Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
286. Fakta Terbaru


Siang mulai berkuasa, menggantikan pagi yang muram. Sinar matahari yang panas, seolah melelehkan apa saja yang berada di bumi. Sinar menyilaukan itu menerobos hingga ke dasar sumur tua, sehingga Gilda harus berteduh dengan cara merapatkan badan ke dinding sumur yang lembap dan berlumut. Ia merasa bosan berada dalam dasar sumur yang sunyi. Seharian ia hanya bisa mengutuk keadaan, sembari berharap bantuan datang. Sayang, ponsel tak dibawa. Ia dapat membayangkan, ponselnya pasti berdering tiada henti, karena banyak orang menghubungi.


"Saatnya makan siang! Apa kau sudah lapar Gilda?"


Tiba-tiba ia mendengar suara pria di mulut lubang di atasnya. Gilda mendongak, untuk memastikan siapa yang datang. Ia mendapati Reno yang tersenyum sambil membawa nasi bungkus dan sebotol air mineral. Reno melempar makanan dan minuman itu ke arah Gilda. Jurnalis itu segera menangkap dengan sigap.


"Apa kamu baik-baik saja, Gilda? Kamu tidur nyenyak kan semalem?" sapa Reno.


"Nggak, tentu saja aku nggak baik-baik saja, Pak. Kau lihat aku begitu tersiksa di sini. Mana Dimas sialan itu? Dia yang menculikku tadi malam dan sekarang main kabur begitu saja. Keluarkan aku dari lubang sialan ini, Pak! Aku bersumpah, begitu aku keluar dari lubang ini, kepolisian harus membayar mahal atas segala yang telah dilakukannya padaku. Aku akan siarkan kepada publik atas perlakuan polisi yang tak manusiawi kepada jurnalis!"


Reno hanya tersenyum mendengar ancaman Gilda sambil menggelengkan kepalanya.


"Lakukan saja kalau kau berani Gilda. kami melakukan itu bukan tanpa prosedur. Begitu kau keluar dari lubang ini, maka aku akan segera mendakwamu dengan tiga hal. Pertama, kamu masuk ke dalam area terlarang dengan tanpa izin, alias menyusup. Sudah jelas itu melanggar hukum. Kamu masuk area pribadi orang lain saja sudah melanggar hukum, apalagi area yang menjadi objek penyelidikan polisi. Kedua, kau melakukan pemukulan terhadap seorang wanita. Sudah jelas itu juga termasuk tindak kriminal, dan yang terakhir, kau juga telah melakukan tindakan kurang menyenangkan. Masing-masing dari tindakanmu itu pasti sangsi hukumnya. Kau masih mau keluar dari lubang ini dan membuat berita untuk menyudutkan kepolisian?" balas Reno.


Gilda terdiam. ia tidak bisa membantah, karena apa yang diucapkan Reno itu sepenuhnya benar. Ia memang masuk ke dalam area terlarang tanpa izin, ia juga telah melakukan pemukulan terhadap Bu Mariyati, serta ia telah melakukan tindakan kurang menyenangkan pada aparat. Ia hanya bisa menarik napas. Berat rasanya untuk mengakui kesalahan-kesalahan itu.


"Lebih baik kau tetap di sini saja, sampai kasus ini selesai. Jangan khawatir tentang makan dan minum, karena kami akan mengirim semua kebutuhanmu. Kau  hanya perlu bersabar, dan cobalah bersikap ramah pada cacing tanah atau lipan yang bertebaran di dalam situ," ucap Reno.


"Tidak! Aku nggak bisa tinggal dalam lubang jahanam seperti ini. Aku harus keluar. Tolong Pak Reno, aku tak bisa tinggal dalam lubang seperti ini! Aku bukan kelinci. Aku ini manusia. Tak bisa aku berdiam diri di sini seharian dalam keadaan terisolasi. Ini mengerikan sekali!" keluh Gilda.


"Bukankah itu sepadan dengan apa yang telah kamu lakukan, Gilda?"


"Oke ... oke, aku mengaku salah karena telah masuk ke dalam rumah isolasi tanpa izin. Aku juga salah karena telah memukul Bu Mariyati, dan mungkin aku juga telah melakukan beberapa perbuatan kurang menyenangkan. Aku berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku hanya ingin keluar dari sini. Tolong lah, Pak. aku punya kehidupan di luar sana. Aku tak bisa tinggal di dalam sini lebih lama. Tolong ya Pak!" pinta Gilda.


"Bagaimana aku yakin kalau kamu tak mengulangi kesalahan-kesalahanmu lagi? Kami sering memberimu kesempatan, tetapi penyakit lamamu kembali kambuh!"


"Aku ... aku akan segera mengemasi barangku, dan aku akan segera meninggalkan rumah isolasi ini, Pak. Aku hanya ingin segera keluar dari tempat ini. Kujamin, Bapak tidak akan dirugikan dengan hal ini," kata Gilda.


"Tidak, Gilda! Itu belum cukup!"


"Lalu apa yang Bapak inginkan? Bapak akan membiarkan aku mati membusuk di sini?"


"Semua perbuatan buruk pasti ada konsekuensinya, Gilda. Termasuk perbuatanmu itu. Aku ingin kau tidak meliput berita apapun sampai waktu tertentu. Aku tidak ingin melihatmu di TV mana pun atau acara apa pun. Kamu harus benar-benar lepas dari hal-hal yang ada hubungannya dengan liputan! Kalau aku masih melihatmu sekali saja, maka aku sendiri yang akan menjebloskanmu ke penjara! " ucap Reno tegas.


"Kalau begitu aku yang akan bicara dengan atasanmu, dan aku akan minta untuk skorsing atas dirimu selama waktu tertentu karena kesalahan fatal yang kamu buat. Tapi kalau tak bersedia, maka silakan terus saja tinggal di sini sampai kasus ini selesai. tak ada lagi penawaran, Gilda! Maaf!"


Gilda terdiam. Posisinya kini sedang terjepit, dan ia tak punya pilihan yang lebih baik. Dalam pikirannya, ia hanya ingin segera lolos dari lubang ini. Pada akhirnnya, ia dipaksa menyerah dengan keadaan. Setelah beberapa saat ia bimbang mennetukan pilihan, akhirnya ia mengangguk.


"Baiklah Pak. Bantu aku keluar dari sini!"


***


Dimas mendapat keterangan tambahan dari Niken mengenai deskripsi si pembunuh. Tentu saja, informasi itu sangat penting, sehingga Dimas tak ingin menyia-nyiakan begitu saja. Rasanya ia ingin segera kembali ke rumah isolasi dan menginformasikan hal ini pada Reno. Namun, sepertinya ia harus menyelesaikan urusan lain dulu di kota.


Selepas menemui Niken, ia melihat kondisi Widya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Widya belum boleh diganggu, karena masih mengalami trauma. Luka di pergelangan tangan harus dijahit, dan itu sudah dilakukan. Menurut dokter, Widya juga sempat terbius beberapa lama saat ia pertama kali ditemukan karena pengaruh obat. Ini menguatkan bahwa Widya tidak melakukan percobaan bunuh diri, tetapi ada yang mengkondisikan seolah-olah wanita muda itu melakukan percobaan bunuh diri.


Selain Widya, Dimas juga melihat kondisi Rani dan Faishal. Namun, kedua orang itu rupanya sudah idak berada di rumah sakit. Mereka sudah dipulangkan karena kondisinya cukup baik. Dimas bersyukur, karena saat ini ia bisa fokus menyelesaikan urusan lainnya. ia mampir ke kantor polisi sebentar, untuk memeriksa beberapa berkas yang ia temukan di kantor  Daniel Prawira. Ia kembali mengurut semua data, dan mengaitkan dengan data terbaru yang ia punyai.


"Sepertinya memang dia pembunuhnya. Dia bisa masuk ke semua lini, dan dia pernah berhubungan secara pribadi dengan semua korban yang terbunuh. tak salah lagi! Sepertinya dia. Namun aku harus membutuhkan beberapa data lagi yang menguatkan,"  gumam Dimas.


Ia sedang mememeriksa data pribadi Daniel Prawira selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Ia juga mengakses berita di internet, memeriksa siapa saja yang pernah dekat dengan Daniel selama kurun waktu itu. Ia terhenti pada sebuah berita yang mengejutkan tentang Daniel! Ia paham, terkadang berita di laman-laman internet terkadang palsu. Oleh karena itu, ia akan mengecek kebenaran berita itu, dengan cara langsung mendatangi sumbernya.


"Hmm, aku harus mengungkap fakta dari berita ini!"


***