
Ammar menyusur lorong yang gelap dengan lampu penerangan yang ia bawa. Tadi ia sempat melihat sosok berkelebat, tetapi menghilang begitu cepat. Ia penasaran, siapa sebenarnya sosok berkostum hitam itu. Lorong begitu sunyi, hanya pintu-pintu bilik yang berderet, menampakkan kesan seram. Ammar bersikap waspada. Pengalamannya di dunia kriminal selama bertahun-tahun, membuat instingnya semakin terlatih. Ia bisa mendeteksi adanya bahaya yang mendekat, atau sesuatu yang tak beres di sekitarnya.
Suara tetes-tetes air terdengar entah dari mana. Ammar memasang telinga lekat-lekat, berusaha mendeteksi suara yang terdengar sangat halus. Kali ini, ia merasakan ada yang tak beres di ruang bawah tanah. Di antara suara tetesan air, Ammar dapat mendengar seperti suara tangisan yang di tahan, namun terdengar sangat lirih. Ammar menduga, suara itu berasal dari salah satu bilik yang ada di lorong, tetapi ia tidak dapat memastikan di lorong sebelah mana. Ia hanya mengikuti insting, yang mengarahkan langkahnya menyusur lorong.
"Kemana pula si Juned? Mengapa ia menghilang begitu saja?" gumam Ammar.
Ammar berhenti di depan sebuah persimpangan. Kini, ia dapat merasakan suara tangisan tertahan itu semakin jelas. Seperti suara isakan seorang wanita, yang lokasinya tak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Suara-suara kecil di lorong itu terdengar bergema, sehingga ia tidak bisa memutuskan untuk pergi ke lorong sebelah kiri atau kanan. Ia kembali mengandalkan pendengarannya dengan saksama. Ia mencoba berkonsentrasi sambil memejamkan mata. Ia mencoba lebih fokus mendengarkan dengan bantuan angin yang berdesir perlahan, membuat suara isak tangis itu semakin jelas
"Kanan!" gumamnya.
Ammar merasa yakin bahwa suara isak tangis itu berasal dari arah kanan. Ia yakin, suara itu adalah suara manusia, bukan suara misterius yang banyak digembar-gemborkan sebagai suara makhluk tak kasat mata penghuni ruang bawah tanah. Ia melangkah dengan penuh percaya diri menyusur lorong yang gelap di sebelah kanan. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah bilik dengan pintu yang terbuka, yang letaknya agak di ujung. Suara isak tangis itu sepertinya berasal dari sana.
Setengah berlari Ammar menghampiri bilik yang pintunya terbuka itu. entah mengapa dadanya berdegup, seperti mengenali suara isakan tangis itu. Dalam pikirannya, tiba-tiba ia teringat akan Mariah. Ia berharap bahwa yang sedang ia dengar isakan tangisnya itu adalah Mariah.
Sesampai di depan bilik, ia melihat di dalamnya, seorang wanita muda terikat di kursi dengan paras lelah dan berantakan. Sementara di lantai bawahnya, seorang pria terbaring tak bergerak. Jelas Ammar mengenal siapa wanita muda itu. Ia bergumam lirih.
"Mariah .... "
***
Edwin menuang air panas ke dalam cangkir-cangkir keramik berwarna putih, kemudian mengambil setoples gula. Sengaja ia tidak menambahkan gula pada cangkir-cangkir teh itu, agar para penghuni lain dapat menambahkan sesuai selera. Ia hampir siap dengan teh, sementara Reno berdiri memandang arah beranda belakang dari jendela dapur.
Dapur masih dalam keadaan gelap, karena jaringan listril di area kastil masih belum normal. Suasana terlihat remang-remang diterangi dua cahaya lilin yang berpendar dalam gelap. Reno membantu menerangi dengan menyorotkan senter di sekitar dapur.
"Pak Reno sudah tahu kan?" tanya Edwin.
"Tahu apa maksudmu?" Reno balik bertanya.
"Pelaku sebenarnya dari semua kekacauan ini," jawab Edwin.
"Ya, tentu aku tahu, tapi semua kuserahkan pada Dimas, agar bisa menangani kasus ini. Nanti kau juga akan tahu. Tak perlu bertanya siapa pelaku itu kepadaku. Biarlah menjadi kejutan di ruang baca sana. Soapa pun itu, dia adalah orang yang sangat keji, karena sanggup membunuh sahabat-sahabatnya sendiri," ucap Reno.
Edwin hanya manggut-manggut. Percakapan mereka terhenti ketika dari arah tingkap yang menuju ruang bawah terdengar suara mencurigakan, seperti suara langkah kaki seseorang. Reno langsung waspada. Ia menyorotkan senter ke arah tingkap, mendapati dua orang pria yang terlihat bersusah-payah keluar dari tingkap. Reno segera tahu bahwa yang datang adalah Juned sedang memapah Ryan yang dalam keadaan lemah.
"Astaga! Apa yang terjadi?" tanya Edwin.
"Cepat kau bawa ke kamar dan biarkan istirahat. Ed, ambilkan secangkir teh panas untuk dia. Kurasa dia mengalami dehidrasi dan kelaparan," ucap Reno sambil membantu Juned memapah Ryan.
"Sekarang mari kita ke ruang baca! Firasatku mengatakan ada hal yang tak beres! " bisik Reno.
***
Ruang baca diselimuti asap tebal, karena ada tiga bom molotov yang sengaja dilempar pelaku misterius dari jendela. Para wanita menjerit-jerit karena panik. Suasana juga gelap karena semua lilin yang ada di ruang baca telah padam. Akibatnya, mereka tak dapat melihat sekitar dengan baik. Selain itu, asap yang tebal juga membuat mata pedih dan tenggorokan kering, sehingga mereka terbatuk-batuk.
"Tetap tenang! Tetap tenang! Jangan panik!" ucap Dimas berusaha menenangkan para wanita itu.
Ia mengeluarkan sebuah lampu senter, kemudian mengarahkan ke sekitar, tetapi yang ia lihat hanya asap yang bergulung-gulung. Mata Dimas juga terasa pedih. Tentu ia harus tetap bergerak, tak boleh menunggu sampai asap menghilang, karena apabila ia lengah, kondisi bisa fatal.
Asap dari bom molotov ini tentunya bukan asap biasa. Para penghuni kastil bisa merasakan dada mereka terasa sesak, serta mata mereka perih dan berair. Siapa pun pelakunya, pasti ia ahli dalam merakit bom molotov. Namun, apa tujuannya ia melempar bom itu ke jendela?
"Aku nggak bisa lihat apa-apa! Sesak sekali dadaku," keluh Rosita.
"Aku juga," sambung Lily.
"Kalian jangan panik dan sebaiknya tetap di tempat. Aku akan berusaha ke situ. Kalau kalian bisa, bergandengan dengan siapa saja yang kalian temukan!" perintah Dimas.
Para wanita itu menurut, mereka merayap sambil memegang apa saja yang ada di sekitar. Hal ini memang tak disia-siakan oleh Nadine. Kekacauan ini segera dimanfaatkan dengan baik. Ia sadar, bahwa posisinya telah terpojok, sehingga diam-diam ia merayap mencari lukisan, kemudian menarik tuas di baliknya.
Greeek!
Lemari pada dinding terbuka, dan ia bersiap kabur ke ruang bawah tanah melalui pintu rahasia itu. Namun, Dimas dapat mendengar pintu rahasia itu terbuka. Segera ia mengambil pistol yang ia selipkan di pinggang, menuju arah pintu rahasia sambil berteriak.
"Jangan coba-coba kabur, Nadine. Aku tak segan-segan menembakmu! Aaah! Dasar asap sialan!" keluh Dimas.
Ia merasakan asap yang membuat matanya terasa perih, tetapi sekuat mungkin ia tahan. Dalam kegelapan, ia bisa melihat sesosok hitam yang bergerak cepat menuju pintu rahasia. Dimas tak mau main-main dengan ucapannya,, ia mengarahkan pistol ke pintu rahasia itu, walau tak dapat melihat dengan jelas.
Door!
Suara tembakan meletus dari pistol Dimas. Para wanita berteriak, terkejut mendengar suara tembakan itu. Dimas terus memburu Nadine sampai ke pintu rahasia. Sesampai di depan pintu rahasia, ia merasa sedikit nyaman, karena asap mulai menipis. Ia memicingkan mata ke arah lorong gelap di depannya, berharap masih mengejar Nadine yang masuk ke dalam lorong bawah tanah. Sayangnya, Nadine sudah menghilang!
***