
Dalam sebuah ruangan yang pengap dan berdebu, Badi membuka mata perlahan. Ia menatap berkeliling. Ruangan itu terlihat asing, penuh dengan tumpukan kardus dan aneka barang. Kepalanya terasa pening. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat ia mengawasi gerak-gerik Gilda di halaman belakang. Namun beberapa saat kemudian ia merasakan sebuah benda keras menghantam kepalanya. Ia ingin meraba kepalanya, tetapi tiba-tiba ia terkejut. Tangannya tak bisa digerakkan karena terikat. Demikian pula kakinya. Ia hendak menoleh ke belakang, tetapi terasa sulit.
Ia menyadari ternyata pergelangan tangannya diikat menjadi satu dengan seseorang dengan menggunakan tali yang sama. Ia dapat memastikan bahwa wanita yang dibelakangnya adalah Gilda. Wanita itu terlihat masih lemas. Rupanya ia masih setengah sadar karena pengaruh obat bius yang dibekapkan di hidungnya. Gilda masih belum sepenuhnya pulih. Kepalanya masih terasa berat.
“Gilda! Gilda! Bangun!”
Badi memanggil-manggil nama perempuan yang pikirannya masih melayang-layang. Badi menggerak-gerakan tangannya, agar Gilda cepat tersadar.
“Kep-kepalaku pening banget .... “
Gilda mengeluh. Rupanya ia belum sepenuhnya manyadari kalau tangan dan kakinya terikat. Dilihatnya sekeliling, semua tampak asing. Udara pengap menyergap hidungnya. Suasana dalam ruangan ini agak gelap. Nyaris tak bisa dibedakan apakah siang atau malam.
“Manusia laknat itu menyekap kita di sini. Kita harus bisa meloloskan diri!” kata Badi dengan gusar.
“Kita di mana?” tanya Gilda dengan suara lemah.
“Aku juga tidak tahu kita ada di mana. Tetapi, sepertinya ini adalah ruang penyimpaan barang bekas. Mungkin sebuah gudang. Apapun itu nggak peduli, kita harus bisa keluar dari tempat ini!”
“Aku ... aku nggak bisa menggerakan tanganku!” keluh Gilda.
Pikirannya kini mulai pulih. Ia menggoyangkan tangan dan kakinya, tetapi rasanya susah karena dalam keadaan terikat. Gilda mulai panik.
“Aku nggak mau mati di sini, Badi! Aku nggak mau! Ini semua gara-gara rencana bodohmu itu! Kamu harus bertanggungjawab!” gerutu Gilda.
“Tenang Gilda! Tenang! Jangan panik seperti itu. Kita harus memikirkan cara agar kita bisa lepas dari sini. Ponselku sepertinya tidak ada di kantong. Pasti manusia jahanam itu telah mengambilnya. Aku tidak bisa menghubungi kawan-kawanku. Kita harus pakai cara sendiri agar kita bisa terbebas dari sini,” ucap Badi.
“Aku nggak mau tahu caranya, yang jelas aku nggak mau mati di tempat ini. Kamu harus berusaha agar kita bisa lepas dari sini!"
Badi terdiam. Ia memikirkan cara untuk bisa lepas dari ikatan yang membelenggu tangannya. Ia sudah berusaha meronta, tetapi ikatan itu terasa sangat susah dilepas. Tangannya terrasa perih karena bergesek dengan tali pengikat.
“Gilda, kamu dengar, kita akan akan pernah lepas kalau kita tidak bekerjasama. Kalau kita mau lepas dari ikatan ini, maka kita harus saling membantu,” ucap Badi.
Gilda mendengkus. Dalam hati, ia menyesal karena menuruti perintah dari Badi, sehingga kini ia malah terperangkap dalam gudang. Kini mau tidak mau ia harus bekerja sama dengan Badi agar bisa lepas dari ikatan yang membelenggunya. Ia tidak punya pilihan yang lebih baik.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Gilda.
“Kita akan bergeser sedikit demi sedikit ke arah pintu. Aku akan menendang-nendang pintu, semoga ada yang bisa mendengarnya, sehingga bisa meolong kita,” kata Badi.
“Bagaimana kalau pembunuh itu yang mendengarnya? Kalau pembunuh itu mendengar pintunya digedor-gedor dari dalam, tentu ia akan masuk lagi dan habislah kita!” ucap Gilda.
Ia sangsi dengan ide yang disampaikan oleh Badi.
“Kamu punya ide yang lebih baik, Gilda?”
Gilda terdiam. Ia tidak punya ide lebih baik dari itu. Dalam film-film aksi yang pernah ia tonton, melepas ikatan di tangan terlihat sangat mudah, tetapi mengapa ini sangat sulit? Ia melayangkan pandangan ke sekitar. Tak ada gunting, pisau, atau sejenisnya yang bisa dipakai untuk melepas ikatan.
Tak lama, mereka menggerekan tubuh mereka , beringsut perlahan ke arah pintu. Tentu ini bukan perkara mudah apalagi kaki dan tangan dalam keadaan terikat. Mereka bersusah-payah menggerakan badan ke arah pintu yang berjarak tak jauh dari tempat mereka terikat.
“Aku lelah sekali, Badi .... “
Gilda mulai mengeluh. Pergerakan mereka memang sangat lembat, padahal mereka sudah berupaya bergerak sekuat mungkin. Hal itu membuat Gilda menyerah.
“Jangan menyerah Gilda! Kalau kamu menyerah maka kita akan mati. Berusahalah!”
Badi memberi semangat kepada Gilda yang sudah mulai melemah semangatnya. Wanita muda itu menggeleng-gelengkan kepala. Perasaannya bercampur aduk antara kesal dan marah, sehingga tak menyadari air mata luruh di pipinya.
“Aku nggak bisa, Badi ... aku nggak bisa!” tangis Gilda.
“Ayo, kamu bisa! Pasti bisa! Tak ada yang bisa menyelamatkan kita kecuali kita sendiri. Kalau kamu menyerah, maka pembunuh itu akan mudah mendapatkanmu kembali. Kamu nggek boleh selemah itu. Ayo, mana semangatmu seperti saat kamu meliput berita!” Badi memberi semangat.
Gilda terdiam. Di sela rasa putus asa yang mendalam, keduanya kembali bergerak menuju pintu. Setelah berjuang dan bersusah-payah, akhirnya mereka tiba juga di depan pintu yang tertutup. Badi mengangkat kaki, kemudian menggedor pintu menggunakan kaki yang terikat.
Duuk ... duuuk ... duuuk!
Berulang kali Badi menjejakakkan kaki ke daun pintu yang tertutup, berharap ada orang lain yang mendengar suaranya. Hanya itu yang mereka bisa lakukan. Mungkin kemungkinan kecil ada orang yang mendengar usaha mereka,mengingat letak gudang yang agak jauh ke belakang. Walaupun begitu, Badi tak menyerah. Ia masi berusaha membuat suara pada pintu gudang.
“Sudah cukup, Badi! Sudah cukup! Ini semua sia-sia. Tak ada orang di sekitar bangunan ini. Mungkin manusia pembunuh itu akan mendatangi kita dan manghabisi nyawa kita. Aku sudah ttidak bisa berpikir lagi. Mungkin kita ditakdirkan mati di sini,” ucap Gilda perlahan di antara isak tangisnya.
“Gilda! Kalau kamu memang tidak mau berusaha. Diamlah! Aku tidak mau mati di sini dan aku tidak akan mati di sini. Aku Badi, anggota Raymond Brothers! Tak akan mudah menyerah begitu saja. Walaupun kamu memangis darah sekalipun, aku akan tetap berusaha. Jadi jangan berusaha melemahkan usahaku ini. Sebab sia-sia, aku akan terus berusaha, dengan atau tanpa dirimu. Paham kau!” gertak Badi pada Gilda.
Badi mulai tersulut emosi melihat Gilda yang seolah tak ada usaha untuk meloloskan diri dari gudang tersebut. Memang, ia merasa tak memerlukan bantuan Gilda, tetapi paling tidak wanita itu tidak mengoceh untuk melemahkan semangatnya. Gilda hanya diam. Ia kini tak lagi bersuara. Ia sudah tak dapat berpikir jernih. Mendadak semua semangat yang punyai seolah sirna begitu saja.
“Baiklah Badi ... lakukan apa saja yang kamu suka!”
“Aku tahu kamu takut Gilda. Aku juga takut. Kita sama. Tetapi paling tidak kita berusaha. Kalau saja pembunuh itu datang, dan kita masih dalam keadaan terikat begini, mungkin mudah saja bagi dia unuk menghabisi kita. Mudah sekali, Gilda. Aku paham itu. Dan aku juga mengakui, bahwa rencana yang kita susun tadi malam gagal total. Aku harus mengakui bahwa si pembunuh itu lebih cerdas daripada kita. Tapi kumohon kepadamu kali ini ... biarkan aku berusaha. Jangan lemahkan semangatku ini. Mungkin kamu benar, bahwa usaha ini sia-sia, dan mungkin kita akan mati di sini. Tapi paling tidak, aku tidak mati sebagai pengecut,” ucap Badi.
Gilda mengangguk. Ia sudah tak punya alasan lagi untuk menyanggah. Tiba-tiba, mereka mendengar suara pintu diketuk-ketuk dari luar. Semangat Badi kembali membara. Ia berharap bantuan akan segera datang.
“Toloong! Siapa saja di luar! Tolong kami!” teriaknya.
Suara ketukan itu berhenti, tak ada sahutan lagi. Badi menoleh ke arah Gilda.
“Kamu dengar suara ketukan itu tadi? Siapa yang berada di luar kira-kira?”
Gilda menggeleng cepat, karena ia tidak mempunyai gambaran mengenai apapun di luar sana. Badi kembali bersemangat menggedor pintu dengan menggunakan kakinya, berharap siapa pun bisa mendengar suara yang dihasilkan. Gilda merasa iba melihat itu, tetapi ia sendiri juga tak bisa bergerak leluasa. Ikatan itu mulai membuat tangan dan kakinya terasa nyeri. Ia hanya bisa berharap agar bisa segera lolos dari tempat itu.
***