
Adinda dan Ferdy membunuh rasa bosan dengan duduk-duduk di atas balkon sambil melihat segala sesuatu dari atas. Langit pagi terlihat cerah, dengan sinar mentari yang menyengat kulit. Untung rasa panas itu diimbangi dengan angin yang berdesir dari arah perkebunan yang menyejukkan. Suara burung berkeciap di ranting pohon, menambah syahdu suasana. Adinda menghirup napas dalam-dalam.
“Paling nggak, kita bisa menghirup udara segar di sini,” gumam Adinda.
“Iya, di sini terasa sejuk ya. Mungkin enak kali ya sambil duduk-duduk gini, kita minum teh. Suasananya cocok banget. Kamu lihat di kejauhan sana. Jalan raya terlihat kecil dari sini. Rumah Belanda ini sungguh sempurna untuk menjadi tempat peristirahatan,” ujar Ferdy sambil menunjuk ke arah jalan raya yang berliku membelah bukit.
“Kamu mau teh? Aku akan buatkan teh. Kamu tunggu di sini ya?”
Sebentar kemudian, Adinda beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap paras Ferdy yang terlihat mempesona pagi itu. Di dalam hati, ia merasa berbunga-bunga. Ia jarang merasakan perasaan ini sebelumnya. Menurutnya, sosok Ferdy terlihat sempurna di matanya.
“Mau kubantu, Tuan Putri?” tawar Ferdy sambil menyunggingkan senyum manis.
“Nggak usah! Kamu nunggu aja di sini. Aku akan buatkan teh spesial untukmu. Aku tahu, pasti kamu suka teh yang sedikit pahit, dengan aroma melati. Benar nggak sih?” tebak Adinda.
“Kamu tahu apa yang kumau, Din!”
Adinda tersipu malu. Ia segera turun menuju dapur untuk membuat teh. Di dapur, ia tak melihat siapapun. Padahal sebenarnya ia ingin meminta bantuan Bu Mariyati untuk membuatkan teh. Terpaksa, ia mencari-cari sendiri di mana Bu Mariyati biasa menyimpan teh dan gula. Ia membuka-buka lemari gantung yang ada di situ untuk mencari. Untunglah, ia bisa menemukan teh dan toples gula.
Kemudian, Adinda mengambil air untuk dipanaskan sebentar. Sambil meracik teh, pandangan Adinda memutar berkeliling. Dapur ini terasa lengang dan sepi. Suasananya agak mengerikan kalau sendirian di tempat ini, seperti ada orang lain yang mengawasi. Namun, buru-buru Adinda menghilangkan bayangan buruknya. Ia menghilangkan rasa takut dengan bernyanyi-nyanyi kecil.
Plak!
Tiba-tiba ia mendengar suara tepuk tangan yang entah dari mana datangnya. Yang jelas suara tepuk tangan itu terdengar begitu dekat. Adinda memalingkan mukanya ke segala arah, tetapi tak ada siapa pun di situ.
“Ferdy? Teh nya belum siap. Tunggu aja di atas!” ujar Adinda.
Ucapan Adinda tak bersahut. Ia mengira kalau Ferdy sedang mengerjai dirinya. Adinda kembali melongokkan kepala ke segala arah, tetapi sekitar dapur tampak sepi.
“Fer? Jangan main-main ah! Aku tahu itu kamu loh. Nggak lucu tau!”
Perkataan Adinda tetap tak bersahut. Mendadak ia merinding. Ia berharap agar air di teko segera mendidih agar ia bisa segera meracik teh dan pergi dari situ. Ia merasa tak nyaman berada sendirian di dapur. Ia hanya terdiam dan bersikap waspada.
Plak ... plak!
Kali ini terdengar tepukan dua kali. Sontak Adinda terlonjak dari tempat duduknya. Kini ia tak peduli lagi dengan teh yang akan dibuatnya. Ia bergegas keluar dapur sambil setengah berlari, sehingga hampir menabrak Bu Mariyati yang baru saja hendak masuk ke dalam dapur. Paras Adinda terlihat memucat karena takut.
“Neng? Neng Dinda nggak apa-apa?” tanya Bu Mariyati.
Perempuan paruh baya itu terlihat heran melihat paras Adinda yang ketakutan. Matanya ikut menyapu sekeliling.
“Bu ... bu Mariyati. Eh .. anu ... sa-saya minta tolong dibuatkan teh dua ya Bu. Nanti tolong diantar ke balkon,” ucap Adinda dengan gugup.
Segera ia mengambil langkah seribu meninggalkan dapur. Ia masih terlihat takut, tergesa menuju balkon, menemui Ferdy yang masih duduk bersantai di sana sambil menikmati semilir angin yang membelai rambut.
Ferdy menoleh melihat kedatangan Adinda. Pria muda itu mengernyitkan dahi, melihat paras Adinda yang terlihat takut.
“Kenapa kamu? Kok seperti dikejar setan?” tanya Ferdy.
“Jangan bilang tentang setan!” jawab Adinda.
“Kenapa emang? Beneran kamu dikejar setan?”
Ferdy tertawa mendengar perkataan Adinda.
Adinda masih terlihat cemas. Ia tak menjawab, hanya mengangguk kecil. Ferdy semakin lebar tertawa.
“Kamu serius? Hari gini loh. Setan kan hanya ada di film Indonesia. Nggak nyata. Halusinasimu aja kali, Din!”
“Ah, udahlah! Aku seriusan. Malas aku bahas itu. Aku mau ke kamar aja!”
Adinda tampak gusar. Ia kembali bangkit dari duduknya, kemudian tergesa keluar dari balkon meninggalkan Ferdy sendirian. Pria muda itu merasa geli.
“Dinda tunggu!”
Adinda tak menggubris panggilan Ferdy. Ia segera menghilang dari pandangan.
***
Ngiiikk!
Teko untuk memasak air sudah berbunyi, pertanda air dalam teko sudah mendidih. Bu Mariyati mematikan kompor dan menuang air ke dalam dua buah cangkir yang sudah disiapkan teh celup di dalamnya. Ia menambahkan sesendok penuh gula, kemudian mengaduk perlahan.
Tak lama, Pak Paiman masuk ke dalam dapur membawa beberapa tas plastik berisi bahan makanan. Rupanya ia baru pulang dari pasar untuk membeli aneka keperluan dapur. Ia menaruh tas-tas plastik beserta isinya ke atas meja. Sekantung penuh sayuran, buah, dan aneka protein hewani.
“Pasar lagi ramai hari ini. Harga-harga naik dengan cepat. Jadi ada beberapa bahan yang tak terbeli hari ini,” ucap Pak Paiman seraya duduk di sebuah kursi.
“Buat teh buat siapa?” tanya Pak Paiman sembari menenggak air yang telah disajikan istrinya.
“Ini Pak. Tadi Non Adinda minta dibuatkan teh, tetapi kok tiba-tiba pergi begitu saja. Wajahnya tampak takut. Aku khawatir, jangan-jangan ....”
Bu Mariyati tak melanjutkan ucapannya, tetapi parasnya berubah cemas. Pak Paiman mendengkus, berusaha untuk menenangkan perasaan sang istri.
“Ah, masa sih! Sudahlah, jangan dibahas. Jangan sampai anak-anak itu dengar, nanti pada takut semua! Hal-hal seperti itu kan sudah biasa di rumah yang lama tak ditinggali. Kalau tidak menganggu ya biarkan saja. Mungkin mereka mau menunjukkan diri saja,” kata Pak Paiman bijak.
“Iya Pak. Makanya aku pura-pura tak tahu dan bersikap biasa saja,” terang Bu Mariyati.
“Oya, kamu tahu sarung tangan yang biasa kupakai untuk berkebun nggak? Sebab kucari di gudang tidak ada. Terus mantel hitam juga nggak ada di gudang. Sepertinya ada yang mengacak-acak isi gudang, karena berantakan banget. Aku mau pake sarung tangannya untuk menanam beberapa tanaman hias di halaman depan” ucap Pak Paiman.
“Tikus kali Pak yang ngacak-acak!”
“Ya nggak mungkinlah! Masa tikus ambil sarung tangan? Ini berantakannya parah banget. Seperti ada yang sengaja mencari sesuatu di dalam gudang.” Pak Paiman menjelaskan.
“Terus di mana ya Pak? Masa anak-anak itu yang ambil sarung tangannya? Tapi buat apa?”
“Aku nggak nanya kalau aku tahu,” ucap Pak Paiman dengan enteng.
Bu Mariyati hanya menghela napas. Setelah teh sudah siap disajikan, ia menaruh cangkir teh ke dalam baki aluminium, untuk kemudian di antar ke balkon. Aroma teh tercium semerbak memenuhi dapur, membuat Pak Paiman ingin juga menghirup teh panas.
“Nanti buatkan aku satu ya!”
“Iya Pak!”
***
Adinda segera masuk ke dalam kamar untuk menghilangkan rasa takut. Dari jendela kamar, ia bisa melihat kebun samping yang banyak ditumbuhi bunga. Dari situ, ia bisa melihat Rasty yang sedang berbincang serius dengan Rudi.
Sejenak Adinda merasa ingin tahu, apa yang sedang dibicarakan mereka berdua, karena terlihat begitu serius? Adinda merasa semenjak kematian Miranti, semua jadi terlihat lebih waspada. Ia khawatir, ada rencana tersembunyi yang dirancang oleh teman-temannya tanpa melibatkan dirinya.
Tok ... tok ... tok!
Pintu kamarnya diketuk. Adinda membuka, mendapati Lena yang berdiri di depan pintu. Gadis itu tampak cemberut, seperti sedang kesal.
“Kenapa Len?” tanya Adinda.
“Aku bosen banget Din. Sumpah. Mengapa sejak kematian Miranti semua pada menjauh ya? Mereka semua pada nggak asyik. Aku bingung mau ngapain. Dan berita buruknya, kita akan membusuk di rumah isolasi ini sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Aku bisa gila di sini, Din!” keluh Lena.
“Terus kita harus ngapain, Len? Kan wajar saja kalau kita semua saling curiga satu sama lain,” ucap Dinda.
“Jalan aja yuk!”
“Jalan? Kemana? Emang boleh kita ke Mall? Kita kan udah diwanti-wanti nggak boleh keluar dari rumah ini. Lagian, sepertinya di rumah ini aku merasa nggak aman. Kayak ada yang mengawasi gitu.”
“Mungkin kalau jalan sendirian nggak boleh Din. Kalau berdua mungkin boleh karena lebih aman,” ucap Lena.
“Emang jalan kemana, Len? Ogah kalau kamu ngajak jalan ke kuburan. Di sana banyak sumur tua. Mending di kamar aja istirahat. Lagian di luar sangat panas. Kita ngobrol aja di kamarku aja yuk!” tawar Adinda.
“Iya sih bingung juga mau kemana. Coba boleh jalan ke Mall. Emangnya kita mau ngobrolin apa juga?”
Adinda tiba-tiba menarik lengan Lena untuk masuk ke dalam kamar. Adinda menunjukkan pemandangan di bawah sana yang memperlihatkan Rasty tengah berbicara serius dengan Rudi. Pasangan itu tak menyadari kalau terlihat dari jendela kamar Adinda yang terletak di lantai dua.
“Menurutmu mereka ngapain?” tanya Adinda.
“Mana kutahu! Lagian apa urusannya denganku? Aduh, kamu ngajak gosip pagi-pagi,” ucap Lena sambil menatap pemandangan di bawah.
“Aku khawatir sih merencanakan sesuatu tanpa melibatkan kita. Jujur, aku mulai takut di sini, Len. Aku mulai ngerasa nggak aman gitu. Perasaanku nggak enak,” ucap Adinda.
“Nah kan? Ngerasa juga kan? Siapa pun pasti nggak betah lah dikurung seperti ini. Tanpa hiburan apa pun. Ini lebih parah dari penjara. Gimana kalau kita protes aja sama Pak Dimas? Kayaknya dia lebih bijak daripada Pak Reno. Mungkin dia punya solusi untuk mengatasi kebosanan yang kita alami,” usul Lena.
“Gimana ngomongnya Len? Kita minta dibolehin jalan-jalan, gitu?” tanya Adinda.
“Ya, pokoknya gimana caranya lah agar nggak bosen di rumah ini. Sumpah aku bisa gila kalau terus-terusan di sini!”
Adinda sangat memahami apa yang dirasakan oleh Lena. Sejujurnya ia pun merasakan hal yang sama. Apalagi ditambah dengan peristiwa aneh yang baru dialaminya, membuat dia sedikit takit.
“Ya udah yuk, kita temui Pak Dimas. Kamu tahu di mana dia?” tanya Adinda.
“Aku tahu dia ada di mana, karena aku tadi sempat melihat dia ruang tamu. Yuk kita samperin!”
***