Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
144. Rencana Baru


Nayya menelungkupkan kepala ke dalam lututnya, sementara Gerry berdiri menatap luar jendela. Dari jendela itu ia menatap suasana kota yang tak terlalu sibuk. Ia gelisah. Apa yang sebenarnya maksud tersembunyi dari sosok pembunuh yang menculiknya?


“Kita tidak boleh berdiam diri, Nayya. Kita harus berusaha keluar dari cengkeraman orang gila itu!” ujar Gerry sambil terus memandang keluar jendela.


“Aku setuju. Tapi bagaimana caranya? Dia sangat licik dan tak segan-segan membunuh siapapun yang menghalangi rencananya. Kamu tahu nggak, dia telah membunuh seorang wanita tidak berdosa di Kampung Hitam.”


“Ya, aku tahu juga dengar berita itu. Aku sudah menduga bahwa pembunuhan di Kampung Hitam itu ada hubungannya dengan pembunuhan Jenny dan Alma. Dia juga telah membunuh seorang polisi wanita yang mengawalku. Rupanya dia benar-benar nekat.”


Gerry memalingkan badannya, kemudian melihat-lihat seluruh ruangan apartemen. Ia mencari sesuatu yang mungkin bisa digunakan sebagai senjata atau alat untuk bisa keluar dari apartemen.


“Aku sudah mencari-cari sesuatu di dalam ruangan ini, tetapi tak ada apapun yang bisa dipakai untuk meloloskan diri. Psikopat itu memang sudah sengaja untuk menjauhkan kita dari benda apapun,” ucap Nayya.


“Pasti ada cara. Sepertinya kita harus lebih kreatif, Nayya!” kata Gerry.


“Kreatif bagaimana maksudmu? Bukankah di sini tak ada apapun yang bisa digunakan untuk kreatif?” tanya Nayya.


“Aku sedang memikirkan untuk mencari bantuan dari luar Nayya. Mungkin kalau kita sendiri tak akan sanggup. Kita harus mencari cara agar ada orang yang tahu bahwa kita dalam keadaan disekap di sini,” lanjut Gerry.


“Menurutmu dengan cara seperti apa? Apa kamu akan berteriak sekencang-kencangnya? Atau berdiri di balkon sempit itu sambil melambaikan tangan, berharap ada orang yang melihat?” tanya Nayya.


“Bukan. Bukan begitu, Nay. Kita harus memikirkan cara yang lebih pintar. Di sini kita tidak punya alat apa-apa, kecuali kompor itu.”


Gerry menunjuk kompor yang ada di dapur. Nayya segera menebak apa yang ada di pikiran Gerry. Sayangnya ia merasa ragu dengan apa yang dipikirkan Gerry.


“Maksudmu ... kita akan menggunakan api itu untuk lolos dari tempat ini?” tanya Nayya.


“Ya. Aku mempunyai sebuah rencana yang berhubungan dengan api,” ucap Gerry.


“Jangan bilang kalau kamu akan bakar ruangan ini, Ger!” Nayya mulai khawatir.


“Sejujurnya, itu yang ada di otakku sekarang Nayya. Tapi kamu nggak usah khawatir. Aku jamin semua akan aman kok. Kita tidak akan buat api besar, kita hanya akan buat asap membubung dari jendela, dan dekatkan api ke indikator api, sehingga alarm kebakaran berbunyi. Kita buat seluruh penghuni apartemen ini panik, dan mengira ada kebakaran. Aku yakin, petugas pemadam akan datang dan mendobrak pintu apartemen, sehingga kita bisa lolos dari tempat ini. Bagaimana menurutmu?” tanya Gerry dengan mata berbinar.


“Entahlah Ger! Aku ... aku hanya ragu. Takut kalau psikopat itu datang tiba-tiba!”


“Nggak mungkin! Dia pasti sibuk saat ini. Kita lakukan rencana ini dengan cepat. Alarm kebakaran akan berbunyi dengan cepat. Aku yakin akan ada orang yang menolong kita, bahkan sebelum petugas pemadam datang.”


“Bagaimana kalau usaha ini gagal? Kamu punya rencana kedua?”


“Kita coba dulu Nay! Kalau gagal, itu urusan nanti. Yang penting kita coba dulu ini. Kalaupun gagal, misalnya petugas pemadam nggak kesini atau alarm kebakaran tidak berbunyi, kita tinggal padamkan saja asapnya. Aku tahu, psikopat itu akan sangat marah. Firasatku dia tidak akan membunuh kita dengan cepat, sebelum rencananya terlaksana,” kata Gerry.


Pada akhirnya Nayya mengangguk sambil berkata lirih,”Baiklah. Aku ikut rencanamu.”


***


Peristiwa pembunuhan beruntun yang terjadi belakangan, membuat Reno sedikit tertekan. Ia terlihat merenung, sambil memikirkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk meringkus si pembunuh yang terasa licin bagai belut. Harus diakui, si pembunuh melakukan segala sesuatu dengan rapi, tanpa meninggalkan petunjuk apapun.


Suatu sore yang temaram, Reno menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di sebuah Cafe. Sudah lama ia tidak melakukan itu. Padahal dahulu, hampir tiap malam ia pergi ke Cafe langganannya untuk menikmati secangkir kopi dengan sedikit gula kegemarannya. Waktunya kini tersita untuk kasus pembunuhan berantai yang memaksa dirinya untuk tetap waspada.


“Kasus ini kadang membuatku sangat lelah, dan aku ingin mundur,” ucap Reno sambil menatap Dimas.


“Kamu menyerah karena Fani tewas?” tanya Dimas.


“Salah satunya iya. Aku merasa gagal. Pembunuh itu terus bergerak, mengecoh kita. Bahkan sepertinya ia tahu apapun yang kita lakukan. Ia seperti hantu yang bisa datang dan pergi dengan leluasa, sementara kita hanya berdiam diri seperti dua orang bodoh yang tahu apa-apa,” keluh Reno.


“Berhenti melemahkan dirimu sendiri, Ren! Kalau kamu mundur dari kasus ini, aku akan tetap maju. Aku akan buktikan ke kepolisian bahwa aku mampu mengungkap kasus ini.”


Reno manggut-maggut mendengar perkataan Dimas. Ia kembali fokus pada buku harian Jenny yang sedang ia buka-buka.


“Ada petunjuk baru di situ?” tanya Dimas.


“Isinya hampir semua tentang kegalauan anak muda. Aku tak begitu suka membaca seperti ini. Catatan di bulan Agustus dipenuhi dengan kegalauan. Sepertinya Jenny bertemu dengan seseorang yang membuatnya galau, tetapi ia tak dapat memiliki karena ia sudah punya pacar,” kata Reno.


“Bagaimana kalimatnya?”


“Aku bacakan ya! 19 Agustus, aku menatap matanya yang penuh kebencian. Sorot matanya itu seperti merobek-robek kewarasanku. Aku tahu aku salah, tetapi bagaimana aku bisa menghindari ini? Aku tahu dia marah. Semoga dia memaafkanku.”


Reno mengehentikan kalimatnya.


“Jadi menurutmu siapa yang dimaksud?”


“Entahlah. Bisa Rudi, Rasty, atau orang lain. Data yang kuperoleh, saat itu Rudi tengah berpacaran dengan Rasty. Itulah sebabnya Rasty menyimpan kebencian kepada Jenny. Tetapi sepertinya itu bukan alibi kuat bahwa Rasty adalah pelaku pembunuhan Jenny,” ucap Reno.


“Bagaimana dengan Rudi? Apakah perlu kita melakukan pengawasan?”


“Rudi bisa jadi tersangka kuat. Tetapi aku belum bisa menemukan alibi untuk pembunuhan Alma. Mengapa dia membunuh Alma juga? Mengapa juga ia menyembunyikan Nayya? Lalu Gerry juga menghilang. Tidakkah menurutmu semua ini mirip benang kusut?”


“Aku yakin, motif pembunuhan ini dilatarbelakangi masalah asmara. Kupikir tersangka pembunuhnya tidak hanya laki-laki, tetapi perempuan juga bisa. Bisa jadi seseorang yang menyimpan kecemburuan mendalam, menggelapkan mata, lalu melakukan hal-hal gila. Ingat kasus Kastil Tua! Siapa sangka gadis selembut Tiara bisa melakukan pembunuhan keji seperti itu?” ujar Dimas.


Reno mengernyitkan kening. Ia melanjutkanmembaca buku harian milik Jenny,


“2 September, kami bertemu kembali diam-diam, walau ada api kemarahan di sekitar kami. Aku harus memutuskan hal yang sulit. Aku tidak mau menyakiti siapapun. Itu tulisan Jenny di awal September. Menurutmu apakah tulisan-tulisan ini ada hubungannya dengan kematiannya?” kata Reno.


“Kupastikan iya, Ren. Kita dapat merekam apa yang dirasakan Jenny beberapa bulan sebelum kematiannya. Mungkin nanti kita bisa lihat tulisan-tulisan dia di bulan Desember. Aku juga sudah memeriksa media sosial yang digunakan Jenny, tetapi kamu tahu nggak, waktu aku memeriksa kemarin ternyata akun itu sudah dinon-aktifkan, dan aku sama sekali nggak bisa mengaksesnya,” kata Dimas.


“Jadi siapa yang menon-aktifkan akun itu? Hantu Jenny?”


“Tentu bukan. Seseorang yang dekat dengannya dan mengetahui password media sosialnya,” ucap Dimas.


“Mari kita selidiki lebih jauh!”


***