Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
122. Foto-foto


Malam telah larut. Suasana kota mendadak senyap, karena hujan habis mengguyur sore tadi. Sepertinya semua orang malas untuk menghabiskan waktu di luar. Jalanan tampak berkilauan diterpa lampu jalan. Sesosok manusia berpakaian serba hitam, memakai topi, dan berkacamata, berjalan perlahan menyusuri trotoar dengan gelisah. Ia berhenti di depan sebuah gang sepi, sementara suara anjing menggonggong di kejauhan. Dari balik kantong bajunya, ia mengeluarkan tiga lembar foto gadis cantik.


Ia mengamati foto pertama. Wajah yang tergambar di foto itu adalah Jenny Veronica. Sosok itu merobek foto Jenny, membuang serpihannya di sebuah tempat sampah tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Kamu pantas mati, Jen. Sangat pantas untuk mati!” gumamnya.


Kemudian dilihatnya lembar kedua, foto Dewi Alma yang tengah tersenyum manis. Diremasnya pula foto itu, kemudian dilemparkan pula ke tempat sampah sambil bergumam,”Selamat menikmati kematianmu, gadis busuk!”


Kemudian foto ketiga, menampakkan paras seorang gadis yang yang tak kalah cantik. Nayya Diana, dengan senyum yang cukup menggoda.


“Aku pastikan, kamu akan mati malam ini!”


***


Reno menyeruput kopi, menyesap rasa manis bercampur pahit yang terasa begitu nikmat di lidah. Sementara seorang polisi wanita duduk di hadapannya tak bergerak. Seorang polisi wanita berusia sekitar 30 tahun, dengan rambut pendek, dan riasan agak tebal, mengamati segala gerak-gerik Reno.


“Kurasa cukup pembicaraan kita hari ini, Fani. Kamu tidak diperkenankan lagi mengakses ruang arsip tanpa izin. Dan kau tidak akan dilibatkan dalam kasus-kasus tertentu," ucap Reno.


Fani, polisi wanita itu terdiam, kemudian berkata,” Aku nggak ngerti mengapa kamu menuduh aku membocorkan rahasia kepolisian pada pihak luar. Aku sama sekali nggak ada hubungan dengan Gilda Anwar atau siapa pun itu. Kamu dapat info yang salah, Ren! Masa sih kamu nggak percaya sama aku? Kita kan partner sejak lama!”


“Oke, Fani. Maaf, ini bukan keputusan sepihak dari aku, tetapi langsung dari Kapolwiltabes berdasarkan hasil rapat intern. Sebenarnya aku ingin membelamu di hadapan para atasan, tetapi ternyata mereka mempunyai bukti yang lebih kuat yang nggak bisa kusangkal. Jadi apa boleh buat?” ujar Reno sambil mengangkat bahu.


“Bukti apa? Ini fitnah sepertinya!”


“Tunggu!”


Reno mengeluarkan beberapa foto dari dalam laci meja kerja, dan menyerahkan pada Fani. Wanita itu menerima dengan gusar, kemudian mengamati foto-foto dengan saksama. Dalam foto-foto itu, ia melihat dirinya sedang duduk di sebuah cafe, dan berbincang serius dengan Gilda Anwar.


“Ada sanggahan?” tanya Reno.


“Ini ... ini hanya pertemuan biasa. Kami berteman dan hanya minum kopi. Apakah itu salah?Sejak kapan kepolisian mematai-matai polisi lainnya, dan memotret kehidupan pribadinya? Ini jelas pelanggaran!” ucap Fani.


“Tentu kepolisian sangat menghargai privasimu, Fani Rahmalia, sejauh kamu juga menghargai privasi kepolisian. Maaf ya, kami punya banyak bukti rekaman pembicaraanmu dengan Gilda. Kurasa itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan tindakan tegas kepadamu!”


“Apa-apaan ini! Sampai-sampai pembicaraan teleponku juga disadap! Ini sudah di luar batas Ren! Sudahlah! Terserah kalian!”


Fani semakin gusar. Ia terhenyak dari tempat duduk, segera keluar dari ruangan Reno. Hampir saja ia menabrak Dimas yang saat itu hendak masuk ke dalam ruangan yang sama.


“Kenapa dia?” tanya Dimas.


“Ya begitulah! Kepolisian akhirnya sepakat memberi pelajaran kepada dia agar tak lagi membocorkan data-data kepolisian ke pihak luar. Untung dia tidak kena sangsi indisipliner. Tapi ya begitulah! Ia tetap membela diri dan menyangkal, padahal bukti sudah jelas dan nyata,” terang Reno.


Dimas tersenyum.


“Eh sebentar!”


Tetap waspada, Pak Polisi! Jangan lengah. Aku akan menangkap ikan besar malam ini, dan besok aku akan sisakan dagingnya untukmu di tepi sungai. Jangan sampai terlambat!


Mendadak Reno merasa gelisah. Ia merasa akan ada kejadian buruk malam ini. Ia tunjukkan pesan itu pada Dimas.


“Apa maksud orang gila ini?” ucap Reno.


Tiba-tiba sebuah foto dikirim dari sebuah nomor yang sama. Tampak foto sebuah supermarket yang agak sepi.


“Apa maksud foto ini? Kok dia mengirim foto sebuah supermarket?” tanya Dimas.


“Bisa jadi ini sebuah petunjuk. Hmmm. Dimas! Cepat kita harus ke tempat ini segera! Firasatku mengatakan akan ada kejadian buruk di supermarket ini. Pembunuh itu rupanya ingin bermain-main dengan kita! Ayo cepat!” ajak Reno.


Tanpa menunggu waktu lama, keduanya segera menuju mobil, dan melaju menembus kota yang sepi malam itu. Mereka tak mau terlambat!


***


Dalam sebuah supermarket sepi, Nayya mengambil beberapa es krim, coklat, dan sebungkus besar keripik kentang. Gadis itu memandang berkeliling. Tak ada pembeli lain, selain dirinya. Ia menghela napas, sembari berusaha melupakan pesan yang ia terima.


Bagaimanapun, Nayya tetap dicekam rasa gelisah. Pesan aneh datang dari seseorang yang tak dikenal. Siapa yang mengirim pesan ancaman itu? Motif terselubung apa yang tersembunyi di baliknya? Ia ingin memberitahu Rudi, tetapi kemudian ia urungkan niat itu. Ia ingin langsung pulang ke rumah, duduk di depan TV sambil menikmati keripik kentang.


Ia keluar dari supermarket saat jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Kota ini semakin sepi dari hari ke hari. Ia mencoba memanggil taksi online, tetapi tak ada satu pun yang merespon. Apakah ini pengaruh hujan tadi sore, yang mengakibatkan sejumlah ruas jalan di kota banjir?


Udara dingin menyergap, penuh uap air. Ia berharap ada taksi yang datang dan mengantarnya pulang. Supermarket juga terlihat sepi. Kasirnya, seorang gadis tampak terkantuk-kantuk, mungkin dia bosan menunggu pembeli.


Nayya berjalan menyusuri trotoar, mencari bagian lain yang agak ramai. Seingatnya, di ujung jalan sana, ada pangkalan ojek. Ia berharap ada yang bisa membantu, walau membayar agak mahal tak apa, yang penting ia bisa segera pulang. Rasanya tak nyaman lontang-lantung di kota yang sepi seperti ini. Apalagi ia seorang gadis. Pasti akan rawan apabila ia menjadi sasaran orang tak bertanggungjawab.


Ia mencoba menelepon Rudi, tetapi sepertinya nomor kekasihnya itu tak aktif. Ia mulai khawatir. Tak mungkin dia berjalan kaki untuk menuju rumahnya. Jadi bagaimana?


Tiba-tiba sebuah lampu mobil menyorot dari belakang. Mobil itu berjalan lambat. Kemudian berhenti tepat di tepi trotoar di depannya. Nayya merasa penasaran. Ia tidak mengenal mobil itu sebelumnya. Dia juga merasa tak memanggil taksi online. Jadi siapa yang pengemudi mobil itu?


“Ayo bareng aku saja!”


Tiba-tiba jendela kaca terbuka. Nayya ragu-ragu, karena tidak dapat melihat pengemudi dengan jelas. Ia mengenakan pakaian serba hitam, memakain topi, dan masker. Susah untuk memastikan siapa sebenarnya pengemudi mobil.


“Siapa ya?” tanya Nayya.


Yang ditanya tak menjawab. Ia hanya diam membisu. Melihat gelagat tak beres, Nayya menjadi curiga. Ia mempercepat langkah menyusuri trotoar menuju pangkalan ojek yang letaknya kurang lebih 500 meter di depan sana. Sayangnya, mobil itu juga tak tinggal diam. Ia berjalan perlahan mengikuti Nayya.


“Aku akan panggil polisi!” gertak Nayya.


Ia berhenti, kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari tas kecil yang dibawanya. Namun, saat dia mencari nomor di ponselnya, pengendara mobil itu turun dengan cepat, membekap mulut dan hidungnya dengan sapu tangan. Entah apa yang dibubuhkan dalam sapu tangan itu, ketika dia meronta, ia merasakan bau yang tak biasa. Seketika tubuh Nayya terasa tak bertulang. Barang belanjaannya jatuh. Matanya berkunang-kunang, dan dalam tempo beberapa detik ia tak ingat apa-apa lagi!


***