
Hari berganti hari, pekan berganti pekan, waktu terus bergulir dengan cepat. Peristiwa pembunuhan Jenny di kediaman Gerry seolah tinggal cerita. Masing-masing dari kesembilan mahasiswa menjalani kehidupan normal, seolah tak ada sesuatu yang terjadi. Mereka berusaha melupakan kejadian buruk, itu dengan tetap beraktivitas seperti biasa.
Adinda baru saja keluar dari perpustakaan di lantai tiga bersama Lena, ketika Rasty menghampiri. Parasnya tampak cemas, seperti baru saja mengalami hal buruk.
“Kenapa Ras?” tanya Lena penasaran.
“Aku mau nanya nih. Kalian nyaman nggak dengan kondisi ini?” Rasty balik bertanya.
“Emang kenapa kamu tanya kayak gitu, Ras? Kamu ada masalah?” tanya Lena.
Adinda sedari tadi diam, walaupun sebenarnya ia juga merasa tidak nyaman dengan kejadian di rumah Gerry. Ia merasa penasaran, apakah hanya dirinya yang merasa tidak nyaman, ternyata Rasty juga merasakan hal yang sama.
Mereka duduk di kantin sambil menikmati bakso. Sayangnya, rasa bakso itu tak seenak biasanya karena ada sesuatu yang mengganjal di pikiran. Hanya Lena yang masih terlihat santai, sangat menikmati bakso yang dihadapi.
“Jujur sampai saat ini aku masih merasa bersalah banget. Apalagi kalian semua mengira seolah aku yang membunuh Jenny. Hari ini aku bertemu dengan teman-teman yang satu jurusan dengan Jenny. Mereka bertanya kok sudah lama Jenny tidak masuk kuliah. Aku jawab tidak tahu.” Rasty mulai bercerita.
“Aku juga merasa tidak enak sekali. Sungguh. Aku sering terbangun malam dan merasa seolah Jenny lagi ada di kamarku. Mungkin aku ketakutan dengan bayangan yang kubuat sendiri,” tambah Adinda.
“Aduh, kalian ya? Kok aku aman-aman saja ya? Udahlah nggak usah dipikirin!” kata Lena.
Tiba-tiba, di sudut kantin mereka tak sengaja melihat Rudi sedang makan berdua dengan seorang mahasiswi lain. Sontak hal itu membuat Rasty gemas.
“Memang dasar playboy si Rudi itu! Begitu cepatnya dia dapat cewek lain!” gerutunya.
“Udahlah biarin aja! Ngapain juga urusin si Rudi. Harusnya kamu malah bersyukur. Coba kalau masih sama-sama dia. Yang ada makan ati tiap hari!” ujar Lena.
Mereka melanjutkan makan bakso, tetapi rupanya Rudi dan mahasiswi cantik itu menghampiri. Rudi sengaja mengerling para gadis yang sedang makan itu, seraya memamerkan mahasiwi baru yang dibawanya.
“Baru lagi, Rud?” cibir Lena.
“Oh iya dong. Ini Nayya. Gimana menurut kalian? Serasi nggak?” tanya Rudi.
Gadis bernama Nayya itu tersipu malu, sedangkan Rasty membuang muka. Ia merasa muak berada di tempat itu. Adinda juga kelihatan tak merespon Rudi.
“Cantik. Agak mirip Jenny ya?” kata Lena.
Rudi tersentak mendengar perkataan Lena. Ia menatap Lena dengan marah. Ia ingin menyemprot Lena, tetapi diurungkan karena ada Nayya di situ. Segera ia tarik tangan Nayya untuk meninggalkan Lena dan teman-teamnnya. Rudi merasa gusar, karena sebenarnya ia ingin mengubur kenangan bersama Jenny dalam-dalam. Perkataan Lena tadi membuat pikirannya kembali ke suasana pesta tahun baru di rumah Gerry kemarin. Rudi menarik lengan Nayya dengan agak tergesa menuju halaman kampus, tempat mobil diparkir.
“Memangnya Jenny kemana sekarang? Kok jarang kelihatan?” tanya Nayya, ketika memasuki mobil Rudi.
Mobil itu berjajar di antara mobil-mobil lain yang diparkir di halaman kampus yang luas.
“Aku juga nggak tahu. Bilangnya sih mau keluar kota ada urusan. Tapi kok belum ada kabar hingga kini?” jawab Rudi ragu-ragu.
“Tapi kalian udah putus kan, Rud?” tanya Nayya lagi.
“Sudah kok. Aku dan Jenny sudah nggak ada hubungan apa-apa. Jadi jangan khawatir!”
Rudi memegang tangan Nayya dengan lembut. Gadis itu tersenyum. Mobil mereka melaju keluar halaman kampus, menuju keramaian kota yang mulai padat siang itu.
***
Hari masih belum terlalu siang. Matahari baru saja naik sepenggalah, ketika dua orang pemancing tiba di tepi danau yang sunyi. Mereka datang agak kesiangan, hingga khawatir tak mendapat hasil yang banyak.
Mereka memilih tempat yang agak rindang di tepian danau, tepat di bawah pohon besar. Sedangkan temannya yang berambut cepak terlihat tak bereaksi. Ia asyik mengamati keadaan sekitar.
“Bagaimana kalau kita nggak usah mancing dulu hari ini, Nus?” tanya Risman, si pria berambut cepak.
“Emang kenapa? Kamu mulai bosan mancing? Kamu mau beri makan apa anak istrimu?” cibir Yunus, si pria bertopi.
“Hari ini sajalah! Aku lagi tidak ada semangat. Kemarin aku didatangi debt collector. Mereka nagih-nagih utang terus. Sudah dibilang ntar kalau ada duit akan dilunasin, eh malah nggak percaya,” keluh Risman.
“Makanya Man, aku dari dulu nggak suka utang-utang di tempat begituan. Kalau nggak bisa bayar kita bakal dikejar-kejar terus. Tapi apa hubungannya penagih utang dengan mancing?” tanya Yunus.
“Ya, aku kayak nggak ada semangat aja!” jawab Risman.
Ia berkeliling melihat-lihat sekitar tepian danau. Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yang aneh, mengapung terbawa arus di pinggir danau, di antara rerimbunan tanaman air. Bau busuk menguar tak terkira, sehingga Risman merasa mau muntah. Ia tutupi hidung rapat-rapat.
“Kamu kenapa Man?” tanya Yunus.
“Nus, coba kamu kesini! Lihat itu apa sih? Kayak ada bangkai binatang!” ucap Risman sambil menutup hidung.
“Bangkai binatang apa? Ngaco kamu!”
Yunus penasaran juga dengan apa yang dikatakan Risman. Setelah menutup hidung, ia melihat ke arah tanaman air yang tumbuh rimbun di tepi danau. Benar saja, ia melihat ada sesuatu yang dikerubungi lalat tampak menggembung di situ. Ia perhatikan dengan saksama, bangkai binatang apa yang mengapung di situ.
“Man, kok kayaknya bukan binatang ya?” duga Yunus.
“Bukan binatang apa? Terus apa?”
“Coba kamu ambilkan kayu, aku mau tarik agak ke sini agar lebih jelas!”
Setelah mendapat kayu dari patahan ranting pohon, Yunus menarik-narik sesuatu yang mengapung itu. Namun, alangkah terkejutnya ketika mereka melihat lebih jelas sesuatu yang mengapung itu!
“Astaga, Man! Ini mayat manusia ....”
Suara Yunus bergetar. Risman setengah tak percaya mendengar itu. Ia melongok ke bawah. Benar saja, kali ini ia bisa melihat dengan lebih jelas kalau yang mengapung di antara tanaman air itu adalah mayat manusia!
Begitu mengetahui bahwa yang mengapung itu adalah mayat, mereka segera menjauh. Perut mereka terasa diaduk, bukan hanya karena aroma busuk, tetapi karena melihat kondisi mayat yang hancur. Kondisinya sudah tak utuh, bahkan beberapa bagian tubuh sudah dikoyak binatang.
“Sial! Nggak adapat ikan malah dapat mayat! Kita kabur aja yuk!” gerutu Yunus.
“Ini pasti tindak kejahatan, Nus. Kita lapor polisi aja. Daripada nanti kita disalahkan. Jelas itu tadi korban pembunuhan. Serem banget, sumpah!”
“Aku punya kenalan polisi. Kurasa dia hebat, karena kemarin dia baru saja membongkar kasus pembunuhan di kastil tua yang mengerikan itu!”
“Siapa kenalanmu?”
“Mas Dimas! Dia tetanggaan sama aku. Ayo kita lapor dia saja!”
“Oke, oke! Kita laporkan penemuan kita ini!”
***