Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
270. Pagi Pertama


Malam berlalu cepat, menenggelamkan penghuni rumah isolasi dalam tidur nyenyak sampai menjelang pagi. Namun, sepertinya ada mata yang tak terpejam malam itu. Sepasang mata yang tetap terjaga sambil menatap ke arah jendela yang gelap. Otaknya terus berputar merencanakan sesuatu. Ya, sepasang mata itu milik seorang sosok yang tersimpan dendam kesumat di dadanya. Dalam pikirannya hanya terpikir bagaimana cara menghabisi para penghuni lain dalam rumah isolasi itu.


"Rencanaku tidak boleh gagal. Aku harus menunggu kelengahan mereka," gumamnya.


Kembali ia melihat sebuah catatan yang berisi daftar nama yang sebagian sudah dicoret. Ia hendak mencoret nama 'Romeo' di situ, tetapi ia urungkan niatnya. Ia harus memastikan bahwa Faishal benar-benar sudah mati. Sejauh ini ia belum yakin bahwa aktor itu sudah menemui ajalnya. Ia berpikir ada yang aneh dengan ini semua. Padahal ia sudah membubuhkan sianida pada pizza itu, tetapi mengapa belum ada kabar kalau Faishal tewas? Ataukah tak ada TV yang memberitakan kematiannya?


Sebentar lagi, malam akan berakhir, tergantikan dengan pagi hari. Ia tidak ingin tidur. ia hanya membaringkan diri sambil merenung. Kembali ia mengingat kenangan-kenangan masa lalu. Korban pertama yang berhasil ia habisi adalah Daniel Prawira. Sutradara terkenal itu sengaja ia jerat lehernya ketika berada di toilet sendirian.


"Ia harus membayar itu semua karena kebohongannya padaku. Ya ia pantas menerimanya," gumamnya sambil menggertakan rahang.


Rupanya, ia masih merasakan dendam yang memanas di hatinya. Kemudian ingatannya beralih kepada Anita Wijaya. Gadis belia itu juga ia habisi dengan cara digantung di kebun durian.


"Kau juga pantas mati. Kehadiranmu akan membawa petaka, jadi kamu pantas mati," gumamnya.


Berturut-turut, bayangan Ollan dan Renita muncul pula dalam pikirannya. Ia menyunggingkan senyum aneh, seolah tak pernah menyesali semua perbuatan jahatnya. Ia terus mencari cara agar bisa menghabisi korban selanjutnya.


"Giliranmu akan tiba Ratu Pesolek!"


***


Malam telah berganti pagi. Sinar matahari keemasan sudah menerobos celah-celah dedaunan, membentuk bayangan-bayangan tak teratur. Sebagian penghuni rumah isolasi sudah terbangun, namun ada yang masih betah dalam kamarnya.


Rianti sudah berada di luar kamar sejak Subuh untuk menikmati udara pagi yang penuh oksigen. Udara seperti ini tak pernah ia nikmati di kota. Ia merasa mood-nya kembali baik, saat berjalan di sekitar rumah, sambil mengamati koleksi  tanaman hias milik Bu Mariyati. Suasana seperti ini hampir mirip dengan villa miliknya, hanya saja dalam rumah isolasi ini lebih sepi, dan agak jauh dari perkotaan.


Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Henry yang juga sudah berada di luar rumah untuk menikmati kicau burung yang bertengger di pepohonan. Perang dingin antara berlangsung agak lama, setelah Rianti mengetahui perselingkuhan antara Henry dan Laura.


"Tak kusangka kamu sudah bangun sepagi ini," kata Henry, setelah mengetahui keberadaan Rianti di dekatnya.


"Aku juga berpikiran sama denganmu. Tak biasanya kamu sepagi ini kamu berada di luar rumah. Perubahan sikap yang baik bukan? Mungkin ada hal baik yang kamu peroleh dari Laura," cibir Rianti.


"Mengapa kamu selalu mengaitkan dengan Laura? Apa kamu tidak kasihan padanya? Ia sangat tertekan dengan perlakuanmu. Kalau memang harus ada yang dipersalahkan, maka kamu salahkan saja aku. Ya, aku  memang tertarik dengan Laura, walau Laura belum sepenuhnya menyukaiku. Bahkan dia cenderung menolakku. Kamu jangan salahkan dia atas hal ini!" ucap Henry.


Rianti hanya tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya begitu saja dengan ucapan suaminya. Ia tetap menganggap, bahwa apa yang dilakukan Laura adalah sebuah kesalahan. Ia membuang muka dari pandangan Henry.


"Lalu apa maumu? Akan kuurus perceraian kita secepatnya setelah kasus ini selesai," ucap Henry.


"Cerai? Tidak semudah itu, Hen!"


"Lalu apa yang kamu inginkan? Yang jelas aku tidak akan kembali lagi padamu. Tidak Rianti! Cukup sudah pernikahan pura-pura ini, dan kita harus segera akhiri ini. Kamu tidak udah berlagak lagi sok suci. Semua tahu masa lalumu yang kelam. Jadi jangan pura-pura tak bersalah dalam hal ini," tandas Henry.


"Kamu ... kamu nggak mengerti apa yang kurasakan, Hen. Kamu tidak peka dengan perasaanku!"


"Stop bikin drama, Rianti. Aku sudah bosan," ucap Henry tegas.


"Oke Hen. Terserah kamu saja. Karena sejujurnya, mungkin aku tak akan bertahan lama lagi di dunia ini .... "


"Apa yang sedang kamu bicarakan?" tanya Henry kemudian.


"Aku ... aku takut. Tadi malam aku mendengar suara aneh mengetuk-ngetuk dindingku. Aku berpikir bahwa pembunuh itu mungkin sedang mengincarku, Hen. Aku takut mungkin aku akan mati," ucap Rianti.


"Aku mengerti Rianti. Kusarankan padamu untuk melapor segera kepada Pak Reno agar kamu mendapat pengamanan maksimal. Siapa saja bisa menjadi tersangka dalam hal ini, dan jangan percaya dengan siapa pun. Kusarankan untuk segera melapor," saran Henry.


Rianti hanya mengangguk-angguk sembari bergumam lirih," Terima kasih."


***


Sejak pagi, Bu Mariyati sudah sangat sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk para penghuni rumah. Ia terbiasa melakukan itu sendirian, tetapi kali ini memperketat jenis bahan yang hendak ia masak. ia pastikan sayuran dan bahan makanan lain dicuci bersih sebelum dimasak. Bahkan agar aman, ia sengaja menyimpan bahan makanan di rumahnya sendiri yang terletak di belakang gedung utama. Ia khawatir apabila menyimpan bahan makanan di kulkas yang terletak di gedung utama, akan disabotase oleh seseorang yang tak bertanggungjawab.


Widya yang baru saja mandi dan berdandan rapi, tak sengaja pergi ke dapur untuk mengambil minum. Dilihatnya Bu Mariyati yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk para penghuni. Sebagai seorang perempuan, ia tak bisa membiarkan Bu Mariyati bekerja sendirian seperti itu. ia segera mengambil beberapa sayuran yang ada di atas meja, kemudian bersiap untuk mengiris di atas sebuab talenan.


"Oh, tidak boleh! Neng tidak boleh membantu. Biar saya saja yang melakukan tugas saya. Neng tidak boleh membantu, dan silakan masuk saja," ucap Bu Mariyati sedikit panik sambil mengambil pisau yang ada di tangan Widya. Tentu saja hal itu membuat Widya terkejut.


"Sa-saya hanya ingin membantu," ucap Widya.


"Tak perlu, Neng. Saya bisa melakukan ini semua sendiri. Sebaiknya Neng kembali. Pak Reno juga melarang siapa pun untuk membantu pekerjaan saya," ucap Bu Mariyati.


Widya tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia juga tak ingin berdebat, mengingat posisinya saat ini hanya seorang tamu. Ia hanya tak habis pikir mengapa Pak Reno melarang seseorang untuk membantu pekerjaan Bu Mariyati. Widya tak ingin berpikir lebih lanjut.


"Maafkan saya, Bu. Saya tidak tahu," ucap Widya.


Bu Mariyati tak ingin berkata apa-apa. Ia tak mempedulikan kehadiran Widya, sembari terus memasak. Widya merasa canggung berada di tempat itu, sehingga ia memutuskan untuk masuk. Ia merasa pagi ini sudah dimulai dengan sesuatu yang aneh. Ia berharap semuanya akan baik-baik saja.


***