Pembunuhan Di Kastil Tua

Pembunuhan Di Kastil Tua
204. Berita Aktual


Drrtt!


Drrrt!


Ponsel Reno yang ia letakkan di meja di samping tempat tidur bergetar. Polisi itu membuka mata sejenak, seraya melihat ke arah jam digital yang berada di meja yang sama. Jam digital itu berkedip menunjukkan pukul 02.43 dini hari. Reno bangkit, kemudian duduk di tepi ranjang. Dilihatnya sosok perempuan yang terbaring di sebelahnnya sedang lelap tertidur. Ia menghela napas.


Sebenarnya ia tidak ingin mengangkat telepon panggilan itu. Ia hanya ingin beristirahat sejenak. Energinya banyak terkuras semenjak kasus pembunuhan para mahasiswa yang terjadi sebulan kemarin. Paling tidak, ia ingin liburan ke pantai atau pegunungan yang sepi, jauh dari keramaian, bersama Silvia, wanita yang dicintainya. Ia kembali melirik ke arah Silvia. Wanita itu masih tenggelam dalam mimpinya.


Pada akhirnya, ia mengangkat panggilan telepon yang datang dari kepolisian. Suara petugas piket di sana terdengar tak begitu jelas. Reno beranjak keluar kamar, agar pembicaraannya tak mengganggu Silvia yang tengah tertidur.


“ Selamat malam. Mohon maaf, Pak mengganggu istirahatnya!” ucap petugas piket di seberang.


“Ada apa ya?” tanya Reno sambil menguap.


Ia beranjak menuju dapur, membuka kulkas, dan menuang segelas air. Tak lama, ia mangambil tempat di kursi tinggi di minibar rumahnya.


“Baru saja kami mendapat laporan dari seorang sekuriti rumah produksi film Kalea Cinema. Menurut mereka, telah terjadi kasus pembunuhan di sana, Pak!” kata petugas piket itu.


“Pembunuhan? Tidak adakah Dimas atau siapa yang bisa menggantikanku untuk menyelidik?” tanya Reno.


“Kami sudah menghubungi Pak Dimas, tapi katanya Pak Dimas sedang tidak enak badan malam ini, jadi saya menghubungi Bapak,” kata petugas itu.


“Oh, begitu. Baiklah. Kirim dulu beberapa petugas untuk mengamankan lokasi di sana, nanti aku akan menyusul dalam waktu 30 menit!”


“Baik, Pak!”


Pembicaraan itu terputus. Reno meletakkan ponsel di atas meja, sembari berpikir. Mengapa ia tidak berpura-pura sakit saja seperti Dimas agar ia bisa terbebas dari tugas ini? Ia tahu, kalau Dimas hanya berpura-pura sakit, karena malam sebelumnya mereka sempat minum kopi bersama di sebuah Cafe. Sunguh, ia sangat butuh liburan. Ia tak habis pikir, mengapa peristiwa pembunuhan ini seolah tiada habisnya?


“Panggilan tugas?”


Tiba-tiba seorang wanita muda yang manis berdiri di ambang pintu dapur. Ia mengenakan sebuah kimono tidur bermotif batik, terlihat sangat cantik dan menggoda.


“Oh, Silvia. Aku nggak tahu kamu bangun. Iya ... ada panggilan dari kepolisian bahwa .... “


“Ada pembunuhan lagi kan?” potong Silvia.


Reno mengangguk. Ia menatap paras wanita muda itu dalam-dalam. Ia ada sebersit rasa kecewa yang tutupi. Reno sebenarnya merasa tidak enak hati, tetapi ia juga tidak dapat meninggalkan kewajibannya sebagai seorang penegak hukum.


“Pergilah .... “ gumam Silvia.


“Aku janji setelah ini akan mengambil cuti, dan kita akan liburan di sebuah pulau yang sepi, Silvia. Hanya kita berdua yang ada di sana,” ucap Reno.


“Simpan saja janjimu, Ren. Lebih baik kamu selesaikan tugasmu dengan baik. Biasanya janji-janji akan mudah menguap begitu saja. Lebih baik kamu fokus dulu dengan pekerjaanmu,” ucap Silvia datar.


“Aku minta maaf .... “


“Aku mengerti. Tak perlu minta maaf. Sekarang cepat bersiap. Mereka membutuhkanmu. Aku nggak apa-apa kok,” kata Silvia sambil menyunggingkan senyum getir.


Kalau sudah begini, Reno merasa bersalah. Namun, apa daya kewajiban menanti di luar sana. Ia dekati Silvia, kemudian ia rengkuh dalam pelukannya. Satu kecupan mendarat di kening wanita itu. Wanita muda itu tersenyum sambil menatap paras suaminya dalam-dalam.


“Aku mencintaimu .... “


“Pergilah!” bisik Silvia.


***


“Aku pengen pipis .... “


Renita berkata, sambil terus mondar-mandir di ruangan depan. Anita yang ssedari tadi duduk sambil bermain ponsel, melayangkan pandangan ke arah wanita jangkung berambut lurus itu.


“Mau kutemani kah Mbak?” tawar Anita.


“Kita kan nggak boleh ke toilet situ. Ada tempat lain nggak sih untuk pipis?” tanya Renita.


“Sepertinya di setiap lantai ada toilet. Yuk ke lantai 14 saja. Kebetulan aku juga mau cuci muka! Ngantuk dari tadi diam menunggu,” sambung Laura yang juga sedang gelisah.


Sebelum mereka memutuskan untuk pergi ke toilet, tiba-tiba datang beberapa orang berseragam polisi, bersama sekuriti gedung. Mereka langsung bertindak sigap, memasang garis polisi dan memeriksa area sekitar toilet tempat ditemukannya jenazah Daniel Prawira.


Renita mengurungkan rencana untuk pergi ke toilet. Kesibukan di gedung itu sontak menyita perhatiannya. Seorang polisi menyuruh mereka untuk berkumpul di satu ruang agar memudahkan pemeriksaan. Mereka dikumpulkan di ruang tengah yang agak luas agar menampung semua yang ada di situ.


Jantung mereka berdebar, karena sudah pasti polisi akan menginterogasi mereka satu-persatu. Namun, sepertinya interogasi tidak dimulai hari ini, mengingat kondisi yang cukup melelahkan, sehingga mereka butuh istirahat. Lagipula, para polisi saat itu masih hilir-mudik mengecek semua ruangan. Tidak hanya toilet, tetapi nyaris semua ruangan yang ada di lantai lima belas.Beberapa di antaranya memotret kondisi jenazah Daniel Prawira, sebelum sutradara terkenal itu dievakuasi dan diotopsi.


Dalam waktu sekejap, berita kematian Daniel Prawira itu tercium juga pihak media. Di lantai dasar gedung, sudah berkumpul beberapa jurnalis dari berbagai stasiun televisi untuk meliput. Tentu saja, pihak kepolisian melarang mereka untuk masuk karena proses penyelidikan masih dilaksanakan.


Di antara pihak media itu, tentu tak ketinggalan seorang jurnalis cantik yang selalu haus akan popularitas. Gilda Anwar bersama Wandi, datang sedikit terlambat ke lokasi sehingga ia harus berdesakan untuk sekedar mengambil gambar. Gilda membuang pandangan kesana-kemari, berharap bertemu dengan Dimas agar mendapat akses masuk ke dalam gedung.


“Maaf ya, hari ini tidak ada sesi wawancara. Dan kasus ini masih tertutup untuk publik. Nanti akan ada sesi pernyataan resmi dari kepolisian, jadi kalian tunggu saja. Kalaupun ada berita yang beredar, kami tidak menjamin dan tentu saja datangnya bukan dari kepolisian,” terang salah seorang polisi yang ada di situ.


Sementara jepretan kamera tampak bertubi-tubi mengarah ke wajahnya. Serta sodoran mikrofon juga memaksa polisi itu untuk berbicara.


“Apakah benar korbannya Daniel Prawira, sutradara terkenal itu, Pak? Bisa diceritakan kondisi terakhirnya saat ini?” tanya seorang jurnalis laki-laki sambil menyorongkan mikrofon ke depan mulut polisi itu.


“Maaf ya, kami tidak bisa memberikan keterangan apapun. Nanti akan ada keterangan resmi dan kalian boleh bertanya. Kami masih menunggu Pak Reno untuk menyelidik kasus ini,” ucap polisi itu.


Gilda yang turut serta dalam kerumunan itu berbisik pada Wandi,”Tumben Dimas nggak datang?”


Wandi hanya mengangkat bahu. Rupanya pria itu didesak dari arah kanan dan kiri oleh para jurnalis lain. Mereka berebut untuk mendapatkan berita terbaru seputar kematian Daniel Prawira.


“Ingin rasanya aku menerobos ke dalam,” ucap Gilda pelan.


“Lebih baik kita tunggu keterangan resmi dari kepolisian, Mbak!” ucap Wandi.


“Jadi nggak eksklusif dong! Kemarin aku sudah kehilangan berita penting, sekarang aku nggak mau lagi lolos. Aku harus bisa mendapatkan berita ini,” ucap Gilda.


“Lah, bukannya kemarin saya sudah kasih rekaman video di rumah isolasi itu, Mbak? Kan sudah tayang juga?”


“Itu berita basi, Wandi! Aku mau berita yang lebih aktual. Videomu itu tayang seminggu setelah kasus terbongkar. Jadi sudah nggak aktual lagi!”


“Jadi gimana dong, Mbak?”


“Ntar, aku lagi cari cara agar aku bisa masuk ke dalam gedung!”


***