Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
LXIII. The Kisses


Subuh mulai menyapa lingkungan kastil dan sekitarnya. Hari masih begitu dingin, membekukan tulang. Kabut pekat menyelimuti kebun teh di sekitar kastil. Cornellio keluar dari pintu samping, mengenakan jaket tebal. Suhu udara yang dingin membuatnya berkali-kali menggosok-gosok telapak tangan. Sesekali keluar uap air dari mulutnya. Cuitan burung mulai terdengar, menyambut mentari pagi yang sebentar lagi tiba. Ia sudah bersiap-siap hendak ke kota, untuk membeli perlengkapan medis yang dibutuhkan. Kaki Ammar yang sedang mengalami patah tulang harus segera dirawat, sebelum menjadi fatal.


Untuk berangkat ke kota kali ini, ia menggunakan mobil milik Antony yang memang sengaja diparkir di halaman kastil. Cornellio mengecek kondisi mobil tersebut sebelum berangkat, tak mau kejadian seperti Ammar terulang kembali. Ia mencium bahwa kecelakaan yang dialami Ammar seperti tak wajar. Ada seseorang yang sengaja mengutak-atik mobil itu, agar rem tak berfungsi.


Cornellio sedang memanaskan mesin mobil ketika seseorang mendekat. Ia memakai sweater rajut warna ungu. Rambutnya yang indah dibiarkan tergerai, sambil menebar senyum yang teramat manis.


“Kau jadi ke kota?” tanya Adrianna, sosok yang baru muncul di belakang Cornellio.


Sapaan manis di pagi buta itu segera mengagetkan Cornellio. Apalagi yang dilihatnya adalah Adrianna, wanita yang ditengarai menaruh perhatian padanya. Wanita itu tampak begitu cantik, terlihat alami tanpa riasan make up. Cornellio segera menghentikan aktivitasnya.


“Iya, aku harus ke kota. Doakan semua berhasil,” ucap Cornellio.


“Sebenarnya aku ingin berterima kasih padamu.” Adriana berkata sambil mendekap tangan di dada, menahan hawa dingin yang kian merasuk tubuh.


“Terima kasih tentang apa?” tanya Cornellio. Ia melanjutkan memeriksa rem dan kopling mobil.


“Tadi malam kamu telah membelaku di depan banyak orang. Ucapan Hans sangat melecehkan, ingin aku menamparnya, tetapi kamu tahu sendiri, rasanya aku tak perlu melakukan itu di depan orang banyak. Aku sangat berterima kasih padamu,” ucap Adrianna.


Cornellio tersenyum, kemudian mengelap tangannya dengan selembar kain yang ada di dalam dashboard.


“Aku hanya melakukan hal yang memang harus kulakukan. Biasanya aku tak masalah dengan apapun yang Hans katakan, tetapi yang tadi malam sedikit keterlaluan. Wanita manapun pasti akan marah mendengar ucapan tak bermoral seperti itu,” kata Cornellio.


“Bagaimanapun aku tetap berterimakasih, karena mungkin tidak setiap pria bersikap sepertimu.”


“Oke. Aku terima ucapan terima kasihmu,” ujar Cornellio, sambil menatap paras Adrianna dalam-dalam.


Wanita muda itu, diam-diam menyimpan rasa terhadap Cornellio. Ia berharap Cornellio tahu apa yang tersimpan dalam hatinya. Ia tak beranjak dari tempatnya berdiri, menatap Cornellio yang sedikit sibuk pagi itu.


“Aku harap kamu menjaga diri,” ucap Adrianna.


Cornellio membalikkan badan, memegang bahu Adrianna, menatapnya lekat.


“Kamu nggak perlu khawatirkan diriku, Adrianna. Kota jauh lebih aman daripada kastil ini. Justru aku yang harusnya mengkhawatirkan dirimu. Kusarankan, jangan pergi ke tempat yang jauh dari pengawasan. Dan ingat! Jangan percaya siapapun kecuali dirimu sendiri. Kita nggak benar-benar mengenal mereka. Tetaplah aman. Adrianna!” pesan Cornellio.


“Terima kasih Cornell,” lirih Adrianna, sambil terus menatap mata Cornellio.


Keduanya bertatapan beberapa saat lamanya, hingga dengan suatu gerakan reflek mereka berpelukan, menautkan bibir dengan penuh perasaan. Pagi yang dingin berubah menjadi hangat, sehangat pelukan dua manusia yang dimabuk asmara tersebut.


Di kejauhan, sesosok manusia mengintip keduanya dari jendela kamar, dengan perasaan geram, sambil berguman,” Kebahagiaan kalian tak akan berlangsung lama. Sayang sekali!”


***


Dua buah tenda berdiri di tanah berumput, dekat deretan pohon-pohon yang tinggi, bersebelahan dengan area kebun teh. Hawa pagi yang dingin membuat penghuni tenda-tenda itu lebih memilih melingkar, menenggelamkan diri dalam selimut. Di tenda pertama, tenda yang diperuntukkan anak laki-laki. Antony, Ringo dan Ben tidur saling berdesakan. Sementara tenda kedua ditempati oleh Sonya dan Melly. Mereka juga masih terlelap dibuai mimpi.


Kicau burung sahut-menyahut di pucuk-pucuk pohon, kemudian beterbangan mencari makan. Sonya mulai membuka mata. Suasana di luar tenda sudah mulai terang. Ia mengenakan jaket, melangkah keluar, melihat sekeliling. Tak lama, Melly juga terbangun dan menyusul Sonya yang sedang terdiam memandang hamparan teh di kejauhan.


“Di sini begitu damai, Mel. Ini adalah sesuatu yang nggak akan pernah kita lihat di Jakarta,” ucap Sonya.


“Iya. Tapi sebenarnya aku sedikit nggak betah di sini. Kalau malam dingin banget, dan kadang ada serangga masuk ke tenda. Tadi malam, aku kebelet pipis, keluar tenda, ternyata begitu gelap. Kalau pagi begini memang sangat indah, tetapi saat malam sangat menyeramkan,” ucap Melly.


“Hmm. Pasti kamu berharap bisa mandi bersama penulis novel itu,” cibir Melly.


“Ah, nggak kok! Aku hanya mengaguminya saja, Mel. Ben masih lebih tampan dibanding dia. Untuk itulah aku mengajak Ben kesini. Kuharap aku bisa lebih dekat dengannya,” elak Sonya.


Sementara, para anak laki-laki juga mulai bangun. Mereka bergiliran menyingkir jauh ke belakang tenda untuk melepas hajat manusiawinya. Antony menyelinap di balik sebuah pohon, segera membuang apa yang memenuhi kandung kemihnya. Sementara Ringo juga melakukan hal yang sama di sampingnya. Sedangkan Ben menunggu giliran di tenda bersama para gadis.


“Bro, maukah kamu taruhan denganku?” bisik Ringo.


“Taruhan apa?” tanya Antony.


“Kamu tahu, Melly terlihat sangat menarik. Aku punya rencana, siapa yang bisa meniduri dia duluan maka aku akan menraktirmu kopi selama dua minggu di Blitz Cafe,” ucap Ringo.


Antony telah menyelesaikan hajat, membersihkan perkakasnya dengan selembar daun, kemudian menutup resleting. Ia menyeringai.


“Taruhan macam apa itu? Melly, selama ini mengaku masih perawan di depanku. Tetapi kamu tahu sendiri, dia sering runtang-runtung dengan banyak pria. Kamu pikir pria akan diam saja melihat bodi seindah Melly? No way!” ucap Antony.


“Kalau begitu biar aku membuktikannya!” kata Ringo bersemangat.


“Maaf. Aku tidak terlalu tertarik dengan taruhan itu, Ringo. Bukannya aku tak suka Melly, tetapi entah kenapa aku tidak bisa. Melly sangat menggoda, yah, setiap pria pasti akan mengakuinya. Aku hanya merasa dia bukan tipe gadis yang aku sukai,”terang Antony.


“Kamu nggak perlu suka dengannya. Toh ini hanya taruhan!" ucap Ringo lagi.


“Kalau kamu mau tiduri dia, silakan saja. Tak perlu pakai acara taruhan segala. Asal jangan ganggu Sonya!”


“Emang kenapa kalau Sonya?”


“Sonya kesini untuk mendekati Ben. Kalau sampai kamu merayunya maka gagal rencana Sonya. Sebagai sahabatnya, aku mendukungnya untuk mendapatkan Ben!”


“Tetapi, bukankah Sonya kelihatannya sangat tergila-gila dengan penulis itu?”


“Entahlah. Kukira dia hanya sebatas mengagumi saja. Sudahlah! Jangan kita pusing mengenai urusan mereka. Siapkan perbekalan! Setelah ini kita akan menjelajah. Aku masih penasaran dengan air terjun yang diceritakan kakakku itu!” ujar Antony.


“Baiklah. Aku akan lupakan Sonya, dan berusaha mendapatkan Melly!”


"Ringo, kamu tahu tidak?"


"Apa?"


"Semalam aku memikirkan apa yang dikatakan penulis novel itu bahwa tempat ini sedikit menyeramkan. Terutama rahasia dalam kastil itu, " ucap Antony.


"Lalu, rencanamu seperti apa?" tanya Ringo.


"Aku ingin menyelinap ke sana!


***