Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXXXVII. The Window


Reno menyusuri rak demi rak, sesekali berhenti untuk membuka salah satu koleksi buku milik Anggara. Tak ada yang aneh. Anggara memiliki selera bagus dalam memilih bahan bacaan. Ia hampir mempunyai semua koleksi dari penulis terkenal. Termasuk penulis yang ditemukan tewas itu.


Selama ini, tentu Anggara tak menyadari bahwa penulis itu adalah darah dagingnya sendiri, hasil pernikahannya dengan Anjani. Lalu di mana kini saudara kembar si penulis itu?


Reno memeriksa semua isi ruang baca itu, tetapi seolah deretan buku yang tersusun rapi itu tak memberikan jawaban apa-apa. Semuanya tampak normal. Ia memutuskan untuk keluar dari ruang baca untuk bertemu Dimas. Siapa tahu, Dimas menemukan petunjuk lain.


Sayangnya, ia terkejut bukan kepalang. Saat dia membuka pintu ruang baca, pintu itu sama sekali tak bergerak seperti terkunci. Ya, mungkin ada seseorang yang mengunci dari luar. Apakah Helen yang melakukannya? Secara spontan, Reno memukul-mukul pintu.


Duk ... duk ...duk!


“Helen! Helen! Apa kamu di sana?” teriak Reno dari dalam ruang baca.


Teriakan itu tak mendapat respon siapa pun. Rasa khawatir menyelinap di hati. Ia berpikir bahwa ini adalah jebakan. Lalu apa alasannya? Dugaan bahwa ada sesuatu yang ganjil dalam kastil ini semakin menguat. Ia sudah menengarai dari kebohongan-kebohongan Helen. Kini, seolah semuanya diperkuat dengan terkuncinya ia dalam ruang baca ini.


Reno gelisah. Ia melihat keadaan luar dari jendela, tetapi yang terlihat hanya hamparan kebun teh. Ia mengeluarkan telepon genggam, tetapi tak ada sinyal yang tertangkap. Ia nyaris frustasi, tetapi ia berusaha tenang. Ia tak boleh gegabah. Panik hanya akan menjerumuskan dalam kebinasaan. Ia tarik napas dalam-dalam, mencoba berpikir jernih.


Ia kembali memeriksa jendela besar yang terbuat dari kaca dalam ruang baca itu. Mungkin satu-satunya keluar dari ruang baca ini harus memecahkan kaca tebal yang melapisi jendela. Ia sedang menganalisis kemungkinan itu. Dilihatnya jarak jendela dengan tanah yang cukup tinggi, tetapi sepertinya masih bisa dijangkau. Jendela besar ruang baca ini langsung tehubung dengan halaman samping kastil yang sepi. Tentu apabila ia menyusup ke situ, tak mudah diketahui keberadaannya.


Setelah berpikir beberapa menit, ia memutuskan untuk memecah kaca jendela. Segera ia ambil sebuah kursi kayu yang berat, kemudian ia hantam sekuat tenaga ke arah jendela.


Praaang!


Jendela kaca seketika pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang berserak di lantai. Reno membersihkan sisa-sisa kaca yang masih tajam di sekitar jendela, kemudian dengan hati-hati ia jejakkan kaki ke kisi jendela agar bisa meloncat keluar. Untuk langsung meloncat ke bawah, masih terlalu tinggi, sehingga mau tidak mau, ia harus merambati dinding ke jendela kamar yang ada di bawahnya.


Reno berpegangan erat agar tidak tergelincir. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai jendela di bawahnya. Untunglah, ia bisa mencapai jendela dan berpegangan di kisi jendela yang terbuat dari kayu. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan jeritan seorang wanita dari dalam kamar. Reno terkejut. Dari luar, ia bisa melihat seorang wanita muda yang berbalut handuk, terlihat sehabis mandi.


“Siapa kamu! Pergi! Kamu mau mengintip kan? Cepat pergi atau kupanggilkan polisi!” ucap wanita berbalut handuk itu.


“Maaf, maafkan aku. Aku tidak bermaksud ngintip. Maaf. Aku sedang mencari jalan keluar dari sini. Bisakah kamu bantu aku temukan jalan keluar?” ucap Reno sambil memalingkan muka.


“Jalan keluar? Kamu siapa? Aku nggak pernah lihat kamu di kastil ini?” tanya si wanita penuh selidik.


“Aku ... aku Reno Atmaja dari kepolisian. Kalau kamu berkenan, bisa minta tolong untuk buka jendela ini. Maaf, aku tidak akan bermaksud buruk.”


“Polisi? Astaga! Sepertinya mustahil ada polisi lain di kastil ini. Bagaimana bisa kamu buktikan bahwa dirimu benar-benar seorang polisi?”


“Aku akan tunjukkan kartu keanggotaanku. Tapi saat ini, bergerak pun susah karena harus bergelantungan di jendela. Bisakah kamu bukakan jendela untukku? Kumohon. Aku bersumpah tidak akan berlaku buruk, dan aku juga bukan orang jahat!” ucap Reno dengan mata memelas.


Wanita berselimut handuk itu luluh juga menatap mata Reno. Firasatnya mengatakan bahwa pria yang bergelantungan di jendela kamarnya itu bukanlah orang jahat. Ia membuka jendela kamarnya, dan membantu Reno untuk masuk ke dalam.


“Terima kasih banyak atas bantuanmu. Maaf, maafkan aku. Kamu boleh berpakaian, apabila tidak keberatan,” ucap Reno sambil memalingkan muka.


“Oh, iya maaf. Tunggu sebentar,” kata perempuan muda itu.


Sebentar kemudian, ia masuk ke dalam kamar mandi, dan keluar lagi dalam keadaan berpakaian. Wanita itu menatap Reno dengan heran, tak habis pikir seorang polisi bergelantungan di jendela kamarnya untuk mencar jalan keluar.


“Kamu bisa ceritakan, apa yang terjadi sebenarnya?” tanya wanita itu.


“Oh, iya. Maaf aku mengganggumu. Aku Reno Atmaja yang sedang menyelidiki sebuah kasus. Kurasa kasus itu ada hubungannya dengan Anggara Laksono. Maka aku datang ke sini untuk mencari dia.


Sayangnya Anggara Laksono tidak ada di tempat, hanya Helen yang menemui. Kemudian aku diarahkan untuk ke ruang baca. Sayangnya, aku terkunci dalam ruangan itu, sehingga aku terpaksa memecahkan kaca jendela, dan selanjutnya seperti yang kamu lihat, aku tersesat di kamarmu,” terang Reno.


“Oh astaga! Pasti Helen yang melakukannya! Dari awal aku sudah curiga!” ucap perempuan itu.


“Oh iya, maaf. Aku Maira Susanti. Seorang penulis yang diundang oleh Anggara Laksono di kastil ini.”


“Maira? Namamu seperti tak asing. Aku membaca novelmu tadi di ruang baca,” ujar Reno.


“Ya, itu aku.” Maira terlihat tersipu.


“Bisakah aku menanyaimu beberapa hal? Maaf, aku sangat butuh keterangan,” kata Reno.


“Tentu. Tetapi jangan keluar, karena Helen pasti akan curiga. Kita mengobrol di sini saja. Apa kamu keberatan?”


“Ya, kita mengobrol di sini saja!”


***


Elina mendekati sebuah bilik, ke tempat asal suara yang memanggil namanya. Ia melihat gembok tergantung di pintu. Elina mengintip dari balik jeruji untuk memastikan siapa yang memanggil namanya.


“Aku di sini, Elin. Bisakah kamu buka gembok pintu itu?” Terdengar suara dari balik pintu.


“Tiara? Kamu kah itu?” tanya Elina.


“Iya, Elin. Ini aku. Seseorang berjubah hitam mengunciku dalam bilik ini selama berhari-hari. Bisakah kamu tolong aku?”


“Oh, tentu saja Tiara. Aku akan buka gembok ini,” ujar Elina.


Ia segera memeriksa gembok yang tergantung di pintu. Elina terkejut, karena gembok itu hanya tergantung, tidak dikunci. Ia berpikir, apakah mungkin si penculik itu lupa menggembok pintu?


“Gembok ini tidak dikunci, Tiara! Aku bisa membukanya dengan mudah!” ucap Elina dengan senang.


“Benarkah? Kok bisa? Jangan-jangan sosok itu lupa menggembok pintunya. Beruntung sekali aku. Lekas buka pintunya!” perintah Tiara.


“Baik Tiara!”


Tanpa menunggu perintah dua kali, Elina mengambil gembok yang hanya dikaitkan itu. Ia membuka pintu bilik, mendapati Tiara yang tersenyum senang.


“Untung ada kamu Elina, aku takut sekali. Aku hampir gila dalam bilik itu!” ucap Tiara. Spontan ia memeluk Elina.


“Aku juga senang kamu selamat, Tiara. Tapi aku harus menolong Pak Dimas. Dia sedang berusaha membuka bilik di sana. Aku akan mengambilkan linggis untuknya,” ucap Elina.


“Dimas? Siapa dia?”


“Polisi yang baru tiba dari kota. Aku akan mengambilkan linggis untuknya."


“Oh, maaf. Aku nggak bisa nolongin. Badanku terasa letih. Aku akan balik ke kamarku saja untuk beristirahat, Elin. Kamu nggak apa-apa kan kutinggal?”


“Ya, kamu perlu istirahat Tiara. Tak apa. Tinggal saja. Aku bisa mengatasinya kok,” ucap Elina.


Tiara tersenyum, kemudian berlalu dari pandangan Elina.


***