
Melly gelisah. Sepuluh menit lalu Ringo meninggalkannya sendirian di pinggir sungai untuk menelisik ke dalam hutan. Sepuluh menit terasa seperti satu jam. Suasana di tepi sungai yang sepi dan senyap membuat perasaan Melly tidak enak. Ia bosan duduk di atas batu sambil melihat aliran air yang mengalir di sela bebatuan. Ditatapnya pepohonan dalam hutan yang berdiri berderet, berharap Ringo segera menampakkan diri.
Sementara itu, Ringo masuk ke dalam hutan dengan penuh percaya diri. Semakin ke dalam, hutan semakin gelap, dengan jalan setapak yang sempit dan berliku. Semak belukar tumbuh rapat di antara pepohonan yang menjulang. Cuitan burung mulai menghilang. Ringo sendiri tak tahu alasan jelas mengapa ia masuk ke dalam hutan. Baju Melly yang raib secara misterius menggelitiknya untuk masuk semakin dalam.
Beberapa saat ia melangkah, tiba-tiba ia melihat ada sebuah pondok kayu tak jauh di depan. Pondok itu cukup tersembunyi di antara pepohonan dan rimbunnya semak belukar. Rasa penasaran menghunjam semakin dalam. Ia maju mendekati pondok kayu. Ia tidak yakin apakah pondok itu berpenghuni atau tidak, karena kondisinya tidak terawat.
Ia berdiri di depan pintu kayu yang mulai berlumut, penasaran ingin mengetahui apa yang tersembunyi dalam pondok itu. Ketika ia membuka sedikit pintu yang tak terkunci, tiba-tiba ia mendengar suara gemerisik di balik semak tak jauh dari tempatnya berdiri.
Ia memalingkan muka ke arah suara. Seekor kadal merayap cepat, bersembunyi di balik dedaunan kering. Ringo menghela napas. Tak dapat dipungkiri, ia sedikit merasa tegang.
Ia kembali hendak membuka pintu di hadapannya, ketika sebuah suara menyapa.
“Apa yang kamu cari?”
Suara itu tertangkap jelas di telinga Ringo, tetapi ia tak dapat menemukan siapa pun di sana. Rasa takut menyergap. Ia urung untuk masuk. Gelisah bercampur bingung. Jelas-jelas tak ada siapa pun di sekitar pondok, lalu dari mana suara itu berasal? Perasaannya tak enak. Niat untuk masuk ke dalam pondok pupus seketika. Segera ia mengambil langkah seribu untuk kembali ke tepi sungai tempat ia mandi tadi.
Ia mempercepat langkah menerobos hutan dengan berbagai pikiran buruk bersemayam di otak. Ia tidak mabuk ataupun bermimpi. Suara itu begitu jelas terdengar. Mungkin Melly juga tak pecaya kalau ia bercerita. Ia tak peduli. Yang jelas, ia ingin segera sampai ke tenda bersama teman-temannya yang lain. Langkahnya makin cepat. Sayangnya....
Bruuuk!
Tiba-tiba, ia merasa ada seutas tali yang menghalangi jalannya, sehingga ia terjatuh. Ia melihat seutas tali melintang yang sengaja dipasang di tengah jalan setapak, padahal waktu ia berangkat tidak ada tali tersebut.
“Sial!” umpatnya.
Ia berusaha berdiri, hendak berlari menjauhi tempat itu. Sayangnya sebelum ia sempat berdiri, ia melihat sesosok manusia berjubah hitam berdiri tak jauh di depannya. Ringo kaget bukan kepalang. Darimana datangnya sosok berjubah itu? Mengapa tiba-tiba ada di depannya? Ia sadar, tentu sosok manusia itu tidak berniat baik, karena ia bisa melihat kilatan senjata tajam yang berada dalam genggamannya.
,
Untuk sesaat, Ringo berusaha tenang dan tidak panik. Ia berdiri perlahan, menatap tajam sosok berjubah itu. Ia tetap waspada, bagaimanapun ia kalah posisi karena tak membawa senjata apa pun. Pilihan yang paling mungkin saat ini adalah berbalik arah dan lari secepat mungkin ke arah pondok kayu.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Ringo.
Sosok yang ditanya tak menjawab. Ia berdiri tegak, siap menyerang kapan saja. Ringo tak mau mati begitu saja. Secepat kilat ia berbalik arah, kemudian berlari menuju pondok kayu. Anehnya sosok itu tetap berdiri mematung, tanpa niat mengejar. Ringo tak peduli. Ia hanya ingin mencari tempat yang lebih aman untuk bertahan.
Sesampai di depan pondok, ia segera menghambur ke dalam dan mencari sesuatu untuk mengganjal pintu yang memang tak bisa dikunci itu. Sayangnya ia hanya bisa menemukan kayu. Segera ia menggeser meja untuk mengganjal pintu agar si sosok berjubah itu tak bisa mengikutinya lagi.
Napasnya terengah-engah seperti dikejar setan. Ia tak habis pikir apa yang diinginkan si sosok berjubah itu darinya. Ia menunggu dengan cemas dalam pondok. Bisa jadi sosok itu akan mendobrak, atau masuk melalui pintu lain?
***
Arvan membuka mata. Ia mengira dirinya sudah mati. Dalam ingatan terakhirnya, ia melihat sosok berjubah hitam melempar sebuah belati ke punggungnya. Rasa nyeri masih ia rasakan, tetapi kondisinya sudah jauh lebih baik. Luka yang menganga di punggungnya kini sudah terbalut perban. Ia juga mendapati dirinya terbaring dalam sebuah kamar yang bersih, tetapi sedikit menyeramkan.
Pintu kamarnya terbuka tiba-tiba saat seorang wanita cantik berparas oriental menghampiri dengan sedih. Ia menatap Arvan dengan tatapan sendu. Adrianna, tampak sedikit pucat pagi itu, tak seperti biasanya.
“Beruntung kamu selamat tadi malam,” kata Adrianna.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Arvan.
“Kamu berada di waktu dan tempat yang salah. Kamu masuk dalam perangkap ular, dan sekarang rasanya sangat susah untuk lepas dari perangkap ini,” gumam Adrianna.
“Aku nggak ngerti sama sekali apa maksudmu. Mana Cornellio? Aku ingin bicara dengannya!” ucap Arvan.
“Cornellio? Aku Adrianna dan Cornellio adalah kekasihku. Sayangnya dia tidak seberuntung dirimu. Tadi malam seseorang telah membantainnya dalam kamar tanpa ampun ....”
Kalimat Adrianna tersendat menahan sedih. Ada bulir air mata menggenang di sudut matanya. Berat rasanya melanjutkan kalimat. Ia hanya menggelengkan kepala.
“Maksudmu? Cornellio mati?” tanya Arvan.
Adrianna mengangguk. Ia tak mampu berkata apa-apa lagi.
“Oh Tuhan! Bagaimana mungkin? Dia meminta bantuanku untuk menjemputnya, dan kini ia mati. Sedangkan seseorang juga hendak membunuhku. Mimpi buruk apa ini?” geram Arvan.
“Aku tidak menjelaskan padamu karena ceritanya panjang. Kini semua yang ada dalam kastil ini harus berjuang agar bisa tetap hidup. Karena apa yang terjadi pada Cornellio, bisa saja terjadi pada siapa saja,” terang Adrianna.
“Tapi mengapa?”
“Sudahlah! Ada orang gila berkeliaran di sekitar sini. Kalau kamu mau selamat, jangan pernah keluar kamar ini sekalipun kamu sudah pulih. Kalau perlu kunci kamar ini rapat-rapat, dan jangan izinkan siapaun masuk kamar!”
“Tapi ... tapi kamu sendiri masuk tanpa izin ke sini?”
“Iya. Maafkan aku. Aku hanya ingin melihat keadaanmu karena kamu teman Cornellio. Aku senang kondisimu baik, dan kuharap kondisi ini akan bertahan lama,” lanjut Adrianna.
“Apa salahku hingga ada orang menginginkan kematianku? Ini gila!”
“Aku sudah bilang tadi yang kita hadapi ini orang gila. Ia membunuh siapa saja, tak perlu kamu ini siapa. Jadi mulai sekarang, waspadalah!” ucap Adrianna.
“Aku sama sekali nggak ngerti!”
“Tak ada satu pun yang harus kamu mengerti karena aku pun juga tidak mengerti bagaimana bisa terjebak dalam kastil sialan ini. Maaf, aku harus pergi. Kunci pintu setelah ini, dan jangan biarkan siapa pun masuk!”
***