
Reno menjumpai sosok tibuh Faishal dalam keadaan terikat dan mulut tertutup lakban meringkuk dalam kardus, tampak bergerak-gerak hendak meloloskan diri. Reno sangat terkejut melihat pemandangan itu. Faishal ternaya masih dalam keadaan hidup. Reno segera membuka lakban yang menutupi mulut Faishal.
"To-tolong! Tolong Melani. Orang itu ... orang itu menyeretnya. Aku mendengar teriakan Melani. Tolong! Cepat!" ucap Faishal terbata-bata dengan paras ketakutan.
Matanya menatap nanar ke arah Faishal. Nafasnya tersengal, sementara ia terus bergera berusaha lepas dari ikatan.
"Tenang, tenang! Jangan gugup. Apa yang sebenarnya terjadi? Tarik napas dulu, aku akan membuka ikatanmu!"
Reno segera bergerak cepat, membuka ikatan di tangan dan kaki Faisshal. Aktor berusaha menarik napas dalam-dalam sebelum memulai bercerita. Reno menunggu hingga keadaan Faishal benar-benar stabil. Sepertinya ia baru saja mengalami kejadian mengejutkan.
Setelah kondisi lebih tenang, Reno mempersilakan Faishal untuk bercerita.
"Aku berencana liburan di villa ini ... awalnya semua baik-baik saja. Semua berjalan sempurna. Pemandangan yang indah. Malam itu dimulai dengan gangguan diesel yang mati, kemudian waktu meminum kopi di pagi hari, aku merasa kepalaku sangat berat, dan tak ingat apa-apa lagi. Kemudian ketika aku terbangun, aku sudah berada di loteng ini dalam keadaan terikat. Aku melihat sosok yang tak kukenal itu, seperti hendak membunuhku. Ia membawa sebilah pisau yang teramat tajam. Ia juga membungkam mulutku dengan plester.Lalu aku mendengar suara Melani memanggil-manggilku di bawah sana, tetapi aku tidak bisa menyahut. Aku sempat melihat Melani di loteng, tetapi orang itu ... orang itu mendorongnya sampai terjatuh ke bawah. Lalu ... lalu terdengar suara teriakan Melani saat orang itu menyusul ke bawah. Aku khawatir orang itu berlaku tidak baik pada Melani. Sepertinya ia berniat hendak membunuhku juga, tetapi rupanya ia terlalu buru-buru, sehingga memasukanku ke dalam kardus. Aku ... aku benar tak bisa melihat dengan jelas tadi, kepalaku pening. Cepat cari Melani, Pak. Jangan pedulikan aku! Orang itu pasti sudah kabur. Aku akan baik-baik saja di sini!" ucap Faishal.
"Hmm, baik. Ceritamu nanti akan dicatat sebagai kronologis kejadian. Ok, untuk sementara. Kamu tetap di sini saja. Aku akan mencari Melani di bawah!"
Reno segera bergerak ke bawah untuk mencari keberadaan Melani. Padahal tadi ia sudah menyusur semua ruangan, tetapi ia tak menemukan keberadaan Melani? Ia baru ingat bahwa di dalam kamar utama ada kamar mandi pribadi yang tadi belum sempat ia tengok. Ia menuju ke kamar untuk memastikannya. Pikirannya langsung berpikir ke suatu hal buruk yang mungkin terjadi.
Perlahan ia buka pintu toilet yang terbuat dari kaca buram. Pintu itu ia geser perlahan, kemudian mendapati bath-tub yang berisi air, tetapi bukan air biasa! Air itu berwarna merah menyala, dengan sosok Melani di dalam bath-tub. Kondisi wanita muda itu sungguh mengenaskan, karena leher dalam keadan tergorok. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan. Posisi tubuh Melani dalam keadaan terlentang tanpa busana, dengan kaki sebelah kiri mencuat ke samping bath-tub. Selain itu, di lantai bath-tub banyak terdapat ceceran darah yang terpercik kemana-mana.
Reno merasa mual mendapati pemandangan menggidikan itu. Ia selama ini banyak menemui kasus pembunuhan, tetapi melihat mayat dalam keadaan seperti itu, tetap saja perutnya terasa seperti diaduk. Melalui ponsel. ia segera menghubungi kepolisian terkait penemuan mengerikan itu.
Ia keluar dengan langkah lemas. Entah bagaimana caranya menyampaikan pada Faishal terkait penemuan itu. Ia masih membiarkan Faishal sendirian di atas loteng. Sementara ia kembali mengitari villa, siapa tahu menemukan petunjuk baru. Cepat sekali pelaku meninggalkan villa, bahkan sebelum Reno datang, villa sudah ditinggalkan oleh si pelaku.
Setelah mengitari villa, Reno duduk di ruang tengah sambil memperhatikan bekas makanan dan minuman yang tak sempat dihabiskan oleh Faishal. Pelaku itu menggunakan obat tidur dengan dosis tinggi untuk melumpuhkan Faishal. Ia akan mengambil sedkit sampel makanan itu, untuk diteliti lebih lanjut jenis obat tidur apa yang dugunakan untuk meracuni makanan dan minuman yang di depannya itu.
Dalam waktu tak terlalu lama, villa itu kembali di penuhi oleh personel dari kepolisian yang akan menginvestigasi sekitar tempat itu. Garis polisi langsung dipasang, dan mereka berusaha sebisa mungkin agar peristiwa pembunuhan ini tidak tercium oleh media. Mereka menyebar untu memeriksa kondisi sekitar villa.
"Kami menemukan ini, Pak!"
Salah seorang personel polisi mendekati Reno, memberikan sebuah botol plastik kecil yang transparan. Di dalam botol itu, Reno melihat ada gulungan kertas.
"Dari mana kamu menemukan ini?" tanya Reno sambil mengambil botol kecil itu.
"Ini kami temukan mengapung di dalam bath-tub, di dekat tubuh korban," ucap personel polisi itu.
Reno segera memperhatikan isi botol itu baik-baik. Ia menduga bahwa di dalam botol itu berisi tentang teka-teki baru yang harus dipecahkan. Sungguh, Reno merasa benci apabila menerima kertas seperti ini. Artinya, akan ada lagi korban yang diincar lagi oleh si pembunuh, dan itu membuatnya sangat khawatir.
Hari ini, ia berhasil menemukan Faishal dalam keadaan hidup, tetapi tidak untuk Melani. Ini jelas merupakan kegagalan. Ia menyesal tak dapat datang lebih cepat lagi ke villa, sehingga jatuh satu korban lagi.
Sementara, Faishal dijemput oleh beberapa polisi di atas loteng, tetapi aktor itu terlihat bingung.
"Di mana Melani? Di mana dia?" tanya Faishal kepada setiap orang yang dijumpainya.
Sayangnya, semua bungkam dan tak ada yang menjelaskan posisi Melani. Hari itu juga tubuh Melani dievakuasi dengan sebuah ambulans. Tubuhnya yang bersimbah darah segera diangkut ke atas tempat tidur dorong. Tubuh itu ditutupi selimut putih berlapis-lapis agar darah tidak tembus. Sementara, Faishal tampak stres dan terpukul, sehingga ia ditenangkan oleh beberapa polisi.
"Melani tidak mati kan? Melani tidak boleh mati! Aku yakin Melani masih hidup. Antarkan aku kepadanya. Cepat! Melani ... Melani! Kamu di mana? Ayo kita menikah sekarang dan membesarkan anak-anak kita!" ucap Faishal membabi-buta.
Tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar. Rupanya telepon dari Dimas. Ia segera mengangkatnya.
"Ren, apa yang terjadi? Aku melihat iring-iringan polisi menuju luar kota. Apa ada sesuatu terjadi? Kamu ada di mana sekarang?"
Dimas langsung memberondong pertanyaan. Reno hanya menghela napas. Pikirannya terasa lelah karena serentetan pembunuhan yang selang waktunya hanya dua hari belakangan ini.Tiap dua hari sekali, terjadi pembunuhan yang melibatkan para artis.
"Situasinya buruk, Dimas. Aku terpaksa mengambil langkah yang sama seperti kemarin," ucap Reno.
"Apa maksudmu? Aku nggak paham?" tanya Dimas.
"Kalau ini kita biarkan terus, maka dapat dipastikan korban akan semakin banyak berjatuhan. Hari ini si pembunuh telah berhasil menghabisi satu nyawa lagi, yaitu kekasih Faishal yang tengah hamil. Kondisi Faishal saat ini dalam keadaan terpukul dan shock. Waktu kita sempit. Niken juga belum berhasil kita temukan. Jadi kupikir kita akan kembali ke rumah isolasi itu lagi," kata Reno.
"Astaga! Rumah isolasi? kamu yakin akan menempatkan mereka ke sana? Bukankah di sana juga pernah terjadi kejadian buruk, serta di sana agak angker kan?" ucap Dimas.
"Iya Dimas. Anggap semua ini adalah de javu. Kita akan kumpulkan orang-orang yang tersisa itu dalam rumah isolasi. Bukankah Ferdy juga terbongkar kedoknya di rumah itu? Aku harap kedok si pembunuh itu juga akan tebongkar di rumah ini. Kita memerlukan bukti yang kuat, sampai kita benar-benar meringkusnya!" terang reno.
"Hmm, baiklah kalau itu memang keputusanmu. Aku mendukungmu, Ren. Tetapi mungkin aku akan fokus juga mencari Niken. Hari ini aku berkunjung ke kediaman Renita, dan aku menemukan pisau besar serta tisu-tisu penuh darah. Sebenarnya aku juga merasa agak aneh, ketika mendengar suara wanita menjerit, tetapi aku tidak tahu dari mana suara jeritan itu berasal. Firasatku hanya merasa tidak enak, itu saja!"
"Ya, Dim. Silakan saja kamu fokus mencari Niken. Aku bisa mengatasi ini kok," ucap Reno.
"Okey Ren!"
***