Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XLVI. Dark Secret


Dokter Dwi duduk menatap wanita paruh baya yang terbaring di hadapannya. Sungguh, ia bingung apa yang harus dilakukan. Diraihnya tangan wanita itu, terasa dingin dengan detak jantung yang lemah. Mendadak muncul rasa iba. Raut wanita itu cukup cantik. Pasti masa mudanya banyak yang menyukai. Lalu mengapa Anggara menyia-nyiakan, dan menyimpan wanita ini dalam ruang bawah tanah?


Tiba-tiba wanita itu membuka matanya, menatap tajam ke arah dr. Dwi. Pria itu melihat ada yang aneh dengan mata si wanita. Pupilnya berwarna putih. Apakah benar wanita ini tak bisa melihat karena glaukoma atau hal lain? Parasnya tampak ketakutan.


“Siapa kamu! Siapa! Apa kamu kesini akan membantaiku juga?” tanya si wanita dengan suara bergetar.


Dokter Dwi untuk sesaat tercekat. Ia tidak mengerti apa yang diucapkan si wanita. Ia seperti meracau tak jelas. Dokter Dwi mengira ia sudah tak waras. Yah, dikurung dalam ruangan tertutup selama bertahun-tahun akan membuat seseorang kehilangan kewarasan. Mungkin itu yang dialami oleh perempuan paruh baya ini.


“Aku ... aku hanya ingin membantumu,” bisik dr. Dwi.


“Tidak! Kamu pasti sama seperti mereka. Kamu mau mengambil semua yang aku milikki. Dia pantas mati. Kamu juga pantas mati!” ucap perempuan itu nanar.


Dokter Dwi terdiam, berusaha mencerna apa yang dikatakan wanita itu. Siapa yang dimaksud ‘dia’? Mengapa pantas mati? Apa yang sebenarnya yang dia miliki?


“Tenang! Tenanglah dulu Nyonya. Bicaralah dengan tenang. Ceritakan apa saja kepadaku,” bisik dr. Dwi lembut.


Napas wanita itu tersengal, dengan mata melotot. Kemudian ia menarik napas dalam, berusaha mengontrol emosi yang membara di dadanya. Ia terlihat lebih tenang daripada sebelumnya. Wajahnya masih menyiratkan rasa cemas mendalam. Dokter Dwi membiarkan wanita itu, agar lebih stabil. Tak lagi ia bertanya. Jelas ada gangguan di matanya, tetapi untuk melakukan tindakan medis, itu adalah bodoh yang tak mungkin ia lakukan.


Klik!


Krieet!


Pintu ruangan terbuka. Sosok berjubah hitam memasuki ruangan dengan sebuah tas hitam. Tas itu dibuka di atas meja. Di dalamnya terdapat banyak pisau, cairan alkohol, jarum suntik dan berbagai perlengkapan medis. Dokter Dwi menahan napas. Darimana sosok itu mendapat banyak peralatan medis selengkap ini?


“Ada yang kurang?” tanya sosok itu.


“Aku ... aku tidak mengerti. Apa yang harus kulakukan?”


“Kamu jangan berlagak bodoh, Dokter! Operasi mata ibuku dan sembuhkan dia! Aku ingin dia sembuh dan bisa melihat kembali. Kalau kamu memang membutuhkan kornea mata yang bagus, maka akan kuambil bola mata Maira agar bisa dipasang di mata ibuku” kata sosok berjubah itu.


Astaga!


Dokter Dwi merinding mendengar perkataan sosok itu. Sungguh, dia adalah sosok yang bedarah dingin. Padahal selama ini dr. Dwi melihatnya sebagai sosok yang baik, ternyata ada sesuatu yang gelap di balik pikirannya. Bahkan, apa yang di tersimpan di sana adalah sesuatu yang sangat mengerikan.


“Tidak! Kamu tidak boleh mengambil mata siapa-siapa. Itu tidak banyak membantu. Kamu harus sudahi pembunuhan yang telah kamu lakukan. Apa yang kamu lakukan itu sungguh tak dapat dibenarkan karena mengambil nyawa banyak orang tak berdosa!”


Akhirnya dr. Dwi bersuara lantang. Sosok berjubah itu hanya menyunggingkan senyum mendengar perkataan dr. Dwi.


“Kamu boleh berkata apa saja, Dokter. Tetapi bagi aku, membunuh adalah kesenangan. Dahulu, tempat ini didesain sebagai tempat penyiksaan di zaman kolonial. Sepuluh tahun lalu, para penulis diundang ke tempat ini. Mereka dijamu dengan makan malam yang lezat, kemudian keesokan harinya mereka terbangun dalam keadaan dirantai, disiksa kemudian dibunuh di ruang bawah tanah. Psikopat sebenarnya adalah Anggara Laksono. Ibuku berusaha menghentikan, tetapi malah dikurung di sini.


Hal terburuknya, ia menikahi Anastasia Pratiwi, dan aku di buang di sebuah panti di luar kota. Sekarang aku kembali untuk menuntut balas. Sayangnya, aku harus menghabisi para penulis lain. Semua yang sudah masuk ke kastil ini, harus mati. Aku mewarisi ilmu membunuh dari ayahku. Kini aku akan menerapkan ilmu itu!”


“Tapi ... tapi mengapa?”


“Pertama, aku tak mau cerita ini tersebar di luar, dan mereka mengetahui identitasku yang sebenarnya. Jalan satu-satunya adalah menghabisi mereka. Dan yang kedua, karena rasa sakit yang kurasa semenjak aku masih kecil. Mereka mengejek dan mencaci, merendahkan harga diriku. Aku sangat menikmati setiap pembunuhan yang kulakukan. Setiap darah yang tercecer membuatku merasa bahagia!”


“Mereka pantas mati! Siapa saja yang memandang rendah diriku, pantas mati!”


“Tidak ada seorang pun yang memandang rendah dirimu. Kamu penulis terkenal. Banyak orang menghargai karyamu. Kamu harus menghargai hidupmu juga. Akhiri semua ini!”


“Aku bukan penulis terkenal!”


***


Hans memasuki ruangan kerja Anggara Laksono dengan langkah tegap, kemudian menghempaskan diri di sofa. Tampangnya tetap sedingin es, menatap tajam ke arah Ammar yang sedang menulis di meja di hadapannya. Hans mendongakkan kepala, seraya mengusap janggut.


“Apakah semua akan menjalani prosesi interogasi yang sama? Duduk di sofa, kemudian kamu bertanya banyak hal? Setelah itu kamu mencatat dan membiarkan pergi begitu saja? Kurasa tak ada yang menarik yang dapat digali dariku,” ujar Hans.


“Aku bahkan belum menanyai apa pun. Jadi duduk dan diamlah! Biarkan aku menyelesaikan analisisku,” jawab Ammar tanpa sedikit pun mengarahkan muka ke arah Hans.


“Aku yakin, kamu pasti sedang dilanda kebingungan. Kini dirimu seorang diri, tanpa dr. Dwi yang membantu, sementara pembunuh berkeliaran di luar sana. Bisa jadi itu aku atau siapa pun. Korban juga terus berjatuhan, sementara kamu masih memasung diri di kantor ini, kurasa usahamu sia-sia,” lanjut Hans.


“Kalau kamu tidak diam, maka aku akan memaksamu untuk diam!” hardik Ammar. Kali ini tatapannya menajam.


Hans hanya mengangkat bahu sambil mencibir. Dilihatnya sekeliling ruangan itu. Banyak ornamen antik yang menarik hatinya. Ia bangkit, mengamati sebuah foto tua. Anggara Laksono bersama seorang wanita dan bayi. Hans mengernyitkan dahi.


“Anggara Laksono mempunyai bayi?” tanya Hans.


“Ya. Dan bayi itu ada di sini sekarang. Bisa jadi itu dirimu atau yang lain. Bayi itu diciptakan untuk menjadi mesin pembunuh. Nah, sekarang duduklah karena aku siap dengan pertanyaan-pertanyaan!” perintah Ammar.


Hans segera duduk di sofa dengan santai, sementara Ammar berdiri sambil memegang catatannya.


“Bisa kamu ceritakan sedikit tentang riwayat keluargamu, Tuan Hans Christopher?” tanya Ammar.


“Well, tentu saja. Aku besar di sebuah panti asuhan, sampai kemudian seorang keluarga kaya mengadopsi dan menyekolahkan aku hinga jenjang tertinggi. Sejak kecil, ayah angkatku mengingkan agar aku bisa meneruskan usahanya, tetapi entahlah! Aku tak terlalu menyukai dunia bisnis. Menurutku dunia menulis lebih menantang, sehingga aku terjun ke dunia ini,” terang Hans.


“Sebuah panti? Hmmm. Kamu tahu, psikopat yang sedang aku cari ini kemungkinan besar berasal dari sebuah panti, karena jelas dia tidak tinggal di sini. Kemudian ia menyusup ke dalam kastil ini, mungkin pembunuhan sudah ia rencanakan selama bertahun-tahun. Besar kemungkinan ia menderita suatu trauma masa kecil yang mengubah rasa kemanusiaan menjadi nafsu hewan buas tanpa belas kasihan,” ucap Ammar.


“Hmm. Tentu saja bukan aku! Kamu pikir aku tak punya belas kasihan? Aku adalah pria berhati lembut. Kamu tahu, banyak wanita tergila-gila padaku dan mereka rela menyerahkan miliknya yang paling berharga kepadaku.”


Seulas senyum tersungging dari bibir Hans. Ammar mendengus, kemudian meletakkan buku catatannya di atas meja.


“Kamu tak usah berlagak di sini, Hans. Reputasi bercintamu memang hebat, dan kulihat Maira sangat menyukaimu. Tetapi kurasa di sini aku akan menandai namamu dengan stabillo, dan mulai hari ini kamu kutetapkan sebagai calon kuat pelaku pembunuhan itu!”


“Aku? Hahaha!” Hans tergelak.


“Waspadalah, Hans!”


***