Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
373. Top Secret


Semua menunggu Dimas untuk kembali berbicara. Suasana sedikit tegang karena mereka melihat paras Dimas tak seperti biasanya. Polisi muda itu terlihat tegang dan gusar akan kejadian yang baru saja terjadi di bawah tanah. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di meja, menunggu klarifikasi dari orang-orang yang duduk di hadapannya. Sementara. Ammar baru saja tiba di ruang makan itu sambil membawa sebuah amplop cokelat. Rupanya tadi ia sedang menyisir keberadaan Mariah, tetapi tidak ketemu. Ia langsung berdiri di dekat meja tempat pajangan guci antik.


Ruangan makan itu tak ada jendela, sehingga penerangannya hanya mengandalkan lampu besar yang tergantung di tengah ruangan. Sesekali lampu itu meredup dan menyala, seperti tidak stabil tegangannya. Dimas juga sedikit terganggu dengan keadaan ini.


"Siapa yang mau menyampaikan duluan?" tanya Dimas.


Sayangnya semua saling menunggu. Mereka enggan untuk berbicara. Setelah sekian menit, Edwin mengangkat tangannya. Ia melirik ke arah istrinya yang terdiam.


" Biar aku yang bicara duluan. Dari tadi kami di kamar. Kepalaku masih agak pusing, jadi kuputuskan saja untuk tiduran, sedangkan Rosita berada di sebelahku sambil membaca novel. Kami sama sekali nggak ngerti kalau ada kejadian buruk di dalam ruang bawah tanah. Setahu kami ... suasana sangat hening di luar, nggak ada sesuatu yang aneh atau janggal. Benar begitu kan Sayang?" tanya Edwin sambil menoleh ke arah Rosita.


"Iya benar. Keadaan Edwin memang belum pulih benar semenjak peristiwa di kebun teh itu. Jadi aku harus menjaganya. Aku meminjam beberapa novel dari ruang baca dan kubaca saat aku senggang," tambah Rosita.


"Novel? Novel siapa?" selidik Dimas.


"Aku agak malu mengatakannya, tetapi aku menyukai novel Tiara Laksmi. Mungkin beberapa orang mengatakan kalau itu adalah novel murahan yang hanya menjual adegan-adegan panas semata. Padahal menurutku Tiara Laksmi mampu merangkai kata yang sangat indah, sehingga pembaca merasa benar-benar seperti masuk ke dalam dunianya," ungkap Rosita.


"Baik. Terima kasih sudah menjelaskan dengan rinci keberadaan kalian. Selanjutnya, Maya. Dari mana saja dirimu selama satu jam tadi?" tanya Dimas sambil mengalihkan pandangan ke arah Maya.


Wanita itu kelihatan berpikir sejenak kemudian mulai berbicara," Aku sedang mencari buku yang bagus di ruang baca. Karena sejujurnya tempat ini membuatku sedikit bosan, sehingga aku membutuhkan tempat yang sunyi untuk menenangkan diri, mumpung aku tidak mendapat giliran memasak."


"Ruang baca?" Dimas mengernyitkan dahi.


"Iya Pak. Ada apa?"


"Sebenarnya kami juga dari ruang baca, tetapi kami sama sekali nggak melihat kamu." kata Dimas.


"Oh, pas pagi-pagi menjelang Subuh ya Pak? Aku tidak sepagi itu kok. Pas aku masuk ke ruang baca, aku tidak menemukan seorang pun. Jadi aku langsung masuk aja dan memliih buku-buku," tandas Maya.


"Apa ada orang lain yang melihatmu?" tanya Dimas lagi.


"Nadine. Ya, aku sempat bertemu dengannya di luar ruang baca," kata Maya.


Nadine sedikit terhenyak, tak menyangka namanya akan disebut oleh Maya. Ia berusaha menguasai dirinya, ketika semua mata memandang tajam ke arahnya. Sementara, Dimas langsung mengarahkan pandangan ke arah Nadine. Keterangan Maya tadi berusaha ia cerna dengan baik. Dimas mencatat sesuatu yang ia anggap penting di dalam buku catatan kecilnya.


"Cukup Maya! jadi kau di ruang baca ya?" Dimas menegaskan kembali.


Maya mengangguk. Parasnya sedikit kikuk. Ia melihat ke arah Nadine. Wanita itu mengangguk dan berkata," Ya, aku memang sempat bertemu Maya di depan ruang baca. Kami mengobrol sebentar."


Dimas mengangguk sekali lagi kemudian mengarahkan pandangannya ke arah Lily yang dari tadi terdiam, dengan paras gelisah.


"Lily?"


"Bukankah ini semua ide gilamu?" potong Rosita.


"Iya. Ini semua ini memang ideku. Tapi aku tidak menyangka semua akan menjadi begini. Siapa pun pembunuhnya, aku ingin kalian mengaku sekarang! Aku sudah muak dengan permainan ini! Mengakulah kalian, Maya! Nadine! Rosita! Kita sudah kehilangan Lidya dan Stella. Siapa lagi yang kalian incar? Ha?"


Lily mulai terlihat emosi. Semua yang hadir di situ terdiam, tak ada yang menampakkan reaksi dengan ucapan Lily. Dimas segera berdehem untuk memecah kesunyian. Paras para perempuan yang disebut namanya oleh Lily hanya bisa menunduk, tak berkata apa-apa.


"Rosita tidak mungkin melakukan ini! Aku selalu bersamanya!" bela Edwin


" Cukup!  Aku tidak ingin kalian saling menuduh dan berdebat di sini. Kami sudah berusaha menyelidiki masalah ini, bahkan bertaruh nyawa untuk semua memecahkannya. Rekan kami Ramdhan sedang terbaring di rumah sakit karena seseorang mencelakainya, dan rekan kami yang lain, Niken, ia hampir meninggal dan sekarang sedang terbaring pula disalah satu kamar di kastil ini karena berhari-hari disekap oleh orang misterius. Perlu kalian ketahui, bahwa kami sudah mengantongi satu nama yang mungkin pelaku dari ini semua. Tapi aku akan ungkap nanti setelah makan malam. Siang ini juga kami akan turun ke ruang bawah tanah untuk mencari Jeremy dan Mariah. Aku pastikan kalian tidak akan kemana-mana. Aku akan turun bersama Bang Ammar, dan Reno akan menjaga kalian tetap di ruangan ini. Tidak ada satu orang pun yang boleh meninggalkan ruangan ini. Nadine, sekarang giliranmu menyampaikan alibimu!"


"Aku berada di kamar sejak tadi, Pak. Sungguh, aku juga merasa sangat kehilangan karena sampai saat ini Ryan belum juga ditemukan. Rasanya aku ingin sekali menjelajah hutan dan menemukan dia  di sana, hidup atau mati. Aku tidak tenang berada di dalam kastil ini terus. Kumohon, kalian harus temukan Ryan!" pinta Nadine.


"Kami berusaha yang terbaik. Sekarang kalian tetap berada di sini. Kalau memang ada keperluan keluar, kalian harus izin dengan Pak Reno. Aku akan mencari Jeremy dan Mariah bersama Bang Ammar!" perintah Dimas.


Ammar yang berdiri di dekat meja antik tiba-tiba mendekati Dimas dan berbisik di telinganya," Tadi ada seorang kurir dari kepolisian dan menyampaikan amplop ini untuk diserahkan kepadamu. Katanya penting."


Ammar menyerahkan sebuah amplop besar berwarna cokelat kepada Dimas. Polisi muda itu terkejut saat menerima amplop yang bertulis TOP SECRET itu. Dimas berpikir bahwa amplop ini tentu berisi tentang dokumen penting terkait kasus ini. Sebelum berangkat ke kastil, ia memang menugaskan beberapa personel polisi untuk menyelidiki rumah-rumah para tersangka yang kemungkinan terlibat di kasus ini.


"Sebelum kita berangkat ke ruang bawah tanah, ada baiknya kau buka sekarang dokumen itu. Karena bisa jadi itu akan menguatkan bukti kita, kalau pelakunya adalah dia," bisik Ammar.


"Baik!"


Kedua polisi itu berjalan menuju kamar Ammar untuk segera membuka amplop yang baru saja diterima. Rasa penasaran semakin menguat untuk mengetahui dokumen apa yanga ada di dalam amplop itu. Sesampai di dalam kamar, Dimas merobek amplop mengeluarkan segala sesuatu yang di dalamnya.


"Apa isinya?" tanya Ammar.


"Foto-foto," jawab Dimas.


Di dalam amplop terdapat beberapa buah foto yang kelihatannya dijepret secara diam-diam. Foto pertama adalah foto sebuah rumah, dan Dimas segera tahu rumah siapa yang ada di foto itu. Lalu dalam foto lain juga diperlihatkan foto seorang wanita paruh baya sedang berada di depan rumah. Dimas juga tahu siapa wanita paruh baya itu. Wanita paruh baya itu parasnya terlihat cemas dan gelisah. Foto yang lain juga memperlihatkan kerangka manusia yang telah hancur, serta sejumlah polisi yang memasang garis polisi di sekitar rumah. Selain foto-foto, ada juga sebuah tulisan yang berisi informasi penting dari Benny, rekan Dimas dari kepolisian.


Selamat siang Dimas!


Sesuai arahanmu, aku dan tim sudah menyelidiki rumah-rumah yang kau maksud. Ternyata memang benar, salah satu rumah itu menyimpan rahasia yang mengerikan. Ini berkaitan dengan menghilangnya Irawan hartono dan kekasihnya, Vivian. Setelah menjadi rahasia selama bertahun-tahun, akhirnya kedua orang yang hilang itu ditemukan dalam bentuk kerangka di halaman belakang salah satu rumah itu. Ternyata, ibu dari salah seorang wanita di kastil itu telah menghabisi suami dan selingkuhannya, kemudian menanamnya di kebun belakang selama bertahun-tahun. Kami sudah mengamankan pelaku dan tempat kejadian....."


Surat itu agak panjang, tetapi Dimas sudah menangkap isinya. Surat itu semakin meyakinkan kalau nama yang ia kantongi adalah pelaku pembunuhan itu,


***