Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
296. Pengakuan Rianti


Rianti terhenyak ketika Dimas menatap dirinya tajam, Sejak tadi ia hanya terdiam, tak disangka ia mendapat serangan tak diduga. Rianti berusaha untuk tenang, mencoba menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha agar terlihat tak bersalah.


"Tuduhan yang sempurna, Pak. Tapi saya menolak semua itu!" ucap Rianti dengan suara gemetar.


"Tunggu, Rianti! Kamu boleh melakukan pembelaan, tetapi tunggu aku selesai ya. Aku akan kembali menyebutkan dosa-dosamu sejak awal. Mari kita kembali pada kasus pembunuhan Daniel Prawira. Masa lalumu tak begitu bagus kan? Dan ternyata kau punya hubungan gelap dengan Daniel Prawira sejak lama. Kami menemukan kartu ucapan ulang tahun yang berinisial Re. Siapa lagi yang berinisial itu selain Renita? Kamu terinspirasi dengan nama sahabatmu itu kan?  Kamu dengan sengaja menuliskan nama Re di kartu ucapan. Kamu rupanya juga menginginkan harta Daniel yang melimpah untuk membiayai gaya hidupmu yang tinggi. Sayangnya, Daniel lebih mengutamakan Anita daripada dirimu. Setelah kamu menghabisi Daniel, kau mengincar Anita.Setelah makan malam. kamu membawanya di kebun durian milik Daniel. Jarang ada orang yang tahu kalau Daniel memiliki kebun durian, kecuali orang-orang dekatnya. Rupanya kamu tahu itu. Kamu habisi Anita di kebun itu, kamu menggunakan tali untuk mengangkat tubuh Anita ke atas pohon, kemudian kamu kabur, pulang ke rumah seolah tak terjadi apa-apa. Kamu memang pemain peran yang baik, tetapi sayangnya kamu bukan artis," ucap Dimas.


"Tuduhan itu sangat serius dan keji!" gumam Rianti.


"Tunggu! Aku akan lanjutkan dulu. Kami sempat menemukan bungkus cokelat di beberapa lokasi kejadian pembunuhan. Kami tahu bahwa kamu tak terlalu suka makan cokelat, tetapi kamu sengaja mengalihkan perhatian. Kamu tahu kalau suamimu suka cokelat, lalu kamu mengambilnya diam-diam, dan membereskan sisa-sisa cokelat Henry yang tak habis, meletakkan bungkusnya di tempat kejadian. Bungkus cokelat yang kami temukan saat pembunuhan Renita adalah bungkus cokelat yang sudah lama, sepertinya itu bukan cokelat yang baru saja dimakan."


Setelah kamu habisi Anita, kamu mengincar Ollan. Sifat posesifmu yang berlebihan, sangat takut kehilangan Henry, sehingga kamu mengikuti kemana pun dia pergi. Sayangnya, Henry merasa tak nyaman dengan perlakuanmu. Ia sering curhat kepada Ollan mengenai ini, dan kamu juga berpikir untuk menyingkirkan Ollan, karena kamu berpikir Ollan punya andil dalam perselingkuhan Henry dan Laura. Kamu memburu Ollan, tetapi sayangnya usahamu gagal. Tak ada seorang pun yang tahu kondisi villa selain kamu dan suamimu. Makanya kamu langsung tahu saat Ollan menginap di villa, bahkan kamu bisa kabur dengan mudah, karena hanya kamu dan suamimu yang tahu seluk-beluk villa itu," lanjut Dimas.


Rianti semakin terdesak dengan fakta-fakta yang dibeberkan oleh Dimas. ia masih mencari cara agar bisa menyangkal dari semua itu.


"Lalu beranjak ke pembunuhan Renita Martin. Sejak awal sahabatmu itu tak setuju dengan hubunganmu dengan Daniel, tetapi ia masih tetap menjaga rahasiamu. Sampai pada suatu saat Renita menemui Laura dan menceritakan keburukanmu. Jangan kamu pikir kami tak tahu tempat bertemunya dirimu denga Laura. Bahkan kami punya fotomu. Kamu merasa sakit hati mendalam, karena itu kamu sengaja membunuh Renita dengan alasan itu. kamu gorok lehernya di hadapan adiknya. Aku sendiri heran, mengapa kamu tega melakukan itu pada sahabatmu sendiri. Beralih ke Faishal yang memang tak pernah suka padamu. Kamu tahu kalau Faishal hendak menginap di villa bersama Melani. Kesempatan ini tak akan kulewatkan. Kamu sengaja membuat kekacauan malam itu dengan mematikan diesel bukan? Faishal juga bercerita padaku kalau ia tak sadar memakan makanan yang tiba-tiba saja ada di meja. Makanan itu sudah kamu bubuhi dengan obat bius sehingga Faishal merasa mabuk dan tak sadar setelah itu, kau giring dia ke loteng, lalu kau masukkan ke dalam kardus. Kami sudah mengecek transaksimu secara online. Kamu membeli barang-barang kimia berbahaya, termasuk obat bius dan racun. Kami juga melacak asal pizza yang kamu kirimkan kepada Faishal. Semua mengarah kepadamu, Rianti. Untunglah Faishal berhasil selamat, tetapi nasib malang menimpa Melani karena kau habisi wanita itu pula.  Kamu makin menggila dengan mengincar Widya.  Bukankah Widya juga dekat dengan Pak Daniel? Widya menyebutmu dengan 'pembisik misterius' di buku hariannya. Kamu tak suka karena Widya juga dekat dengan Pak Daniel. Kalau saja tak terungkap sekarang, mungkin kau juga akan mengincar nyawa Henry dan Laura. Mungkin kamu akan menyisakan Riky dan Guntur, karena mereka berdua jarang berinteraksi denganmu. Jadi apa yang hendak kau katakan lagi, Rianti? Semua sudah jelas."


Rianti meradang mendengar penuturan Dimas. Memang, apa yang disampaikan polisi muda itu benar-benar tepat sasaran. Ia seolah tak berkutik, bingung harus membuat pembelaan seperti apa. Ia merasa seperti ditelanjangi di depan para penghuni rumah yang menatapnya dengan sinis. Ia sadar, ia tak punya alasan apa pun untuk mengelak dari segala tuduhan Dimas. Tak lama kemudian, ia berdiri.


Semua bergidik mendengar pengakuan Rianti. Mereka tak menyangka bahwa sosok Rianti adalah seorang yang berdarah dingin dan berbahaya. Terutama Henry. Ia merasa sangat terpukul, karena selama menikah dengan perempuan itu, ia tak dapat mengenalinya dengan baik. Ia sama sekali tak menyangka perempuan yang bertahun-tahun ia nikahi tak lebih adalah seorang monster betina yang sangat keji. Ia hanya bisa terdiam menggertakan rahang, menahan perih yang menyayat hati.


"Kalau begitu semua sudah jelas Rianti. Kamu sadar, perbuatanmu itu harus dipertanggungjawabkan. Kamu boleh membela diri saat di pengadilan nanti, tetapi kami harus mengamankanmu terlebih dahulu! Hardy! Toni!"


Dimas memanggil dua polisi yang bertugas menjaga rumah isolasi itu. Keduanya segera sigap, memegang tangan Rianti, lalu menguncinya dengan borgol. Tak ada perlawanan dari Rianti sedikit pun, tetapi terlihat ia sedang merancang sesuatu di otaknya. Parasnya terdiam tanpa ekspresi, sementara anggota penghuni rumah lain menatapnya penuh amarah. Ammar dan Reno merasa sangat puas dengan penangkapan itu. Reno bisa bernapas lega, karena akhirnya kasus ini terkuak juga.


"Bawa dia ke kantor polisi malam ini juga! Kami harus menyelesaikan segala urusan di sini, dan baru besok kami akan kembali ke kota. Nah, malam ini kalian semua bisa tidur dengan tenang!" ucap Dimas sambil menebar pandangan ke semua penghuni rumah isolasi yang lain.


"Kurasa tak semudah itu. Aku ... aku masih terpukul dengan semua ini," gumam Laura sambil menggeleng.


Semua juga merasakan hal yang sama. Kejadian penangkapan Rianti terjadi begitu tiba-tiba. Perempuan itu segera dibawa keluar rumah isolasi dalam keadaan terborgol, siap dipindah ke kantor polisi. Sorot mata Rianti menatap kosong seperti ada sesuatu yang bergejolak dalam otaknya. Jelas ia tak akan menyerah begitu saja.


***