Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
361. Investigasi Dimas


Matahari mulai bergeser sejengkal demi sejengkal menuju belahan langit barat. Dimas memulai sesi penyelidikan di lapangan. Ia sengaja mengunjungi satu-persatu kediamanan keluarga dari empat nama yang ia curigai. Ia mulai dari kediaman Rosita, yang rumahnya masih masuk dalam ke dalam pusat kota yang ramai. Kediaman Rosita berada di sebuah kompleks perumahan menengah ke atas, dekat dengan pusat perdagangan dan bisnis yang sibuk. Sayangnya, rumah berlantai dua itu terlihat sepi. Dimas sudah mengetuk-ngetuk pagar yang tingginya hampir dua meter, tetapi tak ada yang membukakan.


Ia hendak pergi meninggalkan rumah itu, ketika tiba-tiba seorang bapak paruh baya mendekat sambil menatapnya curiga. Setelah berbasa-basi sejenak, bapak itu menerangkan bahwa pemilik rumah itu sudah pindah, jadi rumah dibiarkan kosong. Sayangnya bapak itu tak tahu kemana pindahnya si pemilik rumah, bahkan menurut dia, si pemilik rumah ini agak tertutup dan jarang bergaul dengan tetangga, jadi ia kurang tahu mengenai alamat baru si pemilik rumah.


Setelah mengucapkan terima kasih, Dimas meluncur ke lokasi ke dua yaitu kediaman keluarga Maya. Lokasi rumah keluarga Maya agak jauh, meluncur ke pinggiran kota. Rumah keluarga Maya cukup sederhana bila dibandingkan dengan kediaman Rosita. Ia juga berasal dari strata sosial yang lebih rendah dibandingkan dengan Rosita. Rumahnya tak terlalu besar, berdinding kusam, tanpa eksterior yang mencolok. Rumah itu berada di perkampungan yang cukup padat.


Sewaktu Dimas mengunjungi kediaman keluarga Maya, ia disambut dengan suara tangisan anak kecil sekira dua tahun yang sedang dalam gendongan seorang ibu berpenampilan kusut. Selain itu ia juga melihat beberapa anak-anak kecil berlari-larian di dalam rumah. Suasana rumah terlihat berantakan, dengan baju-baju yang berserakan, bercampur dengan mainan anak-anak yang terhambur. Meja dan kursi pun tampak tak pada tempatnya, mirip kapal pecah.


"Maaf Pak, anak saya lagi demam," ucap ibu itu singkat sambil menjejalkan botol dot pada anak yang sedang digendongnya.


Dimas merasa segan untuk melanjutkan penyelidikannya. Namun, di situ ia melihat seorang remaja yang langsung menemuinya. Dimas langsung bertanya-tanya kepada remaja pria yang masih berusia belasan tahun itu. Rupanya dia adalah adik Maya. Rupanya, Maya memiliki empat orang adik yang masih kecil, sedangkan dia sendiri adalah anak sulung. Sewaktu Dimas menanyakan keberadaan sang ayah, remaja itu hanya menggeleng seraya berucap.


"Bapak sudah pergi dan tidak kembali .... "


"Meninggal?"


Remaja itu menggeleng sekali lagi, tanpa berucap apa pun. Rupanya ia enggan memberikan keterangan, seolah kepergian bapaknya adalah kenangan pahit yang tidak ingin diungkapkan. Dimas tidak bisa memaksa. Paling tidak, ia tahu sedikit mengenai latar belakang keluarga Maya yang memang terlihat berantakan.


Setelah selesai dengan keluarga Maya, Dimas kembali ke mobil dan melihat dua nama yang tersisa. Sepertiya ia tidak bisa menginvestigasi keluarga Lily, karena wanita itu adalah seorang pendatang dari pulau seberang. Keluarganya tinggal berlainan pulau, sedangkan Lily sendiri mengontrak rumah di kota ini. Dimas mencoret nama Lily, berharap menemukan informasi lain yang lebih akurat mengenai wanita ini.


Ia langsung meluncur ke kediaman Nadine yang lokasi rumahnya tak begitu jauh dari kediaman Maya, hanya berjarak tiga kilometer. Rumah kediaman Nadine juga terbilang sederhana, seperti rumah-rumah di kampung pada umumnya. Sewaktu Dimas mengetuk pintu, butuh waktu sekitar sepuluh menit sampai seseorang membukanya. Seorang wanita paruh baya membuka pintu, tetapi tak mempersilakan masuk. Dimas langsung mengenal wanita ini adalah ibu Nadine, karena paras mereka yang begitu mirip. Sama-sama cantik.


Setelah memperkenalkan diri, Dimas berbasa-basi sedikit, mengatakan bahwa dirinya mengenal Nadine dan suaminya. Alih-alih mendapat banyak informasi, Ibu Nadine rupanya juga tidak memberi banyak keterangan karena ia merasa kurang enak badan pada hari itu. Dimas berusaha melihat ada siapa di dalam rumah, tetapi tampaknya dalam rumah tampak lengang, hanya terdengar suara musik klasik tahun 70-an terdengar sayup-sayup dari sebuah alat musik gramafon.


"Ibu tinggal dengan siapa?" tanya Dimas.


"Semenjak Nadine menikah, aku tinggal dengan suamiku dan putriku. Ada putriku di dalam," jawab ibu itu pendek.


"Suami ibu?"


Dimas hanya manggut-manggut. Ia sebenarnya ingin mengorek lebih dalam tentang keluarga itu, tetapi sepertinya ibu Nadine tak memberi kesempatan Dimas untuk masuk lebih dalam ke kehidupan pribadinya. Dimas tak ada punya pilihan lain. Setelah dirasa cukup dengan informasi-informasi tersebut, ia segera kembali ke kantor untuk mengolah semua data yang ia dapat.


Ia merasa heran, karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa empat nama yang ia telusuri ini mempunyai orangtua yang lengkap, dan tidak ada masalah. Mungkin hanya Lily yang terlewat karena posisi orangtua di luar pulau. Ia akan segera berkoordinasi di kepolisian di pulau seberang untuk mencari informasi terkait ini. Sedangkan kediaman orangtua Rosita yang baru juga akan terus dilacak, karena alamat lama hanya  menyisakan sebuah rumah dalam keadaan kosong.


***


Krieet!


Ryan membuka pintu pondok tua yang sedikit gelap dan pengap itu. Sepertinya tak ada siapa-siapa di sana. Ia melihat sekeliling, tetapi pondok itu terlihat sunyi. Ia masuk lebih dalam, memeriksa bilik-bilik yang ada di pondok. Ia berharap segera menemukan pakaiannya di dalam bilik itu, karena ia sudah mulai merasakan firasat tidak enak. ia ingin segera keluar kalau saja menemukan baju dan celananya.


Ia memeriksa bilik yang pertama, sebuah bilik yang kusam, dengan perabotan berserak. Ia masuk perlahan, berusaha memaksimalkan pendangannya. Sejak di bangku SMA, sebenarnya ia merasa agak bermasalah dengan penglihatannya, tetapi ia mengabaikan. Kini ia dipaksa untuk memasuki ruangan yang terlihat kabur di depannya,


Setelah mencari-cari, ia melihat baju dan celananya berada di atas kursi kayu yang usang. Ia merasa gembira, segera ia pakai baju dan pakaiannya. Ia tidak perlu lagi berlama-lama dalam bilik pondok itu. Setelah ia memakai baju dan celananya, ia berniat keluar bilik, kemudian menuju ruang depan.


Namun, ia terhenti ketika ia hendak keluar dari dalam pondok, seseorang berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu keluar. Sayangnya, ia tidak dapat mengenali siapa sosok hitam tersebut. Namun, ia dapat melihat gelagat dari sosok itu, sepertinya ia berniat tidak baik. Di tangan sosok hitam itu tergenggam sebuah benda tajam berkilauan. Ryan sadar, ini bukan situasi yang baik untuk melawan, megingat ia tidak mempunyi apa pun di tangannya.


Ryan tidak mau mengambil risiko. Segera ia memutar badan, kembali masuk ke dalam pondok dengan cepat, mencari tempat persembunyian atau sesuatu yang bisa digunakan untuk bertahan. Degup jantungnya berubah kencang. Sekilas ia teringat teman-temannya yang sudah mati, seperti Lidya, Adit, dan Farrel. Ia tidak mau masuk ke daftar berikutnya.


Ryan merasa bingung, kemana ia harus lari dan bersembunyi. Bilik itu bukanlah kastil yang mempunyai banyak lorong dan ruang untuk bersembunyi. Ia harus cari akal agar bisa meloloskan diri. Ia menoleh ke belakang, sosok hitam itu bergerak memburunya. Tak ada pilihan lain, selain melawan atau mati ditebas senjata tajam itu!


***