Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
XCII. The Toilet


Helen menyusuri lorong panjang, hingga sampai ke ujung. Di sana terdapat sebuah ruangan kecil yang agak tersembunyi. Lorong ini terhubung dengan halaman belakang, sehingga jarang dikunjungi oleh penghuninya. Ruangan kecil ini adalah sebuah toilet.


Kondisi toillet yang ditunjukkan Helen sepertinya juga kurang terawat. Melly melihat banyak daun-daun kering berserakan di sekitarnya. Agak ragu Melly masuk ke dalam toilet.


“Nggak ada toilet yang lain, Bu?” tanya Melly.


“Di sini semua toilet berada di dalam kamar masing-masing. Aku tidak mau mengganngu penghuni lain. Yang ada di luar hanya toilet ini,” ucap Helen dengan nada dingin.


Sepertinya Melly tidak punya pilihan. Mau tidak mau, ia tetap masuk ke dalam toliet sempit dan agak gelap itu. Hanya ada sebuah bak mandi kecil, dengan air yang tersisa separuh. Sementara di sampingnya ada sebuah WC jongkok yang sepertinya lama tidak dipakai. Sebenarnya Melly agak jijik, tetapi ia tidak dapat menahan rasa ingin kencing. Ia menunaikan hajatnya dengan perlahan.


Setelah selesai, ia merasakan sesuatu merayap di rambutnya. Sontak hal itu membuatnya kaget bukan kepalang. Ia menjerit, sehingga Helen yang masih berdiri di depan toliet terkejut. Melly segera membuka pintu, menghambur keluar dengan takut.


“Apa yang terjadi?” tanya Helen.


“Entahlah! Aku merasakan sesuatu merayap di rambutku! Tolong!” Melly mengibaskan rambutnya dengan panik.


Seekor serangga terbang dari rambut Melly yang tergerai. Gadis itu bergidik jijik, ketika mengetahui yang terbang itu adalah seekor kecoa. Helen mendesah. Ia menatap Melly seolah tak berkedip.


“Mengapa tak ada yang bersihkan toilet ini? Jorok sekali kondisinya!" gerutu Melly.


Helen tidak menjawab. Ia menatap Melly dengan tatapan dingin.


“Ikuti aku!” perintah Helen.


“Eh, kemana?” tanya Melly dengan bingung.


Ia sudah lega karena telah menyelesaikan hajatnya, tetapi mengapa wanita tua ini menyuruh untuk mengikuti langkahnya?


“Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan!”


Melly mengernyitkan dahi karena penasaran. Ia tidak mengenal Helen dengan baik, tetapi mengapa tiba-tiba ia ingin menunjukkan sesuatu padanya. Pada akhirnya ia mengikuti Helen menuju ke arah belakang toilet yang sepi. Melly agak takut berada di tempat itu.


“Mengapa kita berada di sini?” tanya Melly heran.


Tiba-tiba dengan gerakan cepat, Helen mencekik leher Melly, kemudian mendorong tubuhnya ke tembok, sehingga gadis ini tak bisa bergerak. Melly ingin berteriak, tetapi tentu saja tak ada suara yang keluar dari mulutnya karena cekikan Helen yang begitu kuat.


Melly mulai sulit bernapas. Ia berusaha melepaskan dari cekikan itu, tetapi tak bisa! Tangan Helen begitu kuat mencengkeram. Walau ia terlihat tua, ternyata energinya luar biasa.


Grrrkkk!


Napas Melly tersengal, dengan mata membelalak. Helen seolah monster yang tak punya belas kasihan, dengan beringas melanjutkan aksinya.


Namun, tiba-tiba ia lepaskan cekikannya. Melly sudah dalam keadaan lemas. Ia tersungkur ke tanah tanpa bergerak.


“Astaga! Aku telah membunuhnya! Benarkah aku telah membunuhnya?” gumam Helen seolah tak percaya dengan apa yanf baru saja ia lakukan.


Ini adalah peristiwa mengerikan yang pertama kali ia lakukan. Ia memang beberapa kali melihat adegan pembunuhan, tetapi ia tidak melakukannya dengan tangannya sendiri. Ia berdiri takut-takut.


Setelah berpikir sejenak, ia menyeret tubuh Melly ke dalam kamar mandi yang kotor itu, kemudian menguncinya dari luar.


***


Di gerbang depan kastil, Antony dan Ringo baru saja tiba dari arah hutan dengan perasaan gusar. Ia berharap bisa segera bertemu dengan Sonya dan Melly. Halaman kastil terlihat sepi, seperti biasa. Mereka berdua bingung, hendak kemana dulu mereka? Tiba-tiba Ringo menunjuk ke arah mobil yang diparkir di depan kastil.


“Itu mobil kita!” kata Ringo.


“Firasatku nggak enak, Ton. Jangan-jangan sosok misterius itu sudah sampai kastil ini!” ucap Ringo.


“Hmm. Kalau benar begitu, tentu ini sangat berbahaya. Bukan saja buat kita, tetapi buat penghuni kastil yang lain. Kita harus temui Kak Hans! Kita laporkan saja semua kejadian ini padanya. Kita hanya mengenal Kak Hans dengan baik di kastil ini!” usul Antony.


“Oke. Begini saja, kamu mencari Kak Hans, aku akan mencari teman kita yang lain. Sonya dan Melly mungkin juga dalam bahaya!” sambut Ringo.


“Jangan lupakan Ben, Ringo. Biar bagaimanapun dia teman kita. Kasihan dia, sebenarnya dia tak tertarik ikut berkemah kan?”


“Ben? Astaga, aku hampir melupakan dia. Tentu saja aku akan mencari dia juga. Kuharap dia masih selamat,” jawab Ringo.


“Jangan membuat kepanikan, Ringo! Sekarang pergilah cari mereka! Ingat! Jangan sekali-sekali membuat kepanikan, terutama di hadapan gadis-gadis itu!”


Ringo mengangguk. Ia segera melangkah menuju samping kastil. Antony tak mau membuang banyak waktu lagi. Ia melihat pintu depan kastil terbuka, seperti ada tamu. Ia segera masuk ke dalam kastil melalui pintu depan. Di ruang tamu, tak ada siapa pun, hanya ada dua gelas minuman berisi air. Gelas-gelas itu adalah sisa minuman Reno dan Dimas.


Antony ingin masuk lebih ke dalam, tetapi ia ragu. Kastil ini sungguh besar, ia merasa seperti maling yang masuk ke kediaman orang tanpa permisi. Ia berharap bisa bertemu dengan seseorang yang ia kenal.


“Mencari siapa?”


Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Antony. Suara itu sangat mengagetkan sehingga ia gelagapan, tetapi juga merasa lega. Ia melihat Aldo berdiri tak jauh darinya.


“Kak Aldo! Kak Aldo masih ingat aku kan?” tanya Antony.


“Tentu saja aku masih ingat kamu. Kan kamu salah satu rombongan anak muda yang berkemah di air terjun. Aku nggak mungkin lupa begitu saja. Kalau kamu lagi mencari teman-teman cewekmu, mereka ada di halaman belakang, dekat kolam renang. Aku bertemu mereka tadi,” ucap Aldo.


“Sebenarnya, Kak. Aku mencari penghuni rumah ini. Boleh siapa saja. Kakak juga boleh!”


“Aku bukan penghuni rumah ini. Sepertinya ada hal penting yang hendak kamu sampaikan. Buat aku penasaran, tetapi sayangnya aku juga mencari kekasihku Elina, karena sejak tadi aku tidak bertemu dengannya,” ucap Aldo.


“Oh, maaf Kak! Aku tidak bermaksud mengganggu. Boleh aku bertemu dengan Kak Hans?”


“Hans? Aku juga tidak bertemu dia seharian. Mungkin ada di kamarnya. Coba saja ketuk kamarnya,” saran Aldo.


“Kakak bisa tunjukkan kamarnya? Apakah boleh aku masuk?”


“Tentu. Aku akan mengantarmu masuk sebentar, setelah itu aku harus mencari Elina karena aku hanya menemukan tripod-nya di kebun samping.”


Aldo dan Antony masuk ke dalam kastil untuk menuju kamar Hans. Sebelum sampai ke kamar Hans, mereka berpapasan dengan Tiara yang baru turun dari tangga bersama Adrianna.


“Hey Aldo!” sapa Tiara dengan ramah.


“Tiara? Kudengar kamu diculik kemarin. Kok sudah bebas lagi?” tanya Aldo dengan heran.


“Aku berhasil melarikan diri, dan kini tanganku terluka karena tergores pisau. Aku akan mencari perban untuk membalut luka ini. Yuk Adrianna!” ucap Tiara, sambil mengajak Adrianna.


“Oh, dia sangat berbahaya sekali. Kita semua harus berhati-hati. Ngomong-ngomong, kamu lihat Elina?” tanya Aldo.


“Elina? Aku sama sekali tidak bertemu dia hari ini,” jawab Tiara.


Aldo semakin gelisah. Setelah mengantar Antony ke kamar Hans, ia berniat mengelilingi kastil, untuk mencari kekasihnya yang tiba-tiba menghilang.


***