang kamu garap diinspirasi dari kisah nyata atau bagaimana?”


“Fiksi. Seratus persen fiksi, tetapi ada juga sedikit kuambil dari gabungan peristiwa di dunia nyata.”


“Oke. Sekarang pertanyaanku kembali pada isi novel ‘Mansion Berdarah’ yang kamu release dua tahun lalu. Tentu kamu masih ingat isinya kan? Bisa kamu ceritakan sedikit inspirasi pembuatan novel itu?”


“Mansion Berdarah adalah novelku yang kedelapan. Tak ada inspirasi khusus, karena semua muncul begitu saja di otak. Aku hanya membuat sedikit lay out kasar, kemudian kukembangkan menjadi sebuah tulisan utuh. Aku nggak nyangka kamu baca novel itu juga. Itu adalah salah satu novel yang best seller!”


“Aku belum membacanya. Tetapi seorang penulis lain di kastil ini sudah membacanya, dan dia mengatakan padaku bahwa isi novelmu ini sangat mirip dengan apa yang terjadi di kastil ini, sehingga dia berpikiran bahwa kamu adalah pelaku dari segala kekacauan yang terjadi.”


Michael tertawa mendengar penuturan Ammar. Kembali disesapnya kopi yang tersaji. Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum penuh arti.


“Siapa penulis bodoh itu?”


“Maaf! Aku tak bisa menyebutkan identitasnya!”


“Apakah kamu percaya penulis itu? Kurasa kamu adalah polisi paling ***** kalau percaya pernyataannya mentah-mentah. Novel itu jelas tak ada hubungannya dengan kejadian di kastil ini, karena sudah kutulis dua tahun lalu. Aku tak mungkin membuat kebodohan dengan mewujudkan pembunuhan itu dalam dunia nyata, karena akan sangat mudah terbaca. Aku tidak setolol itu. Kalaupun ada yang kemudian meniru teknik membunuh dalam novel yang kutulis, tentu pelakunya orang lain yang sudah membaca secara rinci, kemudian memraktekannya dalam dunia nyata,” kilah Michael.


“Hmm. Analisismu begitu? Jadi menurutmu orang lain yang melakukan itu? Mengingat semua yang ada di rumah ini adalah tersangka, jadi apa yang kamu katakan belum kuanggap sebagai alibi. Aku adalah orang yang tak setuju dengan prinsip praduga tak bersalah. Di mataku, kalian semua bersalah!”


“Silakan saja kamu selidiki dengan caramu, dan nanti akan kamu buktikan bahwa apa yang kuucapkan itu benar. Pembunuh itu melakukan segala cara untuk lolos dari tuduhan, termasuk memfitnah orang lain. Aku paham, setiap orang di sini sedang merancang berbagai alibi. Tak ada teman, mereka semua adalah lawan yang saling menjatuhkan. Tentu saja, aku akan tunggu penyelidikanmu.”


Michael terlihat gusar, tetapi tetap menahan diri. Diusap-usap janggutnya yang telah dicukur rapi. Aura ketampanan khas ras Kaukasoid terpancar jelas di parasnya. Ammar masih tak bergeming. Ketenangannya sebagai seorang penyidik layak diacungi jempol.


“Sama sekali tidak. Tapi nama Anggara cukup populer di masa lalu. Aku pernah berpikir ingin menulis tentangnya. Sepanjang yang kutahu, keluarga Anggara ini sangat tertutup, tak pernah terbuka dengan dunia luar. Ini sangat membuatku penasaran. Karena itu aku sangat antusias ketika memperoleh undangan darinya. Sangat disayangkan, ia tewas terbunuh di hari ulang tahunnya,” tutur Michael.


“Baik Michael. Dalam beberapa hal aku harus mengakui ketajaman cara berpikirmu, insting yang kamu punyai bisa kamu asah. Tetapi untuk menjadi seorang detektif, itu tidaklah cukup. Kamu harus terjun langsung dalam banyak kasus, mencium bau darah, dan melihat banyak jasad. Mulailah terbiasa dengan itu!”


“Saran yang menarik. Tapi aku hanya ingin menjadi penulis!”


Setelah mengobrol beberapa saat, Michael beranjak keluar dari ruang kerja. Ia tetap menyimpan hasil penyelidikannya sendiri, tanpa mau membagi dengan Ammar. Reputasinya sebagai seorang penulis bergenre detektif dipertaruhkan. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan hanya sekedar menulis.


***


Mobil usang keluaran tahun 90-an itu berhenti di tengah jalan yang dikepung perkebunan teh. Matahari sudah mulai meninggi, menebar hawa panas ke permukaan bumi. Hans mengusap peluh yang mulai mengalir di pelipis, sementara Helen berdiri di sampingnya dengan gelisah.


“Tak ada bengkel di sekitar sini. Kita harus berjalan ke kota yang masih teramat jauh. Mati kita di sini! Mobil ini sudah tidak layak pakai, tetapi masih saja disimpan. Anggara benar-benar pelit. Dengan kekayaannya yang berlimpah, harusnya ia membekalimu mobil yang lebih berkelas! Sial!” keluh Hans sambil menendang salah satu roda mobil.


“Biasanya mobil ini baik saja-saja. Aku dan Yoga sering memakai mobil ini ke kota dan tidak ada masalah. Entah kenapa mobil tiba-tiba mogok ketika Anda yang memakai,” ujar Helen.


“Kamu menyalahkan aku?”


“Oh, tentu tidak. Aku hanya mengutarakan pendapatku saja. Mungkin kita tidak beruntung hari ini.”


“Hmm, cuaca sedang panas Helen. Jangan membuatku emosi! Pikirkan cara agar kita tidak mati kekeringan di tengah jalan ini. Aku sudah mulai bosan.”


“Maafkan aku. aku juga tak tahu apa yang harus kulakukan. Sinyal telepon sangat buruk di sini. Yang kita lakukan hanya menunggu kendaraan lewat, atau kita berjalan kembali ke kastil,” ujar Helen.


“Itu bukan solusi! Berjalan kembali ke kastil sama jauhnya dengan berjalan ke kota. Aku tidak mau melakukan hal ***** semacam itu!”


Hans membuang napas, seraya menatap ke arah langit yang membentang luas berwarna biru, tanpa serpihan awan.


Menit demi menit berlalu, Hans terpaksa duduk bersila di atas rumput untuk mengurangi rasa penat. Ia berharap keajaiban tiba. Helen juga terlihat gelisah. Kalau mobil ini rusak, dapat dipastikan stok makanan akan habis dalam waktu dekat.


“Sepertinya kita harus kembali untuk menukar mobil. Ada beberapa mobil Pak Anggara di garasi yang bisa dipakai,” kata Helen.


“Ide yang sangat baik, Helen. Sekarang coba pikirkan bagaimana kita bisa kembali ke kastil!” Perasaan jengkel Hans bergejolak. Ia menyesal mengantar Helen ke kota pagi ini.


Tiba-tiba, Helen tersenyum senang. Di kejauhan, samar-samar sebuah mobil mendekat dengan kecepatan lambat. Harapan yang pupus, perlahan mulai tumbuh kembali.


“Dewa penolong telah tiba!” pekik Helen.


***