Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
158. Pertolongan


Badi masih berdiri dalam kegamangan di depan pintu apartemen, sementara Arland menunggu perintahnya. Perasaan Badi tengah dipermainkan. Di satu sisi, ia masih belum sepenuhnya merelakan kematian Tari, adiknya, sedang di sisi lain jiwa kemanusiaannya seolah meronta. Ia terbayang, Nayya juga seorang wanita, sama seperti adiknya. Mungkin terlalu berlebihan kalau ia menyalahkan Nayya sebagai penyebab kematian Tari.


Sejenak kemudian, ia menoleh kepada Arland.


“Kita tidak akan dobrak pintu ini, tetapi kita akan buka secara paksa. Kita sudah berpengalaman membuka berbagai macam model pintu. Apartemen ini masih menggunakan pintu model konvensional, bukan model kartu. Tentu akan lebih mudah kita buka,” kata Badi.


“Jadi kita akan menolong gadis itu?” tanya Arland.


Badi mengangguk seraya berkata,” Sekarang ambilah seperangkat obeng yang biasa kubawa kemana-mana di jok motor. Awas! Jangan sampai ketahuan petugas keamanan. Bersikap biasa saja, agar tidak menimbulkan kecurigaan,” ucap Badi.


Arland mengangguk, ia segera turun untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Badi.


Sementara di dalam apartemen, Nayya menghela napas penuh kelegaan. Setelah sekian lama, akhirnya ada seseorang yang membantu dia lolos dari cengkeraman pembunuh berantai itu.


Tak lama, Arland kembali dengan membawa satu set obeng dalam sebuah kotak. Badi bertindak cepat. Ia bergerak cekatan membuka pintu. Sepertinya, ia memang sudah terbiasa dengan urusan membobol pintu. Tak perlu diragukan, The Raymond Brothers adalah dedengkot alias orang lama dalam dunia hitam. Hanya saja, namanya seolah tak tersentuh pihak berwajib. Namun siapa sangka, di balik kelamnya dunia mereka, ternyata mereka masih mempunyai nurani sebagai manusia?


Tak sampai 30 menit, pintu apartemen sudah bisa dibuka. Dua pria itu mendapati seorang gadis yang tampak pucat dan kacau. Rambutnya terlihat acak-acakan, dengan tubuh kurusnya yang dibalut pakaian kotor. Sementara dua bola matanya tampak sayu, sedikit sembab karena banyak menangis. Nayya, gadis itu, menatap dua pria itu dengan tatapan penuh harap.


“Astaga! Kamu ... kamu nggak apa-apa?” tanya Badi pada Nayya.


Gadis itu hanya menggeleng lemah. Ia tak perlu menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Apa yang ada di hadapan mata sudah cukup menjelaskan apa yang sebenarnya berlaku dalam ruangan itu. Badi melihat isi apartemen yang kotor dan berantakan. Bahkan ia sama sekali tidak menyangka kalau gadis ini hanya menggunakan selembar kain sebagai alas tidur. Sontak, rasa iba menyeruak.


Ia bantu gadis itu untuk segera turun dengan lift menuju tempat parkir. Untungnya, situasi apartemen sangat sepi sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Sayangnya mereka tak membawa mobil, sehingga agak bingung untuk mengamankan Nayya.


“Kita telepon Bang Ray aja untuk jemput gadis ini,” saran Arland.


“Bailkah. Aku akan coba telepon Raymond,” ujar Badi.


“Kita ... kita harus segera lapor polisi. Aku tahu siapa dalang semua kejahatan ini.”


Nayya berbisik lemah, tetapi Badi segera menggeleng.


“Tidak! Aku nggak mau polisi turut campur urusan ini. Aku akan tangkap pembunuh adikku dengan tanganku sendiri, dan menghukumnya. Polisi hanya akan menangkapnya, dan menghukum selama beberapa tahun di penjara. Aku ingin pembunuh itu merasakan penderitaan yang sama dengan yang dialami oleh Tari. Hutang nyawa dibalas nyawa!” geram Badi.


“Jadi ...?”


Nayya bertanya karena penasaran.


“Untuk sementara kusarankan kamu tidak pulang ke rumah, karena pembunuh itu sudah pasti akan tahu dan melacakmu kesana. Itu sangat membahayakan keluargamu yang lain. Sebaiknya kamu tinggal bersama kami saja sementara waktu. Kampung Hitam jauh lebih aman, daripada kediamanmu,” saran Badi.


“Tapi .... “ Nayya merasa ragu-ragu.


Bagaimanapun, ia tidak terlalu mengenal pria-pria garang itu. Bagaimana mungkin ia bisa tinggal bersama mereka? Rupanya apa yang sedang dipikirkan Nayya terbaca oleh Badi. Pria garang itu tersenyum.


“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Yah, kami sadar bukan orang baik-baik, tapi kamu harus percaya bahwa kami sedikit pun tidak akan menyentuhmu, apalagi menyakitimu. Bagiku pribadi, karena aku punya adik perempuan, maka penting bagi aku untuk menempatkan perempuan secara terhormat,” ucap Badi tegas.


Nayya terpana. Ia tidak menyangka rentetan kalimat itu keluar dari mulut seorang Badi. Selama ini ia dikenal sebagai anggota dari Raymond Brothers yang namanya cukup dikenal di dunia hitam. Untuk sejenak ia merasa ragu, tetapi ada satu kekuatan lain yang mendorongnya untuk mempercayai ucapan Badi. Mungkin pria itu benar, untuk saat ini yang penting ia selamat terlebih dahulu. Kalau ia pulang ke rumah tentu akan membahayakan keselamatan yang lainnya.


***


Setelah berkeliling melihat sekitar rumah, para anak muda dipersilakan untuk makan siang. Bu Mariyati menyiapkan hidangan sederhana tapi cukup menggugah selera. Sayur asam, sambal terasi, dan ikan mas goreng yang terasa lezat. Semua berkumpul di ruang makan, tak sabar menikmati hidangan yang sudah disediakan.


“Ini adalah makan siang ternikmat yang pernah kurasakan. Padahal sudah puluhan kali aku menikmati sayur asam, tetapi mengapa ini terasa sangat nikmat ya?” celetuk Rudi.


Ia memang terlihat sangat menikmati makanannya. Bahkan terlihat peluh meleleh dari kening, karena saking bersemangat menikmati hidangan.


“Mungkin karena kita makan bersama-sama, jadi terasa lebih nikmat,” timpal Lena sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut.


“Jadi setelah ini apa kegiatan kita? Menunggu makan malam, kemudian tidur? Apakah itu yang akan kita lakukan setiap hari?” tanya Alex.


“Untuk malam ini, yang akan bertugas mengawasi kalian adalah Reno, sedangkan saya akan bertugas besok pagi. Kami akan bergantian setiap hari. Selama dalam isolasi ini kuharap kalian menjaga kesehatan. Kami masih tetap menyelidiki seperti biasa, dan akan memanggil kalian untuk dimintai keterangan,” terang Dimas.


Semua mengangguk. Tak ada lagi yang hendak ditanyakan. Sejujurnya rasa khawatir dan cemas menghantui perasaan tiap anak muda itu, tetapi mereka berusaha untuk tenang.


“Bolehkah kami berjalan-jalan di sekitar rumah ini? Kurasa cuacanya sangat asik untuk jalan-jalan sore sambil menikmati pemandangan,” tanya Miranti.


“Kusarankan jangan. Kalian tidak tahu-menahu daerah sekitar sini. Bisa jadi kalian tersesat, atau mungkin berada dalam kesulitan. Kusarankan kalian tetap di dalam rumah, atau boleh saja keluar apabila berkenaan dengan hal-hal penting, tapi dengan seizin kami," ucap Dimas.


Miranti mengangguk tanda mengerti.


Selepas makan siang, kebanyakan para anak muda memilih untuk beristirahat di dalam kamar, karena merasa penat. Hanya saja, Miranti merasa bosan berada di dalam kamar. Dalam hati, ia meremehkan pesan dari Dimas. Ia keluar kamar, menuju halaman belakang.


“Ah, kan jalan-jalan di sekitar sini saja. Masa nggak boleh? Bodo amat dengan izin!” gumamnya.


Ia mengendap lewat pintu belakang, berharap tak ada seorang pun melihat kepergiannya. Bagian belakang rumah dibatasi dengan tembok yang sudah berlumut. Tembok itu membatasi dengan areal kebun yang tak terawat di belakang.


Sedikit berjingkat Miranti menuju pintu. Namun, belum sempat ia keluar, terdengar suara menegurnya.


“Mau kemana, Neng?”


Miranti berbalik badan, melihat Bu Mariyati yang tiba-tiba saja ada di tempat itu.


“Eh, anu Bu ... saya hanya ingin melihat area belakang sebentar. Bosen banget di dalam kamar. Boleh kan?” pinta Miranti.


“Tapi terlalu berbahaya, Neng. Banyak sumur tua yang nggak tertutup. Lebih baik di dalam rumah saja,” saran Bu Mariyati.


“Jangan khawatir, Bu. Saya nggak akan jauh-jauh kok. Hanya melihat sekitar sini, terus balik,” ucap Miranti beralasan.


Bu Mariyati tak dapat mencegah kepergian gadis itu. Miranti segera keluar dari pintu belakang, pergi menuju areal di belakang rumah yang sepi.


***