
Malam mulai menyelimuti kawasan rumah isolasi. Seperti biasa, kawasan itu selalu sepi dan senyap. Namun, malam ini agak berbeda dengan biasanya. Hujan rintik-rintik mengguyur, sehingga cuaca menjadi dingin. Sementara sesekali guruh terdengar di kejauhan, disertai kilat yang menyala-nyala di kaki langit.
Setelah menyelesaikan makan malam, semua penghuni dipersilakan melakukan apa pun yang mereka suka. Sayangnya, mereka sudah lelah dengan segala macam aktivitas yang mereka lakukan tadi siang. Jadi, sebagian mereka hanya memilih duduk-duduk di ruang tamu, dan sebagian lagi memilih untuk bermain bilyard di ruang tengah.
“Kok aku masih bosen ya?” ucap Adinda yang sedang duduk bersama Rasty dan Lena.
Para gadis menghabiskan waktu untuk bergosip di ruang tamu ditemani teh panas, sedangkan para pria bermain bilyard di ruang tengah.
“Kan kamu ada Ferdy. Mengapa kamu nggak temeni dia main bilyard?” tanya Lena sambil tersenyum.
Adinda menggeleng, paras mukanya berubah tidak nyaman. Sepertinya ia enggan membahas Ferdy. Tentu saja, hal itu membuat Lena penasaran.
“Kalian bertengkar?” selidik Lena.
“Nggak sih,” ucap Adinda.
“Terus?”
“Ya nggak apa-apa, Len. Kok kamu nanya terus kayak Gilda sih? Kan wajar aja kalau aku lagi pengen nggak ngomong sama dia. Biasa aja lah nanggepinnya!” ucap Adinda agak sewot.
“Iya ... iya maaf. Kan aku hanya nanya doang. Biasanya kan kalian akrab banget, jadi aneh aja kalau tiba-tiba diam-diaman begini. Eh aku mau minta pendapat kalian sebagai sesama perempuan nih. Kalau menurut kalian, mana yang lebih ganteng, Pak Dimas atau Pak Reno?” tanya Lena.
Rasty yang awalnya tidak ikut nimbrung berbicara, mau tidak mau melirik juga ke arah Lena. Ia menghela napas. Ia tahu paham dengan karakter Lena yang mudah sekali tertarik dengan pria. Bahkan Rasty juga tahu kalau Lena diam-diam menyukai Rudi.
“Ada bahasan lain yang lebih bermutu nggak?” ucap Rasty.
“Loh aku kan cuma nanya?” tanya Lena.
“Kamu tahu nggak sih, Len. Dua polisi itu pasti sudah punya pendamping hidup. Mending kamu nggak ngayal yang enggak-enggak deh. Mending kamu cari aja cowok single yang bisa kamu pacarin. Ada Alex, kan? Culun-culun gitu dia pintar. Daripada Rudi, tampilan sih oke, tapi kelakuan minus banget!” ucap Rasty.
“Oh, kamu curhat Ras?” cibir Lena.
“Aku sih melihat cowok dari sisi perspektifku sendiri Len. Untuk sekarang, rasaku sama pria udah hampir mati. Brengsek mereka semua!” keluh Rasty.
Tiba-tiba dari arah dalam rumah, muncul Gilda yang sudah berganti pakaian lebih santai, tidak berpakaian formal seperti biasanya. Ia memakai blus sederhana bermotif polkadot. Senyumnya cerah, dengan riasan yang agak tebal, khas reporter televisi.
“Halo Nona-nona, kalian sedang pesta para gadis yah?” sapa Gilda.
Mendadak mereka terdiam melihat kehadiran Gilda. Suasana menjadi tidak nyaman. Mereka tidak ingin berkata apa-apa, menunggu Gilda pergi dari tempat itu.
“Kehadiranku mengganggu kalian ya?” tanya Gilda.
Rupanya Gilda merasa kalau gadis-gadis ini tidak begitu suka dengan kehadirannya. Gilda kemudian tersenyum sinis.
“Oke ... oke! Nggak ada masalah. Lagipula kalian tidak terlalu penting buatku. Selamat bersenang-senang! Aku mau jalan dulu ke depan,” ucap Gilda sambil melangkah menuju halaman depan.
Gadis-gadis yang berada di ruang tamu itu merasa lelah, kemudian memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing. Sebelum mereka ke kamar, mereka menyempatkan untuk mampir ke ruang tengah, karena para anak laki-laki sedang bermain di sana. Namun, sesampai di ruang tengah, mereka tak meliht anak laki-laki itu di sana.
“Pada kemana mereka?” tanya Lena.
“Tidur kali!” jawab Rasty.
Mereka tak mau ambil pusing dengan keberadaan teman-teman mereka. Setelah mengetahui di ruang tengah kosong, mereka segera naik ke lantai dua untuk segera masuk kamar.
***
Gilda pergi ke halaman depan, walau gerimis mengguyur. Suasananya agak gelap, karena penerangan agak minim. Apalagi di dukung kondisi langit yang gelap, membuat malam menjadi semakin pekat. Pohon-pohon berdiri kokoh di halaman depan, seolah raksasa-raksasa hitam siap menerkam.
Gilda sebenarnya sedang mencari celah, agar bisa kabur dari rumah isolasi itu. Mula-mula, ia mengecek area sekitar pagar depan yang terkunci. Gembok yang dipakai sebenarnya gembok biasa, tetapi bagaimanapun tentu akan susah untuk dibuka paksa. Ia sedang mencari cara, bagaimana agar gembok itu bisa terbuka. Si pemegang kunci pasti Pak Paiman atau Bu Mariyati. Mungkin ia bisa mengelabui dengan berpura-pura pinjam kunci atau hal lain. Namun, ada hal lain yang ia pikirkan. Kalau pinjam kunci, jelas tak akan diizinkan, kecuali dengan izin khusus. Gilda berpikir untuk mencuri kunci gerbang depan!
Sreek!
Tiba-tiba mendengar suara semak-semak dibelakangnya berbunyi. Segera ia membalikkan badan dengan cepat. Ia tak melihat siapa-siapa di sekitar situ. Sebenarnya ia merasa takut, tetapi ia berusaha mengumpulkan keberaniannya. Dalam film-film yang ia tonton, gadis –gadis yang ketakutan sering menjadi korban pembunuhan. Ia tidak mau berakhir seperti mereka.
Pikirannya tentang bagaimana cara membuka pintu gerbang depan musnah seketika. Rasa takut menyelinap perlahan. Ia harus segera masuk ke dalam rumah. Ia melihat sekitar begitu gelap. Gerimis membuat suasana semakin menakutkan. Ia tergesa melangkah menuju ke dalam rumah, tetapi sayang sebuah ranting besar menghalangi jalannya.
Kraak!
“Aduh!”
Gilda tersungkur begitu saja ke tanah basah. Blus bermotif polkadot yang dipakainya menjadi kotor terkena tanah lumpur yang baru saja diguyur hujan.
“Sial!” umpatnya.
Ia ingin bangkit, tetapi tiba-tiba di depan matanya, tepatnya di balik semak-semak ia menemukan sesuatu yang membuatnya bergidik.
“Aaahh!” teriaknya.
***
Mobil Badi berhenti di depan sebuah kios rokok di pinggir jalan. Suasana jalanan tampak lengang karena baru saja diguyur hujan. Penghuni kota lebih memilih untuk berdiam diri di rumah yang hangat, daripada harus keluar berhujan-hujan. Badi turun dari mobil, membeli sekaleng minuman berenergi, sebungkus rokok, dan sebungkus roti manis. Sejak siang tadi, perutnya belum terisi makanan. Ia mendapat tugas dari Raymond untuk melacak alamat rumah isolasi itu. Saking sibuknya, ia bahkan lupa dengan kondisi perutnya yang menjerit minta diisi.
Sejak tadi, Badi hanya memutari kota, tak tahu hendak kemana ia pergi. Ia juga bingung kemana harus bertanya. Tak mungkin pula ia langsung ke kantor polisi dan menanyakan keberadaan rumah isolasi itu. Jadi kemana ia harus mencari informasi?
Melalui ponsel pintarnya, ia mencoba mencari-cari informasi. Ia membuka mesin pencarian lalu mengetik kata kunci ‘rumah isolasi polisi’. Sayangnya, usaha itu belum membuahkan hasil. Ia tidak menemukan informasi apa pun mengenai hal ini. Ia hampir putus asa, sambil duduk di sebuah bangku di pinggir jalan. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakan, menghisap dalam-dalam, dan mengembuskan asap dari mulutnya.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Pengemudinya keluar, membeli sebotol air mineral di kios rokok itu. Pengemudinya adalah seorang pria berkemeja rapi dan berjaket gelap. Sekilas, Badi merasa mengenali pengemudi itu. Ia menatap pria itu dalam-dalam. Badi merasa pernah melihatnya di TV dan..
Badi baru menyadari, ternyata pria yang dilihatnya itu adalah Dimas, salah seorang polisi yang menangani kasus pembunuhan Tari. Dimas rupanya baru saja pulang, setelah sebelumnya ia menyelidiki kediaman Gerry. Harapan Badi seketika muncul. Ia memang tidak akan memberi tahu kepada Dimas siapa sebenarnya identitas si pembunuh itu, tetapi ia ingin mengorek keterangan dari polisi ini, lokasi isolasi para tersangka pembunuhan itu.
Sementara Dimas sendiri juga merasa ia sedang diperhatikan oleh Badi. Setelah membeli sebotol air mineral seketika ia menoleh ke arah Badi. Ia langsung mengenali Badi adalah salah seorang anggota Raymond Brothers yang adiknya terbunuh beberapa waktu lalu.
“Hei, lagi menunggu seseorang?” tanya Dimas berbasa-basi.
“Eh, nggak Pak. Kebetulan habis beli rokok saja. Bapak ini ... Pak Dimas kan? Yang menangani kasus pembunuhan berantai itu?” tanya Badi berbasa-basi.
“Iya kamu benar. Aku masih ingat ... kamu pasti salah seorang anggota Raymond Brothers yang adiknya terbunuh itu. Apakah aku benar?”
“Oh, iya Pak. Saya Badi. Ngomong-ngomong. Lagi jalan saja atau menyelidiki kasus nih?”
“Oh, aku lagi jalan biasa saja sih. Kebetulan haus banget, jadi aku mampir beli minum di sini daripada mampir ke supermarket. Maaf Badi, kami belum bisa mengungkap pembunuh adikmu sebenarnya, tetapi kami terus berupaya agar pembunuh itu segera kami ringkus,” ucap Dimas.
“Oh tak apa, Pak. Ngomong-ngomong, sampai sejauh mana upaya penyelidikan itu, Pak? Apakah ini ada kaitannya dengan serangkaian pembunuhan berantai yang terjadi di kota ini?” tanya Badi.
“Kami masih mengumpulkan bukti-bukti di lapangan, tetapi sejauh ini kami sudah mengumpulkan banyak bukti. Jadi tinggal menguatkan saja. Sejumlah orang yang diduga terlibat dalam kasus ini juga sudah kami isolasi agar memudahkan penyelidikan. Semoga langkah ini adalah langkah tepat yang kami ambil,” terang Dimas.
“Isolasi, Pak? Di luar kota atau tetap di dalam kota saja?” pancing Badi.
“Untuk memudahkan koordinasi kami memilih lokasi di dekat kota saja. Memang agak terpencil tempatnya, tetapi kurasa itu adalah tempat yang sempurna untuk memisahkan para tersangka itu dari dunia luar.”
Badi manggut-manggut. Ia berpikir, kalau ia menanyakan di mana lokasi itu secara langsung, sudah pasti Dimas tidak akan memberi tahunya. Ia sedang berpikir bagaimana caranya agar polisi ini mau memberi tahu di mana lokasi isolasi sebenarnya.
“Oh, maaf. Aku harus segera pulang. Malam sudah cukup larut. Sepertinya aku harus segera beristirahat, karena besok pagi aku giliran tugas berjaga di rumah isolasi,” ucap Dimas.
“Bapak akan ke sana besok pagi?” tanya Badi.
“Ya, saya bergiliran dengan Pak Reno, dan besok adalah giliran saya. Doakan saja agar kami bisa segera membekuk pelaku dari segala kekacauan ini,” kata Dimas sambil membuka pintu mobil.
“Semoga segera ketemu pelakunya, Pak!”
Badi tidak berhasil memperoleh keterangan lokasi tempat isolasi itu dari Dimas, tetapi ada hal lain yang dipikirkannya. Untuk mencari tempat isolasi itu mungkin bukan hal mudah, tetapi bukankah alamat kediaman Dimas mudah untuk ditemukan?
Ia membiarkan mobil Dimas melaju menembus malam. Badi tahu apa yang harus lakukan. Ia akan membuntuti mobil Dimas esok hari, sebab polisi itu mengatakan bahwa ia akan bertugas ke lokasi isolasi. Sejenak, ia bisa bernapas lega. Paling tidak, ia tidak gagal sama sekali. Ia berharap bisa menemukan lokasi isolasi tersebut.
***
Raymond masuk kembali ke dalam kamar tempat gadis cantik itu disekap. Ia membawa sebungkus makanan dan sebotol air. Ia letakkan makanan dan botol air itu di atas meja.
“Makanlah! Aku tahu kamu lapar. Mungkin kamu mengenal kami sebagai orang jahat, tetapi kami tidak sejahat itu. Kami manusia biasa juga seperti halnya dirimu. Jadi nggak usah merasa takut. Kami tetap akan melayanimu dengan baik selama kamu di sini,” ucap Raymond.
“Jadi kapan kalian akan melepaskanku?” tanya gadis itu.
“Kapan akan melepaskanmu? Tenang saja. Kami tidak akan menyekapmu lama-lama di sini. Sebenarnya kami cukup kasihan padamu karena terpikat tipu daya si pembunuh itu tanpa imbalan apa-apa. Sekarang waktunya kamu membuka mata bahwa pembunuh itu bukan orang sembarangan. Jangan dikira kami tidak tahu latar belakangnya,” ucap Raymond.
Gadis itu hanya terdiam. Ia tidak berani menyangkal apa yang dikatakan Raymond. Dia memang benar. Sebenarnya ia cukup menyesal karena mau begitu saja menuruti keinginan si pembunuh itu untuk melakukan kejahatan. Ia menyesal karena telah menyewa mobil putih itu. Andai ia tahu kalau mobil putih itu akan digunakan untuk tindak kejahatan, tentu dia akan menolak.
“Kalau boleh, izinkan aku pulang besok,” lirih gadis itu.
“Ya, besok kami akan melepaskanmu, tapi dengan satu catatan tentunya,” ucap Raymond.
“Apa itu?”
“Jangan sampai kamu menghubungi si pembunuh itu lagi. Kalau dia tahu kami sedang memburunya, maka dia akan berusaha meloloskan diri dengan cepat. Anggap saja semua ini tak pernah terjadi, dan anggap kita tak pernah saling bertemu,” ucap Raymond.
Gadis itu mengangguk. Memang, ia tak berniat untuk menghubungi si pembunuh itu, karena ia sudah berniat untuk melepaskan diri dari kehidupan si pembunuh itu. Ia tidak ingin terkena imbas dari segala kejahatan yang dilakukannya.
“Jangan khawatir, kamu tidak akan disangkut-pautkan dengan kejahatan. Karena kamu menyewa mobil itu tanpa tahu-menahu untuk apa mobil itu dipakai kan? Walaupun begitu, tetap saja kamu bersalah karena menyewa mobil menggunakan identitas palsu. Pemalsuan identitas adalah salah satu tindak kejahatan,” lanjut Raymond.
Gadis itu hanya terdiam. Ia semakin merasa bersalah, tetapi ia tetap akan berusaha menghadapi segala konsekuensi yang akan diterimanya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Badi masuk agak tergesa. Parasnya menunjukkan kegembiraan, sehingga membuat Raymond sedikit heran.
“Kenapa Badi?” tanya Raymond.
“Kurasa kita akan menemukan lokasi isolasi si pembunuh itu!” ucap Badi dengan gembira.
“Oya? Dari mana kamu tahu? Apakah info yang kamu dapat itu valid?” tanya Raymond.
“Ya ... ya tentu saja ini valid! Aku dapat informasinya langsung dari Dimas, polisi yang menangai kasus ini. Memang dia tidak menginformasikan secara detail. Tetapi dia mengatakan bahwa besok pagi-pagi dia akan pergi ke rumah isolasi itu. Kurasa kita bisa buntuti mobil itu,” ucap Badi.
Raymond manggut-manggut. Ia juga turut gembira mendengar berita itu. Kalau saja apa yang diucapkan Badi benar, maka kesempatan untuk membekuk si pembunuh itu tinggal selangkah lagi.
“Besok ajaklah Arland untuk menemani. Besok aku akan mengantar gadis ini pulang,” ucap Raymond.
“Kamu akan melepasnya?” tanya Badi.
“Ya, dia juga korban dari kelicikan si pembunuh itu. Lebih baik kita kepaskan dia,” ucap Raymond.
“Tapi ... bagaimana kalau dia membocorkannya pada orang lain?”
“Aku jamin tidak. Tidak perlu khawatir!”
***