Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
179. Tamu Tak Diundang


Dimas berbaring di ranjang, sambil mengamati secarik kertas yang ia temukan di kamarnya di rumah isolasi. Tulisan rapi itu seperti pernah ia lihat, tetapi ia lupa di mana. Memang, banyak yang tulisannya mirip, tetapi ia pikir tulisan ini sangat berkarakter. Mungkin penulisnya adalah seorang yang rapi dan penuh perhitungan.


Sejenak ia teringat akan janji yang telah ia ucapkan pada Gilda, bahwa malam ini ia akan mengisi acara bincang-bincang yang ia pandu di Channel-9. Sebenarnya ia malas mendatangi acara itu. Ia merasa tak perlu untuk menyampaikan apa pun di depan publik, karena kasus ini memang belum tuntas. Informasi yang setengah-setengah akan membuat publik semakin penasaran dan bertanya-tanya.


Ia kemudian beranjak untuk pergi ke kantor pagi ini. Ada beberapa pekerjaan lain yang harus ia selesaikan. Kasus ini sungguh melelahkan, dan hampir melupakan bahwa sebenarnya ia mempunyai pekerjaan lain selaku penegak hukum.


Sebelum berangkat, tak lupa ia mandi dulu agar terlihat segar dan wangi. Sengaja ia mandi di rumah, karena ia tidak mau mandi di rumah isolasi. Di rumah isolasi, untuk mandi harus sedikit mengantre karena kamar mandi hanya terbatas. Padahal, Dimas adalah seseorang yang sangat menikmati waktu mandi. Ia tidak mau membuat orang lain menunggunya saat mandi. Mandi di rumah, sudah tentu akan lebih santai.


Sebelum sampai di kantor ia menyempatkan untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari di supermarket. Tak banyak yang ia harus ia beli kali ini, hanya peralatan mandi dan beberapa kudapan untuk mengganjal perut. Ia ingin segera tiba di kantor karena memang ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan. Ia ingin membuka kembali berkas-berkas identitas para anak muda yang sedang diisolasi. Ia mungkin bisa menelusuri dari sana, tentang karakter atau sesuatu yang terlewat.


Selepas berbelanja, ia langsung meluncur menuju tempat kerjanya. Ia masuk ke dalam ruangannya, dan mengambil satu map besar yang berisi data dan profil semua anak muda yang terlibat dalam peristiwa pembunuhan Jenny, termasuk data Jenny dan Alma sendiri. Berkas itu selama ini hanya ia baca sekilas, tidak terlalu detail. Kini ia ingin mengurai semua satu-persatu, mungkin ia bisa menemukan jawaban dari data-data yang tersembunyi dari arsip-arsip itu.


Data yang ada di paling awal adalah data milik Jenny. Di situ tertulis lengkap, mulai data pribadi hingga segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Jenny bukan termasuk mahasiswi yang terlalu pintar di kampusnya, tetapi ia cukup populer karena hal lain. Ia berbakat dalam bidang model, teater, dan kadang ia juga bernyanyi di acara pernikahan. Parasnya yang cantik adalah daya tarik utama bagi pria untuk dekat dengan dirinya. Sayangnya, Dimas tak bisa menelusuri siapa saja pria yang pernah menjalani hubungan dengannya, kecuali Rudi.


Hubungan dengan Rudi juga bisa dikatakan singkat, Dimas yakin pasti sebelum dengan Rudi ia menjalin dengan beberapa laki-laki lain. Dari media sosial dan buku hariannya, Jenny diketahui terlibat hubungan asmara yang rumit. Namun, ada beberapa rahasia di sana yang tak bisa diungkap.


Setali tiga uang dengan Jenny, Alma juga adalah tipikal gadis populer di kampus, tetapi namanya tak setenar Jenny. Ia gadis berpenampilan modis yang aktif dalam kegiatan kemahasiswaan di kampus. Ia lumayan pintar, karena sering didapuk untuk menjadi pembuka dalam acara seminar atau pertemuan-pertemuan. Terakhir, ia menjalin hubungan asmara dengan Gerry. Belum diketahui pasti motif pembunuhannya. Gadis itu tewas mengenaskan di areal parkir sebuah rumah sakit.


Arsip ketiga yang ia buka kali ini adalah milik Rudi. Mahasiswa yang lumayan menjadi idola para gadis, karena sifatnya yang supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan kampus, sehingga namanya pun cukup populer. Sayangnya, ia juga dikenal sebagai seorang playboy, karena sering berganti-ganti pacar. Terakhir ia memacari Nayya, seorang gadis populer lain yang ia dekati sejak kematian Jenny.


Secara motif, mungkin Rudi ini mempunyai alibi kuat untuk membunuh Jenny, karena gadis itu diketahui hamil pada saat dibunuh. Sayangnya, ada beberapa kematian lain yang membutuhkan motif tambahan, seperti pembunuhan yang dilakukan kepada Alma dan Miranti.


Dimas menyadari kalau serentetan pembunuhan ini bukan hanya dilandasi masalah asmara, tetapi ada motif terselubung lain. Kalau saja masalah asmara, mungkin pembunuhan hanya akan berhenti pada Jenny, tetapi ini pembunuhan terus berlanjut kepada orang-orang di sekitarnya juga. Ini yang agak membingungkan.


Saat ia membuka lembar-lembar arsip milik Gerry, tiba-tiba ia tertarik kepada sebuah foto yang gambarnya buram. Di dalam keterangan, foto itu dicetak lima belas tahun lalu. Dalam foto itu tergambar sekumpulan anak-anak berbaju TK sedang berfoto bersama bersama guru mereka. Dimas mengenali salah seorang anak di foto itu adalah Gerry yang terlihat lebih gendut saat masih TK. Pipinya tembem dan lucu. Ia tertawa riang menghadap ke arah kamera. Sementara beberapa temannya yang lain juga tampak tertawa penuh suka-cita.


Dimas tersenyum melihat foto lawas itu. Terlihat dalam foto itu nama TK tempat Gerry bersekolah. TK Permata Bunda, sebuah TK yang mungkin saat ini sudah tidak ada lagi. Dimas tak pernah mendengar nama sekolah itu lagi. Dimas menatap lekat-lekat beberapa anak yang ada di dalam foto itu. Sepertinya wajah mereka tidak asing.


“Ya Tuhan!”


Tiba-tiba Dimas bergumam karena menyadari sesuatu. Dalam foto itu ia bisa mengenali wajah beberapa anak.


“Ini ... ini kan Rudi, Miranti, Jenny ... Lena ... dan ... Ferdy! Mereka berteman sejak masih TK?”


***


Dengan pertolongan Pak Paiman, Ferdy, Wandi, dan Reno, akhirnya Gilda berhasil keluar dari lubang sumur yang tak seberapa dalam itu. Pakaiannya kotor terkena lumpur dan rumput-rumput. Seperti biasa, bukannya bersyukur, mulut Gilda malah meracau tentang kondisi dirinya yang kotor. Ia butuh air untuk mencuci kakinya yang terkena lumpur.


“Lebih kamu ikut kami saja, Gilda!” ajak Reno.


“Ke-kemana?” Gilda mulai panik.


“Ke rumah isolasi lah! Bukannya kamu ingin tahu kondisi rumah itu? Nah sekarang, akan kami kabulkan permintaanmu. Kamu boleh lihat-lihat rumah itu, membuat berita, menanyai siapa saja yang ada di rumah itu. Bagaimana, bukankah itu menarik?” tawar Reno.


“Pak Reno serius?” tanya Gilda dengan mata berbinar.


Rasty yang tanpa sengaja bertemu dengan Gilda di ruang tamu tampak heran. Ia tidak menyangka kalau ada jurnalis TV masuk ke dalam rumah isolasi. Namun, Rasty tak mau berprasangka lebih jauh. Ia memilih menghindar, pergi ke kamarnya. Ia sebenarnya hendak mempersiapkan diri mengikuti materi pertahanan diri yang akan disampaikan oleh Reno. Agaknya materi itu akan tertunda sejenak, mengingat mereka kedatangan tamu.


Bu Mariyati menyajikan dua teh hangat untuk tamu-tamu tak diundang itu. Sepert biasa, jiwa penasaran Gilda tak terbendung. Ia berkeliling melihat sekitar ruang tamu itu sambil menyentuh beberapa benda hiasan yang ada di sana.


“Pintar juga ya pihak kepolisian mencari tempat. Ini akan menjadi berita yang menarik Wandi. Kamu tadi ke sini bawa kamera nggak?” tanya Gilda pada Wandi.


“Nggak Mbak. Tadi kan saya niatnya mau nyariin Mbak Gilda karena pergi lama banget. Kameranya masih di mobil,” ucap Wandi.


“Aduh, gimana sih! Ambil cepat! Kita akan buat berita besar hari ini. Aku mewancarai beberapa orang di sini dan akan tayang sebagai berita eksklusif. Kita nggak boleh melewatkan berita ini, Wan!” ucap Gilda.


“Ambil kameranya nanti saja!”


Tiba-tiba terdengar suara Reno yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. Gilda terkejut dengan kehadiran Reno. Ia sedikit salah tingkah, dan kembali duduk di kursi tamu. Reno memilih tetap berdiri sambil melihat gerak-gerik Gilda yang mulai salah tingkah.


“Tempat yang sempurna, Pak. Rumah ini sangat cocok untuk dibuat tempat isolasi. Jadi kapan saya bisa mengambil gambar dan melakukan liputan tentang rumah ini?” tanya Gilda.


“Kamu boleh melakukan liputan apapun tentang rumah ini dan segala sesuatu yang didalamnya, Gilda. Rekam apapun yang kamu mau di sini. Tapi dengan satu syarat .... “


“Syarat? Apa syaratnya, Pak?” tanya Gilda penasaran.


Firasatnya mulai tak enak. Ia khawatir Reno akan mengajukan syarat aneh-aneh, dan mengungkit kembali peristiwa saat ia membuntuti polisi itu.


“Silakan kamu rekam kondisi rumah ini, tetapi syaratnya adalah kamu harus tayangkan videomu saat pelaku dari pembunuhan sudah tertangkap. Itu artinya, setelah ini kamu tidak akan pulang. Karena aku baru saja menelepon Boss kamu, dan aku sudah memintakan izin bahwa kamu akan tinggal di sini selama proses isolasi selesai,” ucap Reno.


“Apa?” Gilda terperanjat, sehingga hampir saja ia terhenyak dari tempat duduknya.


“Iya Gilda. Karena rumah ini adalah tempat rahasia dan hanya pihak kepolisian yang boleh tahu. Nah, karena kamu sudah tahu, kamu tidak boleh kemana-mana. Kami khawatir berita akan tersebar dan akan mengganggu proses penyelidikan kami selanjutnya. Jangan khawatir, kami akan mengurus semua keperluanmu, baik makan dan pakaian. Bahkan izin kepada tempatmu kerja. Mereka tidak ada masalah karena semua ini untuk urusan kepolisian. Selama di sini kamu boleh meliput sepuasmu. Yang tidak boleh hanya satu. Kamu tidak boleh pergi dari tempat ini!” ucap Reno tegas.


“Bapak nggak boleh gitu dong! Ini namanya semena-mena. Saya kan bukan tersangka, mengapa pula saya harus ikut diisolasi?” protes Gilda.


“Kamu memang bukan tersangka, Gilda. Tapi kamu membawa rahasia penting kepolisian. Jadi sudah seharusnya kamu berada di tempat ini. Kalau ada rahasia kepolisian bocor ke publik, kamu mau dipersalahkan? Jadi lebih baik kamu bersiap, karena setelah ini kamu tidak akan kemana-mana. Kamu akan menempati kamar bekas Miranti. Semuanya aman, sudah kami atur. Kamu nggak perlu khawatir!”


“Tidak, Pak! Aku nggak mau! Banyak kerjaan yang harus kuselesaikan. Kerjaan di kantor menumpuk, dan aku harus membuat liputan-liputan. Bapak nggak punya hak untuk menahanku seperti ini! Aku harus pulang!”


Gilda tetap tidak menerima putusan itu. Ia berdiri hendak meninggalkan ruang tamu dengan gusar. Parasnya yang cantik memancarkan kemarahan. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia beranjak keluar teras, tetapi Reno mencegahnya.


“Percuma Gilda! Pintu pagar depan terkunci dan kamu nggak bisa kemana-mana. Jadi percuma saja kamu kabur. Wandi, ini juga berlaku untuk kamu. Kamu juga akan tinggal di sini. Jangan khawatir, keluargamu juga sudah kami urus. Kalian akan tinggal di sini sampai isolasi selesai!”


“Ba-baik, Pak!” jawab Wandi ragu-ragu.


***