Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
385. Di Luar Dugaan


Juned membawa Ryan ke sebuah kamar, agar pria itu bisa segera istirahat. Kondisi Ryan memang masih tampak lemas dan pucat, sehingga memerlukan waktu untuk memulihkan diri. Sebelum Juned pergi, Ryan menyerahkan sebentuk kalung dengan liontin berbentuk hati, yang ia temukan saat di tenda darurat di tengah hutan.


"Kalung siapa ini?" tanya Juned penasaran.


"Buka saja liontinnya, dan kamu akan tahu kalung itu milik siapa!" jawab Ryan.


Juned membuka liontin berbentuk hati itu, melihat seraut wajah dalam foto yang tersimpan di dalamnya. Ia terkejut, mendapati foto seorang perempuan  dalam liontin itu.Ia berusaha mengingat-ingat wajah perempuan ini, karena sepertinya tidak asing.


"Ini kan .... "


"Iya, itu adalah Stella. Aku menemukan kalung itu di sebuah tenda darurat di hutan. Saat itu ada orang yang mencuri pakaianku di air terjun, sehingga aku harus mencari hingga ke pondok di tengah hutan. Malangnya, seseorang mengunciku dari luar, di dalam sebuah bilik. Aku bertahan sampai malam, berharap ada yang menolongku. Aku merasa sangat putus asa, dan kupikir aku akan mati. Hingga pada waktu itu ada sosok berkostum serba hitam membuka paksa pintu bilik, dan menyuruh diriku untuk mengikutinya menembus hutan di tengah malam, menuju ke sebuah tenda darurat," terang Ryan.


"Kemu mengenali sosok itu?" tanya Juned lagi.


"Tidak, aku tidak mengenalinya. Tapi kurasa dia tidak ada niat untuk membunuhku, karena dia menyediakan tempat tidur dan makanan buatku selama di tenda darurat. Awalnya aku tidak tahu siapa sosok ini, tetapi saat pagi aku menduga bahwa sosok ini adalah Stella, karena aku menemukan kalungnya dalam tenda darurat," lanjut Ryan.


"Bukanlah Stella masih menghilang hingga saat ini?" tanya Juned.


"Ya, Stella memang menghilang, tetapi tak ditemukan bahwa ia telah mati, bukan? Setahuku Stella ini adalah wanita yang suka berpetualang di alam. Mungkin Stella bertahan di hutan dengan membuat tenda darurat. Entahlah, aku tidak tahu. Yang jelas sosok itu tidak punya niat jahat padaku, padahal kalau dia mau, dia bisa bunuh aku kapan saja," kata Ryan.


Juned manggut-manggut. Ia menyimpan kalung pemberian Ryan dalam saku celananya, sebelum ia hendak pergi meninggalkan Ryan yang harus beristirahat. Namun, sebelum Juned pergi, Ryan memanggil namanya.


"Juned, tunggu!"


"Ada apa Ryan?"


"Aku ingin bicara dengan Nadine? Kemana dia? Bisakah aku menemuinya?" pinta Ryan.


"Sepertinya para penghuni kastil sedang berkumpul di ruang baca untuk melaksanakan sesi interogasi bersama Pak Dimas. Lebih baik kamu beristirahat saja karena kamu pasti lelah. Aku mau melihat kondisi Niken terlebih dahulu karena ia juga sedang terluka. Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan panggil aku. Kamu istirahat saja ya!" saran Juned.


Juned meninggalkan Ryan begitu saja, menyisakan rasa tidak tenang di benak Ryan. Ia sadar, bahwa istrinya telah berbuat sesuatu kejahatan yang fatal, tetapi bagaimanapun ia sangat mencintai Nadine. Ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada istrinya itu.


"Aku harus mencari Nadine!" gumam Ryan.


***


Nadine didorong dengan paksa masuk ke dalam sebuah bilik yang cukup luas. Walaupun begitu, di dalam bilik tampak gelap dan pengap, serta aroma lembap langsung menusuk hidung. Nadine merasa bingung, siapa sebenarnya sosok yang mengancamnya dengan sebilah pisau ini? Bahkan pistol yang tadinya akan digunakan untuk memburu Dimas, juga sudah dirampas oleh sosok berpenutup kepala serba hitam itu.


Sosok itu mengacungkan pistol ke arah Nadine, kemudian mengisyaratkan Nadine agar memasang pergelangan tangannya pada sebuah borgol yang tergantung di langit-langit. Tentu saja, Nadine menggeleng cepat, tidak mau menuruti perintah sosok hitam itu begitu saja. Namun, sosok itu mengarahkan pistol ke kepala Nadine dan mulai menarik pelatuknya hingga terdengar bunyi.


Klik!


Mendengar ancaman itu, Nadine merasa gentar. Ia tidak punya pilihan lain, selain memasang pergelangan tangannya pada borgol yang tergantung. Kini posisinya lebih sulit, karena ia tidak bisa menggerakan tangannya. Ia hanya menatap sosok hitam itu dengan tatapan penuh kebencian.


"Kamu tahu siapa aku kan?" tanya sosok itu.


"Ya, aku tahu kamu adalah pengecut busuk yang memanfaatkan keadaan. Aku akan menghabisimu begitu aku terbebas dari borgol sialan ini!" jawab Nadine.


"Kamu masih saja sombong, padahal ajalmu sudah dekat. Sudahlah, aku nggak mau berlama-lama berurusan denganmu. Aku akan tunjukkan, siapa diriku sebenarnya ke kamu!"


Sosok itu membuka penutup kepalanya, sehingga menampakkan wajah aslinya. Melihat wajah asli sosok itu, tentu saja Nadine sangat terkejut. Parasnya mendadak pucat.


"S-Stella? Itu nggak mungkin!"


"Kenapa Nadine? Kamu kaget? Kamu pikir aku akan mati setelah kamu dorong tubuhku ke dalam jurang itu? Tidak semudah itu, Nadine. Kamu lupa bahwa aku adalah penakluk alam liar. Aku terbiasa tidur di gunung, hutan, dan tempat mana pun di bumi ini yang bahkan belum tersentuh oleh manusia. Setelah kamu pukul kepalaku tiba-tiba saat aku menungguimu di pondok, aku memang dalam posisi tidak siap. Tapi aku tidak sepenuhnya pingsan. Aku masih merasakan saat kamu menyeret tubuhku, kemudian melempar ke dalam jurang. Sayangnya, harapanmu agar aku mati, tidak terkabul.


Dalam keadaan sakit yang teramat sangat, aku berusaha bangkit. Merawat lukaku sendiri di tengah hutan yang sama sekali asing buat aku. Sebuah tenda darurat aku dirikan, dengan berbekal pengalaman yang aku punya, aku mencari makanan di hutan, dan berniat membalas semua yang kamu lakukan terhadapku. Aku menunggu waktu yang tepat, karena aku ingin menghukum dirimu dengan tanganku sendiri.


Secara tak sengaja aku lihat kamu masuk di pondok itu dan menyekap Ryan di sana. Padahal dia adalah suamimu sendiri yang sangat cinta kepadamu. Di situlah aku tahu, manusia macam apa dirimu. Tekadku untuk membalas dendam semakin kuat, dan aku harus menemukan jalan ke kastil. Untunglah, tak perlu waktu lama untuk menemukannya. Sengaja aku rusak instalasi listrik agar aku dapat menculikmu. Bukan untuk menyelamatkanmu, tetapi aku mau hukum kamu dengan tanganku sendiri, karena aku mendapati Jeremy yang tewas karena kamu bunuh. Sunguh keji dirimu. Aku lempar bom molotov di ruang baca, dan aku sudah memperkirakan bahwa kamu akan kabur ke ruang bawah tanah ini. Nah, sekarang mari kita selesaikan urusan kita yang tertunda!" ucap Stella.


"Tidak! Lepaskan aku Stella! Lepaskan aku! Kamu nggak bisa berbuat seperti ini padaku!" ucap Nadine sambil berusaha melepas tangannya dari borgol.


"Terus apa yang kau mau? Kau pikir aku akan membiarkanmu bebas berkeliaran begitu saja? Atau menunggu dirimu ditangkap oleh para polisi itu, lalu menjebloskanmu di penjara hanya dalam hitungan tahun? Tidak Nadine! Itu terlalu ringan untuk seorang pembunuh berdarah dingin sepertimu. Aku tidak akan terima. Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa! Kamu harus membayar semuanya" Stella berkata dengan tegas.


"Kamu yang harus membayar semuanya, Stella! Kamu telah menyakiti Suci di masa lalu. Kamu lah yang harusnya membayar semua kesalahanmu!" ucap Nadine.


"Apa yang telah kulakukan pada Suci? Kamu jangan mengarang cerita Nadine! Kita semua bersalah dan kamu jangan pura-pura cuci tangan. Ini bukan lah kemauan Suci, tetapi ini semua memang ambisi pribadimu. Sudahlah Nadine, aku tak mau berdebat padamu. Yang jelas kamu harus bertanggungjawab atas kematian Lidya, Farrel, Adit, dan Jeremy!"


"Emangnya apa yang akan kamu lakukan?"


"Membungkam manusia jahat sepertimu untuk selamanya, Nadine!"


***