Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
360. Empat Nama


Dimas bergerak cepat setelah mendapat informasi dari Mariah. Ia segera menelusuri data seputar keluarga para tamu yang saat ini masih berada di kastil. Arsip-arsip keluarga, bahkan salinan foto keluarga langsung ia gandakan. Ia mendapatkan semua dokumen itu dari pihak-pihak terkait. Ia hanya ingin mengetahui riwayat dan silsilah keluarga mereka dengan lebih mendetail.


Rencananya, besok pagi ia akan segera kembali ke kastil. Ia berusaha menuntaskan segala dokumen malam ini juga. Arsip-arsip yang diperlukan telah lengkap. Ia menyusunnya dengan rapi di atas meja kerja, memeriksa setiap lembar dengan teliti. Mariah mengatakan kalau kemungkinan sahabat Suci ini mempunyai latar belakang keluarga yang mirip dengan Suci sendiri. Suci dibesarkan oleh seorang orang tua tunggal, dan ia tidak mempunyai saudara. Ia memeriksa dengan cermat, termasuk surat kematian apabila ada.


Bukan waktu sebentar untuk mengumpulkan data, apalagi data itu masih berupa arsip yang bertumpuk. Ia tidak sempat lagi untuk mencari makan siang di luar. Untunglah, di lemarinya ia masih menyimpan mi instant dalam kemasan cup. Sehingga ia bisa langsung menyeduh dengan air panas. Ia hanya memakan mie, untuk mengganjal perutnya yang kosong. Waktu berlalu tanpa terasa. Bahkan ketika hari sudah menjelang sore, ia masih berkutat dengan tumpukan dokumen itu. Yang ia cari belum juga ketemu. Bahkan ia merasa buntu, karena masing-masing dari penghuni itu, semua bukan anak tunggal. Masing-masing dari mereka mempunyai saudara.


"Baiklah, mungkin sahabat Suci ini bukan anak tunggal. Tapi mungkin dia dibesarkan oleh seorang ibu tunggal," gumam Dimas.


Dimas tak menyerah begitu saja, sekali lagi ia telusuri kartu keluarga masing-masing, namun sekali lagi ia mendesah kecewa. Para tamu kastil itu semua mempunyai keluarga yang lengkap. Di kartu keluarga tertulis nama ayah dan ibu mereka dengan jelas. Namun, siapa yang tahu apabila ada kejadian tak terduga di balik itu, yang tak terekam di dokumen apa pun. Untuk melacak langsung ke masing-masing keluarga, rasanya tidak mungkin karena waktunya tidak akan cukup. Ia harus segera kembali ke kastil, karena kondisi di kastil masih sangat rawan akan kejadian buruk. Dimas harus putar otak untuk menyingkap tabir ini.


"Aku akan melacak para tamu perempuan saja, minus Mariah dan Lidya," gumamya.


Ia menuliskan daftar nama pada catatan, empat nama perempuan yakni, Lily, Nadine, Rosita, dan Maya. Waktu yang serba terbatas membuat dia harus memilih. Ia memutuskan untuk meneliti hanya empat nama ini. Tanpa membuang waktu lama, ia menyingkirkan data-data yang tidak relevan. Kini ia punya empat nama yang harus ia pelajari lebih lanjut. Masing-masing dokumen ia pisah ke dalam sebuah map, agar lebih mudah untuk mencari.


Setelah meneliti kartu keluarga dan dokumen lain, kini Dimas harus kembali turun ke lapangan, mengecek langsung kondisi keluarga mereka yang sebenarnya. Rencananya, ia akan mengunjungi satu-persatu kediaman keluarga para tamu perempuan ini, dan menanyakan langsung hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Ia akan lebih fokus untuk mencari data keempat nama itu.


***


Setelah mendengar suara-suara aneh di dalam hutan, Ryan memutuskan untuk kembali berjalan ke arah air terjun. Ia ingin mendinginkan diri barang sejenak. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, ia sampai di kawasan air terjun. Ia berdiri di tepi sungai sembari menatap derasnya aliran air yang jatuh menimpa bebatuan di bawahnya, Suara air terjun begitu gemuruh, tetapi mendamaikan. Ryan menghirup napas dalam, ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam sungai yang mengalir, agar pikirannya sedikit lebih tenang. Penyesalan selalu datang terakhir. Ia yang memulai semua menjadi terlihat rumit seperti ini. Kini ia harus bisa menerima semua kenyataan yang terjadi..


Penyesalan memang selalu datang di akhir. Ryan hanya bisa merutuki nasibnya. Seharusnya ia tak perlu bertemu Maya, sehingga urusan tidak panjang seperti ini. Namun, ia sebenarnya memang tidak yakin dengan berita kehamilan wanita itu. Ia menduga, Maya tengah menciptakan suatu kebohongan agar ia tak meninggalkan Maya begitu saja. Maya telah  menggunakan cara kotor untuk mengancam. Apapun itu, kini masalahnya dengan Maya mulai membebani pikiran.


Ryan tak mau lagi berlarut-larut memikirkan masalah itu, Segarnya air terjun yang terpercik di badannya, membuat ia tergoda untuk turun ke sungai dan menceburkan diri di sana. Ia melihat sekeliling, sepi sekali di sekitar air terjun. Rasanya malu juga kalau ia melepas pakaian, sementara ada orang lain di sekitar tempat itu. Ia mulai menanggalkan baju dan celana, hingga tersisa celana kolor warna biru. Perlahan ia turun ke dalam air.


"Buset! Dingin juga ya!" gumamnya.


Ia berkali-kali menenggelamkan kepala ke dalam sungai, dan menyembulkannya beberapa detik kemudian. Tak terasa waktu terus berjalan, sampai kemudian ia merasa lapar. Rasa dingin seperti ini membuatnya lebih cepat merasa lapar. Ia segera naik ke tepi sungai untuk mengeringkan badan. Ia mencari baju dan celananya, tetapi ia tak menemukan lagi di sana. Padahal ia yakin, tadi meletakkan pakaian di balik batu besar. Namun, mengapa sekarang tidak ada?


"Siapa yang mengambil? Masa ada yang mengambil?" gumamnya.


Ryan memalingkan pandangan ke sekeliling hutan, tetapi tak ada siapa-siapa di sekitar tempat itu. Ia heran, mengapa pakaiannya bisa menghilang? Tidak mungkin ia kembali ke kastil dalam keadaan tanpa busana seperti ini. Ia mencari ke sekitar tempat itu, siapa tahu baju dan celananya diembunyikan oleh monyet atau binatang hutan yang lain.


Ia mencari dengan teliti, tiap celah dan semak ia periksa, tetapi pakaiannya tak ia temukan. Lama-lama, ia merasa kesal. Entah mengapa tiba-tiba dalam pikirannya ia sedang dikerjai. Pasti ada seseorang yang iseng yang mengambil pakaiannya. Ia langsung teringat akan seseorang.


"Pasti kamu! Aku yakin kamu yang melakukan semua ini!" gumam Ryan.


Ia langsung melangkah menuju dalam hutan. Tujuannya adalah pondok reyot di tengah hutan yang lama tak ditempati. Firasat Ryan mengatakan bahwa  baju dan celananya dibawa oleh seseorang ke dalam pondok itu. Lagipula, ia juga sangat yakin dengan identitas pelaku yang ia curigai mengambil pakaiannya.


Ia melangkah dengan perasaan gusar dan marah. Rasanya ia ingin memaki-maki si pelaku, dan menumpahkan segala kekesalan yang ia rasakan. Pondok itu sudah terlihat di depan. Seperti biasa sunyi-senyap. seperti tak ada kehidupan di sekitar. Namun, Ryan merasa yakin bahwa di pondok ini pakaiannya tersimpan.


"Jangan main-main denganku. Aku tahu kau pelakunya!" gumam Ryan.


Perlahan, ia mendekati pintu pondok yang usang. Agak ragu ia membukanya, tetapi ia bersikap waspada. Terlintas di pikirannya bahwa dia akan dicelakai. Namun, kemudian ia menggeleng.


"Tak mungkin .... " gumamnya.


Walau sedikit khawatir, Ryan membuka pintu pondok itu.


***