
Angin malam serasa berhenti bertiup, dan suasana terasa gerah. Senyap melanda lingkungan elit itu. Setiap rumah terkunci dan penghuninya sibuk di dalam rumah masing-masing. Di lingkungan yang terbilang aman itu, banyak mobil yang diparkir di tepi jalan, tanpa dimasukkan ke garasi.
Niken terbangun. Rasa kantuk yang menyergap membuatnya tertidur sejenak. ia melihat sorot senter yang menyorot ke mukanya. Sementara musik lembut masih mengalun pelan dari pemutar musik. Ia mendengar suara kaca mobilnya diketok dari luar oleh seorang sekuriti yang bertugas patroli. Sekuriti itu mengarahkan senter ke dalam mobil. Niken membuka pintu perlahan.
"Maaf, Mbak! Tolong identitasnya ya. Dilarang tidur atau berada di lingkungan perumahan malam-malam begini tanpa alasan yang jelas!" tegur sekuriti itu.
Niken memaklumi perkataan sekuriti yang sudah berusia 50-an itu, karena ia hanya berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik. Hanya saja, ia sedikit menyesalkan, karena harusnya sekuriti harus muda, sehingga apabila ada apa-apa gerakannya lebih gesit.
"Maaf, Pak. Saya adalah seorang polisi dan saya bukan tidak punya keperluan nggak jelas. Saya kesini untuk mengawasi rumah seorang warga yang tinggal di lingkungan itu. Jadi mohon kerjasamanya ya, Pak!" ucap Niken sambil mengeluarkan surat anggota kepolisiannya pada bapak sekuriti itu. Bapak itu hanya ternganga, tak menyangka kalau yang ia tegur adalah seorang polisi.
"Oh, maaf ... maaf Bu. saya tidak tahu kalau Ibu ini seorang polisi. Silakan ... silakan dilanjut. Saya mau keliling dulu!"
"Semoga aman saja malam ini ya, Pak!"
Bapak sekuriti itu segera meninggalkan Niken. Setelah kembali masuk mobil, Niken melayangkan pandangan ke arah rumah Renita yang sepi. Tadi ia melihat lampu di lantai dua mati, sekarang dalam keadaan menyala. Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah itu, karena tiap jendela kaca tertutup oleh korden.
Ia kembali menguap, namun ia berusaha melawan rasa kantuk dan bosan. Ia melirik ke arah keripik kentang yang tinggal sedikit dalam bungkusnya. Perutnya terasa tidak enak karena kebanyakan keripik. Suasana sepi sekali malam itu, ia berharap agar pagi segera menjelang. Ia berharap pula agar malam ini bisa terlewati dengan baik, tanpa kejadian apa pun.
***
Sementara di dalam rumah Renita, kepanikan langsung merayap. Renita melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, kondisi Rani yang terikat dan terplester mulutnya. Ia seketika merinding, teringat pesan dari Niken tentang ancaman pembunuhan yang mungkin ditujukan padanya. Untuk sesaat, ia bingung apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tega melihat adiknya dalam kondisi seperti itu.
"Mmmh!"
"Kamu tenang Ran! Kamu tenang, aku akan lepaskan ikatanmu!" ucap Renita dengan panik.
Ia segera turun dengan cepat, menuju dapur. Seingatnya, ia meletakkan gunting di laci dapur. Namun, ketika ia baru sampai di ujung tangga bawah, ia melihat sesosok bayangan hitam menunggunya, berdiri dalam gelapnya ruangan. Perasaan Renita semakin kalut, karena ia melihat sosok itu membawa benda tajam di tangannya.
"Ti-tidak .... "
Renita bergumam. Ia kemudian berlari menjauhi sosok itu menuju kamarnya, dan segera mengunci kamar.
Klik!
Rasa takut benar-benar menguasai otaknya sehingga ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ia berusaha tenang, dengan menarik napas dalam-dalam. Untuk sementara ia aman, karena ia berhasil mengunci kamar. Ia sama sekali tak tahu apa yang dilakukan si pembunuh di luar sana.
"Tenang ... tenang! Aku pasti bisa ... aku pasti bisa!" ucapnya dengan napas terengah-engah.
Dalam kacaunya pikiran, ia berusaha untuk tetap berpikir jernih. Ia kemudian teringat akan ponselnya, namun dalam hati ia mengumpat karena tadi ia meletakkan tas yang berisi ponsel di sofa ruang tengah. Saat ini ia tidak bisa menghubungi siapa pun. Ia kembali bingung. Saat ini ia juga mengkhawatirkan nasib adiknya.
Duk ... duk ... duk!
Ia mendengar suara pintu yang diketuk dengan keras. Jantung Renita serasa lepas mendengar itu. Ya, ia memang artis yang sering berperan dalam film horror, namun ia tidak menyangka kalau kejadian yang ia alami saat ini jauh lebih menakutkan. Dalam film yang ia bintangi, ia bisa memecahkan masalah dengan cepat, dan berhasil lolos dari maut. Namun tentu saja semua ini terasa berbeda.Ia panik dan tak tahu harus apa.
"Kuncinya adalah tenang dan tidak boleh panik. Tidak boleh ..." gumamnya sambil mengatur napas.
Ia mulai mencari apa saja yang ada di dalam kamar untuk dijadikan sebagai alat pertahanan diri. Yang ia lakukan adalah mengaduk-aduk laci lemari riasnya, siapa tahu di sana ada sesuatu yang berguna. Namun, yang ada hanya botol-botol kosmetik dan kertas-kertas tak terpakai.
"Sial!" umpatnya.
Ia takut tak punya waktu lagi, karena si sosok misterius mungkin akan mencelakai adiknya. Belum lagi menemukan benda yang bisa dijadikan pertahanan diri, pintu kamarnya kembali digedor-gedor.
"Kau tak keluar, adikmu akan mati!" ancam suara yang di luar.
Mendengar ancaman itu, jelas Renita ketakutan bukan kepalang. Ia tak mau terjadi apa-apa dengan adiknya. Semenjak mereka memisahkan diri dari orang tua, Renita berjanji akan merawat dan melindungi adik semata wayangnya. Ia sangat menyayangi Rani dan tak ingin Rani mati gara-gara dia. Namun, ia juga tidak ingin mati dibunuh begitu saja oleh pembunuh gila ini. Ia bingung harus berbuat apa.
"Jangan sakiti dia! Kumohon jangan sakiti dia!" pinta Renita dari dalam kamar.
"Keluarlah! Kalau kau keras kepala maka dia akan mati!"
"Aku hitung sampai lima, jika kau tak keluar, maka adikmu yang akan mati. Dan kau, tentu yang akan dipersalahkan. Akan kubuat kematian adikmu seolah-olah kau yang membunuhnya. Silakan dipilih! Kau mau keluar atau melihat adikmu mati?" ancam sosok pembunuh itu.
"Tidak! Kumohon jangan lakukan itu!" pinta Renita.
"Aku akan mulai hitungannya! Satu .... "
Perasaan Renita semakin kacau. Ia hanya mondar-mandir dalam kamar sambil menangis.Ia melihat ke arah jendela kamarnya, sayang jendela kamar itu berjeruji, sehingga ia tak bisa keluar dari sana. Ia masih berpikir, bagaimana caranya agar bisa keluar dari kamar itu tanpa sepengetahuan si sosok misterius.
"Dua!"
Kembali terdengar hitungan dari si pembunuh. Renita semakin kalut dengan keadaan. Ia heran mengapa alarm yang ia pasang tak berfungsi. Harusnya alarm itu berbunyi ketika ada orang masuk seperti ini. Mungkin sosok itu berhasil merusaknya.
"Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?" gumam Renita di sela-sela rasa paniknya.
"Tiga!"
Hitungan itu membuat jantungnya berdegup makin kencang, seolah hitungan mesin waktu pada sebuah bom yang siap meledak. Tinggal dua hitungan lagi, maka semua akan selesai. Renita masih belum bisa menentukan sikap.
"Ayo, Renita! Bepikirlah! Jangan jadi bodoh! Ayo Renita!" gumam Renita pada dirinya sendiri.
"Empat!"
Kembali terdengar hitungan dari luar. Renita tak mampu menahan emosinya. Ia hanya pasrah, duduk tersungkur di lantai sambil berderai air mata. Ia yakin bahwa mungkin ia akan mati malam ini. Ia tak bisa berbuat apa-apa, menyalahkan dirinya sendiri yang lemah.
"Maafkan aku ... maafkan aku, Rani! Aku memang lemah dan tak ammpu menyelamatkanmu. Aku ... aku juga mau hidup. Tapi kamu nggak boleh mati, Rani. Maafkan kakakmu yang lemah ini. Oh, Tuhan .... "
Renita terisak. Pikirannya seperti dihunjam godam besar, ia seolah terhimpit, tak bisa berpikir normal dalam kondisi seperti itu. Ia tersungkur di lantai, kaki-kakinya seolah lemas tak berdaya. Ia hanya menunggu hitungan terakhir dari sang pembunuh. Ingin rasanya ia menghabisi dirinya sendiri. namun ia hanya bisa mencucurkan air mata.
"Lima! Waktumu habis! Kau yang telah membuat pilihanmu sendiri. Jadi jangan salahkan aku. Aku akan tangani adikmu segera!"
***