Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
173. Bayangan Hitam


Ketiga pria itu sedikit tergesa menuju ke kamar mandi di beranda belakang. Perasaan Dimas menjadi cemas, karena Lena pergi ke kamar mandi sendirian, dan melebihi waktu normal. Bukan tidak mungkin hal-hal buruk akan mengintai. Malam yang sunyi rupanya juga membuat Ferdy dan Alex merasa tidak nyaman untuk bertahan di ruang tamu. Mereka memutuskan untuk mengikuti Dimas menuju kamar mandi.


Belum sampai kamar mandi, mereka bertabrakan dengan Lena yang juga berlari dari arah kamar mandi dengan keadaan takut. Parasnya pucat, dengan peluh menetes di kening.


“Aduh!” pekik Lena.


Mengetahui yang ditabrak adalah Dimas, Lena segera bernapas lega. Napasnya tersengal. Ia ingin berbicara, tetapi tak terucap sepatah kata dari mulutnya.


“Tarik napas dulu, Len!” perintah Dimas.


Lena menarik napas dalam-dalam dari mulutnya, seraya menyeka keringat yang menetes. Ferdy dengan sigap mengambilkan segelas air di dapur, kemudian menyodorkan kepada Lena. Gadis itu meminum dengan cepat. Ia berusaha mengatur napasnya yang masih naik-turun.


“Ada apa sih, Len?” tanya Ferdy.


Setelah Lena berhasil mengatur napasnya, ia mulai bercerita.


“Aku ... aku melihat bayangan seseorang di bawah pohon. Dia membuat suara-suara aneh di sana. Sepertinya dia mengawasi gerak-gerikku. Aku takut, tetapi aku nekat keluar dari kamar mandi!”


Semua merasa heran. Mereka bertanya-tanya, siapa sosok yang dilihat Lena di bawah pohon, sedangkan dari tadi Ferdy, Alex, dan Dimas berada di ruang tamu. Apa mungkin Rudi, Dinda, atau Rasty? Bukankah mereka tidak ikut berada di ruang tamu? Atau malah Pak Paiman?


“Kamu yakin? Apakah sosok itu laki atau perempuan?” tanya Dimas.


“Aku ... aku nggak bisa lihat dengan jelas karena gelap. Dia seperti bayangan hitam saja, tinggi besar. Aku nggak tahu apakah bayangan itu adalah seseorang yang tinggal di rumah ini atau bukan. Dia diam nggak bergerak di bawah pohon. Aku takut. Nggak berani bayangin lagi,” ucap Lena.


“Tinggi besar? Siapa yang tinggi besar di rumah ini?” tanya Dimas.


“Kayaknya kamu capek terus halu gitu deh Len,” ucap Ferdy dengan santai.


“Nggak. Aku nggak lagi mabuk atau sedang ngayal. Aku benar-benar melihat bayangan hitam itu di bawah pohon di halaman belakang, dekat dengan tali jemuran. Tapi ... kurasa itu sosok yang benar-benar asing. Aku nggak pernah melihat yang beperawakan seperti itu di rumah ini. Jadi yang kulihat itu apa dong?” tanya Lena meminta pendapat.


“Maksudmu kamu melihat hantu? Aduh, jangan jadi seperti Adinda deh. Tadi dia juga bilang ada yang nakuti-nakuti di dapur. Sekarang kamu. Kayaknya aku nggak percaya deh. Mungkin bayangan hitam itu adalah bayangan pohon atau apa. Atau mungkin kamu lagi stress karena kalah main catur sama aku, jadinya berkhayal yang enggak-enggak!” ucap Ferdy sambil menyeringai.


“Tapi ... aku nggak berkhayal kok!” Lena membela diri.


“Sudah cukup! Kupikir yang penting sekarang kita semua selamat. Nanti aku yang akan mengecek halaman belakang. Sekarang, lebih baik kalian kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat, karena hari sudah malam!” perintah Dimas.


“Lah tapi permainan kan belum selesai, Pak?” protes Ferdy.


“Aku nggak mau lanjutin juga kok. Nggak apa-apa deh kamu aja yang menang. Kepalaku pusing dan kalau main lagi pasti nggak akan bisa konsen. Mending aku kemar saja untuk istirahat,” ucap Lena.


“Yah, nggak boleh gitu dong! Kan nggak seru!”


“Oke ... oke. Karena Lena tidak mau melanjutkan permainan, maka untuk selanjutnya aku yang akan bertanding melawan Alex. Setelah itu, kita lihat siapa yang akan masuk ke babak final! Nah, sekarang kalian tidur saja. Jangan terlalu dianggap serius permainan catur tadi. Nanti biar aku yang merapikan papan catur di ruang tamu. Aku akan memeriksa dulu halaman belakang!”


Ketiga anak muda itu tak lagi membantah ucapan Dimas. Mereka segera meninggalkan polisi itu, menuju ke kamar masing-masing.


Sementara, malam beranjak makin larut. Suasana makin senyap. Dimas masih penasaran dengan cerita Lena. Ia bergerak perlahan ke halaman belakang untuk memastikan bahwa situasi di sana benar-benar aman. Sembari dia berjalan, dia menyiapkan sepucuk senjata yang bisa dipakai untuk mempertahankan diri apabila terjadi sesuatu. Ia juga menggunakan sinar dari ponsel untuk menerangi halaman belakang yang agak gelap.


Dimas terhenti sejenak ketika hendak melangkah lebih jauh. Hatinya berdesir. Memang suasana belakang rumah ini sedikit menyeramkan, apalagi lampu yang dipasang tidak banyak, serta salah satunya ada yang berkedip-kedip. Ia mengumpulkan segenap nyali, kemudian menyusur halaman yang banyak ditumbuhi pohon. Ia menyasar ke arah dekat jemuran, seperti yang dikatakan Lena tadi.


Di dekat jemuran memang ada sebuah pohon randu yang lumayan tinggi. Ia mengarahkan cahaya ke sana, tetapi tak mendapati apapun. Hanya suara serangga malam yang membuat suasana bertambah seram. Diam-diam, ia merasa sedikit takut, kalau-kalau yang ia cari kali ini bukanlah sebangsa manusia, mengingat ia pernah mengalami peritiwa aneh di dapur tempo hari.


Dimas tak mau berspekulasi lebih jauh. Setelah memastikan semua aman, ia bergegas untuk kembali masuk ke dalam rumah. Ia juga harus memastikan bahwa kondisi dalam rumah juga aman, jangan sampai kecolongan seperti saat Miranti tewas. Untuk itu, ia sengaja menyiapkan minuman isotonik dan kopi agar tidak mudah mengantuk malam ini.


Ia melangkah menuju ruang tamu untuk merapikan bidak catur yang masih berserakan. Di saat yang sama, Bu Mariyati juga terlihat masuk rumah dari pintu depan yang masih terbuka. Parasnya tampak cemas dan lelah. Dimas menghentikan aktivitasnya. Ia berpikir bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi pada Bu Mariyati.


“Kenapa Bu?” tanya Dimas.


“Agung?”


Dimas mengenyitkan kening. Seingatnya, tidak ada yang bernama Agung di rumah ini. Jadi siapa sebenarnya yang dicari Bu Mariyati?


“Agung siapa, Bu?” tanya Dimas lagi.


“Agung, Pak. Kucing saya yang berbulu putih. Sejak sore tadi dia tak kelihatan. Biasanya juga sudah pulang untuk minta makan. Ini dari tadi saya cari-cari nggak ketemu.”


Bu Mariyati berkata dengan nada sendu, sementara Dimas berusaha tersenyum untuk menenangkan.


“Jangan khawatir, Bu. Agung nanti pasti balik kok. Mungkin lagi mengejar tikus atau tertarik melihat kucing lain. Itu biasa, Bu. Besok pasti kembali. Percaya deh sama saya,” ucap Dimas dengan lembut.


Bu Mariyati mengangguk, tetapi masih belum menyembunyikan rasa sedihnya. Baginya, kucing-kucing itu memang sangat dekat, bagai anak sendiri. Tiap hari dia memberi makan, bahkan memandikan mereka juga. Kesepian yang dirasakan Bu Mariyati sedikit terobati dengan kehadiran kucing-kucing itu. Tak heran, ia merasa sangat kehilangan.


“Sekarang Bu Mar istirahat saja ya. Hari sudah malam, dan Bu Mar harus bangun pagi-pagi juga. Nanti minta tolong sampaikan ke Pak Paiman untuk menemani saya berjaga malam ini. Saya harap malam ini aman dan tidak ada kejadian apa-apa,” pesan Dimas.


Bu Mariyati kembali mengangguk. Ia pergi meninggalkan Dimas yang sedang merapikan bidak catur di ruang tamu. Belum selesai merapikan, ponsel Dimas bergetar. Polisi itu menduga yang menelepon adalah Reno. Mungkin ada info penting yang hendak disampaikan. Sayangnya dugaannya salah. Yang menelepon ternyata adalah Gilda!


Sebenarnya Dimas tidak ingin mengangkat panggilan dari Gilda tersebut, tetapi apa daya telepon itu terus berbunyi, sehingga terpaksa ia harus mengangkatnya. Ia tahu sekali bagaimana sifat Gilda. Wanita muda itu tak pernah menyerah sebelum mendapat apa yang diinginkannya. Entah kenapa, Dimas merasa bahwa Gilda telah menguasai hidupnya, bahkan cenderung mengatur apa yang ia kerjakan. Itulah salah satu alasan Dimas mengakhiri hubungan bersama Gilda.


Sayangnnya, bukan berarti selesainya hubungan dengan Gilda berarti pula selesai semuanya. Gilda masih masuk ke dalam kehidupannya, apalagi didukung dengan profesinya sebagai jurnalis, sehingga memudahkannya untuk semakin masuk ke dalam ruang-ruang hidupnya.


Gilda adalah sosok jurnalis yang ambisius dan pantang menyerah. Memang, ia selalu mendapat berita terbaru dan akurat, entah bagaimana caranya. Tak heran kalau Channel-9 adalah saluran berita yang paling populer dan terpercaya, Nama Gilda Anwar sendiri sudah dicukup dikenal luas di masyarakat sebagai seorang jurnalis yang cantik dan cerdas.


“Maaf Gilda, ini sudah terlalu malam untuk menelepon. Mungkin kamu bisa telepon besok saja ya!”


Tanpa basa-basi, Dimas langsung menjawab telepon Gilda, tanpa salam pembuka.


“Tunggu ... tunggu!”


Terdengar suara Gilda di seberang yang sedikit bergemerisik. Rupanya Gilda sedang berada di luar, sehingga Dimas bisa mendengar suara lalu-lalang kendaraan. Suara Gilda terdengar sedikit tidak jelas.


“Ada apa lagi?”


“Aku nggak akan lama-lama kok. Aku tahu saat ini kamu sedang berada di suatu tempat bersama anak-anak itu. Oke, aku nggak akan membahas itu. Hanya sekedar mengingatkan bahwa jadwal wawancara akan dilaksanakan besok malam. Aku harap kamu datang tepat waktu, dan memberikan klarifikasi terhadap publik tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jangan kecewakan publik! Mereka sudah menunggu-nunggu acara ini. Asal kamu tahu, saat Ferdy menjadi tamu undangan kemarin, rating acara naik secara drastis. Kuharap kehadiranmu juga akan menaikkan rating acara ini secara signifikan!”


“Aku tidak tahu apakah aku bisa mengisi acaramu atau nggak. Karena kadang ada saja pekerjaan yang muncul tiba-tiba. Tapi aku akan usahakan untuk datang,” ucap Dimas.


“Kamu harus datang, Dim! Jangan sampai publik kecewa, atau reputasi kepolisian akan hancur kalau kamu membatalkan acara ini. Publik butuh fakta-fakta langsung dari sumber terpercaya. Selama ini berita masih simpang-siur, media-media memberitakan berita palsu dan banyak gosip. Sementara waktu terus berjalan, dan korban masih berjatuhan. Publik akan panik jika kondisi tetap seperti ini. Kamu harus bisa menenangkan publik,” ucap Gilda.


Dimas mendengkus. Ia merasa Gilda lebih mirip seorang analisis peristiwa kriminal daripada seorang jurnalis. Ia tahu Gilda pura-pura mengatasnamakan publik demi mendongkrak rating acara televisinya. Ia sadar, bahwa sebenarnya Gilda tidak terlalu peduli dengan pendapat publik, atau apa yang dirasakan publik. Ia hanya ingin agar rating acara televisinya naik. Dimas sudah bisa membaca itu.


“Sudah ya Gilda! Aku harus patroli keliling!” ucap Dimas.


“Jadi bagaimana kepastiannya? Kamu bisa datang kan? Aku harus buat kepastian, agar bisa berkoordinasi dengan koordinator acara, menyiapkan wardrobe dan segala macam. Jangan sampai semua sudah disiapkan, ternyata kamu nggak jadi datang. Kami yang akan rugi. Kamu bisa datang kan?” desak Gilda.


“Kita nggak pernah tahu yang akan terjadi nanti Gilda. Bisa saja aku terbunuh malam ini. Aku akan usahakan untuk datang! Sudah itu saja yang aku bisa jawab. Selamat malam Gilda!”


Dimas mematikan panggilan dari Gilda segera dengan gusar, tanpa peduli dengan Gilda yang masih bertahan di panggilan. Wanita muda itu merasa jengkel karena belum mendapat yang pasti dari Dimas. Ia mencoba menelepon lagi, tetapi ternyata Dimas mematikan ponselnya.


“Sial!” gerutu Gilda.


***